Syafaat dari Allah


Syafaat dari Allah Menurut Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (3)

Hikmah dan manfaat pemberian izin syafa’at dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan hal ini dalam ucapan beliau,

وأضاف “جوهر (المنفعة) من  هو أن الله تعالى هو الذي يعطي هدايا للأشخاص الذين  (عبادته وحده) معه ليغفر (الخطايا) وهم مع صلاة الشفاعة التي تسمح لإعطاء الله، لمجد الله إلى الشخص مع عليه وحتى أنها وصلت إلى موقف يستحق الثناء… “[1]

“Hakikat (manfaat) dari syafa’at adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang memberi karunia kepada orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadah kepada-Nya semata) dengan Dia mengampuni (dosa-dosa) mereka dengan perantaraan doa dari orang yang Allah izinkan untuk memberi syafa’at, agar Allah memuliakan orang tersebut dengan syafa’at itu dan agar dia mencapai kedudukan yang terpuji….”[1]

Dari penjelasan beliau di atas jelaslah bahwa maksud pemberian izin syafa’at dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dua hal:

1-      Memuliakan orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala izinkan untuk memberi syafa’at.

2-      Memberi manfaat kepada yang diberi syafa’at, yaitu orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadah kepada-Nya semata) dengan Allah Ta’ala mengampuni (dosa-dosa) mereka dengan perantaraan syafa’at tersebut.[2]

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin menjelaskan makna ucapan Ibnu Taimiyah di atas, beliau berkata, “Faidah (manfaat) dari syafa’at adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin mengampuni (dosa-dosa) orang yang menerima syafa’at, tetapi dengan perantaraan syafa’at tersebut.

Dan hikmah dari perantaraan (dengan syafa’at ini) dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam ucapannya (di atas). Seandainya Allah menghendaki, maka Dia akan mengampuni (dosa-dosa) mereka tanpa (perantaraan) syafa’at, akan tetapi Allah ingin menjelaskan (menampakkan) keutamaan dan kemuliaan orang yang memberi syafa’at tersebut di hadapan manusia (pada hari Kiamat). Dan sudah diketahui bahwa orang yang Allah terima syafa’atnya maka (mestinya) dia mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Maka ini berarti pemuliaan terhadap orang yang (diizinkan-Nya) memberi syafa’at, dari dua segi:

Pertama: tampaknya keutamaan pemberi syafa’at tersebut terhadap yang diberi syafa’at.

Kedua: tampaknya kedudukannya (yang mulia) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.[3]

Pembagian golongan manusia dalam menetapkan/mengimani adanya syafa’at

Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan berkata, “Dalam (menetapkan) perkara syafa’at, manusia terbagi menjadi tiga golongan:

– Golongan pertama:

orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas dalam menetapkannya, mereka adalah orang-orang Nashrani, orang-orang musyrik, kelompok ahli Tasawuf yang ekstrim, dan para pemuja/ penyembah kubur (yang dikeramatkan), di mana mereka menjadikan (menganggap) syafa’at (dari) orang-orang yang mereka agungkan di sisi Allah, seperti syafa’at (pertolongan dengan menjadi perantara) yang biasa dilakukan di dunia di hadapan para raja (penguasa), sehingga merekapun meminta syafa’at kepada selain Allah (dan ini adalah perbuatan syirik besar), sebagaimana yang Allah sebutkan (dalam al-Qur’an) tentang orang-orang musyrik.[4]

– Golongan kedua:

kelompok Mu’tazilah dan Khawarij yang berlebihan dan melampaui batas dalam menolak syafa’at, sehingga mereka mengingkari syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syafa’at selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi para pelaku dosa besar.

– Golongan ketiga:

mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menetapkan syafa’at (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) sesuai dengan yang diterangkan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka menetapkan syafa’at dengan syarat-syaratnya (yang kami sebutkan di atas).”[5]

Amal-amal shaleh yang menjadi sebab meraih syafa’at

Sebab terbesar dan utama untuk meraih syafa’at adalah memurnikan tauhid dan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memurnikan al-ittibaa’ (mengikuti dan meneladani) kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana penjelasan di atas.

Disamping itu, dalam hadits-hadist yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa amalan shaleh yang menjadi sebab untuk meraih syafa’at pada hari Kiamat nanti[6], di antaranya:

1. Membaca al-Qur’an dengan merenungi kandungan maknanya.

    Dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya bacaan al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia).”[7]

    2. Memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah setelah melaksanakan shalat-shalat yang wajib).

    Ketika ada seorang pelayan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Keperluanku adalah agar engkau (wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) memberi syafa’at bagiku pada hari Kiamat.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bantulah aku (untuk keperluanmu itu) dengan memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah).”[8]

    3. Banyak berpuasa, baik yang wajib maupun yang sunnah/ anjuran.

      Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘al-’Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa dan al-Qur’an akan memberikan syafa’at pada hari kiamat bagi seorang hamba (yang mengamalkannya), puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya.’. (Bacaan) al-Qur’an (juga) berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya.’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka, keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.[9]

      4. Tinggal di kota Madinah (kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), bersabar atas kesusahannya dan meninggal dunia di sana. Ini disebutkan dalam beberapa hadits shahih.[10]

      5. Membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta al-wasiilah untuk beliau (seperti yang diucapkan pada doa setelah mendengar azan selesai dikumandangkan).

        Dalam hadist yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…Barangsiapa yang meminta al-wasiilah untukku, maka halal baginya (mendapatkan) syafa’atku.”[11]

        6. Jenazah yang dishalatkan oleh empat puluh orang ahli tauhid.

          Dari Abdullah bin ‘Abbas shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berkata, “Sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah akan menerima/ mengabulkan syafa’at mereka terhadapnya.’”[12]

          Perlu juga untuk diingatkan di sini tentang beberapa amalan yang dianggap oleh banyak orang awam sebagai sebab meraih syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal semua itu disebutkan dalam hadits-hadits yang lemah bahkan sebagiannya hadits yang palsu. Seperti menziarahi kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam beberapa hadits, tapi semuanya hadits lemah.[13] Demikian pula berperang membela keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencintai mereka, ini disebutkan dalam hadits yang palsu.[14] Dan hadits tentang keutamaan menghafal empat puluh hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dinyatakan lemah oleh para ulama ahli hadits, seperti Imam Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnul Jauzi dan an-Nawawi.[15]

          Nasihat dan Penutup

          Pemahaman yang benar tentang syafa’at akan memotivasi orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir untuk semakin giat beribadah dan mengamalkan ketaatan kepada Allah Ta’ala, juga akan menambah kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[16] dan berusaha meneladani petunjuk beliau dalam agama.

          Lebih dari pada itu, memahami masalah ini akan menumbuhsuburkan dalam diri orang yang beriman kecintaan kepada Allah, karena dia mengetahui betapa agung kasih sayang dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertauhid, dengan Dia Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk pengampunan dosa-dosa mereka, agar mereka meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

          Bahkan, karena luasnya karunia dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, Dia Ta’ala akan mengeluarkan dari neraka siapa yang dikehendakinya dari orang-orang beriman pelaku maksiat, tanpa syafa’at.

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Kemudian, Allah akan mengeluarkan dari neraka orang-orang (yang beriman pelaku maksiat) tanpa syafa’at, akan tetapi dengan karunia dan rahmat-Nya.”[17]

          Dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Para Malaikat telah memberi syafa’at, para Nabi ‘alaihis salam (juga) telah memberi syafa’at, dan orang-orang yang beriman (juga) telah memberi syafa’at, maka tidak tersisa keculai Zat Yang Maha Penyayang (Allah Subhanahu wa Ta’ala), maka Dia menggenggam (mengambil) satu genggaman dari Neraka, lalu Dia mengeluarkan dari neraka suatu kaum (orang-orang yang beriman pelaku maksiat) yang belum pernah mengamalkan satu kebaikanpun sama sekali dan mereka telah menjadi arang….”[18]

          Demikianlah, Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk dapat meraih semua kebaikan dan kemuliaan yang dijanjikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di dunia dan di akhirat kelak, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar, Mahadekat, dan Maha Mengabulkan doa.

          وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


          [1] Kitab Majmuu’ul Fataawa (7/78).
          [2] Lihat kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/330).
          [3] Kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/345-346).
          [4] Dalam Al-Quran surat Yunus ayat 18.
          [5] Kitab Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (hal. 143-144).
          [6] Lihat kitab Asy-Syafa’ah (hal. 207-257).
          [7] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 804).
          [8] HR. Ahmad (3/500), dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahiihah (no. 2102).
          [9] HR. Ahmad (2/174), Abu Nu’aim dalam Hilayatul Auliyaa’ (8/161) dan al-Hakim (1/740), dari dua jalur yang saling menguatkan.  Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi,  dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Tamaamul Minnah (hal. 394).
          [10] Di antaranya hadits shahih riwayat Muslim (no. 1374 dan 1377), juga  hadits riwayat at-Tirmidzi (no. 3917), Ibnu Majah (no. 3112), Ahmad  (2/74) dan Ibnu hibban (no. 3741), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban  dan al-Albani.
          [11] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 384).
          [12] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 948).
          [13] Lihat kitab Asy-Syafa’ah (hal. 241).
          [14] Ibid (hal. 253).
          [15] Ibid (hal. 254-256).
          [16] Ibid (hal. 3).
          [17] Kitab Al-’Aqiidatul Waasithiyyah (hal. 20).
          [18] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 183).

          2 Tanggapan

          1. subhanallah

            purwati
            http://purwatiwidiastuti.wordpress.com
            http://purwati-ningyogya.blogspot.com
            http://purwatining.multiply.com

            • wah… creatif n sibuknya ma imajinasi tinggi na luar biasa, banget…. salut…….
              Makasih kunjungannya……..
              Lam knal aja……..

          Tinggalkan Balasan

          Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

          Logo WordPress.com

          You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

          Gambar Twitter

          You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

          Foto Facebook

          You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

          Foto Google+

          You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

          Connecting to %s

          %d blogger menyukai ini: