Perjalanan Menuju Yaumil Akhirat


Mari Sholat Saudaraku…

Filed under: Akhlaq by unaifah — Tinggalkan komentar
27 Januari 2011

Sebuah hadits yang bisa kita renungkan hari ini adalah hadits yang berisi penjelasan mengenai kewajiban sedekah seluruh persendian. Dan sedekah ini bisa digantikan dengan shalat Dhuha. Semoga bermanfaat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ، تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تََمْشِيْهَا إِلَى

الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيْطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ

 

“Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedakah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah ”. [HR. Bukhari dan Muslim]

PENJELASAN HADITS

(سُلاَمَى) bermakna persendian. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah tulang. Ibnu Daqiq Al ‘Ied mengatakan bahwa (سُلاَمَى) adalah persendian dan anggota badan.

Dinukil oleh Ibnu Daqiq Al ‘Ied bahwa Al Qadhi ‘Iyadh (seorang ulama besar Syafi’iyyah) berkata, “Pada asalnya kata (سُلاَمَى) bermakna tulang telapak tangan, tulang jari-jari dan tulang kaki. Kemudian kata tersebut digunakan untuk tulang lainnya dan juga persendian”.

Terdapat hadits dalam shohih Muslim bahwa tubuh kita ini memiliki 360 persendian. Di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِى آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلاَثِمَائَةِ مَفْصِلٍ

“Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim no. 2377)

Inilah yang terdapat dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para dokter saat ini juga mengatakan seperti yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan. Maka hal ini menunjukkan bahwa risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah benar.

(كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ) bermakna setiap hari diwajibkan bagi anggota tubuh kita untuk bersedekah. Yaitu diwajibkan bagi setiap persendian kita untuk bersedekah. Maka dalam setiap minggu berarti ada 360 x 7 = 2520 sedekah.

Akan tetapi dengan nikmat Allah, sedekah ini adalah umum untuk semua bentuk qurbah (pendekatan diri pada Allah). Setiap bentuk pendekatan diri kepada Allah adalah termasuk sedekah. Berarti hal ini tidaklah sulit bagi setiap orang. Karena setiap orang selama dia menyukai untuk melaksanakan suatu qurbah (pendekatan diri pada Allah) maka itu akan menjadi sedekah baginya.

(تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ) adalah memisahkan di antara dua orang yang berselisih baik dengan cara mendamaikan atau dengan cara diadili.

Pertama adalah menyelesaikan perselisihan antara dua orang yang berselisih dengan cara mendamaikan. Ini dilakukan jika belum jelas mana yang benar di antara keduanya. Namun, apabila sudah jelas yang benar di antara keduanya, dilarang untuk melakukan islah (perdamaian). Kesalahan semacam inilah yang kadang dilakukan oleh seorang qodhi (hakim). Di mana hakim malah seriang mendamaikan (mengadakan islah) terhadap perselisihan antara dua belah pihak yang menuduh dan tertuduh, padahal sudah diketahui kebenaran pada salah satu pihak.

Jadi, menyelesaikan perkara antara dua orang yang berselisih baik dengan diadili dan didamaikan termasuk sedekah. Akan tetapi, jika telah diketahui bahwa kebenaran ada di salah satu pihak, maka dalam hal ini tidak boleh diadakan islah (perdamaian) bahkan harus diputuskan dengan memihak pada yang benar.

(وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا), maksudnya adalah menolong seseorang di atas kendaraannya -misalnya di zaman dahulu adalah unta-, dengan membantunya naik di atas kendaraannya adalah sedekah. Atau boleh jadi (تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ), dengan mengangkat barang-barangnya yang digunakan untuk bepergian jauh seperti makanan dan minuman, juga termasuk sedekah.

(وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ), kata-kata yang thoyib baik yang thoyib di sisi Allah seperti bacaan tasbih, takbir dan tahlil atau thoyib di sisi manusia dengan berakhlak yang baik, ini juga termasuk sedekah.

(وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تََمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ), setiap langkah kaki menuju shalat adalah sedekah baik jarak yang jauh maupun dekat.

Dari Abu Huroiroh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim no. 1553)

Maka orang yang melakukan semacam ini akan mendapatkan dua kebaikan: [1] ditinggikan derajatnya, [2] akan dihapuskan dosa-dosa.

Catatan Penting:

Ada sebagian ulama yang menganjurkan bahwa setiap orang yang hendak ke masjid hendaknya memperpendek langkah kakinya. Akan tetapi, ini adalah anjuran yang bukan pada tempatnya dan tidak ada dalilnya sama sekali. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits hanya mengatakan ‘setiap langkah kaki menuju shalat’ dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan ‘hendaklah setiap orang memperpendek langkahnya.’ Seandainya perbuatan ini adalah perkara yang disyari’atkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menganjurkannya kepada kita. Yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah bukan memanjangkan atau memendekkan langkah, namun yang dimaksudkan adalah berjalan seperti kebiasaannya.

(وَتُمِيْطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ), menyingkirkan gangguan dari jalanan yang akan mengganggu orang yang lewat, baik berupa batu, pecahan kaca, kotoran. Maka segala sesuatu yang disingkirkan dari jalan yang akan mengganggu orang yang lewat adalah sedekah.

FAEDAH HADITS

Faedah Pertama, wajibnya sedekah bagi setiap orang dengan setiap anggota badannya pada setiap harinya mulai dari matahari terbit. Karena perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (عَلَيْهِ صَدَقَةٌ) menunjukkan wajibnya. Bentuk dari hal ini adalah setiap orang bersyukur kepada Allah setiap paginya atas keselamatan pada dirinya baik keselamatan pada tangannya, kakinya, dan anggota tubuh lainnya. Maka dia bersyukur kepada Allah karena nikmat ini.

Kalau ada yang mengatakan hal seperti ini sulit dilakukan karena setiap anggota badan harus dihitung untuk bersedekah?

Jawabannya : Nabi telah memberikan ganti untuk hal tersebut yaitu untuk mengganti 360 sedekah dari persendian yang ada. Penggantinya adalah dengan mengerjakan shalat sunnah Dhuha sebanyak 2 raka’at. Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى »

“Pada pagi hari diwajibkan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Begitu juga amar ma’ruf (memerintahkan kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim no. 1704)

Ibnu Daqiq Al ‘Ied mengatakan, “Maksudnya, semua shadaqah yang dilakukan oleh anggota badan tersebut dapat diganti dengan dua raka’at shalat Dhuha, karena shalat merupakan amalan semua anggota badan. Jika seseorang mengerjakan shalat, maka setiap anggota badan menjalankan fungsinya masing-masing. ”

An Nawawi dalam Syarh Muslim 3/47 mengatakan,

. وَفِيهِ دَلِيل عَلَى عِظَم فَضْل الضُّحَى وَكَبِير مَوْقِعهَا ، وَأَنَّهَا تَصِحُّ رَكْعَتَيْنِ

“Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan tentang agung dan mulianya shalat Dhuha dan menunjukkan pula besarnya kedudukannya. Dan shalat Dhuha boleh dilakukan hanya dengan 2 raka’at.”

Dari hadits Abu Dzar menunjukkan bahwa boleh untuk terus menerus dalam mengerjakan shalat Dhuha.[1]

Adapun waktu mengerjakannya adalah ketika matahari sudah setinggi tombak dilihat dengan mata telanjang[2] hingga dekat dengan waktu matahari bergeser ke barat yaitu kira-kira 1/3 jam (20 menit) setelah matahari terbit hingga 10 atau 5 menit sebelum matahari bergeser ke barat. Dan jumlah raka’at minimal adalah 2 raka’at tanpa ada batasan raka’at maksimal. Inilah yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.

Namun, Ibnu Qudamah dalam Al Mughni 3/322, menyebutkan bahwa jumlah raka’at minimal untuk shalat Dhuha adalah 2 raka’at sedangkan maksimalnya adalah 8 raka’at. Hal ini berdasarkan hadits muttafaqun ‘alaih dari Ummu Hani,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ ، وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ ، فَلَمْ أَرَ صَلَاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا ، غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahnya ketika Fathul Makkah. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat 8 raka’at. Maka aku tidak pernah melihat beliau shalat seringan itu kecuali beliau menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.”

Namun sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa shalat Dhuha tidak ada batasan raka’atnya.
Dalil yang menyatakan bahwa maksimal jumlah raka’atnya adalah tak terbatas, yaitu hadits,

مُعَاذَةُ أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى صَلاَةَ الضُّحَى قَالَتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ.

Mu’adzah pernah menanyakan pada ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berapa jumlah raka’at shalat Dhuha yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? ‘Aisyah menjawab, “Empat raka’at dan beliau tambahkan sesuka beliau.” (HR. Muslim no. 719). Hadits ini menunjukkan bahwa shalat Dhuha tidak ada batasan raka’atnya. Inilah yang lebih tepat.

Silakan baca panduan shalat Dhuha secara lengkap di sini.

Faedah kedua, hadits ini menunjukkan keutamaan berbuat adil di antara dua orang yang berselisih. Dan Allah Ta’ala telah mendorong kita agar berbuat islah (perdamaian) sebagaimana dalam firman-Nya,

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya , dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir .” (QS. An Nisa’ [4] : 128)

Maka mengadakan islah adalah suatu kebaikan. Dan berbuat adil ketika mengadili adalah suatu kewajiban.

Faedah ketiga, dalam hadits ini terdapat dorongan untuk menolong saudara kita, karena melakukan seperti ini termasuk sedekah. Baik dalam contoh yang diberikan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini atau perbuatan lainnya.

Faedah keempat, hadits ini memberi motivasi untuk berkata dengan perkataan yang baik. Hal itu bisa berupa dzikir, membaca, ta’lim (memberikan pelajaran), berdakwah dan lain sebagainya. Dan keutamaan berdakwah telah ditunjukkan dalam hadits,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan (orang lain) kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 5007)

Faedah kelima, dalam hadits ini juga ditunjukkan mengenai keutamaan berjalan ke masjid. Dan berjalan pulang dari masjid juga akan dicatat sebagaimana perginya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَجُلٌ لاَ أَعْلَمُ رَجُلاً أَبْعَدَ مِنَ الْمَسْجِدِ مِنْهُ وَكَانَ لاَ تُخْطِئُهُ صَلاَةٌ – قَالَ – فَقِيلَ لَهُ أَوْ قُلْتُ لَهُ لَوِ اشْتَرَيْتَ حِمَارًا تَرْكَبُهُ فِى الظَّلْمَاءِ وَفِى الرَّمْضَاءِ . قَالَ مَا يَسُرُّنِى أَنَّ مَنْزِلِى إِلَى جَنْبِ الْمَسْجِدِ إِنِّى أُرِيدُ أَنْ يُكْتَبَ لِى مَمْشَاىَ إِلَى الْمَسْجِدِ وَرُجُوعِى إِذَا رَجَعْتُ إِلَى أَهْلِى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « قَدْ جَمَعَ اللَّهُ لَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ »

Dari Ubay bin Ka’ab berkata, “Dulu ada seseorang yang tidak aku ketahui siapa lagi yang jauh rumahnya dari masjid selain dia. Dan dia tidak pernah luput dari shalat. Kemudian ada yang berkata padanya atau aku sendiri yang berkata padanya, ‘Bagaimana kalau kamu membeli unta untuk dikendarai ketika gelap dan ketika tanah dalam keadaan panas.’ Kemudian orang tadi mengatakan, ‘Aku tidaklah senang jika rumahku di samping masjid. Aku ingin dicatat bagiku langkah kakiku menuju masjid dan langkahku ketika pulang kembali ke keluargaku.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah telah mencatat bagimu seluruhnya.” (HR. Muslim no. 1546)

An Nawawi dalam Syarh Muslim 2/130 mengatakan,

فِيهِ : إِثْبَات الثَّوَاب فِي الْخُطَا فِي الرُّجُوع مِنْ الصَّلَاة كَمَا يَثْبُت فِي الذَّهَابِ .

“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa langkah kaki ketika pulang dari shalat akan diberi ganjaran sebagaimana pergi.”

Faedah keenam, dalam hadits ini terdapat keutamaan menyingkirkan gangguan dari jalanan. Dan juga ini termasuk cabang keimanan sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya.

Dari Abu Huroiroh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling utama adalah kalimat laa ilaha illallah. Yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan. Dan malu termasuk bagian dari iman.” (HR. Muslim no. 162)

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Referensi:

Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr

Syarh Al Arba’in An Nawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin

Selesai disusun di Pondok Sahabat Pogung Kidul, Yogyakarta pada sore hari saat Allah memberikan kemudahan untuk menulis, 2 Rabi’uts Tsani 1429 (bertepatan dengan hari Senin, 7-04-08)

Semoga Allah selalu menjaga penulis, menjaga anak dan keluarganya serta mengampuni dosa dan kesalahannya.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://www.rumaysho.com

[1] Namun, terus menerus dalam melaksanakan shalat Dhuha terdapat perselisihan di kalangan ulama. Yang mengatakan tidak boleh terus menerus melakukannya, berdalil dengan hadits dari Aisyah dan ditakutkan mirip dengan shalat wajib. Sedangkan yang mengatakan boleh melaksanakan shalat Dhuha terus menerus adalah berdalil salah satunya dengan hadits Abu Dzar di atas.

[2] Ibnu Qudamah dalam Al Mughni 3/322 mengatakan bahwa waktu shalat Dhuha adalah mulai saat matahari meninggi dan sudah mulai agak panas.

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Terdapat ratusan ribu bahkan jutaan masjid dan mushalla yang bertebaran di kota-kota, desa-desa sampai di tempat-tempat pendidikan, perkantoran, pusat perbelanjaan dan lainnya.

Masjid atau mushallah adalah salah satu simbol keberagamaan umat Islam. Fenomena ritualistik dapat kita dapatkan di sana. Pada saat-saat tertentu fenomena tersebut begitu marak. Pada bulan Ramadan misalnya, tempat-tempat tersebut ramai dihadiri kaum muslimin untuk mengikuti salat tarawih.

Mereka juga menyambut bulan ini dengan berbagai macam agenda di luar puasa yang wajib mereka tunaikan. Mereka banyak menghabiskan waktunya untuk membaca dan mentadabburi Al Qur’an. Berbagai macam ibadah tathawwu’ (tambahan) mereka kerjakan unutuk meraup berkah di bulan ini. Dan pada akhir ramadhan mereka membayar kewajiban zakatnya.

Lain lagi pada musim haji, setiap tahun jumlah kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji mencapai ratusan ribu orang dan kerap melebihi quota yang diberikan. Sedangkan orang – orang yang belum mampu menunaikan haji namun memiliki sedikit kelebihan harta, menyembelih hewan kurban untuk kemudian disalurkan kepada yang lainnya.

Beberapa contoh/fenomena keberagamaan kita di atas dapat memberikan kesan umum bahwa masyarakat muslim di Indonesia adalah masyarakat yang taat beragama sekaligus masyarakat dengan individu-individu yang shalih. Dalam pandangan masyarakat kita umumnya, keshalihan individual menjadi ukuran kualitas keberagamaan seseorang. Atau dapat dikatakan bahwa intensitas seseorang dalam menjalankan ritus-ritus agama menunjukkan nilai keshalihan atau kebaikan pribadinya. Semaikin tinggi intensitasnya maka semakin tinggi pula nilai keshalihan pribadinya.

Dalam ajaran agama Islam, berbagai jenis ibadah yang kita laksanakan tidak hanya terbatas pada dimensi fardiyah saja, tetapi ada dimensi lain sebagai resultan dari ubudiyah itu sendiri yakni dimensi sosial (sebagaimana akan diuraikan nanti). Secara normatif, keshalihan dalam ibadah-ibadah fardiyah seharusnya melahirkan realitas-realitas sosial yang shalih (baik) pula. Akan tetapi realitas Indonesia sampai hari ini adalah sebuah kondisi yang sungguh sangat menyedihkan.

Praktek hidup dan berkehidupan masyarakat memperlihatkan kondisi yang berlawanan dengan norma-norma agama. Realitas Indonesia adalah bangsa dengan kemiskinan yang besar, bangsa dengan tingkat korupsi yang tinggi di dunia, bangsa yang marak dengan kekerasan kemanusiaan, pelecehan seksual, pembunuhan, konflik berdarah, narkoba dan sejumlah pelanggaran lainnya yang terjadi hampir setiap hari dan di banyak tempat.
Kesimpulannya adalah perilaku yang paradoks.

Ibadah individual seperti shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al Qur’an, zikir dan sejenisnya yang bergemuruh itu ternyata tidak atau belum merefleksikan makna keshalihan sosial yang berarti dalam kehidupan masyarakat muslim. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah adakah yang salah dalam pemahaman masyarakat terhadap makna ibadah yang diajarkan agamanya?

Makna Ibadah

Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Secara syara’ arti ibadah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, adalah istilah yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِµ﴿٥٦﴾µمَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِµ﴿٥٧﴾µإِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُµ﴿٥٨﴾µ

artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz Dzariyat : 56-58).

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkannya; karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka mereka menyembahNya sesuai dengan aturan syari’atNya yakni dengan mengIkhlaskannya karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jadi, Ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan jika diniatkan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) atau apa-apa yang membantu qurbah. Bahkan adat kebiasaan (yang mubah) pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepadaNya. Seperti tidur, makan, minum, jual-beli, bekerja mencari nafkah, nikah dan sebagainya. Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. Karenanya, tidaklah ibadah itu terbatas hanya pada syi’ar-syi’ar yang khusus atau mahdhah saja.

Ibadah Individu dan Sosial

Pemahaman sebagian kaum muslimin saat ini, ketika disebut ibadah maka yang tergambar adalah shalat, puasa, zakat, haji, zikir dan membaca Al Qur’an. Pemahaman ini tentu saja mereduksi secara besar-besaran makna ibadah dalam pengertiannya yang genuine sebagaimana di atas. Ketika Allah menyatakan dalam firmanNya :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَµ﴿١٦٢﴾µ

artinya : “Katakanlah : Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al An’am : 162) ;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِµ﴿٥٦﴾

artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaku” (QS.Al Dzaariyat : 56-58) ;

فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ﴿٦٥﴾µ

artinya : ” … maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya (QS. Maryam : 65) ;

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ µ﴿٩﴾µ

artinya : ” orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya (QS. Az Zumar : 9)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌµ﴿٢٠٨﴾µ

artinya : ” Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 208),

dan ayat-ayat yang lainnya, maka makna ibadah tersebut tidak mungkin hanya berarti shalat, puasa, zakat, haji, berzikir, membaca Al Qur’an dan sejenisnya. Hal ini karena kehidupan yang diciptakan bagi manusia tidak mungkin hanya berurusan dengan hal-hal tersebut saja, melainkan untuk hal-hal yang menyeluruh, mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan manusia seperti ekonomi (berdagang), pertanian, industri, bekerja, mencari ilmu dan sebagainya guna mempertahankan dan mengembangkan kehidupan itu sendiri.

Adalah juga aksiomatik bahwa manusia tidak mampu hidup sendiri tanpa orang lain yang membantu dan menolong. Dan semua itu merupakan hal-hal yang niscaya dan menjadi bagian dari misi agama Islam yang dengannya kita beribadah. Maka, tataran ibadah dalam aplikasinya tidak hanya terbatas pada aspek individual, tetapi juga pada aspek sosial. Yang kemudian kita istilahkan sebagai ibadah individual dan ibadah sosial.

Kualifikasi Kesalihan .

Tingkat keshalihan individu (pribadi) seorang muslim bisa diukur dari sejauh mana kualitas ibadah individu yang ia kerjakan. Kualitas ini dapat dilihat dari sejauh mana ia menjaga dan memperbaharui agar ibadahnya dikerjakan dengan penuh keikhlasan, sesuai dengan sunnah (ittiba’) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, memahami dalil-dalil yang mendasari ibadah sesuai dengan apa yang dipahami oleh generasi awal (salaf) terbaik umat ini dan istiqomah dalam menjalankannya.

Dalam hadits yang cukup panjang, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menyebutkan aspek kualitatif sebuah ibadah dapat dilihat dari sejauh mana ia bersikap ihsan , yaitu sikap dalam beribadah seolah-olah ia melihat Allah dan jika tidak bisa –dan memang tidak bisa- seperti itu maka ia yakin bahwa Allah melihatnya.

Jika tahapan seperti ini mampu dilalui maka bisa dikatakan bahwa secara pribadi ia telah memiliki kualifikasi keshalihan individu.

Sebagaimana yang kita ketahui, Islam adalah agama yang ditujukan untuk memberikan rahmat bagi semesta alam. Dan misi keberadaan kita di dunia ini tiada lain kecuali menjadi rahmat bagi semesta alam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al Anbiya’ : 107).

Rahmat dalam pengertian menebarkan kasih sayang dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi sesama makhluk ciptaanNya. Sehingga tentunya keshalihan yang bersifat pribadi seperti di atas belumlah cukup. Ada kualifikasi kesalihan lain yang harus dimilki untuk menjalankan misi tersebut yakni kesalihan sosial.

Efek Ganda Kesalihan Individu

Nash-nash syar’i yang berkaitan dengan urusan ibadah individual selalu memperlihatkan fungsi dan tugas ganda. Di satu sisi ia merupakan cara manusia untuk bertaqarrub kepada Allah Sang Khalik, menjadi media untuk tazkiyah an-nafs dan membebaskan diri dari ketergantungannya kepada selainNya. Tetapi pada saat yang sama ia juga berimplikasi secara horisontal dalam melakukan tanggungjawab sosial dan kemanusiaan.
Dalam hal shalat misalnya, Allah Subhanahu Wa ta’ala berfirman :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِيµ﴿١٤﴾µ

artinya : “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (QS. Thaha : 14);

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِµ﴿٤٥﴾

artinya :“Sesunguhnya shalat mencegah manusia dari berbuat keburukan dan kemungkaran”. (QS. Al Ankabut : 45).

Shalat melatih manusia untuk selalu merasa dalam pengawasan Allah (muroqobah) sehingga dalam kehidupan sehari-hari juga akan merasa diawasi oleh Allah sehingga akan takut untuk melakukan perbuatan kejahatan. Hal ini juag diungkapkan dalam firmanNya, artinya : “Apakah kamu mengetahui orang yang mendustakan agama?. Itulah orang yang tidak perduli terhadap anak yatim, tidak memberikan makan kepada orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yakni orang yang riya dan orang yang tidak mau memberikan sesuatu yang berguna (bagi orang lain)”. (QS. Al Ma’un : 5 – 7).

Maka dengan demikian semakin baik shalat seseorang (seharusnya) semakin baik pula amal sosialnya, semakin peka terhadap persoalan-persoalan yang ada dalam masyarakatnya dan tidak menimbulkan keburukan dan kerusakan bagi sesamanya.

Puasa, di samping merupakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala, ia juga merupakan cara bagi diri manusia untuk dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan egonya yang seringkali menuntut dan mendesakkan kehidupan hedonistik.

Dalam Al Qur’an dinyatakan dengan sangat jelas bahwa puasa ramadhan diwajibkan kepada orang-orang yang beriman sebagai cara untuk membentuk dan melahirkan pribadi-pribadi yang bertaqwa.(Q.S. Al Baqarah 183). Pribadi yang bertaqwa adalah pribadi yang selalu menjaga diri dari menyakiti orang lain, menghalangi dan merampas hak-hak orang lain pada satu sisi, dan pribadi yang menyayangi, mengasihi dan menghormati hak-hak orang lain.

Zakat, dinyatakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai cara membersihkan diri dari kesalahan dan dosa, aksi pemberian makan bagi orang-orang miskin dan orang-orang yang menanggung beban hidup yang berat, yang tertindas dan yang menderita lainnya. Dalam bahasa yang lebih umum zakat merupakan bentuk paling nyata dalam mewujudkan solidaritas sosial dan kemanusiaan.

Haji, di samping dimaksudkan sebagai bentuk penyerahan diri secara total kepada Allah Azza Wa Jalla dan tanpa reserve, ia juga melambangkan kesatuan, kesetaraan dan persaudaraan umat manusia sedunia.

Dimensi Kesalihan Sosial

Dimensi kesalihan sosial dalam Islam sesungguhnya jauh lebih luas dan lebih utama dibandingkan dengan dimensi kesalihan invidu. Dalam teks-teks fiqh klasik kita dapat melihat bahwa bidang ibadah individu merupakan satu bagian dari banyak bagian atau bidang keagamaan lain seperti Mu’amalah , Hukum Keluarga (Al Ahwal Al Syakhshiyyah), Jinayat (pidana), Qadha (peradilan) dan Imamah (politik).

Dan terkadang kesalihan sosial yang memiliki dimensi yang lebih luas lebih utama dibanding kesalihan individu atau personal. Dalam sebuah kaedah fiqh disebutkan : Al Muta’addi Afdhal Min Al Qashir (Amal ibadah yang membawa efek lebih luas lebih utama daripada amal ibadah yang membawa efek terbatas).

Dari sisi lain, keshalihan individual selalu menuntut lahirnya efek-efek keshalihan sosial. Ketika ritus-ritus personal tersebut (ibadah individual) tidak melahirkan efek keshalihan sosial dan kemanusiaan, apalagi melahirkan sikap-sikap hidup negatif atau destruktif terhadap kepentingan sosial kemasyarakatan, maka untuk tidak mengatakan sebagai kesia-siaan, maka ia dapat dikatakan sebagai sebuah kebangkrutan dalam agama.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah menyinggung persoalan ini dalam sabdanya : “Apakah anda tahu siapa orang yang bangkrut?. Para sahabat nabi mengatakan :o rang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan harta benda. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan-amalan ibadah shalat, puasa dan zakat. Tetapi pada saat yang sama ia juga datang sebagai orang yang pernah mencacimaki orang lain, menuduh orang lain, makan harta orang lain, mengalirkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka orang-orang lain tersebut (korban) akan diberikan pahala kebaikan dia (pelaku/al muflis). Ketika seluruh kebaikannya habis sebelum dia dapat menebusnya, maka dosa-dosa mereka (para korban) akan ditimpakan kepadanya (pelaku), kemudia dia akan dilemparkan ke dalam api neraka”. (HR.Muslim dan Tirmizi dari Abu Hurairah).

Dalam hadits disebutkan bahwa ibadah individual seperti shalat (berjamah) dapat dipercepat ketika seorang imam mengetahui ada makmum yang lemah, orang tua atau sakit.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda : “Jika seseorang menjadi imam shalat bagi orang lain, maka hendaklah mempercepat shalatnya, karena di antara para makmum boleh jadi ada orang yang lemah, orang yang sakit dan orang tua. Jika dia shalat sendirian maka ia berhak berlama-lama”.( HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga pernah bersabda : ”Aku betul-betul ingin shalat berlama-lama. Tetapi aku kemudian mendengar tangisan seorang bocah. Maka aku segerakan shalatku karena aku tidak ingin menyusahkan ibunya”. (HR. Bukhari).

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, seorang pengemis dengan susah payah datang memasuki Masjid Nabawi di Madinah. Sayang, ia hanya melihat orang-orang melaksanakan shalat dengan khusyuk.

Didorong rasa lapar yang kuat, akhirnya ia meminta-minta kepada orang-orang yang sedang shalat. Hasilnya nihil. Hampir putus asa, ia mencoba menghampiri seseorang yang khusyuk melakukan rukuk. Kepadanya ia minta belas kasihan. Ternyata kali ini ia berhasil. Orang itu memberikan cincin besinya kepada pengemis itu.Tidak lama setelah itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memasuki masjid. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melihat pengemis itu lalu mendekatinya dan terjadilah percakapan :

“Adakah orang yang telah memberimu sedekah?”
“Ya, alhamdulillah.”
“Siapa dia?”
“Orang yang sedang berdiri itu,” kata si pengemis sambil menunjuk dengan jari tangannya.”
“Dalam keadaan apa ia memberimu sedekah?”
“Sedang rukuk!”
“Ia adalah Ali bin Abi Thalib,” kata nabi. Ia lalu mengumandangkan takbir dan membacakan ayat, “Dan barang siapa yang mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama Allah) itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maidah: 56).

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa kisah tersebut di atas adalah faktor yang menjadi sebab turunnya ayat sebelumnya, yaitu “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (Al-Maidah: 55). Asbabun Nuzul ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Shufyan Ats-Tsauri.

Dalam kisah tersebut kita dapat melihat bagaimana nabi memberikan penghargaan tinggi kepada Ali bin Abi Thalib karena tindakannya yang terpuji. Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan tindakannya itu sebagai sebab turunnya suatu ayat. Ali radhiallahu ‘anhu telah membuktikan bahwa keshalihan dirinya bukan hanya pada taraf untuk dirinya atau sebatas keshalihan ritual saja, tetapi ia wujudkan dalam dimensi keshalihan yang lain, yaitu keshalihan sosial.

Penutup

Akhirnya, kaum muslimin saat ini mesti melangkah lebih progresif membangun keshalihan sosial di atas keshalihan individu. Kedangkalan aqidah, maraknya bid’ah dan khurafat sampai pada kemiskinan, keterbelakangan, dan sejumlah krisis lain yang tengah menghimpit bangsa kita tampaknya tidak cukup hanya diatasi dengan melakukan ibadah-ibadah individual saja, tetapi juga dengan perjuangan meningkatkan kecerdasan, penegakan hukum dan keadilan, solidaritas sosial dan membebaskan penderitaan masyarakat.

Sejarah kehidupan generasi awal (salaf) umat ini memperlihatkan kepada kita bahwa mereka tidak pernah melakukan dikotomisasi antara ibadah individual dan ibadah sosial. Malam-malam mereka adalah malam-malam yang khusyuk dalam sujud dan tilawah Al Qur’an, sementara siang hari mereka adalah langkah-langkah gemuruh kaki kuda dan kerja-kerja kemanusiaan. Seluruh perjuangan untuk mewujudkan tatanan sosial yang adil dan menegakkan martabat kemanusiaan adalah ibadah, pengabdian kepada Allah Azza Wa Jalla.
Wallahu A’lam.
[Dari berbagai sumber].

Mengapa Harus Bersedekah…

Filed under: Akhlaq by unaifah — Tinggalkan komentar
12 Januari 2011

Pada umumnya, berinfaq adalah salah satu sebab dekatnya seseorang dengan Rabbnya, juga sebab masuknya ke surga, harta tidak akan berkurang karena diinfaqkan, bahkan sebaliknya harta akan semakin bertambah, sebagaimana dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam dalam haditsnya yang shahih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ.

“Tidak berkurang harta yang disedekahkan, dan Allah tidak akan menambahkan kepada seseorang yang suka memaafkan, melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah melainkan Allah mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

Sesungguhnya ini adalah kesempatan yang sangat berharga bagi kita untuk meraih pahala yang besar dari Allah Ta’ala, di samping itu ia juga sebagai salah satu sebab masuk surga, sebagaimana dikatakan dalam haditsnya yang shahih, salah satunya:

Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiallahu ‘anhu ia mengatakan bahwa ia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam bersabda, “Ada tiga orang yang akan saya ceritakan kepadamu, dan saya bersumpah kepadamu, ingatlah cerita ini,

Tidak akan berkurang harta seseorang karena bersedekah.

Dan tiada seseorang yang dianiaya lalu ia tetap bersabar, melainkan ditambah kemuliaannya oleh Allah Ta’ala.

Dan tiada seseorang membuka pintu minta-minta, melainkan Allah membukakan baginya pintu kemiskinan.

Saya akan bercerita kepadamu maka ingatlah cerita ini: Sesungguhnya dunia ini hanya untuk empat macam orang,

Seorang yang diberi rezeki harta dan ilmu, lalu ia pergunakan untuk bertakwa kepada tuhannya, menyambung tali silaturrahmi; maka orang ini dalam tingkat yang tertinggi.

Seorang yang diberi ilmu tetapi tidak diberi harta, lalu dengan niat yang sungguh-sungguh ia berkata, “Kalau saya diberi harta pasti saya akan beramal sebagaimana si fulan”, maka ia mendapatkan pahala niatnya, dan pahala kedua orang itu sama.

Seorang yang diberi kekayaan tetapi tidak diberi ilmu, lalu ia menyia-nyiakan hartanya tanpa ilmu, tidak dipergunakan bertakwa kepada tuhannya, menyambung tali silaturrahminya dan mengenal hak Allah maka orang ini ada pada seburuk-buruk tempat.

Seorang yang tidak diberi harta dan tidak berilmu, lalu ia berkata, “Andaikan saya mempunyai harta niscaya saya akan berbuat sebagaimana kelakuan si fulan,” maka ia mendapatkan balasan atas niatnya, dan dosa kedua orang itu sama.

Hadits tersebut menunjukkan bahwa niat seorang mukmin yang benar untuk berinfaq di jalan Allah, atau berbuat amal kebajikan, sama halnya dengan orang yang melaksanakannya dengan syarat niatnya benar, bukan angan-angan, sebagaimana yang dilakukan orang maksiat, mereka menginginkan karunia Allah, namun ketika dikabulkan mereka kembali kepada kekafiran. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah, ”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh”. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.” (At-Taubah: 75-77).

Di dalam Shahih Muslim diriwayatkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Ketika seseorang berjalan di hutan, tiba-tiba mendengar suara dari awan, siramkan ke kebun fulan, mendadak awan itu berpaling dan menuangkan airnya di tempat yang banyak batu, ternyata salah satu selokan dapat menerima air itu semua, maka diikutinya jalan air itu, tiba-tiba sampai ke suatu kebun di mana ada seseorang yang berdiri di muka kebun sambil memindahkan air, maka ditanya, ‘Hai hamba Allah, siapa namamu?’ ia menjawab; ‘si fulan’ persis nama yang telah di dengarnya dari awan, lalu ia balik bertanya kepadanya, ‘Mengapa kau tanya namaku?’ Jawabnya, ‘Saya tadi telah mendengar suara dari awan, siramkan airmu ke kebun fulan yang tepat dengan namamu, maka apa yang kamu lakukan padanya?’ Jawabnya, jika benar apa yang engkau katakan, maka sesungguhnya saya selalu memperhatikan hasil kebun ini, lalu saya bagi sepertiganya untuk sedekah, sepertiganya lagi untukku sekeluarga, dan sepertiganya lagi untuk bibit.” (HR. Muslim).

Demikianlah Allah telah memberkati laki-laki tersebut dan telah meluaskan rezekinya, juga memberi kecukupan semua pembiayaan tanamannya, sehingga Allah menyuruh malaikat-Nya yang kemudian berkata kepada awan, “Siramkan ke kebun fulan… siramkan ke kebun fulan!”. Dia mengkhususkan kebun sifulan tanpa yang lainnya.

Dari sini jelaslah bahwa bencana yang menimpa sebagian besar orang itu sangat dimungkinkan karena ulah tangan perbuatan mereka, barangkali kisah nyata lain yang bisa dijadikan contoh adalah apa yang telah diceritakan kepadaku oleh seorang Qodhi (hakim), di mana ada seseorang datang kepadanya untuk mengadukan urusannya, di mana kambingnya disambar petir, maka musnahlah kambingnya tidak kurang dari 700 ekor, kemudian ia mengajukan ke pengadilan agar bisa menutupi kerugiannya. Hakim berkata, “Barangkali anda tidak mengeluarkan zakatnya (zakat peternakan), kemudian dia keluar dan tidak datang lagi setelahnya, mungkin karena tersinggung dengan apa yang saya katakan tadi,” ujar hakim. Jadi seolah-oleh kalimat yang dilontarkan hakim tersebut menusuk hati sanubarinya yang dalam lalu ia sadar akan dosanya selama ini yang akhirnya mengakibatkan malapetaka pada kekayaannya, kemudian ia tidak melanjutkan usahanya untuk menutupi kerugian tersebut. Mudah-mudahan ia bertaubat kepada Allah Ta’ala dari dosa ini (tidak menunaikan zakat).

Adi bin Hatim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ اللَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلاَ يَرَى إِلاَّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ.

“Tidaklah salah seorang dari kamu melainkan ia akan diajak berbicara langsung oleh Allah tanpa perantara (juru bicara), lalu ia melihat ke kanan, tiada terlihat kecuali amalnya, dan menoleh ke kiri maka tiada terlihat melainkan amalnya, kemudian ia melihat ke depan, terlihat api tepat di depan wajahnya, maka hindarkan dirimu dari api (dengan bersedekah) walau separoh kurma.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain dikatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam keluar rumah di waktu Idul Adha atau Idul Fitri menuju mushala (lapangan) lalu ia berpaling dan menasehati orang-orang dan menyuruh mereka bersedekah, beliau bersabda, “Hai orang-orang bersedekahlah!” lalu beliau mendekati kaum wanita kemudian berkata, “Hai kaum wanita, bersedekahlah!, sesungguhnya aku melihat kalian adalah penghuni neraka terbanyak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam menjelaskan dalam hadits tersebut keistimewaan sedekah, di mana ia merupakan salah satu sebab terbesar terhindarnya jiwa dari api neraka, kendatipun kecil. Sedekah merupakan bukti kebenaran iman seseorang. Dikatakan dalam hadits Al-Haris Al-Asy’ari yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam bersabda,

وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ.

“Sedekah itu bukti (keimanan seseorang).” (HR. Muslim).

Karena jiwa tabiatnya mencintai harta, maka di saat seseorang mampu menundukkan jiwanya dan menginfaqkan harta di jalan Allah, itu menjadi bukti bahw ia telah memprioritaskan mardhatillah, serta mengutamakan keinginan Allah daripada keinginan dirinya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9).

Hadits tentang sedekah sangat banyak, akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana orang yang bersedekah bisa menyembunyikan semampu mungkin sedekahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam bersabda,

صَنَائِعُ الْمَعْرُوْفِ تَقِيْ مَصَارِعَ السُّوْءِ، وَصَدَقَةُ السِّرِ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ فِي الْعُمْرِ.

“Amal kebajikan dapat menghindarkan seseorang dari mati yang jelek, dan sedekah dengan sir (sembunyi-sembunyi) dapat memadamkan kemurkaan Allah, dan silaturrahmi dapat menambah usia.” (HR. At-Tabrani).

Adalah suatu kesalahan manakala seseorang bersedekah dengan nilai seratus ribu riyal atau lima ratus ribu riyal atau satu juta riyal, hanya karena ingin dicatat namanya di surat kabar atau terdaftar dalam nama-nama donatur atau karena ingin disebut penyumbang terbesar. Kecuali kalau tujuannya untuk mengajak serta memotifasi orang-orang dalam bersedekah maka hal itu baik, tetapi kalau karena riya’ dan ingin disebut-sebut orang maka dia rugi di dunia dan celaka kelak di akhirat –Waliyadzu Billah–

Dengan demikian, kesimpulannya bahwa keistimewaan sedekah sangat besar, pahalanya juga banyak di sisi Allah. Karenanya seorang muslim seyogyanya bersungguh-sungguh memperbanyak sedekah terutama di bulan Ramadhan, bukan hanya bersungguh-sungguh saja tetapi melipatgandakannya. Sebagaimana halnya Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam amat dermawan melebihi dari bulan-bulan lainnya. Kedermawanan beliau pada bulan Ramadhan yang mulia ini di karenakan tiga faktor:

Munasabah (momentum) Ramadhan, di mana amal kebajikan dilipatgandakan (pahalanya) serta derajatnya dinaikkan, maka tepatlah jika seseorang mendekatkan dirinya kepada sang pencipta dengan memperbanyak amal shaleh.

Banyak membaca Al-Qur’an; di dalamnya terdapat anjuran berinfaq, hidup sederhana, zuhud, juga persiapan menuju akhirat, maka tersentuhlah hatinya kemudian berinfaq di jalan Allah.

Karena adanya pertemuan antara beliau shallallahu ‘alaihui wasallam dengan jibril, Mujalatus Shalihinseperti ini pasti akan meningkatkan keimanan dan ketaatan seseorang kepada Rabbnya.

Berbicara tentang kedermawanan beliau shallallahu ‘alaihui wasallam membutuhkan waktu yang panjang, tapi yang jelas beliau orang yang paling dermawan di dunia ini, kedermawanannya tidak terbatas, sehingga tidak pernah beliau diminta seseorang kecuali memberinya. Pernah datang seseorang yang meminta baju yang dikenakannya, maka beliau masuk rumah lantas keluar kembali dengan baju telah ditanggalkannya, lalu memberikannya kepadanya. Beliau juga pernah membeli sesuatu dengan harga lebih, bahkan mengembalikan lagi ke penjual setelah dibeli tanpa diambil uangnya, atau beliau meminjam sesuatu, lantas mengembalikannya dengan keadaan yang lebih baik dari semula, beliau juga pernah menerima hadiah terus ia membalasnya lebih banyak dari apa yang beliau terima.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam amat senang di saat memberi atau bersedekah daripada menerima sesuatu dari orang lain, tepatlah apa yang dikatakan oleh penya’ir:

Kau dapati dia berseri-seri
Seakan-akan kau yang akan memberinya
Padahal kau sendiri yang akan meminta
Demikianlah kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam yang sangat luhur dan mulia.

Berkenaan dengan infaq dan shadaqah, kita juga berkepentingan untuk membicarakan orang atau lembaga yang ber-hak menerimanya, yaitu di antaranya:

Pertama: Para Mujahid di Jalan Allah.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” (At-Taubah: 60).

Jadi para mujahid termasuk salah satu ashnaf zakat yang delapan, sebagaimana yang saya katakan tadi bahwa di sebagian negara terdapat para mujahid yang benar-benar sedang berjuang membela agama Allah. Selama kita belum mampu memikul senjata sebagaimana mereka, atau menyantun secara khusus keluarganya, maka kita berkewajiban membantu mereka minimalnya dengan sebagian harta kita melalui lembaga-lembaga yang amanah dan terpercaya. Saya yakin ini adalah salah satu ashnafzakat yang terbesar dewasa ini.

Kedua: Fuqara’ dan orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan.

Khususnya para pemuda dan pelajar, di antara mereka ada yang tidak mampu, tidak bisa melanjutkan sekolah atau kuliah karena terbentur biaya, atau mau menikah agar terjaga dirinya dari perbuatan maksiat serta menginginkan kesempurnaan agamanya, tetapi kendala dana yang tidak mencukupi.

Ketiga: Lembaga amil zakat infaq dan shadaqah yang amanah.

Lembaga seperti ini adalah lembaga yang pandai mendistribusikan uang zakat, infaq, dan shadaqah kepada orang-orang yang berhak menerimanya, mereka mendata para mustahiq kemudian menyeleksinya, ada yang dibantu per bulan dan lainnya, oleh karenanya tidak apa-apa zakat dan shadaqah kita titipkan ke lembaga tersebut selama terjamin keamanahannya.

Sesungguhnya membantu fakir miskin, orang-orang yang lemah, serta mendata mereka di tempat kediamannya, di kampung, di pedesaan, di kolong jembatan dan yang lainnya merupakan salah satu amal yang mulia dan besar pahalanya di sisi Allah Ta’ala. Juga sama halnya dengan orang-orang yang membantu dan menginfaqkan sebagian harta kepada lembaga seperti ini, bahkan akan lebih besar pahalanya di sisi Allah Ta’ala dengan syarat tidak ada unsur riya’, sum’ah (ingin didengar orang lain), manni (menyebut-nyebutnya), dan adza (menyakiti si penerima).

Dan tentu sesuatu yang sangat baik, manakala seseorang memberi bantuan yang bisa mencukupi kebutuhan diri orang fakir dan keluarganya untuk waktu tertentu. Allah Ta’ala berfirman, “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Muzzammil: 20).

Sumber : http://www.alsofwah.or.id/cetakkajian.php?id=1614&idjudul=1563

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: