Syarat-syarat Syafaat dari Allah


Syarat-syarat hak mendapat Syafaat


Semua syafa’at adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, maka syafa’at yang diterima di sisi-Nya hanyalah syafa’at yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan-Nya.[1]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

Katakanlah, “Semua syafa’at itu milik Allah (semata-mata).” (QS. az-Zumar: 44).

Syarat-syarat diterimanya syafa’at tersebut adalah[2]:

1- Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang yang akan memberi syafa’at.

Dalam hal ini mereka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi lainnya ‘alaihissalam, serta para Malaikat dan orang-orang yang shaleh dari kaum mukminin, demikian juga anak-anak kaum muslimin yang meninggal dunia sebelum baligh (dewasa), dua atau tiga orang, dapat memberi syafa’at kepada orang tuanya.[3]

2- Ridha Allah Ta’ala terhadap orang yang akan diberi syafa’at.

3- Izin Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam pemberian syafa’at tersebut.

Dan izin dari-Nya adalah setelah ridha-Nya kepada orang yang akan memberi syafa’at dan orang yang akan diberi syafa’at.

Dalil-dalil yang menunjukkan ketiga syarat tersebut adalah ayat-ayat al-Qur’an yang kami sebutkan di atas.

Adapun hadits-hadist di atas, maka semua menunjukkan bahwa hanya orang-orang yang bertauhid dengan mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah dan menjauhi segala bentuk perbuatan syirik kepada Allah, merekalah yang diridhai oleh Allah dan mendapat izin dari-Nya untuk menerima syafa’at. Sementara orang-orang yang berbuat syirik maka syafa’at untuk mereka tertolak dan tidak bermanfaat di sisi-Nya.

Sebagaimana firman-Nya,

فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

Maka tidak berguna bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” (QS. al-Muddatstsir: 48).[4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Syafa’at yang dinafikan (dalam) al-Qur’an secara mutlak adalah yang terdapat kesyirikan padanya, inilah yang tertolak secara mutlak.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan syafa’at (yang benar) dengan izin-Nya di beberapa ayat (dalam al-Qur’an), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan (dalam hadits-hadits yang shahih) bahwa syafa’at tersebut hanya berlaku bagi orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadahnya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata), maka syafa’at tersebut bersumber dari tauhid dan yang berhak menerimanya (hanyalah) orang-orang yang bertauhid.”[5]

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Renungkanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (dalam hadits di atas); bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan sebab utama untuk mendapatkan syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memurnikan tauhid (penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata), yang ini sangat berseberangan dengan persangkaan orang-orang musyrik bahwa syafa’at itu diraih dengan menjadikan pelindung-pelindung (selain Allah) sebagai pemberi syafa’at, menyembah dan berloyal kepada mereka.[6]

Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membantah persangkaan dusta orang-orang musyrik tersebut dan beliau r menyampaikan bahwa sebab (untuk meraih) syafa’at adalah (dengan) memurnikan tauhid, dan ketika itulah Allah mengizinkan kepada pemberi syafa’at untuk memberikan syafa’at… Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan meridhai ucapan dan perbuatan (manusia) kecuali (yang dilandasi) tauhid kepada-Nya dan ittibaa’ (mengikuti petunjuk dan sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ….”[7]

 

Macam-macam syafa’at


Secara umum, syafa’at terbagi menjadi dua macam[8]:

1- Syafa’at yang benar,

yaitu syafa’at yang ditetapkan dalam al-Qur’an dan memenuhi syarat-syarat syafa’at yang kami sebutkan di atas.

2- Syafa’at yang batil,

yaitu syafa’at yang dinafikan dalam al-Qur’an karena tidak memenuhi syarat-syarat di atas, inilah syafa’at yang dijadikan sandaran oleh orang-orang musyrik kepada sembahan-sembahan mereka, di mana mereka menyembah sembahan-sembahan tersebut dan menyangka sembahan-sembahan tersebut bisa memberi syafa’at untuk mereka di sisi Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah kepada selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Sembahan-sembahan itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi”? Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS. Yunus: 18).

Akan tetapi syafa’at ini tertolak dan tidak bermanfaat sama sekali, sebagaimana firman-Nya,

فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

Maka, tidak berguna bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” (QS. al-Muddatstsir: 48).

Kemudian syafa’at yang benar terbagi lagi menjadi dua bagian besar[9], yaitu:

a) Syafa’at yang khusus

dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Terbagi atas tiga macam:

1- Syafa’at al-’uzhma (syafa’at yang paling agung),

Iinilah al-maqaamul mahmuud (kedudukan yang terpuji) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[10]

Syafa’at ini adalah syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh umat manusia ketika mereka dikumpulkan di padang mahsyar untuk menunggu keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada waktu itu manusia merasakan kesusahan dan penderitaan yang sangat besar, sehingga mereka mendatangi para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa bin Maryam, agar meminta syafa’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi mereka.

Tapi semua para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut mengajukan keberatan, lalu mereka meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliaulah yang diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberikan syafa’at tersebut.[11]

 

2- Syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penghuni surga untuk masuk ke dalam surga,

Karena ketika penduduk surga telah melewati ash-shiraath (jembatan yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahanam), mereka mendapati pintu surga tertutup. Maka mereka meminta kepada para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas untuk meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar membuka pintu surga, tapi mereka tidak mampu, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminta syafa’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membukan pintu-pintu surga bagi penghuninya.[12]

Inilah yang diisyaratkan oleh Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

Akulah yang pertama kali (diizinkan Allah Subhanahu wa Ta’ala) untuk memberikan syafa’at di surga.”[13]

Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Aku mendatangi pintu surga pada hari Kiamat lalu aku meminta dibukakan (pintu surga), maka penjaga surga bertanya, ‘Siapakah kamu?’, aku menjawab, ‘(Aku Nabi) Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam)’, maka penjaga itu berkata, “Dengan kamulah aku diperintahkan untuk tidak membukakan (pintu surga) kepada seorangpun sebelummu.”[14]

3- Syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was allam kepada paman beliau Abu Thalib untuk meringankan azab yang menimpanya di neraka.

Dalam hadits yang shahih, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah engkau bisa memberi manfaat (walaupun) sedikit kepada pamanmu (Abu Thalib), (Karena) dulu dia selalu melindungi dan membelamu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Iya, dia (berada) di tempat yang dangkal (tidak dalam) di Neraka (diringankan siksaannya), kalau bukan karena aku, maka mestinya dia (ditempatkan) di dasar neraka yang paling bawah).”[15]

Imam an-Nawawi dalam kitab Shahih Muslim mencantumkan hadits ini pada bab: Syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada (paman beliau) Abu Thalib.

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Semoga syafa’atku bermanfaat baginya (Abu Thalib) pada hari Kiamat, sehingga dia ditempatkan di neraka yang dangkal, yang mencapai kedua mata kakinya dan dengan itu otaknya mendidih.”[16]

Syafa’at ini khusus hanya bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paman beliau Abu Thalib, karena hukum asalnya orang kafir tidak bisa mendapatkan syafa’at, maka ini merupakan pengecualiaan dan pengkhususan. Dan syafa’at inipun tidak mengeluarkannya dari Neraka, tapi cuma meringankan azab yang menimpanya.[17]

 

b) Syafa’at umum

yang bisa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain beliau, yaitu para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, para Malaikat dan orang-orang yang shaleh dari kaum mukminin. Syafa’at ini juga ada tiga macam:

1- Syafaa’at kepada orang-orang beriman yang berhak masuk Neraka karena dosa-dosa mereka,

maka dengan syafa’at tersebut mereka tidak dimasukkan ke dalam neraka.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Syafa’at ini bisa dijadikan sebagai dalil yang menunjukkannya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah akan menerima/mengabulkan syafa’at mereka terhadapnya.[18]

Sesungguhnya syafa’at (dalam hadits) ini terjadi sebelum orang tersebut masuk neraka, maka Allah menerima/ mengabulkan syafa’at mereka terhadapnya.”[19]

2- Syafa’at kepada orang-orang beriman yang telah dimasukkan ke dalam neraka karena dosa-dosa mereka,

kemudian dengan syafa’at tersebut mereka dikeluarkan dari neraka.

Syafa’at ini disebutkan dalam banyak hadits shahih dan bahkan mencapai derajat mutawatir, sehingga para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semua Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat menetapkan syafa’at ini.

Bahkan semua kelompok dalam Islam menetapkannya, kecuali dua kelompok yang mengingkarinya, yaitu Khawarij dan Mu’tazilah, mereka mengingkari syafa’at kepada pelaku maksiat secara mutlak, karena keyakinan sesat mereka bahwa pelaku dosa besar akan kekal selamanya di dalam Neraka.[20]

Dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik dan Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Syafa’atku adalah untuk para pelaku dosa besar dari umatku.”[21]

3- Syafa’at bagi penduduk surga untuk meninggikan derajat mereka dan menambah keutamaan mereka.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata[22], “(Dalil yang menunjukkan) syafa’at ini diambil dari doa kaum mukminin sebagian mereka kepada yang lain, sebagaimana doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abu Salamah radhiallahu ‘anhu,

Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya (di Surga) bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk, lapangkan dan terangilah kuburannya, dan jagalah orang-orang yang ditinggalkannya.”[23]

 


[1] Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir (4/72) dan Tafsir al-Qurthubi (15/264).
[2] Lihat kitab-kitab berikut: Tafsir Ibnu Katsir (4/72), Tafsir al-Qurthubi (15/264), Fathul Majiid (hal. 244-245), Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/168) dan Al-Irsyad ila Shahiihil I’tiqaad (hal. 224).
[3] Sebagaimana dalam hadits riwayat an-Nasa’i (no. 1876), Ahmad (2/510 dan  6/431) dan al-Hakim  (no. 1416), dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim,  adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani.
[4] Lihat kitab Fathul Majiid (hal. 251) dan Al-Irsyad ila Shahiihil I’tiqaad (hal. 224).
[5] Kitab Majmu’ul Fataawa (7/79).
[6] Sebagaimana ucapan mereka yang dinukil dalam al-quran surat Yunus: 18.
[7] Kitab Madaarijus Saalikiin (1/341).
[8] Lihat kitab Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/168) dan Asy-Syafa’ah (hal. 8-12). Lihat juga pembagian macam-macam syafa’at dalam referensi berikut: Al-’Aqiidatil Waasithiyyah (hal. 20),  Fathul Majiid (hal. 251-252), Al-Irsyad ila Shahiihil I’tiqaad (hal. 224), dan Riyaadhul Jannah.
[9] Lihat kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/332-335).
[10] Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 589 dan 1405).
[11] Lihat selengkapnya dalam hadits yang panjang riwayat al-Bukhari (no. 7002) dan Muslim (no. 193).
[12] Sebagimana dalam hadits shahih yang panjang riwayat Imam Muslim (no. 195).
[13] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 196).
[14] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 197).
[15] Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 3670 dan 5855) dan Muslim (no. 209).
[16] Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 3672 dan 6196) dan Muslim (no. 210).
[17] Lihat kitab Fathul Majiid (hal. 252), Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/176-177) dan Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/334).
[18] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 948).
[19] Kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/334-335).
[20] Lihat kitab Fathul Majiid (hal. 251), Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/178) dan Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/335).
[21] Hadits riwayat Abu Dawud (no. 4739), at-Tirmidzi (no. 2435), Ibnu Majah  (no. 4310), Ahmad (3/213), Ibnu Hibban (no. 6467 dan 6468) dan al-Hakim  (no. 228 dan 3442), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu  Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani.
[22] Dalam kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/335).
[23] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 920).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: