Sejarah Mandailing


Saya yakin, kalo kita orang asli mandailing sudah pernah membaca asal usul Mandailing, tidak akan pernah setuju jika Mandiling dikatakan sub suku Batak. Tidak ada sejarahnya yang mengatakan Mandailing pecahan dari suku Batak. Kecuali tulisan iseng dan ingin ingin menjadi tuannya Mandailing.

Berikut saya lampirkan beberapa tulisan yang dikutip dari beberapa buku Sejarah Mandailing dan juga tulisan yang pernah dimuat beberapa situs seperti http://rahimtahir.tripod.com/id9.html yang juga membahas sejarah Mandailing.

SEJARAH MANDAILING

(Petikan dari Buku Cenderamata Lembaga Adat Mandailing Malaysia).

Orang Mandailing diriwayatkan berasal dari Munda yaitu sebuah daerah di India Tengah. Mereka telah berpindah-pindah pada abad-ke 6, karena terpukul dengan serangan bangsa Arayan dari Irak yang meluaskan pengaruh mereka. Setelah melintasi Gunung Himalaya mereka menetap sebentar di Mandalay, yaitu ibu negara Burma purba. Besar kemungkinan nama Mandalay itu sendiri datangnya dari perkataan Mandailing yang mengikuti logat Burma.

Sekali lagi mereka terpaksa bepindah karena pergolakan suku kaum di Burma yang sering berperang. Pada waktu itu mereka melintasi Selat Malaka , yang pada masa itu bukan merupakan suatu lautan yang besar, sangat dimaklumi bahwa pada masa itu dibagian tertentu Semenanjung Tanah Melayu dan Sumatera hanya di pisahkan oleh selat kecil saja.

Kaum Munda telah berjaya menyeberangi laut kecil tersebut dan mendirikan sebuah kerajaan di Batang Pane, Portibi, diduga peristiwa ini terjadi di akhir abad ke – 6.

Kerajaan Munda Holing di Portibi ini telah menjadi mashur dan meluaskan wilayah taklukannya hingga kesebahagian besar pantai Sumatera dan Tanah Melayu. Keadaan ini menimbulkan kemarahan kepada Maharaja Rajenderacola lalu beliau menyerang kerajaan Munda Holing dan negara pantai lainnyadi abad ke-9. Tenteara kerajaan Munda Holing yang di pimpin oleh Raja Odap-Odap telah ditewaskan oleh Rajenderacola dan berkuasa di seluruh daerah Batang Pane. Tunangannya Borudeakparujar telah melintasi Dolok Maela (sempena Himalaya yang didaki oleh nenek moyangnya) dengan menggenggam segumpal tanah di Portibi untuk menempah satu kerajaan baru (Menempah banua).

Kerajaan kedua di Sumatera di didirikan di Pidoli Dolok di kenali sebagai kerajaan Mandala Holing artinya kawasan orang-orang Keling. Pada masa itu mereka masih beragama Hindu memuja Dewa Siva. Di abad ke 13, Kerajaan Majapahit telah menyerang ke Lamuri, Padang Pariaman dan Mandailing. Sekali lagi kerajaan Mandala Holing ini telah di bumi hangus dan hancur. Penduduk yang tidak dapat di tawan telah lari kehutan dan bercampur-gaul dengan penduduk asli. Lalu terbentuklah Marga Pulungan artinya yang di kutip-kutip. Di abad ke-14 dan ke 15, Marga Pulungan telah mendirikan tiga buah Bagas Godang di atas tiga puncak Bukit namun kerajaan tersebut bukan lagi sebuah kerajaan yang besar, hanya merupakan kerajaan kampung.

Di pertengah abad ke-14, terdapat legenda tiga anak Yang Dipertuan Pagar Ruyung yang bernama Betara Sinomba, Putri Langgoni dan yang bungsunya Betara Gorga Pinanyungan yang mendirikan dua buah kerajaan baru.Betara Sinomba telah di usir oleh Yang Dipertuan dari Pagar Ruyung karena kesalahan bermula dengan adiknya Putri Langgoni. Kedua beradik tersebut berserta pengikutnya telah merantau dan mendirikan kerajaan di Kota Pinang. Yang di Pertuan Kota Pinang inilah yang menurunkan raja-raja ke Kota Raja, Bilah, Kampung Raja dan Jambi.

Adiknya Betara Gorga Pinanyungan di dapati bersalah belaku adil dengan sepupu sebelah ibunya yaitu Putri Rumandang Bulan. Oleh kerana tidak ada lagi pewaris takhta makanya putri tersebut ditunangkan dengan Raja Gayo.

Sewaktu Putri Rumandang Bulan di bawa pergi ke Gayo beliau telah membawa satu tandan pinang masak lalu ditanamnya sebiji pinang tersebut pada setiap kali rombongan tersebut behenti hinggalah sampai di tebing sebatang sungai. Di tebing sungei itu baginda telah melahirkan seorang anak laki-laki yang gagah dan perkasa. Ketika rombongan tersebut ingin meneruskan perjalanannya ke Gayo maka datanglah petir dan guntur yang amat dasyat hingga kemah mereka tidak dapat di buka. Begitulah keadaannya sehingga tujuh kali percobaan. Akhirnya seorang Datu telah memberitahu bahawa anak tersebut hendaklah ditinggalkan di atas batu di bawah pohon sena tempat ia dilahirkan kerana putera tersebut akan menjadi seorang raja yang besar di situ.

Putri Rumandang Bulan enggan puteranya ditinggalkan karena dia ingin mati bersama anaknya, apabila Raja Gayo kelak mendapati bahwa dia bukan lagi perawan. Di dalam keadaan tersebut tepancarlah pelangi maka menitilah tujuh orang bunian di ikuti oleh Dewa Mangala Bulan dari Kayangan. Puteri tersebut di simpan kedalam sungai berdekatan lalu bermandikan dengan bunga-bunga sena yang sedang berkembang. Apabila keluar dari sungai tersebut di dapati perut-perut yang menandakan baginda telah melahirkan tidak lagi kelihatan. Maka nama sungai tersebut di kenali sebagai “Aek Batang Gadis” artinya, air sungai yang memulihkan gadis/perawan.

Anak yang ditinggalkan di bawah pohon sena tersebut telah di temui oleh rombongan Sultan Pulungan yang sedang memburu, lalu dipunggutnya. Anak yang dibesarkan di dalam kandang di bawah rumah tersebut akhirnya telah berhasil melarikan diri dan mendirikan sebuah kerajaan dan kemudiannya mengalahkan Sultan Pulungan. Anak tersebut yang di kenali sebagai Sibaroar yaitu kandang di bawah rumah akhirnya menjadi raja besar di Penyabungan. Oleh karena raja di Penyabungan yang tersembunyi diketahui orang akan ibunya maka dipanggilah kerajaannya sebagai kerajaan “MANDE NAN HILANG”, pendeknya Mandailing atau pun Mandehilang. Beliau juga adalah pengasas/penegak Marga Nasution., artinya orang sakti.

Ketika cerita kebesaran Sibaroar yang di gelar Sutan Diaru tersebar jauh ke Pagar Ruyung maka Yang Dipertuan Pagar Ruyung pun terkenang akan Putri Rumandang Bulan yang hamil di bawa ke Gayo. Baginda dan pengiringnya pun berangkatlah mengikuti pohon-pohon pinang yang telah di tanam oleh bekas kekasihnya itu hingga sampailah di tepi sungei yang di namakan “Aek Batang Gadis” lalu di bawa mengadap kepada Sutan Diaru di penyabungan.

Setelah panjang lebar bercerita lalu pengasuh yang bernama Sisauwa telah menunjukkan kain sutera kuning pinang masak yang membalut Sutan Diaru sewaktu baginda dijumpai di bawah pohon sena di Aik Batang Gadis berserta aguk yang dikalungkan oleh ibunya Putri Rumandang Bulan. Maka ketahuanlah akan Yang Di Pertuan Pagar Ruyung, bahwa Raja Sutan Penyabungan tersebut adalah anaknya. Seluruh isi negeri bersukaria dan Sutan Diaru pun di tabalkan secara rasmi sebagai Raja Penyabungan.

Pada masa yang sama juga utusan dari Kota Pinang telah datang ke Penyabungan untuk mengundang Yang Dipertuan Pagar Ruyung kesana untuk bertemu kekandanya yang telah lama tidak berjumpa. Lalu kata Yang Dipertuan, “Beta tetap akan mengunjungi kekanda beta di Kota Pinang.” Maka itu pada hari ini Kota Pinang di kenali sebagai Tanah Abang, dan Penyabungan di kenali sebagai Tanah Adik, sempena peristiwa Betara Sinomba mengundang adiknya Betara Gorga Pinanyungan di Penyabungan supaya baginda datang ke Kota Pinang walaupun adiknya mempunyai kerajaan yang lebih besar di Pagar Ruyung.

Kerajaan Sibaroar @ Sutan Diaru di Penuyabungan akhirnya bekembang luas menguasai seluruh Mandailing Godang yang sangat subur tanahnya.

Diabad ke-19 yaitu sekitar 1916, Tentera Paderi di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol telah mengutuskan Raja Gadumbang Porang atau lebih di kenali sebagai Tuanku Mandailing untuk mengislamkan Tanah Mandailing. Tentera Paderi telah masuk ke Mandailing melalui Muara Sipongi dan menakluki Penyambungan pada awal 1816. Kemudiannya Belanda pula memasuki Mandailing sekitar 1835, ini telah mengakibatkan banyak dari raja-raja Mandailing yang menentang dan terpaksa mundur dan menyeberangi Selat Melaka dan terus menetap di Tanah Melayu.

Orang-orang Mandailing bekas panglima tentera paderi telah memainkan peranan penting di dalam perjalanan sejarah di Tanah Melayu iaitu Tanah Pelarian. Nama seperti Tuanku Tambusai, Raja Asal, Raja Laut dan Sutan Naposo tercatat di dalam sejarah pergolakan perang saudara di Pahang dan Selangor.

Perpindahan orang Mandailing bermula sejak lama, diantaranya adalah disebabkan perselisihan faham keluarga, menjae atau merajuk, kalah perang atau pelarian atau buruan kerana berbagai kesalahan adat atau hukum.

Kejatuhan Penyabungan ketangan Tentera Paderi 1816 dan gerakan mengislamkan Tanah Mandailing berikutnya. Ada diantaranya di hantar ke Semenanjung. Namun perpindahan yang paling ketara bermula sejak beramai-ramai sebagai budak/abdi dan ada di antaranya melarikan diri bersama keluarga mereka untuk mencari tempat tinggal yang lebih aman.

Serangan Raja Gadumbang Porang atau Tuanku Mandailing dengan tentera paderi tidaklah begitu menekan tetapi apabila Tuanku Lelo bertubi-tubi menyerang Penyabungan dan memburu yang Dipertuan Huta Siantar bersama pengikutnya; pembunuhan beramai-ramai telah memaksa sebahagian besar penduduk Mandailing melarikan diri ke Tanah Melayu, sekitar tahun 1816 – 1832.

Ada pula di antara raja-raja Mandailing yang mengikut tentera Paderi seperti Patuan Maga, Baginda Sidursat dan lain-lainnya telah menentang Tuanku Lelo. Di bawah pimpinan Tuanku Mandailing beberapa orang panglima perang paderi akhirnya menyerang Kubu Tuanku Lelo di Padang Sidempuan dan menewaskannya.

Salah seorang anak raja Mandailing bernama Jahurlang yang bergelar Tuanku Bosi yaitu anak kepada Patuan Maga telah menyertai Tuanku Imam Bonjol sebelum jatuhnya benteng Padang Sidempuan. Beliau diamanahkan oleh Tuanku Imam Bonjol untuk menjaga Bentang Bonjol pada tahun 1837 – sewaktu beliau berunding dengan Belanda.

Jahurlang atau Tuanku Bosi diberikan pedang Al-malik kepunyaan Tuanku Rao yang terkurban di Air Bagis sebagai tanda mengambil alih pimpinan di Bonjol. Malang sekali Bentang Bonjol tidak dapat dipertahankan kerana kekuatan tentera Belanda, akhirnya Tuanku Bosi dengan pengikutnya tepaksa mundur ke Benteng Dalu Dalu.

Melihat pedang Al-Malik di tangan Tuanku Bosi, maka Tuanku Tambusai telah merencanakan pengunduran beliau bersama pengikutnya dan Benteng Dalu Dalu diserahkan kepada Tuanku Bosi. Tuanku Tambusai dengan diiringi oleh Tuanku Raja Asal, Abdullah Zawawi (anak kepada Tuanku Bosi) yang kemudiannya di kenali sebagai Raja Laut berundur bersama pengikut mereka ke Tanah Melayu. Benteng Dalu-Dalu jatuh ketangan Belanda pada 1838. Tuanku Bosi turut terkurban setelah mendapat luka-luka parah di dalam pertempuran tersebut.

Tuanku Tambusai, Raja Asal dan Raja Laut mendarat di Melaka dan pergi ke Lukut mencari tempat tinggal. Tidak lama kemudian Raja Laut diperintahkan kembali ke Sumatera untuk mencari saki baki tentera paderi bagi mengatur serangan balas terhadap Belanda. Raja Asal meninggalkan Lukut kerana terdapat sedikit kekecuhan di sana, beliau pergi ke Kelang membuka Lombong Bijih Timah sekitar tahun 1843. Tuanku Tambusai mencari tempat tinggal yang terpencil di Negeri Sembilan dan menetap di sana. Raja laut berulang alik antara Sumatera dan Tanah Melayu sambil menyerang kapal-kapal dagang Belanda, Inggeris, Cina dan India yang melintasi Selat melaka. Maka itu beliau di sebut Raja Laut.

Sekitar tahun 1850, Raja Asal telah meinggalkan Kelang dan berjijrah ke Pahang bersama-sama pengikutnya. Di Pahang Raja Asal telah melibatkan diri di dalam perusahaan melombong bijih timah dan berjual beli bijih timah. Raja Asal telah dapat menembusi istana Bendahara Tun Ali dan bersahabat baik dengan keluarga pembesar di Pahang. Beliau bersahabat baik dengan Tun Mutahir anak Tun Ali. Tun Ali mangkat pada tahun 1857. Raja Asal telah berkahwin dengan Wan Putih atau dalam bahasa Mandailing di panggil Siputeh.

Perang saudara di Pahang belaku pada tahun 1857 – 1863, Raja Asal terlibat di dalam perang tersebut kerana berkahwin dengan keluarga Tun Mutahir yang menjadi Bendahara Pahang yang baru. Perang saudara tersebut di menangi oleh Wan Ahmad iaitu adik kepada Tun Mutahir. Sewaktu luka parah Tun Mutahir telah berundur bersama anak-anaknya Wa Da dan Wan Aman serta Raja Asal kesempadan Negeri Selangor. Wan Putih telah di jemput oleh hamba Raja Asal bernama ‘Sipuntung’, lalu di bawa ke Selangor.

Di Selangor Raja Asal kembali menjalankan usaha membeli dan menjual bijih timah. Dana Paderi yang diamanahkan kepadanya dilaburkan sekali lagi untuk membiayai saki-baki tentera Paderi yang menjadi pengikutnya. Oleh itu beliau sentiasa berhubung dengan Raja Laut yang diutuskan untuk mengumpulkan saki-baki tentera Paderi di Sumatera. Tuanku Tambusai yang sudah uzur tidak lagi memainkan peranan penting untuk memulihkan semula kekuatan Paderi di Sumatera.

Apabila Tuanku Raja Asal mengambil keputusan untuk menyokong Raja Mahadi di dalam Perang Kelang untuk menentang Raja Abdullah (dalam tahun 1866) maka beliau telah menghubungi Raja Laut untuk mendapat bantuan bekas tentera Paderi di dalam peperangan tersebut. Sewaktu Kelang jatuh dan kemudiannya Kuala Lumpur turut jatuh kerangan orang-orang Mandailing, Raja Asal telah memerintahkan hambanya Sipuntung untuk membunuh Dato’ Bandar Yassih yang berketurunan Bugis kerana banyak menindas dan menyeksa orang-oranag Mandailing.

Campurtangan Tengku Kudin sebagai wakil Sultan Abdul Samad yang memerintah Selangor mulai 26hb. June, 1868, telah mengubahkan suasana politik di Selangor. Tengku Kudin mendapat bantuan dan sokongan dari nggeris. Walaupun pada mulanya Raja Asal, Sutan Na Poso dan kapitan Yap Ah Loy bersahabat baik tetapi pada tahun 1871 mereka berselisih faham dengan Yap Ah Loy atas urusan perniagaan bijih timah.

Pada bulan Mei 1872, Raja Asal bersama Raja Laut telah membawa angkatan perang mereka untuk menyerang Kuala Lumpur. Mereka telah berkubu di Petaling Batu, iaitu di Jalan Cheras sekarang, bersama lebih kurang 2,000 orang bekas tentera Paderi dari Sumatera. Satu pertempuran telah berlaku diantara pasukan Raja Asal/Raja Laut dengan pasukan Kapitan Yap ah Loy yang di bantu oleh Kapten Van Hagen dan Kapten Cavalier yang akhirnya mengalami kekalahan teruk di mana seramai 730 tentera mereka telah terkurban. Kejayaan Raja Asal dan Raja Laut merebut Kuala Lumpur dari Kapitan Yap Ah Loy dan sekutunya telah mendesak Tengku Kudin meminta bantuan tentera dari Pahang dan Pulau Pinang.

Pada pertengahan tahun 1872 Pahang telah bersubahat dengan Tengku Kudin untuk mengalahkan Raja Asal yang di sokong oleh orang-orang Mandailing, Rawa (Rao), Batubara dan orang Minangkabau yang merupakan saki-baki tentera Paderi, Raja Asal tersebut bergelar Tuanku Raja Asal – bukanlah bererti beliau itu Raja yang memerintah tanah Mandailing, gelaran Tuanku itu adalah gelaran Panglima Tetera Paderi. Raja di Tanah Mandailing dipanggil Baginda, bukannya Tuanku.

Pada akhir 1872, tentera Pahang telah menyerang kubu Raja Asal di Ulu Kelang. Tentera Pahang yang di pimpin oleh Imam Perang Raja Rosu (Tok Gajah) telah ditewaskan oleh tentera Raja Asal yang di pimpin oleh Panglima dari Mandailing bernama Jabarumun, yang berkubu di Ulu Kelang. Isteri Raja Asal yang benama Wan Putih (Siputih), bersama orang-orang Telu gigih pula mempertahankan satu lagi kubu Raja Asal yang kini tempatnya dikenali sebagai Siputeh, sempena nama beliau yang dikagumi oleh orang-orang Mandailing.

Pada bulan Mac, 1873, sekali lagi Raja Rosu bersama tentera dari Pahang menyerang Ulu Kelang dengan kelengkapan yang lebih hebat, oleh kerana bantuan yang dinantikan dari Raja Laut tidak dapat mendarat di Kelang maka mereka telah mendarat di Teluk Mak Intan, maka kubu Raja Asal pun jatuhlan ketangan orang Pahang. Raja Laut bersama lebih kurang 1,000 orang Batak yang baru di Islamkan telah mendarat di satu kawasan yang kini di kenali sebagai Batak Rabit kerana telinga dan hidung mereka menggunakan subang yang besar hingga terjuntai lubang telinga dan hidung mereka.

Raja Laut telah melintasi sebatang sungai yang mengalir di tengah-tengah lalu di panggil mereka Aik Batang Padang ataupun di kenali sebagai Sungei Batang Padang, sedangkan batang dalam bahasa Mandailing itu adalah sungei. Didalam perjalanan mereka ke Ulu Selangor, mereka telah menerima berita kekalahan Raja Asal di Bukit Nenas lalu mereka bekemah di Ulu Bernam/Slim menanti Raja Asal yang sedang menuju ke Negeri Perak. Sebelum bertemu dengan Raja Asal di Slim/Ulu Bernam maka satu persetujuan telah diadakan supaya Jabarumun/Raja Barumun di hantar mendapatkan Sutan Na poso (Sutan Puasa) yang bekubu di Ulu Langat bagi mengatur satu serangan balas ke atas Tengku Kudin dan Raja Bosu. Berikutnya Sutan N Poso tidak begitu yakin keraja Raja Asal tidak menyertai pasukan perang yang hanya di pimpin oleh Jabarumun/Raja Barumun. Pasukan perang tersebut telah pulang tetapi di tengah jalan mereka sempat juga menyerang orang-orang Cina di Pudu dan juga Ulu Kelang. Kedai mereka di bakar dan pembunuhan pun berlaku di kedua-dua kawasan tersebut.

Raja Laut dan pengikutnya tidak mengikut Raja Asal ke Changkat Piatu, mereka telah berkampung di Air Kuning dan Banir di negeri Perak. Raja Laut meninggalkan anaknya yang sulung benama Basir Nasution atau pun lebih di kenali sebagai Syeh Basir guru agama di Air Kuning. Raja Laut telah kembali kepada cara hidup lamanya berulang alik di Selat Melaka sehinggalah beliau terkorban di dalam salah satu perempuran laut dengan angkatan perang Belanda di Labuahan Bilik. Anaknya Syeh Basir Nasution telah kembali ke Sumatera untuk mengumpulkan semula kaum keluarganya tetapi beliau tidak lagi kembali menetap di Air Kuning. Anaknya yang tua benama Ja Akob atau di kenali sebagai Jakub tinggal di Banir dan Air Kuning.

Raja Asal telah di terima mengadap Raja Idris iaitu putera Mahrum Teja yang berkuasa di kawasan Teja, lalu diberikan satu kawasan melombong yang luas di Changkat Piatu. Raja Asal juga telah diberikan kuasa mengutip cukai bijih timah di muara pertemuan Sungai Pinji dan Sungai Kinta. Sebuah Pengkalan mengutip cukai yang teguh telah di bina oleh Raja Asal.

Oleh kerana ia sebuah pengkalan yang teguh akhirnya mengikut “telor” orang Perak lalu disebut Pengkalan Pegoh. Raja Asal juga telah membina sebuah perkampungan orang-orang Mandailing di Changkat Piatu, lalu berkumpullah sebahagian besar orang Mandailing di Changkat Piatu. Orang-orang Rawa pula di tempatkan di Gopeng di bawah pimpinan Panglima Jabarumun atau lebih di kenali sebagai Imam Perang Jabarumun.

Isteri Raja Asal yang mengikutinya setelah tinggal di Bukit Nenas di tawan oleh tentera Pahang telah berjalan kaki mencari suaminya hingga sampai kesuatu tempat berhampiran Pusing, di sana beliau bersama pengikutnya telah berkampung sementara menanti utusan Raja Asal menjemput mereka . Kampung tersebut sehingga hari ini di kenali sebagai Siputeh. Itulah sebabnya terdapat dua tempat yang dinamakan Siputeh, masing-masing di Selangor dan di Perak.

Adalah diberitakan bahawa dalam tahun 1874, apabila perjanjian Pangkor termeteri maka banyaklah pembesa-pembesar Negeri Perak yang tidak puashati. Memandangkan Raja Asal ini seorang yang gagah berani dan banyak pengalamannya di dalam peperangan maka datanglah beberapa orang di antara mereka meminta campurtangan beliau (Raja Asal) untuk mengusir Inggeris dari negeri Perak.

Raja Asal menolak permintaan mereka untuk campurtangan dalam pergolakan di Perak kerana beliau telah uzur dan letih untuk berperang sepanjang usia remaja dan dewasanya. Paktan untuk membunuh J.W.W Birch tidaklah disertainya tetapi Raja Asal telah meminjamkan hambanya Sipuntung yang sangat dipercayai sebagai tanda penyertaannya untuk membersihkan bumi ini dari campurtangan orang-orang kafir yang ditentangnya sejak beliau memeluk agama Islam.

Raja Asal tidak pernah menjadi Penghulu di Mukim Belanja, Penghulu Belanja yang pertama adalah Raja Bilah, iaitu anak saudara kepada Raja Asal. Sewaktu J.W.W Birch di bunuh pada tahun 1875 Mukim Belanja belum lagi diujudkan. Sila lihat perlantikan Raja Bilah sebagai penghulu Belanja yang pertama. Semasa J.W.W . Birch di bunuh Raja Asal sudah mula gering dan tidak mampu lagi mengendalikan urusan melombong ataupun mengutip cukai bagi pihak Raja Idris (Sultan Perak). Akibatnya beliau terhutang $3,000.00 kepada pihak yang berkuasa.

Sepanjang keadaannya gering itu Raja Bilahlah yang menguruskan semua urusan Raja Asal. Akhirnya Raja Bilah telah meminta Raja Asal menyerahkan kuasa sepenuhnya kepadanya supaya dapat beliau membayar semua hutang tersebut. Setelah enam bulan kuasa diserahkan kepada Raja Bilah barulah segala hutang piutang tersebut dapat diselesaikan.

Raja Asal dalam usia yang agak lanjut dan kesan dari kekalahan serta kegagalannya tidak lagi merupakan seorang yang aktif di dalam urusan maka itu semua urusan dikendalikan oleh Raja Bilah. Tuanku Raja Asal telah meninggal dunia pada 1878 dan di semadikan di Changkat Piatu di antara pertemuan Sungai Pinji dengan Sungei Kinta. Sehingga hari ini makam beliau masih tertegak megah di atas tanah perkuburn Changkat Piatu.

disarikan dari; http://duakoto.wordpress.com/

ASAL BATAK

Keturunan keenam dari Boru Deakparujar dan Raja Odap-Odap, salah satu darinya bernama Datu Dandana Debata. Dia adalah seorang yang banyak saktinya dan menjadi Datu/Pawang di istana raja pada masa itu. Anaknya adalah keturunan ketujuh dari Boru Deakparujar bernama RAJA BATAK. Beliau juga seperti ayahnya sangat handal dan tinggi ilmu batinnya.

Oleh kerana masyarakat Mandala Holing berasal dari India yang mengamalkan sistem kasta maka itu keturunan raja adalah dilarang bercampur darahnya dengan darah hamba. Pantangan ini sangat keras pada masa itu.

Ditakdirkan oleh Dewata Raya, ketua bagi segala hatoban iaitu Datu Ompung Dolom yang duduk di Sopo Godang tetapi tidak boleh bersuara kecuali menerima kerja, mempunyai seorang puteri yang sangat jelita.

Walaupun telah ditegah tetapi Raja Batak tetap dengan pendiriannya untuk menggauli anak Datu Ompung Dolom tersebut, hinggakan mengandung. Apabila berita tersebut diketahui oleh Raja maka perintah menangkap Raja Batak pun dikeluarkan. Namaun begitu tidak ada seorang pun yang dapat menangkap Raja Batak yang sakti itu, malah ramailah panglima yang terkorban di dalam usaha mereka untuk menangkap Raja Batak tersebut.

Setelah habislah ikhtiar untuk menangkap Raja Batak maka Datu Dandana Debata pun dipanggil raja untuk mencuci arang di muka. Apabila raja bersungguh-sungguh meminta supaya Raja Batak dibuang maka sembah Datu Dandana Debata kepada Baginda:

“Ampun tuanku beribu-ribu ampun, sembah patik mohon diampun, akan Raja Batak itu tidak akan ada sesiapapun yang boleh membunuhnya. Telah patik turunkan segala ilmu dan muslihat peperangan kepadanya. Lagipun tidak boleh kita menitiskan darah raja di tano handur, tano malambut, tano lulambu jati, tano padang bakkil Mandailing, tano si ogung-ogung. Sian i ma dalan tu ginjang, partuatan ni omputa, Debata na tolu suhut, na tolu sulu, na opat harajaon, tu banua tonga on……”

Raja pun terdiam, lalu berjanji tidak akan membunuh Raja Batak atau menitiskan darahnya. Setelah menerima pengakuan bahawa anaknya tidak akan dibunuh atau dicederakan maka Datu Dandana Debata pun menyuruh orang membuat jala tiga warna iaitu warna putih, merah dan hitam yang menjadi warna adat dan keramat sehingga hari ini.

Apabila jala tiga warna itu siap Datu Dandana Debata pun naik ke atas bumbung rumah anaknya lalu diminta orang memanggil Raja Batak keluar bermain senjata di halaman rumah. Begitu Raja Batak keluar ke halaman rumah ayahnya pun menebarkan jala tiga warna lalu terperangkaplah Raja Batak dan gugurlah segala kesaktiannya.

Sejak itulah maka semua Bagas Godang/ Istana Raja di Mandailing dilentik naik hujung atap rumahnya, agar tidak ada orang yang boleh menebarkan jala dari atas bumbungnya.

SUMPAHAN KE ATAS RAJA BATAK

Apabila Raja Batak dihadapkan di dalam sidang adat maka ia telah dihukum buang daerah bersama seluruh keturunan Datu Ompung Dolom.

Pada hari tersebut lalu disebutlah:

“Hee….kamu Siraja Batak nyah/ pergilah kamu dari Tanah Mandailing ini sebagai orang yang hina, orang yang tidak tahu adat, orang yang degil/bendal dan orang yang kasar serta rendah martabatnya…..

Kamu diusir ke sebuah pulau yang terletak di atas gunung yang dikelilingi oleh air di tanah gersang yang tiada tumbuh-tumbuhan yang subur yang terpencil dari penglihatan manusia dan binatang

….Barang ada keturunanmu hendaklah ia memulakan namanya dengan panggilan Si…..sebagai orang yang hina dari martabat yang rendah…..Tidak boleh di antara kamu memakai perhiasan dari logam kecuali daripada manik tandanya kamu dari keturunan orang yang terbuang….Tidak boleh kamu meninggalkan pulau tersebut selama tujuh keturunan kamu, jika ada yang kemudiannya mendirikan kampung di tanah besar nanti, hendaklah dikelilingi oleh rumpun bambu supaya jelas bahawa kamu adalah dari keturunan yang hina….”

Begitulah kira-kiranya sumpahan ke atas Siraja Batak dan keturunannya selama tujuh generasi. Mereka telah dipisahkan dari pandangan manusia dan binatang, selama tujuh keturunan kerana kesalahan menentang adat dan raja. Oleh kerana Siraja Batak dibuang bersama seluruh anggota keluarga Datu Ompung Dolom yang merupakan ketua segala hamba maka itu kita dapati dari segi fizikal terdapat perbedaan yang sangat ketara antara Mandailing dan Batak.

Orang-orang Batak biasanya pendek-pendek, rambut kerinting dan kepalanya benjol ke belakang.

Orang Mandailing asli agak tinggi dan tegap, rambutnya ikal mayang, kulit putih kemerah-merahan atau putih kuning.

Walaupun asal usul orang Batak itu dari Tanah Mandailing tapi kedudukan mereka sebenarnya adalah keturunan Datu Ompung Dolom yang merupakan kasta rendah yang menjadi hamba di Mandala Holing iaitu Pidoli kecuali Siraja Batak itu sahajalah elemen Mandailing yang asli.

Oleh yang demikian jelaslah Mandailing itu bukanlah BATAK walaupun BATAK itu asalnya dari Tanah Mandailing.

Siraja Batak itu keturunan ketujuh kepada Boru Deakparujar lalu dibuang dan disumpah untuk tujuh keturunan maka itu orang Batak sentiasa berpegang kepada angka tujuh sebagai angka sakti dan keramat sedangkan orang Mandailing menganggap angka sembilan sebagai angka raja.

dipetik dari; http://duakoto.wordpress.com/2008/05/25/sejarah-mandailing/

ASAL USUL NAMA MANDAILING

Kakawin Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca merupakan salah satu sumber yang penting bagi bangsa Indonesia, karena isinya menyangkut berbagai hal berkenaan dengan kerajaan Mojopahit. Dan di dalam syair ke 13 kakawin tersebut dikatakan:

“Lwir ning nusa pranusa pramuka sakahawat ksoni ri Malayu/ning Jambi mwang Palembang karitang i Teba len Dharmacraya tumut/Kandis Kahwas Manangkabwa ri Siyak i Rekan Kampar mwang i Pane/Kampe Harw athawe Mandahiling i Tumihang Parlak mwang i Barat”.

Syair tersebut merupakan catatan yang dibuat oleh Mpu Prapanca tentang ekspansi Mojopahit ke beberapa wilayah di luar pulau Jawa, di sekitar tahun 1287 Caka (1365M).

Dengan terdapatnya nama Mandahiling (Mandailing) dalam kakawin Negarakertagama itu, dapatlah diketahui bahawa pada abad ke 14 Mandailing telah tersebut-sebut dalam catatan sejarah di Indonesia. Dalam hubungan ini H. Mohammad Said mengatakan: “Memperhatikan bahwa nama Mandailing tidak ada duanya di Indonesia, maka yang dimaksudkan tidak lain dari Mandailing yang lokasinya di Tapanuli Selatan” (H. Mohammad Said..: 6)

Karena ekspansi yang dilakukan Mojopahit ke daerah Malayu, Jambi, Palembang, Teba (Muara Tebo), Dharmacraya, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Panai, Haru dan Mandailing terjadi di sekitar tahun 1365, atau sekitar pertengahan abad ke 14, maka dapatlah diperkirakan bahwa sebelum pertengahan abad ke 14 Mandailing tentu sudah ada. Kemungkinan sebelum terjadinya ekspansi Mojopahit itu telah merupakan satu negeri atau kerajaan yang penting sehingga banyak dikenal. Kalau tidak demikian halnya, kemungkinan sekali Mojopahit tidak akan tertarik untuk menjadikan Mandailing sebagai sasaran untuk perluasan daerahnya di luar pulau Jawa. Sayang sekali tidak terdapat catatan tertulis mengenai keadaan Mandailing di abad ke 14 itu.

Namun demikian, pentingnya negeri atau barangkali kerajaan Mandailing di masa itu, kemungkinan sekali ada hubungannya dengan keadaan negeri itu yang kaya dengan mas. Sebab sejak zaman dahulu kala tanah Mandailing selalu dihubung-hubungkan orang dengan mas, sehingga negeri tersebut dinamakan “tano sere” (tanah mas) dalam crita-cerita lama.

Dalam hubungan ini, dapat dikemukakan bahwa di daerah Mandailing Julu (Kecamatan Kotanopan) sampai sekarang ditemukan tempat-tempat yang bernama “gerabak ni Agom” seperti di sekitar Huta Na Godang. Nama yang demikian itu diberikan kepada bekas tempat-tempat orang Agam (Minangkabau) menambang mas di masa dahulu di Mandailing Julu. Di samping itu, pada masa penjajahan Belanda di daerah Mandailing Julu, yaitu dekat Muarasipongi, pernah dibuka sebuah tambang mas yang diusahakan oleh orang Belanda. Malahan sampai sekarang, banyak penduduk di daerah tersebut yang melakukan pendulangan mas di Sungai Batang Gadis, sebagai mata pencarian tambahan.

Kenyataan yang demikian ini cukup menjadi bukti bahwa Mandailing yang disebut “tano sere” memang kaya dengan mas. Oleh karena itulah barangkali maka sejak beberapa abad yang lalu negeri Mandailing sudah banyak dikenal. Sehingga akhirnya menarik perhatian Mojopahit untuk dijadikan sasaran perluasan daerahnya di luar pulau Jawa seperti yang dicatat oleh Mpu Prapanca dalam kakawin Negarakertagama.

Selain di dalam kakawin Negarakertagama, nama Mandailing sudah disebut-sebut pula di dalam Tonggo-Tonggo Si Boru Deak Parujar, “yang cukup padat isinya sebagai kesusasteraan Toba-tua yang klasik, yang terdiri dari 10 pasal sebagai dasar/fundamendan/atau sumber dari falsafah kebudayaan kemasyarakatan dan kerokhanian dari ‘Dalihan Natolu’ (Batara Sangti 1977 : 278)

Tonggo-tonggo tersebut berbunyi sebagai berikut:

“Baen ma gondang ni Ompunta, Tuan Humara-Hiri, Si Humara Naboru, par-aji tamba-tua, par-aji pulung-pulungan; sinonduk ni Ompunta Sibaso Nabolon, na marsigantung ditali siubar, na meat di mombang boru.

Sian tano hondur, tano malambut, tano hulambu jati, sian tano padang bakkil bandailing, tano siogung-ogung; parsirangan ni tano, pardomuan ni aek; Sian i ma dalan laho tu ginjang, partiatan ni Ompunta: Debata Natolu Suhu, Naopat Harajaon tu banua tonga on.

Disi ma parangin-anginan ni Ompunta ‘Siboru Deakparujar’, sideak uti-utian, sigodang ujar-ujaran:

1. Na manjadihon : ’Gana na so boi tolonan, bulan naso boi oseon’

2. Sian i ma mula ni : ’Dung-dang’

3. Mula ni : ’Sahala’

4. Mula ni : ’Harajaon’

5. Mula ni : ’Gantang tarajuan, Hatian pamonari’

6. Mula ni : ’Pungga si sada ihot’

7. Mula ni : ’Ninggala sibola tali’

8. Sian i ma mula ni : ’Boli ni boru muli dohot si namot ni anak

9. Mula ni : ’Goar ni bao na so boi dohonan’

10. Nunga disihataon i : ’Di ninggor ni ruma, dipagohan di pinggol ni a-Debata’

Alih bahasa secara bebas dan terbatas ke bahasa Indonesia:

Tonggo-Tonggo Siboru Deakparujar

Palulah gendang dari Empu kita, Tuan Kumarakumari, Si Kumara perempuan, per-aji tambah tua, per-aji ramu-aramuan; suami dari Empu Kita Sibaso Nabolon, yang bergantung pada tali siubar, yang hinggap di mombang boru.

Dari tanah lembah, tanah kelabu sejati, dari tanah bakil Mandailing, tanah yang termasyhur, bagaikan suara yang merdu, perpisahan daripada tanah, pertemuan daripada air: ‘Dari situlah tangga jalan ke atas, perturunan daripada Empu Kita: Debata Nan Tiga, Nan Tiga Segi, Nan Empat Kerajaan, ke benua tengah ini’.

Di situlah bertamasya Empu kita Siboru Deakparujar, yang banyak cerdik, yang banyak akal:

1.. Yang mengamanatkan : ‘Tidak boleh makan sumpah, tidak boleh mengingkari ikrar’

2. Asal mula : ‘Kepercayaan’

3. Asal mula : ‘Sahala’

4. Asal mula : ‘Kerajaan’

5. Asal mula : ‘Gantang pengukuran, dacing kebenaran’

6. Asal mula : ‘Gantang pengukuran, dacing kebenaran’

7. Asal mula : ‘Batu-asahan satu seikat’

8. Asal mula : ‘Bajak bagai pembelah tali’

9. Di situlah asal mula : ‘Penerimaan beli atas perkahwinan anak perempuan dan pembayaran jujuran bagi perkahwinan anak lelaki’

10. Asal mula : ‘Nama besan yang tak boleh disebut’

11. Hari ini dinukilkan : ‘Pada kuda-kuda rumah-Batak asli, dipacakkan batu barani dan di kuping kuda dewata’ (Batara Sangti 1977 : 278).

Kita tidak mengetahui kapan “tonggo-tonggo Siboru Deakparujar” itu tercipta atau diciptakan. Yang kita ketahui ialah bahwa Siboru Deakparujar adalah tokoh mitologi dalam kebudayaan Toba. Menurut mitologi Toba, Siboru Deakparujar adalah puteri Debata Mulajadi Nabolon, yang dititahkannya turun dari benua atas ke benua tengah membawa sekepal tanah, untuk menempa bumi di atas lautan.

Dalam usahanya menempa bumi, Siboru Deakparujar mendapat gangguan dari Naga Padoha (Raja Padoha), tetapi akhirnya dia berhasil menyelesaikan tugasnya itu. Kemudian Debata Mulajadi Nabolon menitahkan Siraja Odap-odap turun ke bumi untuk mnjadi suami Siboru Deakparujar. Dari perkahwinan Siboru Deakparujar dengan Siraja Odap-odap, lahirlah seorang putera yang bernama Siraja Ihatmanusia, dan seorang puteri yang bernama Siboru Ihatmanusia. Kedua bersaudara tersebut kawin dan kemudian mendapat tiga orang putera. Masing-masing Siraja Miok-miok, Patundal Nabegu dan Siraja Lapas-lapas. Dari keturunan Siraja Miok-miok kemudian hari lahirlah Siraja Batak, yang dipandang sebagai nenek moyang orang Batak.

Menurut Batara Sangti, tonggo-tonggo ialah doa yang disusun secara puitis dan diucapkan waktu sajian besar dan kecil. (Batara Sangti 1977 : 270). Dalam tonggo-tonggo Siboru Deakparujar jelas disebutkan bahwa “tanah bakil Mandailing tanah yang termasyhur, bagaikan suara gung yang merdu (suara gong yang merdu biasanya menarik perhatian dan dapat didengar sampai ke tempat yang jauh – penulis). Dari situlah (dari tanah Mandailing – penulis) jalan ke atas, perturunan (tempat turun – penulis) dari Empu kita: Debata Nan Tiga, Nan Tiga Segi, Nan Empat Kerajaan, ke benua tengah (ke bumi – penulis) ini” (Batara Sangti 1977 : 277).

Berdasarkan tonggo-tonggo (doa) tersebut, jelaslah bahwa sejak zaman dahulu kala (sejak adanya tokoh mitologi Siboru Deakparujar), orang Toba (Batak) telah mengakui kemasyhuran tanah Mandailing. Lebih penting dari itu, tonggo-tonggo Siboru Deakparujar dengan jelas menyebutkan pula bahwa tanah Mandailing merupakan tempat tangga jalan ke atas (kayangan), dan menjadi tempat turun Dewa (Debata Nan Tiga) ke benua tengah (bumi) ini.

Selanjutnya tonggo-tonggo tersebut menyatakan pula bahwa “di situlah” (di tanah Mandailing) bertamasya Siboru Deakparujar. Dengan demikian dapat ditapsirkan bahwa kemungkinan sekali justru di tanah Mandailing itu pulalah Siboru Deakparujar turun dari kayangan. Sebab tonggo-tonggonya menyebutkan “dari situlah (dari tanah Mandailing) tangga jalan ke atas (kayangan)”. Oleh karena itu, tidak tertutup pula kemungkinan bahwa di tanah Mandailing pulalah Siboru Deakparujar kawin dengan Siraja Odap-adap. Selanjutnya keturunan mereka lahir dan berkembang di tempat tersebut. Kemudian dapat dikemukakan hipotesis, bahwa setelah keturunan Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-odap berkembang di tanah Mandailing, generasi selanjutnya dari keturunan mereka, seperti misalnya Siraja Batak (keturunan generasi ke empat dari Siraja Miok-miok, atau generasi ke enam dari keturunan Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-odap) pindah ke tempat lain meninggalkan tanah Mandailing dan pergi ke tanah Toba. Kemudian di tempat itu ia berkembang. Dengan kata lain, berdasarkan penapsiran terhadap tonggo-tonggo Siboru Deakparujar, nenek moyang Siraja Batak, mulai dari Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-adap sampai kepada Guru Tantan Debata, yaitu ayah dari Siraja Batak sendiri, setelah besar kemudian meninggalkan tempat tersebut dan pergi ke tempat lain (tanah Toba).

Demikianlah hipotesis yang dapat ditarik dari penapsiran atas mitologi Siboru Deakparujar dan tonggo-tonggonya seperti yang telah diluraikan di atas.

Seperti yang telah dikemukakan terdahulu, nama Mandailing sudah disebut dalam kitab Negarakertagama di sekitar pertengahan abad ke 14. Namun demikian, sampai sekarang belum diperoleh satu kepastianpun tentang asal-usul nama tersebut. Tetapi ada beberapa pendapat yang pernah dikemukakan mengenai kemungkinan asal-usul nama Mandailing. Misalnya Dada Meuraxa menyatakan bahwa nama Mandailing ada yang menduga berasal dari perkataan “Mande Hilang”. Dalam bahasa Minangkabau, perkataan tersebut berarti “ibu yang hilang”. Selanjutnya ia menyatakan pula bahwa ada yang menyangka nama Mandailing berasal dari perkataan “Mundailing”, yang berarti “Munda yang mengungsi”. Dalam hubungan ini disebut bahwa bangsa Munda di India pada masa yang silam melakukan pengungsian karena mereka terdesak oleh bangsa Aria. Tentang terdesaknya bangsa Munda oleh bangsa Aria Prof. Dr. Slametmulyana mengatakan: “Sebelum kedatangan bangsa Aria, bangsa Munda menduduki India Utara. Karena desakan bangsa Aria, maka bangsa Munda menyingkir ke selatan. Pendudukan bangsa Aria itu terjadi di sekitar tahun 1500 sebelum Masehi. Bangsa Munda pindah ke luar dari daerah India menuju Assam dan Asia Tenggara, setelah terjadi pendudukan lembah sungai Gangga oleh bangsa Aria dalam keseluruhannya”. (Slamet Mulyana 1964 : 140).

Dalam perpindahan bangsa Munda dari India Utara ke Asia Tenggara karena terdesak oleh bangsa Aria, kemungkinan ada sebahagian yang sampai ke Sumatera. Dan melalui pelabuhan Barus di pantai barat Sumatera mereka meneruskan perjalannya sampai ke suatu daerah yang kemudian disebut sebagai Mandailing, yang berasal dari perkataan “Mundailing” yang berarti “Munda yang mengungsi” (meninggalkan negeri asalnya), seperi yang dikemukakan Dada Meuraxa tersebut di atas. (Lihat buku Dada Meuraxa “Sejarah Kebudayaan Sumatera”).

Mengenai jalan masuk bangsa Munda tersebut dari pantai barat Sumatera, yaitu pelabuhan Barus, dapat diingat bahwa tempat tersebut beberapa abad sebelum tahun Masehi memang sudah banyak didatangi berbagai bangsa, dan menjadi pelabuhan yang sangat terkenal karena kapur barusnya. Dan di Barus pada masa yang lalu pernah terdapat koloni orang Tamil yang juga berasal dari India.

Dada Meuraxa menyatakan pula bahwa ada yang menyebut asal nama Mandailing ialah (perkataan) Mandalay, yaitu nama satu ibu kota di Birma.

Dalam hubungan ini dapat kita lihat pendapat Drs. T.E. Tarigan dan Emilkam Tambunan yang menyatakan bahwa “Di Birma Utara terdapat satu kota pusat peradaban dan pemerintah yang bernama Mandalay yang hampir sama dengan Mandailing di Tapanuli Selatan” (1974 : 17).

Dari sisi lain kiranya pendapat yang mengatakan nama Mandailing berasal dari perkataan “Mundailing” (=Munda yang mengungsi) dapat dihubungkan dengan pendapat yang mengatakan bahwa nama Mandailing berasal dari perkataan “Mandalay”. Barangkali bangsa Munda yang didesak dari negeri mereka di India tidak langsung pindah ke Sumatera. Tetapi untuk satu kurun waktu mereka lebih dahulu hidup di daerah Birma atau Mandalay. Dikemudian hari dari Mandalay baru mereka pindah ke Sumatera, dan memasuki daerah Mandailing melalui jalan seperti yang dikemukakan di atas.

Proses perpindahan orang Munda dari Mandalay ke Sumatera (Mandailing) dapat pula dihubungkan dengan terjadinya perpindahan bangsa-bangsa dari Asia Selatan atau India Belakang ke wilayah Indonesia di masa lebih dari 1000 tahun sebelum Masehi. Menurut Mangaradja Onggang Parlindungan dalam bukunya yang berjudul “Tuanku Rao”, perpindahan itu terjadi karena desakan bangsa Mongol dari utara. Ia mengatakan bahwa ada orang-orang dari Birma Selatan yang berlayar ke Indonesia dan sebahagian tiba di Sumatera.

Kemungkinan dalam proses perpindahan yang demikian itu, orang-orang Munda dari India yang pada mulanya berdiam di Mandalay (Birma Utara) karena terdesak oleh bangsa Mongol pindah ke Birma Selatan, dan karena terdesak terus merekapun berlayar ke Indonesia dan sebagian tiba di Sumatera dan menempati satu daerah yang kemudian dikenal sebagai daerah Mandailing.

Sekarang marilah kita lihat pula pendapat Mangaraja Lelo Lubis tentang asal-usul nama Mandailing, seperti yang dikemukakannya di dalam bukunya “Sopo Godang” dan Silipi Mandailing”.

Di dalam buku tersebut dikemukakan oleh Mangaraja Lelo Lubis bahwa menurut cerita orang-orang tua, nama Mandailing berasal dari perkataan ”Mandala Holing”. Pada masa yang lalu ”Mandala Holing” adalah satu kerajaan yang meliputi daerah mulai dari Portibi di Padang Lawas sampai ke Pidoli di Mandailing (dekat Panyabungan yang sekarang). Pada mulanya pusat kerajaan tersebut terletak di Portibi, tempat ditemukan banyak candi=candi purba. Karena desakan Majapahit, maka kemudian dikenal sebagai Pidoli, yang letaknya tidak jauh dari Panyabungan: Pada masa yang lalu di Pidoli terdapat juga candi-candi. Sisa=sisanya antara lain terletak di satu tempat yang bernama ”Saba Biara”, di sekitar Pidoli.

Dalam hubungan ini dapat diingat bahwa candi-candi yang di Portibi, dinamakan orang juga ”candi biara atau biaro”. Perkataan biara itu kemungkinan sekali berasal dari ”vihara” yang berarti tempat peribadatan bagi agama Budha.

Kemungkinan adanya di masa yang lalu kerajaan yang bernama “Mandala Holing” di Tapanuli Selatan seperti yang dikemukakan oleh Mangaraja Lelo itu, dapat dihubungkan dengan ekspansi Majapahit untuk menguasai daerah atau kemungkinan kerajaan yang disebut dalam kitab Negarakertagama sebagai “Mandahiling”. Kalau kerajaan “Mandala Holing” itu dihubungkan dengan candi-candi di Portibi, kiranya perlu diingat bahwa ada peneliti yang menyebut bahwa candi-candi tersebut dibangun sejak abad ke 10. Dan ada pula yang menyebutnya pada abad yang ke 11. Malahan ada pula yang menyebutnya pembangunan candi-candi tersebut dimulai abad ke 5. Sampai sekarang memang belum ada kepastian tentang masa pembangunan candi-candi di Portibi tersebut.

Kalau kerajaan “Mandala Holing” itu adalah identik dengan daerah atau kerajaan Mandahiling yang disebut dalam kitab Negarakertagama, maka dapat dicatat bahwa ekspansi Majapahit terhadap kerajaan itu terjadi di sekitar pertengahan abad ke 14.

Perkataan “Holing” ada disebut-sebut di dalam masyarakat Mandailing hingga sekarang. Perkataan tersebut dihubungkan dengan perkataan “Surat Tumbago”. Tetapi belum ada keterangan yang memadai apa yang dimaksudkan dengan “Surat Tumbago Holing” itu. Menurut keterangan Mangaraja Lelo Lubis kepada penulis, “Surat Tumbago Holing” ialah surat yang dibuat oleh Sang Hiyang Dipertuan Huta Siantar dengan Belanda. Kalau memang itulah yang dimaksudkan dengan “Surat Tumbago Holing”, berarti surat tersebut baru lahir pada abad ke 19. Karena pada abad itulah Belanda memasuki daerah Mandailing. Penggunaan nama “Surat Tumbago Holing” untuk surat perjanjian yang dibuat oleh Sang Hiyang Dipertuan Huta Siantar dengan Belanda di abad yang lalu, barangkali didasarkan oleh Sang Hiyang Dipertuan atas asosiasinya terhadap “Surat Tumbago Holing” yang mungkin pernah dibuat pada masa kerajaan “Mandala Holing” yang banyak disebut-sebut di tengah masyarakat Mandailing.

Masih ada keterangan lain yang dikemukakan oleh Mangaraja Lelo Lubis tentang asal usul nama Mandailing. Yaitu bahwa nama Mandailing berasal dari perkataan “Mandala Hilang”. Dalam hal ini dijelaskan bahwa pada suatu masa orang-orang Mandala yakni orang-orang “koling” (keling) mendiami wilayah Mandailing. Pada waktu bangsa Melayu memasuki daerah tersebut, orang-orang Mandala (koling=keling) pergi ke tempat lain. Oleh karena itu orang-orang Melayu mengatakan “Mandala Hilang”. Dan lama kelamaan sebutan itu berubah menjadi “Mandailing”.

Dengan adanya pendapat yang demikian ini, kita terdorong untuk berpikir, apakah tidak mungkin bahwa yang dimaksud dengan orang-orang Mandala (koling) itu adalah orang-orang yang pada masa dahulu kala datang dari Mandalay (Birma) ke Wilayah Mandailing. Dan orang-orang yang datang dari Mandalay itu tidak lain dari orang-orang Munda yang pada mulanya mengungsi dari India ke Birma karena didesak oleh bangsa Aria seperi yang telah dikemukakan terdahulu dalam tulisan ini. Dalam hubungan ini nama “Mandala” berdekatan benar dngan nama “Mandalay”.

Semua pikiran itu masih bersifat hipotesis dan masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam. Demikian juga halnya dengan asal-usul nama Mandailing. Oleh karena itu masaalah ini dapat ditempatkan sebagai tantangan bagi putera-puteri Mandailing untuk diteliti lebih lanjut. Mudah-mudahan saja ada di antara mereka yang berminat untuk menelitinya, sehingga asal-usul nama Mandailing itu tidak tinggal menjadi teka-teki untuk selamanya.

Dipetik dari buku KISAH ASAL- USUL MARGA DI MANDAILING karya Z. Pangaduan Lubis
----------------

 


ASAL USUL ORANG BATAK

Jauh beratus tahun dahulu sekitar abad keenam orang-orang India Selatan dan India Tengah telah diusir keluar oleh penakluk berbangsa Aryan yang gagah perkasa. Mereka berhijrah melintasi Gunung Himalaya ke Burma dan kemudiannya turun ke Semenanjung Tanah Melayu dan akhirnya setelah melintasi Selat Melaka mereka mendirikan penempatan di sekitar Batang Pane, Daerah Labuhan Batu. Kerajaan mereka dinamakan Munda Holing iaitu Kerajaan Keling dari Munda.

Kerajaan ini berkembang dengan jayanya sehingga dapat meluaskan tanah jajahannya ke seluruh tepian pantai Selat Melaka hingga ke Singgora/ Patani. Mereka telah mendirikan sebuah candi yang sangat indah dan besar yang kini dinamakan Candi Portibi. Kerajaan ini juga dikenali sebagai Kerajaan Portibi.

Di abad kesembilan, kerajaan yang telah masyur ini mendapat perhatian Kerajaan India Selatan. Perluasan empayarnya telah membimbangkan Maharaja Rajenderasola dari India Selatan. Akhirnya Maharaja Rajenderasola telah menyerang Kerajaan Portibi pada awal abad kesembilan.

Alkisah, mengikut ceritanya sewaktu Maharaja Rajenderasola menyerang Kerajaan Portibi itu Baginda telah ditentang oleh seorang putera Munda Holing bernama Raja Odap-Odap. Peperangan yang berlarutan itu memakan masa lebih kurang tujuh tahun sehinggalah Maharaja Rajenderasola beroleh kemenangan. Raja Odap-Odap yang tewas telah berkelana di Padang Lawas tanpa tentu arah tujuannya.

Hatta, kisah kerajaan Portibi pula semasa berlaku peperangan dengan Maharaja Rajenderasola, tunang kepada Raja Odap-Odap bernama Boru Deakparujar telah mendapat alamat supaya segera meninggalkan Kerajaan Portibi lantaran Dewata Raya sudah tidak lagi menyebelahi mereka. Lalu Puteri Deakparujar itu pun mengumpulkan pengikutnya serta menggenggam tanah Portibi dan berangkatlah menuju matahari naik. Mereka terpaksa mendaki sebuah gunung yang tinggi yang dinamakan oleh mereka Dolok Malea sempena nama Himalaya yang telah dilintasi oleh nenek moyang mereka di abad yang keenam.

Akhirnya setelah menuruni Dolok Malea mereka telah sampai di satu kawasan yang pamah tetapi dikelilingi oleh bukit bukau. Mereka telah mendirikan penempatan yang baru untuk orang-orang Munda Holing tersebut. Penempatan tersebut dipanggil Pidoli yang kini terbahagi kepada Pidoli Dolok dan Pidoli Lombang. Puteri Deakparujar diangkat memerintah Kerajaan Mandala Holing iaitu kawasan orang-orang Keling.

Kerajaan ini telah tegak dengan jayanya dan sekali lagi berkembang maju. Segala dagang senteri mula singgah dan berniaga di negeri tersebut hingga ianya termasyur ke mana mana.

Tersebut pula akan kisah tunangan Boru Deakparujar yang telah berkelana di Padang Lawas, akhirnya Raja Odap-Odap pun sampailah di Pidoli yang diperintah oleh Boru Deakparujar. Dalam keadaannya cumpang camping itu tidak seorang pun anak negeri yang kenal akan raja mereka tersebut. Lagipun tempoh perpisahan yang begitu lama selama tujuh belas tahun tentulah masing-masing sudah berubah. Raja Odap-Odap pun dibawa masuk mengadap Puteri Deakparujar untuk mendapatkan pekerjaan bagi menampung hidupnya. Adat dahulu kala apabila rakyat mengadap raja, ianya hendaklah merangkak kehadapan singgahsana lalu sujud di kaki raja tersebut. Keadaannya yang cumpang camping dengan pakaian kulit binatang yang masih belum dibuang ekornya itu mmberikan gambaran yang Raja Odap-Odap itu keadaannya seperti cicak yang merangkak. Maka itu hingga ke hari ini di setiap rumah adat orang-orang Batak akan kelihatan gambar cicak sebagai simbol pertemuan Raja Odap-Odap dengan tunangannya Boru Deakparujar di Pidoli.

Raja Odap-Odap diambil bekerja di kandang kuda Puteri Deakparujar kerana kecekapannya memelihara kuda. Pada suatu hari Puteri Deakparujar telah dihadiahkan seekor kuda jantan yang sangat garang hingga tiada sesiapapun yang dapat menjinakkannya sedangkan Puteri tersebut kepingin untuk menunggangnya.Setelah banyak gembala kuda mencuba untuk menjinakkannya tetapi semuanya gagal juga. Maka pada suatu hari Raja Odap-Odap pun diminta oleh Tuan Puteri supaya menjinakkan kuda tersebut.

Bagitu Raja Odap-Odap menghampiri kuda tersebut ianya menundukkan kepalanya setelah diusap-usap kepalanya. Raja Odap-Odap pun menunggang kuda tersebut dengan baiknya. Semua yang hadir kehairanan dan tercengang-cengang.

Memandangkan Raja Odap-Odap telah berjaya menjinakkan kuda liar tersebut Puteri Deakparujar pun sangat gembira lalu dipersalinkannya Raja Odap-Odap dengan pakaian yang baik-baik setelah selesai disintuk, berlangir dan mandai. Begitu siap dipersalinkan maka dibawalah mengadap Tuan Puteri. Alangkah terkejutnya Tuan Puteri apabila melihat wajah Raja Odap-Odap yang mirip wajah tunangannya. Hampir sahaja Tuan Puteri pengsan jika tidak cepat disambut oleh dayang-dayangnya.

Mengikut adat hamba tidak dibenarkan menatap wajah raja maka keadaan tersebut tidak diketahui oleh Raja Odap-Odap, hinggalah Tuan Puteri memintanya mengangkat mukanya menatap wajah Baginda. Kedua-duanya amat terperanjat dan terpinga-pinga kerana tidak disangka mereka akan bertemu dalam keadaan sedemikian rupa. Apabila kedua-duanya telah kenal antara satu sama lain lalu bertangisanlah mereka. Gemparlah seluruh istana di Pidoli menyatakan bahawa gembala kuda raja itu sebenarnya adalah putera Munda Holing yang hilang sekian lama.

Keaadaan sedih menjadi gembira, lalu kedua anak raja itu pun dikahwinkan dengan acara yang paling meriah selama empat puluh hari empat puluh malam. Kedua-duanya pun memeintahlah Kerajaan Mandala Holing di Pidoli tersebut. Namun begitu barang yang telah ditetapkan oleh Puteri Deakparujar tidak pernah dihalang oleh Raja Odap-Odap, begitulah hormatnya baginda akan tuan puteri yang merupakan tuan rumahnya.

ASAL BATAK

Keturunan keenam dari Boru Deakparujar dan Raja Odap-Odap, salah satu darinya bernama Datu Dandana Debata. Dia adalah seorang yang banyak saktinya dan menjadi Datu/Pawang di istana raja pada masa itu. Anaknya adalah keturunan ketujuh dari Boru Deakparujar bernama RAJA BATAK. Beliau juga seperti ayahnya sangat handal dan tinggi ilmu batinnya.

Oleh kerana masyarakat Mandala Holing berasal dari India yang mengamalkan sistem kasta maka itu keturunan raja adalah dilarang bercampur darahnya dengan darah hamba. Pantangan ini sangat keras pada masa itu.

Ditakdirkan oleh Dewata Raya, ketua bagi segala hatoban iaitu Datu Ompung Dolom yang duduk di Sopo Godang tetapi tidak boleh bersuara kecuali menerima kerja, mempunyai seorang puteri yang sangat jelita.

Walaupun telah ditegah tetapi Raja Batak tetap dengan pendiriannya untuk menggauli anak Datu Ompung Dolom tersebut, hinggakan mengandung. Apabila berita tersebut diketahui oleh Raja maka perintah menangkap Raja Batak pun dikeluarkan. Namaun begitu tidak ada seorang pun yang dapat menangkap Raja Batak yang sakti itu, malah ramailah panglima yang terkorban di dalam usaha mereka untuk menangkap Raja Batak tersebut.

Setelah habislah ikhtiar untuk menangkap Raja Batak maka Datu Dandana Debata pun dipanggil raja untuk mencuci arang di muka. Apabila raja bersungguh-sungguh meminta supaya Raja Batak dibuang maka sembah Datu Dandana Debata kepada Baginda:

“Ampun tuanku beribu-ribu ampun, sembah patik mohon diampun, akan Raja Batak itu tidak akan ada sesiapapun yang boleh membunuhnya. Telah patik turunkan segala ilmu dan muslihat peperangan kepadanya. Lagipun tidak boleh kita menitiskan darah raja di tano handur, tano malambut, tano lulambu jati, tano padang bakkil Mandailing, tano si ogung-ogung. Sian i ma dalan tu ginjang, partuatan ni omputa, Debata na tolu suhut, na tolu sulu, na opat harajaon, tu banua tonga on……”

Raja pun terdiam, lalu berjanji tidak akan membunuh Raja Batak atau menitiskan darahnya. Setelah menerima pengakuan bahawa anaknya tidak akan dibunuh atau dicederakan maka Datu Dandana Debata pun menyuruh orang membuat jala tiga warna iaitu warna putih, merah dan hitam yang menjadi warna adat dan keramat sehingga hari ini. Apabila jala tiga warna itu siap Datu Dandana Debata pun naik ke atas bumbung rumah anaknya lalu diminta orang memanggil Raja Batak keluar bermain senjata di halaman rumah. Begitu Raja Batak keluar ke halaman rumah ayahnya pun menebarkan jala tiga warna lalu terperangkaplah Raja Batak dan gugurlah segala kesaktiannya.

Sejak itulah maka semua Bagas Godang/ Istana Raja di Mandailing dilentik naik hujung atap rumahnya, agar tidak ada orang yang boleh menebarkan jala dari atas bumbungnya.

SUMPAHAN KE ATAS RAJA BATAK

Apabila Raja Batak dihadapkan di dalam sidang adat maka ia telah dihukum buang daerah bersama seluruh keturunan Datu Ompung Dolom. Pada hari tersebut lalu disebutlah:

“Hee….kamu Siraja Batak nyah/ pergilah kamu dari Tanah Mandailing ini sebagai orang yang hina, orang yang tidak tahu adat, orang yang degil/bendal dan orang yang kasar serta rendah martabatnya…..Kamu diusir ke sebuah pulau yang terletak di atas gunung yang dikelilingi oleh air di tanah gersang yang tiada tumbuh-tumbuhan yang subur yang terpencil dari penglihatan manusia dan binatang….Barang ada keturunanmu hendaklah ia memulakan namanya dengan panggilan Si…..sebagai orang yang hina dari martabat yang rendah…..Tidak boleh di antara kamu memakai perhiasan dari logam kecuali daripada manik tandanya kamu dari keturunan orang yang terbuang….Tidak boleh kamu meninggalkan pulau tersebut selama tujuh keturunan kamu, jika ada yang kemudiannya mendirikan kampung di tanah besar nanti, hendaklah dikelilingi oleh rumpun bambu supaya jelas bahawa kamu adalah dari keturunan yang hina….”

Begitulah kira-kiranya sumpahan ke atas Siraja Batak dan keturunannya selama tujuh generasi. Mereka telah dipisahkan dari pandangan manusia dan binatang, selama tujuh keturunan kerana kesalahan menentang adat dan raja.

Oleh kerana Siraja Batak dibuang bersama seluruh anggota keluarga Datu Ompung Dolom yang merupakan ketua segala hamba maka itu kita dapati dari segi fizikal terdapat perbedaan yang sangat ketara antara Mandailing dan Batak.

Orang-orang Batak biasanya pendek-pendek, rambut kerinting dan kepalanya benjol ke belakang.

Orang Mandailing asli agak tinggi dan tegap, rambutnya ikal mayang, kulit putih kemerah-merahan atau putih kuning.

Walaupun asal usul orang Batak itu dari Tanah Mandailing tapi kedudukan mereka sebenarnya adalah keturunan Datu Ompung Dolom yang merupakan kasta rendah yang menjadi hamba di Mandala Holing iaitu Pidoli kecuali Siraja Batak itu sahajalah elemen Mandailing yang asli.

Oleh yang demikian jelaslah Mandailing itu bukanlah BATAK walaupun BATAK itu asalnya dari Tanah Mandailing.

Siraja Batak itu keturunan ketujuh kepada Boru Deakparujar lalu dibuang dan disumpah untuk tujuh keturunan maka itu orang Batak sentiasa berpegang kepada angka tujuh sebagai angka sakti dan keramat sedangkan orang Mandailing menganggap angka sembilan sebagai angka raja.

SEKITAR BATAK DAN MANDAILING

Banyak telah diperkatakan oleh berbagai orang mengenai Batak dan Mandailing. Umpamanya Batak Mandailing. Batak itu terbahagi kepada lima kumpulan iaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Mandailing dan Batak Pakpak.

Andaian seperti ini telah mengelirukan ramai orang. Ada pula mengatakan bahawa Mandailing itu asalnya dari Toba turun ke Mandailing.

Logiknya semua tamadun tidak pernah wujud dari gunung lalu turun ke lembah. Biasanya tamadun itu bermula dari kuala sungai dan naik ke lembah lalu ke gunung. Kawasan lembah adalah sumber bagi segala kehidupan sama ada di darat, di sungai ataupun dilaut.

Perhubungan juga adalah melalui muara sungai ke laut. Mereka yang mendiami dataran tinggi atau gunung adalah terdiri daripada orang yang kalah perang ataupun orang yang diusir dari masyarakat adat yang bertamadun.

Di abad ketigabelas hikayak Jawa ada mencatitkan mengenai serangan tentera Majapahit ke atas Lamuri dan Mandailing tetapi nama Batak tidak tercatit samasekali. Jelaslah bahawa Mandailing itu sudah jauh bertapak dan diketahui pada masa itu.

Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar masih dibacakan di dalam setiap upacara kecil atau besar orang-orang Batak. Di sana ia menyatakan bahawa jalan ke kayangan dan tempat temasya nenek moyang orang Batak adalah di Mandailing. Bukankah ertinya mereka mengakui bahawa asal usul mereka orang Batak datang dari Tanah Mandailing? Maka itu Mandailing itu lebih awal dan lebih dahulu ada sebelum adanya orang Batak. Bagaimana pula akhir ini Mandailing pula menjadi Batak?

Peranan orang Batak mulai tampil kehadapan apabila mereka memeluki agama Kristian di zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Oleh kerana mereka beragama Kristian sedangkan orang Mandailing majoritinya beragama Islam maka orang-orang Batak telah diberikan tempat istimewa dalam pentadbiran kerajaan Belanda di Indonesia. Lama kelamaan mereka menguasai sebahagian besar teraju pentadbiran lalu menjadi terkenal. Atas dasar tersebutlah maka kedudukan orang Batak menjadi kukuh dan dominan lalu suku kaum Mandailing yang satu ketika merupakan bangsa yang tamadun dan tinggi martabatnya tenggelam begitu sahaja.

Pengaruh Islam yang kuat di kalangan orang Mandailing juga telah melenyapkan sebahagian besar identiti budaya dan tulisan orang Mandailing. Akhirnya semua itu tidak lagi merupakan warisan yang penting kepada orang Mandailing, sedangkan di Toba semuanya dipertahankan.

Salasilah atau torombo Raja-Raja Mandailing sama ada dari Marga Nasution atau Lubis tidak satu pun menunjukkan bahawa mereka berasal dari Toba atau Karo sebaliknya mereka adalah masing-masing berasal dari Minangkabau dan Bugis.

Penggunaan perkataan SIRAJA BATAK, apabila pangkalnya ditambah dengan perkataan ‘SI’ ianya menunjukkan kedudukan dan martabat orang yang rendah. Dalam istilah purbakala jika seseorang itu dari keturunan bangsawan ianya menggunakan panggilan pangkalnya ‘SANG’ umpamanya Sang Sapurba, Sang Adika, Sang Nila Utama dan sebagainya.

Binatang-binatang yang gagah juga dipanggil Sang Harimau, Sang Buaya, Sang Purba/ Gajah tetapi kepada binatang yang kecil dan lemah dipanggil Sikatak, Sicicak, Sikera dan sebagainya.

Begitu juga keadaannya dengan manusia yang lemah dan tidak mempunyai darjat lalu dipanggil Siluncai, Siawang, Sikodok, Sibuyung dan sebagainya.

Perbedaan ini jelas sekali apabila marga-marga di Tanah Batak menggunakan pangkal perkataannya dengan istilah ‘SI’ iaitu Sinambela, Simanjuntak, Sinaga, Siotang, Siregar dan sebagainya.

Marga-marga di Tanah Mandailing tidak satu pun menggunakan istilah pangkalnya dengan perkataan ‘SI’ contohnya Nasution, Lubis, Rangkuty, Batubara, Parinduri dan sebagainya.

Walaupun berbagai tafsiran dapat kita kemukakan, namun satu perkara yang tidak dapat dinafikan ialah kawasan Toba adalah tanah gersang. Tidak akan ada manusia primitif yang sengaja ingin ke sana untuk membuka penempatan. Manusia lazimnya mencari tanah yang subur untuk bercucuk tanam kerana itulah sumber kehidupan masyarakat dahulu kala.

Sifat dan sikap orang Batak adalah kasar, tidak teratur dan tidak dapat mengawal perasaannya. Ciri-ciri perwatakan mereka ini menunjukkan bahawa mereka memanglah terdiri dari manusia yang kurang sopan. Maka itu di Mandailing apabila anak mereka jahat atau bandel secara spontan mereka akan mengeluarkan istilah “Bataknya kau ini”

Istilah tersebut telah digunakan berkurun-kurun lamanya hinggakan masyarakat Mandailing telah lupa sejarah istilah tersebut merujuk kepada Siraja Batak yang derhaka kepada raja dan tidak mahu mengikut peraturan adat pada zaman dahulu kala.

Dari nama Siraja Batak itulah seluruh keturunannya dan juga keturunan Datu Ompung Dolom yang merupakan ketua segala hamba ataupun hatoban dipanggil “BATAK” iaitu orang-orang Batak.

Perlu ditegaskan bahawa perkataan “BATAK” bukanlah bermaksud ianya satu bangsa, tetapi sebaliknya ia adalah satu istilah yang digunakan oleh oang Mandailing untuk menunjukkan sikap seseorang yang tidak tahu adat dan peraturan, orang kasar dan tidak terkawal sikapnya. Ini juga menunjukkan tentang status dan kedudukan orang yang dimaksudkan itu rendah martabatnya. Namun pada masa sekarang, lantaran pengaruh Belanda di zaman penjajah begitu kuat maka istilah Batak/ orang Batak yang kebanyakannya Kristian telah diangkat mendiami Sumatera Utara iaitu di Tapanuli.

KEBANGKITAN BATAK

Di abad ke tigabelas tentera Majapahit telah menyerang Mandailing iaitu Kerajaan Mandala Holing yang berpusat di Pidoli. Dengan itu hancurlah kerajaan Mandala Holing dan pengaruh agama Hindu di Tapanuli Selatan.

Saki baki orang-orang Munda telah lari bertempiaran ke dalam hutan untuk menyelamatkan diri masing-masing. Mereka yang tertawan telah dibawa sebagai hamba abdi.

Di akhir abad ke tigabelas saki baki tentera Mandala Holing telah dapat berkumpul dan bergaul dengan masyarakat peribumi di sekitar Aek Batang Gadis lalu mereka telah mewujudkan marga Poeloengan yang kemudiannya berjaya mendirikan tiga bagas godang mereka di atas tiga puncak gunung. Namun begitu kerajaan tersebut hanya merupakan kerajaan kampung sahaja.

Orang-orang Batak yang terbuang di Pulau Simosir telah dapat membangunkan semula adat kepercayaan mereka yang bergaul antara kepercayaan Hindu dan aninisme serta penyembahan roh-roh nenek moyang mereka. Pusat mereka ialah di Busut Puhit.

Kedatangan misi Kristian ke Tanah Batak telah mengubah keadaan hidup masyarakat orang Batak yang tidak mempunyai kepercayaan teguh kepada mana-mana agama. Kebanyakan mereka telah memeluk agama Kristian.

Setelah mereka menganut agama Kristian pihak penjajah Belanda membawa mereka ke alam pembelajaran, penulisan dan pembacaan. Oleh kerana pihak Belanda memerlukan tenaga kerja sebagai perantaraan penjajah dengan masyarakat peribumi maka orang-orang Batak yang telah diKristiankan ini menjadi pilihan utama untuk menjalankan dasar pecah dan perintah tersebut.

Orang Batak secara tidak langsung telah mendapat tempat di dalam setiap bidang pentadbiran Belanda. Kedudukan ekonomi dan status sosial mereka mulai meningkat.

Orang-orang Mandailing yang telah memeluk agama Islam sewaktu gerakan tenteri paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol dan pengikutnya menjadi golongan fanatik agama. Mereka menentang apa sahaja pembaharuan yang dibawa oleh Belanda.

Memandangkan adat istiadat nenek moyang mereka banyak yang bertentangan dengan agama Islam maka orang-orang Mandailing telah membuang adat resam mereka yang telah diamalkan sejak dahulu. Lama kelamaan dari segi adat budaya, tulisan dan pertuturan orang Mandailing mulai kehilangan keutuhannya.

Berbeda dengan orang Batak walaupun mereka telah memeluk agama Kristian mereka tetap berpegang teguh kepada adat resam dan budaya mereka. Sehingga sekarang orang Batak masih dapat bertahan dan terus mempertahankan adat budaya dan tulisan mereka.

Kekuatan dan ketahanan adat resam, budaya hidup, kesenian, tulisan dan bahasa Batak ini telah ditonjolkan oleh mereka dari zaman ke zaman sehinggalah mereka bangkit sebagai satu suku bangsa yang kuat dan utuh.

Seperkara lagi orang-orang Batak telah berjaya menghidupkan kegemilangan warisan sejarah mereka dari semua sudut, sama ada sejarah anthropologi, arkiologi atau sejarah patriotismenya.Sisingamangaraja telah ditonjolkan sebagai salah seorang pahlawan kebangsaan dari keturunan Batak. Malangnya orang-orang Mandailing telah gagal berbuat sedemikian hingga kesan mereka ke atas masyarakat Indonesia langsung tidak mempunyai signifikan.

Satu lagi contoh yang nyata ialah Batak Toba mempunyai contoh rumah adat mereka yang lengkap dan teratur. Begitu juga dengan Batak Karo dan Batak Simalingun semuanya mempunyai rumah adat yang terpelihara keasliannya. Rumah orang Mandailing tidak mempunyai rumah adat yang boleh ditonjolkan sebagai senibina yang mempunyai ciri-ciri tersendiri.

Tulisan-tulisan Batak atau askara Batak masih lagi ditampilkan kepada umum bahkan dijadikan bahan antik dan unik kepada para pelancong. Dengan cara begini orang Batak telah mengekalkan ciri-ciri budaya mereka. Danau Toba pula telah meletakkan orang-orang Batak di peta dunia kerana pelancong dari seluruh pelusuk dunia terus menerus berjunjung ke sana. Malangnya sumber semula jadi di Tanah Mandailing tidak pernah digunakan bagi memperkukuhkan warisan budaya masyarakat Mandailing.

Ulos Batak pada masa kini menjadi buah tangan kepada pelancong yang melawat ke tempat-tempat mereka. Anehnya kain Tenunan Patani yang merupakan pakaian orang Mandailing itu sendiri sudah tidak ada. Jika ada pun ianya dalam simpanan orang-orang tua yang kini keadaannya terlalu usang dan reput. Rombongan kesenian ataupun kumpulan muzik orang-orang Batak kelihatan menjelajahi ke seluruh dunia sama ada di Asia Tenggara, Eropah ataupun Amerika. Suara mereka dan petikan gitar mereka telah memikat jutaan penonton dan pendengarnya. Mereka menjadi duta tidak rasmi dalam memperkenalkan suku kaum Batak ke seluruh dunia.

Buku-buku mengenai sejarah orang-orang Batak tidak putus-putus dicetak dalam berbagai-bagai bahasa dengan memperbesar-besarkan asal usul mereka. Ada yang mencatitkan bahawa suku Batak ini sudah wujud tiga ribu tahun yang lalu dan sebagainya. Sejarah asal usul orang Mandailing belum pernah dibukukan secara ilmiah dan tidak pernah diterjemahkan kepada bahasa-bahasa lain. Justeru itu siapakah yang akan tahu tentang orang Mandailing?

Kebangkitan orang Batak selepas penjajahan Belanda sangat ketara dan teratur. Misi Kristian telah menonjolkan kedudukan mereka di dalam masyarakat Indonesia dan mayarakat antarabangsa sehinggakan nama Mandailing tenggelam dan menjadi serpihan kepada suku kaum Batak. Hari ini mereka memperkenalkan orang Mandailing sebagai BATAK MANDAILING pada hal pada suatu ketika dahulu oang Mandailing adalah satu bangsa berasal dari Munda.

Bukankah sebenarnya Batak itu asalnya dari Tanah Mandailing yang menjadi serpihan dibuang ke tanah gersang terpencil di pergunungan. Agak aneh nama mereka yang didahulukan dan nama Mandailing telah dtenggelamkan.

Sekiranya kita melawat ke Simosir, kita dapati orang-orang Batak begitu bersungguh-sungguh cuba menghidupkan semula nilai budaya dan kesenian mereka. Jelas kelihatan rumah-rumah mereka dihiasi dengan 3 warna: putih, merah dan hitam sebagai lambang warna adat yang keramat.

Warna-warna tersebut adalah mewakili tiga benua yang menjadi kepercayaan orang Batak. Banua Ginjang, Banua Tonga dan Banua Toru. Ketiga-tiga benua ini pula dijaga oleh tiga dewa yang dikenali sebagai Manggala Bulan menjaga Banua Ginjang yang dilambangkan dengan warna putih. Dewa Soripoda mengawal Banua Tonga yang dilambangkan dengan warna merah. Betara Guru yang mengawal Banua Toru dilambangkan pula dengan warna hitam.

Dari segi ilmu perdatuan pula ketiga-tiga warna tersebut melambangkan darah putih, darah merah dan darah hitam yang terdapat di dalam tubuh badan kita.

Warna-warna putih, merah dan hitam kini menjadi warna adat dan keramat kepada orang Batak. Mereka juga percaya bahawa dunia ini dicipta oleh Mulajadi Na Bolon sebagai Dewata Raya yang maha berkuasa.

Dari sudut alat muzik orang Mandailing menggunakan Gordang Sembilan di dalam setiap upacara adat mereka. Orang-orang Batak pula menggunakan gendang tujuh atau gendang lima yang bersaiz kecil sahaja.

Bagi orang Batak angka tujuh dianggap sebagai angka sakti atau keramat yang mempunyai kuasa mistik. Segala sumpahan atau perdatuan, mereka menggunakan angka tujuh.

Orang Mandailing pula menganggap bahawa angka sembilan itu sebagai angka raja, angka terbesar dan yang hidup terus menerus. Angka tiga pula dianggap sebagai angka adat berdasarkan Dalian Na Tolu iaitu Mora, Kahanggi dan Anak Boru.

Orang Batak juga berpegang kepada adat budaya Dalian Na Tolu sepertimana orang Mandailing cuma tafsiran mereka sahaja yang berlainan mengenai erti Dalian Na Tolu tersebut. Bagi orang Batak Dalian Na Tolu itu ertinya tiga batu tungku yang digunakan untuk menanak nasi yang mana ianya saling bergantung antara satu sama lain. Pada dasarnya konsep Dalian NaTolu sama sahaja. Mereka mengasakan kepada Huta-Huta, Dongon Sabutuha dan Anak Boru.

Sama ada Mandailing atau Batak asas budaya Dalian Na Tolu itu adalah berpegang kepada peranan Mertua, Anak saudara dan Menantu. Ketiga-tiga elemen ini memerlukan antara satu sama lain bagi mewujudkan kesepakatan dan pergantungan sesuatu keluarga. Mereka percaya bahawa asas kebahagian dan kejayaan sesuatu keluarga tersebut adalah bergantung kuat atas kerjasama ketiga-tiga pihak tersebut.

Keluarga memainkan peranan utama di dalam pola kehidupan masyarakat Tapanuli sama ada Mandailing ataupun Batak. Mereka sangat membanggakan keluarga dan hidup berkeluargaan. Dalam hal nikah kahwin pula, biasanya dilakukan di antara sepupu mereka.

PENUTUP

Kesimpulannya asal usul orang-orang Batak adalah dari Tanah Mandailing berketurunan hamba dari Munda Holing. Hanya Siraja Batak sahaja dari keturunan bangsawan. Selainnya adalah dari keturunan Datu Ompung Dolom, Ketua segala hatoban.

Walaupun suku Batak ini dari Mandailing tetapi mereka adalah dari kasta yang rendah. Bentuk tubuh badannya agak kecil dan kepalanya kelihatan bebenjol di belakang berbeda dengan orang Mandailing yang lebih tinggi dan tegap, rambutnya ikal tidak kerinting halus seperti orang Batak asli.

Sifat orang Batak adalah kasar, tidak terkawal perasaannya.Suara mereka agak kuat. Dalam perbualan atau percakapan biasa pun nampak seolah-olah mereka sedang bertengkar.

Pembawaan mereka agak liar dan sentiasa suka bertengkar dan bergaduh mahupun sesama sendiri. Sikap seperti ini sangat jelas kelihatan di mana-mana juga mereka berada. Kelakuannya sembrono dan jarang sekali menghormati hak-hak orang lain.

Seperkara lagi orang Batak agak pengotor dan kurang berkemas kecuali mereka yang telah merantau ataupun telah maju di dalam kehidupannya.

Apa yang jelas ialah sifat dan sikap orang Batak itu tidak ada pada orang Mandailing. Kemungkinan besar ianya tertanam sejak dari nenek moyang mereka Datu Ompung Dolom ataupun disebabkan keadaan hidup yang tidak mengizinkan mereka berkelakuan lebih baik.

Walau bagaimanapun keadaan kini sudah banyak berubah. Mungkin alam sekelilingnya mempengaruhi perubahan itu atau kemajuan masyarakat setempat telah membawa perubahan tersebut. Namun begitu pada dasarnya sifat semula jadi ini masih juga dapat dikesan pada sesuatu masa tertentu.

Keaadaan masyarakat selepas merdeka telah banyak membawa pembaharuan Kehidupan dahulukala yang dibelenggu oleh adat mulai terhakis. Kahwin campur juga telah membawa banyak perubahan hidup dan cara hidup selain dari perpindahan penduduk dari satu tempat ke satu tempat lain serta pengaruh alam sekeliling. Pergaulan bebas di kota telah membawa pengertian hidup yang lebih luas bagi semua suku bangsa. Selain itu pelajaran telah dan pendidikan memainkan peranan penting mengubah sikap sesuatu suku bangsa itu.

Pada masa ini agak sukar untuk membedakan keaslian keturunan seseorang itu akibat percampuran hidup yang bebas di dalam negara merdeka ini.

Dipetik dari makalah Lembaga Adat mandailing Malaysia (LAMA) bertajuk:

ASAL USUL BATAK – Satu Ringkasan Legenda Asal Usul Keturunan Orang-Orang Batak Yang Tertumpu Di Pulau Simosir, Danau Toba

 

http://rahimtahir.tripod.com/id9.html
About these ads

2 Tanggapan

  1. terimakasih informasinya pak. sangat berguna bagi saya, yang juga bersuku mandailing.

  2. apakah anda tahu, dari mana asal suku mandailing yang berada di daerah padang pariaman, tepatnya daerah barangan?
    apakah benar mereka semua berasal dari istana pagaruyuang????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: