Sejarah Adityawarman Diteliti Ulang


Mhitos Raja Minangkabau Adhityawarman 

detikNews-Medan

Sejarah sosok Adityawarman yang dikenal sebagai pendiri Kerajaan Malayupura (Pagaruyung) di Sumatera Barat, diteliti ulang oleh Prof Uli Kozok dari University of Hawaii, Amerika Serikat. Sejauh ini penelitian tersebut menemukan banyak kejanggalan dari catatan sejarah yang sudah dituliskan.

Penelitian tersebut masih dilaksanakan Uli Kozok hingga sekarang. Beberapa kejanggalan yang sudah ditemukan, antara lain fakta bahwa Adityawarman bukanlah utusan Majapahit untuk wilayah Pulau Sumatera, dan kebenaran tentang lokasi makamnya juga diragukan.

“Catatan yang menyebutkan makam Adityawarman di Kubur Raja, itu tidak benar. Tidak ada daerah dengan nama seperti itu, yang ada hanya Kubu Raja, atau Kubu Rajo, yang menunjukkan itu merupakan lokasi kubu atau benteng pertahanan kerajaan, bukan lokasi pemakaman. Sedangkan makam Adityawarman tidak diketahui sejauh ini,” ujar Kozok di Universitas Negeri Medan (Unimed) Jl. Willem Iskandar, Medan, Selasa (9/3/2010).

Kozok yang berbicara dalam seminar Meruntuhkan Mitos Adityawarman: Tokoh Penting dalam Sejarah Jawa-Sumatera, yang dilaksanakan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Unimed, lebih lanjut menyatakan, Adityawarman sebenarnya lahir dan dibesarkan di Pulau Sumatera bukan di Pulau Jawa dan bukan pula tinggal di Majapahit sebagaimana yang disampaikan sejarawan Slamet Muljana dalam Pemugaran Sejarah Persada Leluhur Majapahit (1983) yang menjadi referensi di Indonesia selama ini.

“Adityawarman bukanlah anak Dara Jingga, tapi keturunannya, mungkin keturunan kedua. Adityawarman lahir dan besar di Sumatera, lantas pada saat berumur 20-an tahun diundang ke Majapahit dalam rangka sahabatan Melayu – Majapahit, lantas diangkat menjadi menteri (wreddamantri) di Majapahit. Hal itu merupakan hal yang biasa saat itu,” kata Kozok, namun tidak memberikan contoh kasus pengangkatan serupa yang menunjukkan pengangkatan raja menjadi menteri di kerajaan lain sebagai suatu yang biasa.

Kozok juga menyatakan beberapa keterangan status Adityawarman sebagaimana tercatat kitab Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca tidak bisa dipercaya begitu saja dan perlu diteliti lebih mendalam. Sebab kitab tersebut banyak isinya yang hanya memuji-muji Majapahit dan memuji-muji raja.

Dalam seminar ini, tidak banyak bantahan yang muncul terhadap hasil awal penelitian Uli Kozok. Seminar di Unimed ini merupakan diseminasi awal penelitian tersebut, dan belum dilaksanakan di Sumatera Barat, yang merupakan menjadi daerah penelitian.(rul/djo)

Satu Tanggapan

  1. 1. apa bukti-bukti tersebut sudah falid?
    2. dan apakah kita perlu meneliti ulang setiap sejarah yang sudah ada di indonesia khususnya minangkabau agar tidak jadi kekeliruan?
    3. apa perlu kita melibatkan tambo alam minang kabau?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: