Sejarah Nagari Talu


Histografi

Talu adalah sebuah Nagari, ibu kota dari Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat. Kecamatan Talamau terdiri dari 3 Kanagarian, setelah dikeluarkan dari Kabupaten Pasaman.

Pemekaran Kabupaten Pasaman menjadi dua kabupaten memecah Kecamatan Talamau menjadi dua Kecamatan yang terpisah. Kanagarian Cubadak dan Simpang Tonang digabung membentuk Kecamatan Duo Koto menjadi bagian Kabupaten Pasaman .

Sedangkan kanagarian Talu, Sinuruik dan Kajai tetap sebagai kecamatan Talamau menjadi bagian dari Kabupaten Pasaman Barat. Pasca pemecahan Kabupaten, maka lokasi Kecamatan Talamau yang tadinya terletak di tengah-tengah Kabupaten Pasaman, sekarang terletak dipinggiran kedua kabupaten.

Menurut buku Tambo Minangkabau dan adatnya terbitan Balai Pustaka th 1956, Talu adalah salah satu tepatan dari Pagaruyung disamping tepatan- tepatan lainnya.

Sebagaimana ditulis pada Bab I pucuak adat yang ada disebut dunsanak batali darah ka Pagaruyuang. Terbentuknya nagari Talu mengikuti proses nagari nan ampek :

Sri Maharajo dirajo dari Pagaruyung membuat taratak dipertemuan Batang Tolu dengan Batang Poman.

Taratak berkembang menjadi dusun atau kampung.

Dusun/kampung berkembang menjadi Koto disebut Koto Dalam.

Setelah memenuhi syarat baampek suku, bapandan pakuburan , babalai bamusajik, bakorong 

bakampuang dan lain- lain berkembang menjadi nagari.

Menurut kata-kata adat :

 

“Manuruik warih nan bajawek sarato umanah nan ditarimo tantangan nagari Talu. Tatkalo nagari kadiunyi , buek sudah kato lah abih, ukua jo jangko lah salosai adaik lah olah jo ranjinyo, sawah lah sudah jo lantaknyo. Sawah balantak basupadan, ladang baagiah babintalak, padang babari balagundi, rimbo baagiah balinjuang, bukik dibari bakarakatau.

Nagari dibari babatasan, ka ilia supadan Sungai Abuak dengan Daulaik Parik Batu, ka mudiak aia Panarahan dengan Tuanku Rajo Sontang, ka baraik babateh jo Kiawai ka timur babateh jo Sundata, ka ateh ka ambun jantan ka bawah ka kasiak bulan didorong dek gurindam kato adaik.

Dari mulo Sri Maharaja Diraja mambuek taratak jadi kampuang,kampuang jadi koto sampai jadi nagari iyo balaku titiak dari ateh, lareh Koto Piliang Datuak Katumanggungan.”

Luhak ba pangulu, rantau barajo itu kato pepatah Minang.

 

Pasaman adalah daerah rantau dimana terdapat banyak pucuak adat sebagai rajo, lareh Koto Piliang antara lain:

 

  • Daulat Parik Batu di Pasaman
  • Tuanku Bosa di Talu
  • Rajo Bosa di Sundatar Lubuk Sikaping
  • Tuanku Rajo Sontang di Cubadak
  • Daulat Yang dipertuan di Kinali
  • Yang Dipertuan Padang Nunang di Rao
  • dan lain- lain

Negeri Talu barajo Tuanku Bosa pucuak adat sebagai rajo. Sistem Datuk Katumanggungan, Lareh Koto Piliang. Wilayah daulat Tuanku Bosa disebut Kabuntaran Tolu yang jauh lebih luas dari wilayah Nagari Talu saat ini.

  • Wilayah Kabuntaran Talu adalah :
  • Utara berbatas dengan Teluk Rantau/ Rajo Sontang
  • Selatan berbatasan dengan Wilayah Daulat Parit Batu
  • Timur berbatasan dengan Sundatar
  • Barat berbatasan dengan Muara Kiawai dan wilayah Daulat Parit Batu

Dalam perkembangannya wilayah kabuntaran Talu menyusut dengan terbentuknya nagari Kajai dan Sinuruik. Sekarang wilayah Tuanku Bosa disebut Salingka Nagari Talu yang luasnya persis sama dengan nagari Talu. Kajai terbentuk dengan kesepakatan 2 rajo badunsanak disebut “sako dari Daulat Parit Batu, pusako dari Tuanku Bosa“.

Kalau dulunya batas Kabuntaran Talu dengan langgam Pasaman di Sungai Abuak (rambut), setelah itu Tuanku Bosa berbatas dengan Kajai di Jembatan Panjang. Sedangkan dengan Sinurut belum pemah disebut ungkapan seperti dengan Kajai, sampai sekarang disebut “tangguak duo karuntuang ciek“.

Namun batas nagari sesuai dengan batas pemerintahan yang sudah dibuat sejak pemerintahan Belanda. Dulu Kabuntaran sekarang disebut Salingka Nagari Talu dengan batas- batas sebagai berikut :

 

  • Utara dengan Nagari Sinurut / Teluk Rantau
  • Selatan dengan Nagari Kajai / Daulat Parit Batu
  • Barat dengan Muaro Kiawai
  • Timur dengan Sundatar.

 

Wilayah ini menjadi batas Nagari Talu sebagai wilayah Pemerintahan formal Kenagarian Talu.

Terdapat 3 pemerintahan adat yang berdekatan wilayahnya dengan system Datuk Katumanggungan barajo :

 

  • Daulat Parit Batu dari Pagaruyung mendirikan pemerintahan disebut Langgam Pasaman di Parit Batu Simpang Empat.
  • Tuanku Bosa dari Pagaruyung yang mendirikan pemerintahan di Kabuntaran Talu
  • Tuangku Rajo Sontang dari Tapanuli Selatan yang diberikan Wilayah dan mendirikan pemerintahan di Teluk Rantau.

Ketiga Raja ini pernah mengadakan perjanjian di Talu persisnya di Koto Dalam .

Hasil perundingan adalah perjanjian bahwa sama-sama menghormati, tidak akan saling mengganggu atau saling menganiaya. Lengkapnya kesepakatan tersebut adalah ” Seorang dihaluan, seorang dikemudi dan seorang dikelok pembuntaran.

Dalam pepatah berbunyi

Kerbau badur di Parit Batu

kerbau balung di Talu,

runcing tanduk tajam garaham lalu ka Sontang.

Yang bermakna kesatuan kepemimpinan dalam tali  tigo sapilin, atau  tungku tigo sajarangan , kalau condong tungkek manungkek, kalau jatuah butia mambutia, kalau hanyuik tolong manolong.

Kalau di kerajaan Daulat Parit Batu bersua orang bersalah hukumannya Tohok Perang artinya dosa tidak boleh disembah, utang tidak boleh dibayar.

Kalau di kerajaan Tuanku Bosa di Talu bersua orang bersalah hukumannya Andam Karam, artinya utang boleh dibayar, salah boleh ditimbang.

Kalau di kerajaan Tuanku Rajo Sontang di Teluk Rantau bersua orang bersalah hukumannya melukai sekali setahun, membunuh sekali belum, artinya didenda sehabis- habisnya seekor kerbau dan beras secukupnya.

Cerita turun temurun menyatakan asal nama Talu adalah dari pertemuan tiga raja ini yang dalam bahasa Batak tiga adalah Tolu. Maka daerah kabuntaran Talu dikukuhkan sebagai Tolu.

Bagitu pula salah seorang kemenakan Tuanku Bosa ke VII bernama Puti Tolu, kemungkinan lahir setelah perjanjian tiga raja ini. Kemungkinan waktu pelaksanaan perjanjian ini pada awal abad XIV.

Waktu datangnya Sri Maharajo Dirajo dan membuat taratak, begitu pula tahun Sri Maharaja dinobatkan jadi Tuanku Bosa I tidak diketahui, tidak ada catatan tertulis mengenai sejarah Tuanku Bosa I s/d VI.

Riwayat pembentukan nagari Talu dari yang diterima turun temurun dan beberapa catatan adalah sebagai berikut :

Sri Maharaja Diraja dan rombongan tiba di Talu dari Pagaruyuang melalui Payakumbuh. Membuat taratak di patomuan Batang Tolu dengan Batang Poman dibawah bukit barisan.

Setelah beberapa waktu datang dunsanak dari Pagaruyuang bergabung dengan rombongan Sri Maharaja, diberi tanah, perumahan dimudiak kampuang.

Beberapa waktu kemudian datang lagi dunsanak dari Pagaruyuang, diberi tanah perumahan di mudiak kampuang lagi, jadilah 3 induak badunsanak tinggal di Koto Dalam.

Terakhir datang lagi dunsanak laki- laki dari Kinali yang juga berasal dari Pagaruyuang.

Karena tanah dikampung Koto Dalam telah penuh maka Tuanku Bosa menyerahkan tanah dan menyuruh Taruntun mambuek kampung di aie nan joniah toluak nan barombun dengan membao dunsanak padusi dari Koto Dalam.

Kampung yang didirikan Taruntun tersebut sekarang bernama Toluak Ambun suku Jambak, niniak mamaknya bergelar Majo Sadeo. Karena Bundo Kanduang Toluak Ambun adalah dari Koto Dalam yang ikut pindah bersama Taruntun, maka turunannya di Toluak Ambun ditetapkan Puti Koto Dalam.

Puti Koto Dalam di Toluak Ambun selalu dijemput dengan siriah jo carano, untuk menghadiri upacara adat di Koto Dalam. Sedangkan Taruntun yang belum berkeluarga mencari pasangan hidup ke utara sampai ke daerah Mandailing. Taruntun mendapat jodoh seorang istri dari Desa Batahan Tapanuli Selatan dengan marga Nasution.

Secara berangsur- angsur Sri Maharaja mendirikan kampung dan mengangkat pangulu atau datuk untuk memimpin masing- masing kampung.

Jika kita cermati status pangulu dan datuk, serta lokasi kampung yang dibentuk dapat disimpulkan beliau memperhatikan :
Kemudahan kehidupan masyarakat kampung dekat sungai ( air) dan tanah yang dapat dibuat sawah.

Unsur komunikasi, tidak terlalu jauh dapat dijangkau bunyi tabuah

Unsur keamanan Koto Dalam.

Kapan Koto Dalam memenuhi persyaratan menjadi nagari, ba ampek suku, bakorong bakampuang, basosok bajarami, balabuah batapian, barumah batanggo, basawah baladang, babalai bamusajik dan bapandan pakuburan tidak diketahui secara pasti.

Begitu pula kapan Sri Maharaja Diraja mengangkat dirinya menjadi Tuanku Bosa ke I tidak diketahui. Tidak ada catatan tertulis, begitu pula cerita turun temurun putus ditengah jalan tidak sampai ke generasi sekarang.

Namun dapat disimpulkan bahwa nagari terbentuk pada zaman Sri Maharaja diraja sehingga beliau mengangkat diri jadi raja, Tuanku Bosa II Panjang Bulu Mato yang dimakamkan di Pangka Sapek dibuatkan kuburan 7 tingkat yang masih utuh sampai sekarang.

Konon menurut cerita kuburan dibuat tujuh tingkat karena saat beliau wafat sudah ada 7 andiko dibawahnya. Tuah beliau pula, dimana pohon maransi yang tumbuh diatas kuburan bertingkat tujuh, bercabang tujuh pula dari bawah.

Untuk mengurus Koto Dalam, Tuanku Bosa dibantu oleh tiang pendek dengan gelar Angku Mudo. Dibidang agama . syarak dibantu oleh Tuanku Kadhi.

Dari catatan niniak – niniak terdahulu terlihat pembagian tugas dan tanggung jawab yang tertib yaitu :

  • Angku Mudo selalu dari induak mudiak
  • Tuanku Kadhi selalu dari induak tongah
  • Tuanku Bosa selalu dari induak ilia yang datang pertama.

Campur Tangan Belanda dan Awal Mula Konflik Perebutan Kekuasaan Mulai dari Tuanku Bosa I Sri Maharaja Diraja, sampai dengan Tuanku Bosa XI Mandak berasal dari induak ilia, kecuali Tuanku Bosa XII Tangiang dari Induak Tongah.

Berbeda dengan Tuanku Bosa sebelum- sebelumnya, sejak dulu Tuanku Bosa diangkat Belanda manjadi Tuanku Lareh, sedangkan, alm Tangiang diangkat Belanda menjadi Tuanku Lareh baru 20 th setelah itu menjadi Tuanku Bosa.

Pada tahun 1907 Belanda memensiunkan Mandak Tuanku Bosa XI dan mengangkat Tangiang sebagai Tuanku Lareh. Selama 20 tahun mulai tahun 1907 s/d 1927 terdapat 2 pemerintahan di Talu yaitu pemerintahan adat oleh Tuanku Bosa XI Mandak dan pemerintahan Belanda oleh Tuanku Lareh Tangiang.

Sampai tahun 2007 telah 14 orang yang memangku jabatan Tuanku Bosa dengan urutan sebagai berikut :

1. Tuanku Bosa I,

Maharaja diraja pendiri pemerintahan adat Talu, dimakamkan dikuburan Pangka Sapek

2. Tuanku Bosa II,

Panjang Pulu Mato dimakamkan dikuburan Godang. Kuburan beliau bertingkat 7 yang menggambarkan waktu itu baru 7 andiko dibentuk. Diatas kuburan 7 tingkat ini tumbuh pohon yang bercabang tujuh pula. Padahal diatas kuburan Tuanku Bosa I pohon yang sama tumbuh tanpa cabang sampai setinggi ± 10 M.

3. Tuanku Bosa III

bergelar Tuanku Sundatar, dimakamkan di Sundatar Lubuk Sikaping.

4. Tuanku Bosa IV

Godang Hiduang dimakamkan dikuburan Godang.

5. Tuanku Bosa V

Kociak Bunyi, dimakamkan dikuburan Godang

6. Tuanku Bosa VI

Durian Tanjung dimakamkan dikuburan Godang

7. Tuanku Bosa VII

Orang Tuo Jarung, dimakamkan dikuburan Godang

8. Tuanku Bosa VIII

Sutan Jamin memerintah sebagai tuanku lareh dari tahun 1840 s/d 1845.

Memangku jabatan sebagai Tuanku Bosa s/d tahun 1854 sampai beliau meninggal dunia dan makamkan di kuburan Aie Tabik. Pada tahun 1845 karena sakit beliau mangulipah, menyerahkan tugas dan wewenang Tuanku Bosa dan jabatan Tuanku Lareh kepada kemenakan beliau Sutan Soru Alam. Beliau mangulipah semasa hidup.

9. Tuanku Bosa IX,

Sutan Soru Alam memerintah dalam 2 periode:

Tahun 1845 s/d 1854 sebagai pemangku jabatan Tuanku Bosa dan sebagai wakil Tuanku Lareh, Tuanku Bosa dan Tuanku Lareh tetap dijabat Tuanku Bosa VIII Sutan Jamin meskipun tidak aktif karena sakit.

Tahun 1854 s/d 1871 Resmi diangkat menjadi Tuanku Bosa IX dan memangku jabatan Tuanku Lareh, setelah Tuanku Bosa VIII wafat tahun1871 dimakamkan di pemakaman Aie Tobik.

10.  Tuanku Bosa X,

Sigigi. Tumbuh gigi sejak lahir, memerintah tahun 1871 s/d 1874. Wafat tahun 1874 dimakamkan dipemakaman Aie Tobik.

11. Tuanku Bosa XI

Mandak; memerintah sebagai Tuanku Lareh 1874 s/d 1907.

Pada tahun 1907 beliau dipensiunkan Belanda dari jabatan Tuanku Lareh. Disebut sebagai Tuanku Bosa Pensiun. Meninggal sebagai Tuanku Bosa dan pensiunan Tuanku Lareh pada tahun 1931 dimakamkan dikuburan Kapunduang.

12. Tuanku Bosa XII

Tangiang. Diangkat menjadi Tuanku Bosa pada tahun 1927, pada saat mana Tuanku Bosa XI Mandak masih hidup. Sebelum memangku jabatan Tuanku Bosa beliau menjabat sebagai Tuanku lareh menggantikan Mandak Tuanku Bosa XI pada tahun 1907. Pada tahun 1927, Controleur Talu meminta kepada Tunaku Bosa XI Mandak untuk memberi izin kepada Tangiang, Wali Nagari menjabat Tuanku Bosa.

Dengan berat hati Tuanku Bosa XI Mandak terpaksa menyetujui permintaan Controleur tersebut.

Atas persetujuan itulah Tangiang diangkat menjadi Tuanku Bosa XII. Pada hari panobatan Tangiang menjadi Tuanku Bosa, seluruh rumah induak ilia ditutup, baik pintu maupun jendela sebagai tanda tidak setuju.

Mulai tahun 1927 sampai tahun 1931 Talu memiliki 2 rajo yaitu :

  • Tuanku Bosa XII Tangiang, merangkap wali nagari
  • Tuanku Bosa XI, Mandak pensiunan Tuanku Lareh.

Belanda sebagai pemerintah kolonial punya kekuasaan mengatur segala sesuatu sesuai dengan kepentingan pemeritahannya. Tuanku Bosa XII Tangiang meninggal di Talu pada tahun 1959.

Selama 32 tahun memangku jabatan Tuanku Bosa, tuanku lareh dan walinagari, almarhum Tangiang tidak pernah memakai pakaian kebesaran Tuanku Bosa yaitu saluak ameh sebagai makhota dan korih ameh. Beliau selalu memakai saluak dari batik dan pedang panjang dalam upacara resmi.

Pakaian kebesaran Tuanku Bosa tersimpan rapi dirumah Puti Koto Dalam almarhum Hadiah, yang bertugas menyimpan dan merawat pakaian tersebut. Saat mengawinkan putera beliau, Munir St. Lembak Tuah, beliau meminjam saluak dan korih omeh untuk dipakai marapulai.

Dua hari sehabis upacara baralek godang kedua pakaian dikembalikan ke Koto Dalam di rumah puti dengan ucapan terima kasih. Pakaian kebesaran tetap tersimpan dan terawat dengan baik di rumah puti koto dalam induak ilia.

Patut dihormati sikap beliau yang tidak memakai pakaian kebesaran Tuanku Bosa, padahal jika beliau ingin dengan kekuasaan sebagai Tuanku Bosa dan sebagai wali nagari tidak sulit untuk mengambil makhota tersebut, namun tidak dilaksanakan.

Dimasa tua atau saat menjelang wafat beliau tidak melaksanakan tugas suksesi sesuai dengan adat yaitu beliau tidak mangulipah dan tidak berwasiat menetapkan siapa penggantinya.

Beliau tidak menerapkan, hiduik bakarilahan, mangulipah dan atau mati batungkek bodi. Sikap beliau tersebut tentu berdasarkan bisikan hati nuraninya yang mungkin menyatakan itu bukan pakaiannya (mahkota) dan bukan hak serta wewenang nya ( suksesi).

Namun setelah kepergian beliau, cucu kemenakan almarhum dari induak tongah dan induak mudiak mulai menggulir isu “sako balega cahayo batimbang“ (jabatan Tuanku Bosa harus bergilir di tigo induak), tidak didominasi induak ilia seperti dulu dari Tuanku Bosa I sampai dengan XI. Induak ilia tidak pernah menganggapi isu tersebut, karena tidak sesuai dengan adat yang berlaku yang diterima turun temurun.

13. Tuanku Bosa XIII

Iskandar Zulkarnaini dinobatkan pada bulan september 1984 dan dilewakan pada 28 – 29 juni 1985 di rumah godang kaum di padang panjang dihadiri oleh pejabat tingkat kecamatan, kabupaten dan propinsi.

 

14. Tuanku Bosa XIV

H. Fadlan Maalip Tuanku Sorualam, seorang dokter, ahli kesehatan masyarakat, pensiunan pegawai negeri mendapat gelar bangsawan Kanjeng Raden Haryo Husododiningrat dari Pkubuwono XII Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Sejarah berulang pada dua orang pewaris trah Tuanku Bosa yang kebetulan mendapat gelar sama yaitu Sorualam,

Sutan Sorualam Tuanku Bosa IX, menerima kulipah dari mamandanya Tuanku Bosa VIII tahun 1845, dan menerima wasiat sebagai pengganti pada th 1854.

Tuanku Sorualam Tuanku Bosa XIV, menerima kulipah dan wasiat dari kakaknya Tuanku Bosa XIII pada bulan Februari dan Maret 2007.

Proses pengangkatan Tuanku Bosa XIV mendapat hambatan dari pemangku angku mudo dan duo mamak tuo, induak mudiak dan induak tongah. Isu soko balega cahayo batimbang, dihembuskan dengan keras. Ditambah lagi isu angku mudo tiang pendek otomatis jadi tiang panjang kalau Tuanku Bosa wafat.

Struktur Adat Nagari Talu

Sesuai dengan sistim adat Datuak Katumanggungan, Talu barajo yaitu Tuanku Bosa. Adat bajanjang naik batanggo turun.

Semua ciri sistim Datuak Katumanggungan terdapat di nagari Talu yaitu :

1. Barajo, Tuanku Bosa, Otokrasi

2. Suku Koto piliang yaitu: Jambak, Malayu, Mandailiang, Maih, Piliang, Tanjung dan Sikumbang.

3. Jumlah datuk/ penghulu genap- 16 + 4 +4

4. Proses Suksesi Turun temurun dari ninik ka mamak, dari mamak ka kamanakan di kampung Koto Dalam Talu, Suku Jambak.

Rueh tumbuah di buku, tuneh tumbuah di mato di batang nan sabatang.

5. Rumah gadang Baanjuang, pintu ditengah- tengah panjang rumah gadang

6. Simbol – Kelapa,  Pucuak bulek tungga.

Disarikan dari Buku Adaik Salingka Nagari Talu (2008)

Satu Tanggapan

  1. Mari membaca, mempelajari sejarah Talu serta membandingkan apa yang ada sekarang dengan catatan lainnya sebagai perbandingan biar yang diterima itu berimbang.

    Menurut versi buku “Talu Pangkal Tali Indonesia Ujung Kata” 70 Tahun Fadlan Maalip Tuanku Bosa XIV :

    Sukses dan pergantian generasi mengemban jabatan pucuk adat gelar Tuanku Bosa sepanjang sejarah Kerajaan Talu dapat diurut sebagai berikut :

    1. Tuanku Bosa I, ialah Maharajo Dirajo rajo Soru Alam. Ia pendiri Kebuntaran Talu. Makamnya ditunjukkan Syaiful Tuanku Zaman (59) ditemukan berbatu nisan hidup makin lama makin tinggi, terletak di bawah Batang Maransi setinggi ± 15 meter yang lurus menjulang ke langit tanpa cabang, di makam tua Kotodalam.

    2. Tuanku Bosa II, ialah Tuanku Panjang Bulu Mato. Makamnya juga mempunyai batu nisan yang tinggi, di pangkal Batang Maransi. Batang Maransi yang tumbuh di makam tua Tuanku Bosa II ini agak aneh. Biasanya Batang Maransi ini tak pernah bercabang seperti di makam Tuanku Bosa I. Tetapi dimakamkan Tuanku Bosa ini bercabang tingkat tujuh. Menurut Syaiful Tuanku Zaman (59) tujuah tingkat cabang Batang Maransi itu secara tidak disadari menggambarkan sebuah masa di era ia memerintah, bahwa waktu itu baru ada Tujuah Datuk Andiko yang dibentuk.

    3. Tuanku Bosa III, ialah Tuanku Sundatar. Makamnya ditemukan di Sundatar, Lubuksikaping.

    4. Tuanku Bosa IV, ialah Tuanku Godang Hiduang. Makamnya ditemukan di makam “Kuburan Godang”.

    5. Tuanku Bosa V, ialah Tuanku Kociak Bunyi. Makamnya ditemukan di “Kuburan Godang”.

    6. Tuanku Bosa VI, ialah Tuanku Durian Tanjung. Makamnya ditemukan di “Kuburan Godang”.

    7. Tuanku Bosa VII, ialah “Kuburan Godang”. Makamnya di “Kuburan Godang”.

    8. Tuanku Bosa VIII, ialah Sutan Jamin. Makamnya di temukan di pemakaman tua Kuburan Ayia Tabik. Diceritakan, ia menjadi Tuanku Bosa VIII merangkap sebagai Tuanku Lareh (1840-1845). Tahun 1845 itu, ia sakit-sakitan. Ia mengambil kebijakan “mangulipah”. Ia tetap memegang jabatan tetapi tugas dan wewenangnya sebagai Tuanku Bosa dan jabatan Tuanku Lareh diserahkan kepada kemenakannya yakni Soru Alam. Pinag kembali ketampuaknya, siriah pulang ke gagangnya “Soru Alam”.

    9. Tuanku Bosa IX, ialah Sutan Soru Alam. Makamnya di Ayia Tobik. Masa pemerintahanya ada dua periode: (1) Pemegang tugas dan kewenangan Tuanku Bosa (1845 – 1854) merangkap sebagai wakil Tuanku Lareh, karena Tuanku Bosa VIII masih memegang jabatan Tuanku Bosa dan Tuanku Lareh, tetapi tak aktif karena sakit; (2) Tuanku Bosa IX (1854 – 1871). Ia dinobatkan sebagai Tuanku Bosa IX merangkap jabatan Tuanku Lareh, pasca wafatnya Tuanku Bosa VIII, tahun 1871.

    10. Tuanku Bosa X (1871 – 1874), ialah Tuanku Sigigi. Makamnya ditemukan di Ayia Tobik. Ia digelari Tuanku Sigigi, karena sejak lahir telah tumbuh giginya.

    11. Tuanku Bosa XI, ialah Tuanku Mandak. Makamnya ditemukan di pemakaman “Kuburan Kapunduang”, ia meninggal tahun 1931. Pada masanya ia merangkap jabatan sebagai Tuanku Lareh (1874 – 1907).

    12. Tuanku Bosa XII (1927 – 1959), ialah Tuanku Tangiang. Sebelumnya ia menjabat sebagai Tuanku Lareh, menggantikan Tuanku Lareh Tuanku Mandak tahun 1907. Terbetik dalam cerita sumber lama (baca juga Buku Adaik Salingka Nagari Talu, 2008) ada silang pendapat, waktu dinobatkan menjadi Tuanku Bosa tahun 1927, terjadi konflik. Saat itu Tuanku Bosa XI Mandak masih hidup. Penobatannya adalah atas kemauan Controleur Afdeling Agama yang berkedudukan di Talu. Controleur meminta kepada Tuangku Bosa XI Mandak, agar memberi izin kepada Tangiang, untuk menjabat Tuanku Bosa XII merangkap Wali Nagari. Menanggapi permintaan penguasa Belanda itu dengan berat hati, Mandak Tuanku Bosa XI menyetujuinya, meski induak di Ilia tidak memberi restu. Namun pada hari panobatan Tangiang menjadi Tuanku Bosa XII di samping sebagai Wali Nagari, konflik sampai pada klimaknya, seluruh pintu dan jendela rumah induak Ilia ditutup. Efeknya, hanya di tataran kekuasaan pemerintahan controleur Belanda, Tangiang mendapat legitimasi sebagai Tuanku Bosa XII dan tidak pada subkultur adat Kerajaan Talu. Akibatnya pula ia tidak dapat memakai pakaian kebesaran Tuanku Bosa yaitu saluak ameh sebagai makhota dan korih ameh, karenanya pula ia selalu memakai saluak dari batik dan pedang panjang dalam upacara resmi. Sedang pakaian kebesaran Tuanku Bosa tetap tersimpan rapi di rumah Hadiah Puti Kotodalam dan dihormati. Tuanku sadar situasinya untuk tidak memakai pakaian kebesaran Tuanku Bosa, meskipun kalau ia mau akan dapat mengambil dan memakai mahkotanya melalui kekuasaan di tangannya sebagai Tuanku Bosa dan sebagai wali nagari.
    Sejak peralihan kekuasaan dengan cara dukungan good father controleur itu, tidak dapat dilakukan suksesi dan peralihan generasi kepemimpinan Tuanku Bosa sesuai dengan adat, yakni tidak ada “mangulipah” dan tidak ada “wasiat” untuk penggantinya. Artinya seperti petitih: hiduik bakarilahan, mangulipah dan atau mati batungkek budi, tidak dapat dilakukannya. Sikap itu dihormati, membuktikan nuraninya masih terpelihara, sepertinya dimengerti, tidak wewenangnya melakukan suksesi (peralihan generasi) karena tidak pakaiannya (mahkota) yang dipakai. Sejak itu pula “pusako lamo dilipek” dan baru dibuka “pusako lamo nan talipek” itu pada penobatan Tuanku Bosa XIII. Tetapi sistemnya, ada suara ingin diubah, digulirkan sebuah ide oleh cucu kemenakan Tangiang Tuanku Bosa XII dari induak tongah dan induak mudiak. Ide itu menjadi isu yang intinya “sako balega cahayo batimbang“ (jabatan Tuanku Bosa harus bergilir di tigo induak), bahwa jabatan Tuanku Bosa, tidak didominasi induak ilia seperti dulu dari Tuanku Bosa I sampai dengan XI. Namun induak di Ilia (Hilir) tidak menganggapi isu itu, sebab tidak sesuai dengan adat nan dipakai dan berlaku bahwa jabatan Tuanku Bosa itu justru diwariskan dan diterima secara turun temurun.

    13. Tuanku Bosa XIII, ialah Iskandar Zulkarnaini. Ia dinobatkan September 1984 dan dilewakan pada 28 – 29 Juni 1985 di Rumah Godang kaum di Padang Panjang.

    14. Tuanku Bosa XIV, ialah H. Fadlan Maalip Tuanku Soru Alam. Ia juga pernah dianugerahi gelar bangsawan Kanjeng Raden Haryo Husododiningrat dari Pakubuwono XII Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
    Penobatan Fadlan Maalip menjadi Tuanku Bosa XIV, sepertinya siriah pulang ka gagangnyo, pinang pulang ka tampuaknyo. Yang menjadi Tuanku Bosa kembali Soru Alam. Sri Maharaja Diraja Rajo Soru Alam. Sutan Soru Alam Tuanku Bosa IX, menerima kulipah dari mamaknya Tuanku Bosa VIII tahun 1845 dan Sembilan tahun kemudian (1854) menerima wasiat sebagai penggantinya. Tuanku Soru Alam Tuanku Bosa XIV ini, menerima kulipah dan wasiat dari kakaknya Tuanku Bosa XIII pada Februari dan Maret 2007. Namun dalam proses suksesi dan penobatan Tuanku Bosa XIV juga tidak luput dari konflik. Akarnya angin soko balega cahayo batimbang kembali berhembus keras. Juga disertai isu, angku mudo tiang pendek otomatis jadi tiang panjang kalau Tuanku Bosa wafat. Isi ini melahirkan tantangan. Tantangan dan hampir saja menjadi hambatan, datang dari pemangku angku mudo dan duo mamak tuo, induak mudiak dan induak tongah. Tetapi kehadiran Fadhlan Maalip, praktis menjadi safety valve (katup pengaman), dengan bijak ia dapat menyelesaikan kusuik itu, yang tidak lebih dari kusuik bulu ayam, paruah menyelesaikan. Ternyata dengan Tuanku Bosa XIV Fadhlan Maalip ini, Talu tersiar7 bangkit dalam mengangkat martabat salah satu nagari dan kerajaan kerabat Pagaryung yang begengsi di Talu yang kental dalam sistem adat kelarasan koto piliang.

    Menurut versi catatan lama, Dt Tuangku Kari yang ditulis tertanggal 8 Januari 1967 :

    Yang menjadi pucuk adat, raja adat di negeri Talu :

    1. Dt Maharaja Diraja, yang turun dari Pagaruyung 1678 – 1724 (46 tahun)

    2. Tansari, kemudian bergelar Tuangku Besar
    (Tiang Panjang) Permata Hitam
    1728 -1762 (38 tahun)
    Angku Muda : Si Bojok (Tiang pendek) Permata Putih

    3. Si Bojok Tuangku Besar
    Angku Muda : Sari Alam
    1762 – 1798 (36 tahun)

    4. Sari Alam Tuangku Besar
    Angku Muda : St Yamin
    1798 – 1806 (8 tahun)

    5. St Yamin Tuangku Besar
    1806 -1853 (47 tahun)
    Angku Muda : Lembang Alam, meninggal tahun 1842 dan diangkat menjadi Angku Muda ialah Saru Alam.
    Pada tahun 1838 setelah Belanda masuk ke Pasaman St Yamin (Tuangku Besar) diangkat jadi Laras di kenegerian Talu.
    Tahun 1848 beliau dapat sakit otak dan tahun 1853 beliau meninggal, selama beliau sakit diwakili oleh Saru Alam (Angku Muda)

    6. Saru Alam tuangku Besar
    Serta menjadi Laras 1853 -1888 (35 tahun)
    Angku Mudo : Latip, 19 tahun menjalankan tugasnya beliau meninggal tahun 1872. Setelah Latip (Angku Mudo) ini meninggal segala sesuatu hal yang terjadi dalam soko gadang diselesaikan saja oleh Tuangku Besar (Saru Alam). Tiga tahun terakhir (1885 -1888) beliau dapat sakit gatal-gatal seluruh badannya dan lemah terus meninggal tahun 1888. Sewaktu beliau sakit itu diangkat Si Gigi menjadi wakilnya serta menjalankan tugasnya sebagai Laras.

    7. Si Gigi Tuangku Besar
    Serta merjadi Laras 1888 – 1891 (3 tahun)
    Hanya 3 tahun saja sebab beliau meninggal tahun 1891.
    Angku Muda : Maksaru

    8. Mandak Tuangku Besar
    1891 – 1928 (37 tahun)
    Menjadi Laras sampai bulan Agustus 1903 lalu berhenti dan mendapat pensiun.
    Maksaru (Angku Muda) berhenti tahun 1896 digantikan oleh Si Letek.
    Pada bulan Maret 1914 Si Letek permisi pergi ke Medan, karena beliau bermaksud lama tinggal di Medan, lalu dikirimkannya surat menghibahkan gelarnya Angku Muda kepada Tangiang pada bulan September 1914.
    Semenjak itu Tangiang bergelar Angku Muda. 1 Januari 1915 diangkat menjadi kepala Negeri Talu.

    9. Tangiang Tuangku Besar
    1928 – 1959 (31 tahun)
    Jadi kepala negeri 1915 – 1945 yakni sampai Agustus 1945 waktu kemerdekaan Indonesia (30 tahun) dan beliau meninggal 3 Agustus 1959.
    Hal Angku Mudo semenjak meninggalnya Latip (Angku Muda) semasa Tuangku Besar Saru Alam telah mulai terbit perselisihan-perselisihan di antara yang tiga orang anduang di Koto Dalam. Begitu juga di masa Tuangku Besar Mandak, terjadi perkara yang hebat antara Tuangku Besar Mandak dengan Angku Muda Letek, sebab beliau ini (Tuangku Besar Mandak) hendak mengangkat adiknya si Bulat menjadi Angku Muda.
    Sampai pada waktu Tuangku Besar Tangiang orang-orang yang menjabat gelar Angku Muda ini selalu berganti-ganti saja diantara yang tiga anduang.
    Demikianlah saja susun menurut pitua-pitua dari ninik-ninik dan melihat catatan mendiang ninik Letek gelar Rajo Johan (Angku Muda).

    Banyak yang beda to…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: