IDE-IDE KEAGAMAAN AHMADIYAH


Artikel
STARTEGI SOSIALISASI IDE-IDE KEAGAMAAN AHMADIYAH DI KALANGAN REMAJA
oleh Tina Afiatin Yatimin, 18/10/2010
STARTEGI SOSIALISASI 

IDE-IDE KEAGAMAAN AHMADIYAH

DI KALANGAN REMAJA

Tina Afiatin Yatimin

Estafet perjuangan suatu gerakan tidak pernah berlangsung tanpa peran generasi muda. Generasi muda, termasuk di dalamnya adalah kelompok remaja senantiasa mewarnai nuansa perjuangan tercapainya suatu misi. Kita sudah saksikan sejarah perjuangan bangsa kita dan juga bangsa-bangsa lain, selalu peran generasi muda menyertai hingar bingar perjuangannya. Generasi muda, dengan segala keunggulan fisik dan mentalnya, sungguh merupakan aset sebuah gerakan yang amat sayang apabila tidak dikelola dengan optimal.

Remaja sebagai bagian dari generasi muda, bukan lagi anak-anak yang lucu dan polos. Mereka bukan lagi anak-anak yang keinginananya dapat dibujuk dengan sepotong kue atau es krim yang enak. Mereka telah tampil dengan kepribadian yang unik dan bertumbuh dengan pesat. Keinginan dan semangat mereka dapat meluap-luap bahkan nyaris meledak-ledak. Mereka mem-butuhkan sesuatu yang amat berbeda dengan masa kanak-kanak.

Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa pada masa remaja terjadi optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik, psikis, sosial, dan religiusitasnya. Kondisi ini merupakan potensi yang sangat menguntungkan bagi pember-dayaan komunitas remaja itu sendiri maupun juga dalam melibatkan peran mereka dalam perjuangan suatu gerakan.

Gerakan Ahmadiyah sebagai suatu gerakan pembaharuan dalam Islam, diakui atau tidak sangat membutuhkan peran remaja apabila ingin terus melanggengkan misi perjuangannya. Tanpa peran serta mereka maka kesinambungan dan kiprah gerakan tentu akan menjadi sangat terbatas. Apabila gerakan hanya mengandalkan generasi pendahulu yang notabene dari sisi usia sudah cukup lanjut, maka hal ini akan dapat membatasi kiprahnya bahkan tidak menutup kemungkinan gerakan ini akan menjadi asing di kalangan masyarakat.

Menyadari arti penting peran remaja dalam melanggengkan misi dan perjuangan gerakan Ahmadiyah, maka seharusnya men-jadi perhatian kita semua untuk terus memberdayakan potensi remaja sebagai wahana strategi perjuangan gerakan Ahmadiyah. Upaya untuk mewujudkan hal tersebut, salah satunya adalah memahami karakteristik mereka dan selanjutnya mengkaji dan mengimplementasikan strategi ‘merangkul’ ataupun memfasili-tasi mereka baik sebagai pelaku dan sasaran dakwah gerakan Ahmadiyah.

Karakteristik remaja dan strategi pembinaan

Remaja adalah istilah yang digunakan untuk menggambar-kan individu yang berada diantara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pada sebagian besar masyarakat Indonesia, usia 11 tahun dianggap sudah memasuki remaja karena pada umumnya mereka sudah baligh, dan usia 24 tahun dianggap sebagai batas maksimal. Batasan lain berkaitan dengan status perkawinan karena arti perkawinan masih dianggap sangat penting dalam menentukan apakah seseorang itu dapat diklasifikasi sebagai masih remaja atau dewasa. Pada usia berapapun, seseorang yang sudah menikah, dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa, baik secara hukum maupun dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Memahami karakteristik remaja akan membantu kita dalam upaya mendampingi mereka mengembangkan potensinya untuk menjawab tantangan jamannya karena kelak mereka akan hidup dan berjuang pada jaman yang berbeda dengan yang kita alami sekarang. Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa dalam mendam-pingi remaja, kita bukanlah orang yang selalu sempurna dan kita tidak dapat memaksakan kehendak kita kepada mereka. Kita hanya berhak memberi saran dan alternatif sebijak mungkin. Selebih nya, remajalah yang menentukan pilihannya secara sadar dan bertanggung jawab.Tidak ada seorangpun yang berhak mendikte dan memaksakan kehendak kepada yang lain dengan dalih mendapat “petunjuk”. Allah Taala berfirman:

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, melainkan Allahlah yang memberi petunjuk (taufik) kepada siapa yang dikehendakiNya. (QS Al Baqarah 2:272).

Menurut ajaran Islam, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatan  baik dan buruknya dalam kehidupan, dan tentu tidak ada yang dapat dilakukan orang lain untuk mengambil alih tanggung jawab ini. Al Quran berulang-ulang menegaskan bahwa jika  Hari Perhitungan tiba, setiap orang memikul bebannya sendiri dan perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Akan ada kesaksian tentang apa yang mereka lakukan ataupun yang tidak. Tak seorangpun dapat memikul beban orang lain. Allah SWT berfirman:

Barang siapa mengikuti petunjuk Allah, akan bermanfaat bagi dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat, akibatnya akan dipikul sendiri. Tak ada seorangpun yang bisa menanggung dosa orang lain. (QS Al-Isra’ 17:15).

Tugas orang tua dalam mendampingi remaja sama dengan tugas Rasulullah Saw, yaitu memberi teladan yang baik dan menciptakan lingkungan sedemikian rupa sehingga remaja dapat mengembangkan sifat dan potensi yang mereka miliki.Orang tua bertugas menjaga remaja seaman dan sesehat mungkin, serta memberi kesempatan pada mereka untuk belajar dan mengem-bangkan ilmu pengetahuan. Orang tua perlu bersikap bijaksana, artinya mampu menyelaraskan antara idealita dan realita yang ada. Dalam konteks mendidik, pendewasaan, dan latihan keman-dirian, orang tua harus berlapang dada kepada remaja yang kurang efisien dan kurang sempurna dalam melakukan pekerjaannya. Kalau kita tidak pernah memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar, bagaimana mungkin mereka dapat mandiri ketika saatnya tiba?

Masa remaja merupakan masa transisi, baik dalam per-tumbuhan fisik, kematangan emosional dan sosial, perkem-bangan heteroseksualitas, kematangan kognitif, dan filsafat hidup. Dalam proses perkembangannya, remaja mengalami berbagai perubahan yaitu:

1.     Kematangan emosional dan sosial yaitu dari arah: tidak toleran dan bersikap superior, kaku dalam bergaul, peniruan buta terhadap teman sebaya, kontrol orang tua, perasaan tidak jelas tentang dirinya/orang lain,  kurang dapat mengendalikan diri dari rasa marah dan sikap permusuhan menuju pada bersikap toleran dan merasa nyaman, luwes dalam bergaul, interdepen-densi dan mempunyai harga diri, kontrol diri sendiri, perasaan mau menerima dirinya dan orang lain, dan mampu menyatakan emosinya secara konstruktif dan kreatif.

2.     Perkembangan heteroseksualitas yaitu dari arah: belum memiliki kesadaran tentang perubahan seksualnya, mengiden-tifikasi orang lain yang sama jenis kelaminya, dan bergaul dengan banyak teman menuju pada mampu menerima identitas seksualnya sebagai pria atau wanita, mempunya perhatian ter-hadap jenis kelamin yang berbeda dan bergaul dengannya, dan memilih teman-teman tertentu.

3.     Kematangan kognitif yaitu dari arah: menyenangi prinsip-prinsip umum dan jawaban final, menerima kebenaran dari sumber, memiliki banyak minat dan perhatian, dan bersikap subyektif dalam menafsirkan sesuatu menuju pada kebutuhan penjelasan tentang fakta dan teori, memerlukan bukti sebelum menerima, memiliki sedikit minat dan perhatian serta bersikap obyektif dalam menafsirkan sesuatau.

4.     Filsafat hidup yaitu dari arah: tingkah laku dimotivasi kesenangan, acuh tak acuh terhadap ideologi dan etika, tingkah lakunya tergantung  pada penguatan dari luar, dan bersikap subyektif dalam menafsirkan sesuatumenuju pada tingkah laku dimotivasi oleh aspirasi, melibatkan diri atau mempunyai perhatian terhadap ideologi dan etika, tingkah lakunya dibimbing oleh tanggung jawab moral, dan bersikap obyektif dalam menafsirkan sesuatu.

Proses perubahan remaja menjadi sosok yang matang dan tangguh memerlukan fasilitasi pengalaman yang terbimbing. Kesempatan, kepercayaan, tanggung jawab, bimbingan, dan umpan balik merupakan kata-kata kunci dalam strategi pem-binaan bagi remaja. Selain itu remaja juga membutuhkan suatu acuan standar nilai dan sikap dalam mengarungi pengalaman kehidupannya.

Al-Qur’an memberi kita kriteria dan standar tentang al-furqan, tata nilai yang memisahkan kebenaran dan kebatilan.

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan, Al-Quran yang membedakan antara yang haqq dan yang batil kepada hamba-Nya, agar menjadi peringatan bagi seluruh alam.( QS Al-Furqan 25: 1).

Kesan pertama yang harus mengena di hati semua orang tua Muslim adalah bahwa mereka harus menjadikan Al-Quran sebagai aturan standar dan pedoman hidup bagi setiap manusia. Standar inilah yang semestinya dipakai untuk bertindak secara adil dan arif terhadap remaja, sebab Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi orang tua dan anak-anaknya termasuk di dalamnya anak remaja.

Dengan rujukan Al-Quran, oarng tua dapat memberikan kesempatan, kepercayaan, tanggung jawab, bimbingan, dan umpan balik kepada remaja untuk terus mengembangkan potensinya sehingga dapat berkembang dan memberikan andil kemanfaatan bagai diri dan lingkungannya.

Strategi sosialisasi ide-ide Ahmadiyah di kalangan remaja

Ajaran Ahmadiyah pada prinsipnya adalah membawa pengikutnya pada keadaan jiwa (state of mind) atau kehidupan batin (inner life) yang disebut salam (damai). Keadaan jiwa yang salam dapat tercapai bila segala kehendak diselaraskan dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT atau dengan kata lain berserah diri sepenuhnya atas kehendakNya.

Untuk terwujudnya tujuan tersebut di atas, maka ajaran Ahmadiyah disebarkan oleh Gerakan Ahmadiyah. Di Indonesia dilaksanakan oleh Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) dengan mengadakan:

1.       Dakwah agama Islam dengan usaha-usaha sebagai berikut:

a.   Menerbitkan dan menyiarakan kitab-kitab Islam

b.   Menerbitkan dan menyiarkan brosur-brosur

c.   Mengadakan ceramah-ceramah agama Islam dan

kunjung mengunjungi

d.   Surat menyurat

e.   Baiat

2.       Menyelenggarakan pendidikan

3.       Menyelenggarakan usaha-usaha sosial

Usaha-usaha tersebut selama ini telah dilaksanakan, namun nampaknya lebih banyak dilakukan oleh para senior GAI. Bagaimana dengan peran remaja di GAI? Mengapa tidak banyak remaja yang tertarik berpartisipasi dalam dakwah yang diseleng-garakan GAI? Bagaimana strategi yang perlu dicoba lakukan agar ide-ide ajaran Ahmadiyah menarik di kalangan remaja?

Berbagai pertanyaan tersebut di atas dapat dirangkum dengan satau pertanyaan besar, apakah kegiatan yang selama ini dilaksanakan oleh GAI dapat memenuhi kebutuhan  remaja dalam upaya memenuhi kebutuhan bagi pengembangan dirinya?. Pengembangan diri remaja meliputi aspek kematangan emosi dan sosial, perkembangan heteroseksual, kematangan kognitif, dan pemantapan filsafat hidup. Upaya untuk memfasilitasi pengem-bangan diri remaja tersebut memerlukan fasilitasi pengalaman yang terbimbing, bersifat terus menerus, ada teladan yang baik, serta mendapatkan lingkungan sedemikian rupa sehingga remaja dapat mengembangkan sifat dan potensi yang mereka miliki.

Model pendampingan berbasis keluarga Ahmadi merupa-kan alternatif yang dapat dipertimbangkan. Melalui model pen-dampingan berbasis keluarga Ahmadi  remaja akan mendapatkan kesempatan, bimbingan, serta peluang untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya melalu integrasi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh GAI.

Model pendampingan keluarga Ahmadi dapat dilaksanakan melalui sistem asrama atau seperti pesantren. Melalui model pesantren Ahmadi ini akan memungkinkan dilakukan integrasi antara pemenuhan kebutuhan pengembangan diri remaja dan sosialisasi ide-ide ajaran Ahmadiyah secara intensif dan berkesinambungan. Lebih jauh, model ini dapat dijadikan sarana untuk menumbuhkan-kembangkan kader-kader Ahmadi. Melalui model pesantren Ahmadi ini juga dapat dikembangakan intervensi yang bersifat holistik, baik aspek fisik, psikis, sosial, dan spiritual.

Model pendampingan berbasis keluarga Ahmadi memerlu-kan organisasi, sistem, kurikulum, dan sarana prasarana. Tentu saja ini bukan hal yang mudah, tetapi apabila komitmen GAI untuk terus melanggengkan hidupnya ajaran Ahmadiyah maka ’investasi’ ini akan dapat memfasilitasi para remaja sebagai kader-kader GAI.

Mudah-mudahan lontaran ide ini dapat menjadi wacana kita semua, khususnya bagi kita yang peduli pada kelanggengan upaya GAI untuk terus berkontribusi dalam pelaksanaan lima metode (Penerbitan kitab dan brosur Islam, ceramah, kunjung mengunjung, surat menyurat, dan baiat) untuk mencapai Fathi Islam (kemenangan Islam).

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan, pertolongan, dan bimbingan bagi kita semua untuk terus berada di jalan yang diridlai-Nya. Amin.[]

Dr. Tina Afiatin

Muslimat PB GAI

Sumber: Jalsah Salanah GAI, Desember 2005

 

cetak artikel
Artikel Sebelumnya
18/10/2010 DOA YANG MENGHIDUPKAN
18/10/2010 Pendidikan Karakter dalam Keluarga
12/08/2004 KEMENANGAN ISLAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: