Menanti Urang Rantau Pasaman Pulang Basamo


Urang Rantau, Caliaklah Kampung Kito

Menanti Prakarsa Rang Pasaman Pulang Basamo

Oleh: Makmur Effendi

Meninggalkan kampung halaman untuk sementara waktu atau lebih lama atau bahkan buat selamanya yang dikenal dengan istilah merantau, adalah tradisi yang cenderung kepada urbanisasi bagi mayoritas masyarakat dunia. Sehingga lama kelamaan hegemoni suatu kelompok tertentu pada suatu kota, hampir tidak didapati lagi. Karena terjadinya pembauran etnis dan kesukuan yang berasimilasi pada komunitas masyarakat yang maju. Tak ketinggalan juga bagi masyarakat Pasaman tergolong masyarakat Perantau.

Persoalan mata pencaharian dan pendidikan menjadi alasan utama sebagian masyarakat Pasaman menuju berbagai penjuru kota dan negara yang dianggap menjanjikan buat peningkatan taraf kesejahteraan hidup. Sebagian diantaranya, untuk menuntut ilmu, sebagian yang lain bekerja di berbagi sektor usaha, baik di pemerintahan, swasta atau berwiraswata. Tak banyak yang kembali pulang untuk membangun kampung halaman dengan bekerja atau membuka lapangan usaha.

Ada yang sering pulang dengan alasan karena keluarganya di kampung atau sebagian saudaranya di kampung masih hidup. Ada lagi pulang untuk mengurus harta yang ditinggalkan, ada yang pulang ketika lebaran saja,  pun ada pulang sewaktu orang tua atau keluarga yang sakit atau wafat. Bahkan ada yang hanya pulang untuk menjual kekayaan yang masih tersisa di kampungnya.

Tanpa menafikan jasa baik pemuka kita yang berjasa membangun kampung dari hasil jerih payah di rantau dan kepintaran dari majunya pendidikan di rantau orang, tentu kita ingin tetap terjalin komunikasi yang baik dan berkesinambungan antara kampung dan rantau.

Namun sebagian besar menetap dan menjadi warga tempat perantuannya hingga turun temurun. Sehingga pernah ditemui kenyataan menggelitik dan kadang terasa memilukan,  jangankan untuk bisa diajak berbahasa daerah asalnya, dimana letak Pasaman pun  sebenarnya ia tidak pernah tahu. Yang ia tahu dari orang tuanya bahwa ia berasal dari Pasaman (Urang Pasaman). Selebihnya ia warga kediamannya saat ini.

Dan yang pernah penulis dengar sendiri dari Urang Pasaman di Rantau adalah ucapan penolakan pulang kampung, dengan berkata, untuk apa pulang ke Pasaman?, disini kita sudah terbiasa dengan fasilitas, kalau di Pasaman ini dan itu tidak ada, kan repot,  katanya. Dan yang lebih tidak enaknya, ketika seorang terpelajar bilang, apa sih yang mau dibanggain ama kampung, orangnya dekil, jorok, ih mana bodoh lagi, katanya. Suka atau tidak, itulah yang terucap dari salah seorang dunsanak kita di perantauan.

Sementara di Ranah Pasaman sendiri, punya berbagai tantangan dan kendala yang butuh perjuangan serius dari semua pihak. Baik oleh pihak pemerintahan maupun pelaku usaha.  Guna memacu pembangunan di berbagai bidang pembangunan, perlu penyiapan sumber daya manusia yang handal dan berkualitas tinggi dengan dilengkapi pembekalan berbagai bidang keahlian dan keterampilan terpadu serta pembinaan yang intensif. Disamping didukung fasilitas sarana dan prasarana penunjang pendidikan.  Sejalan  dengan itu pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi berdampak pada tidak berimbangnya kemampuan anggaran untuk menyediakan kebutuhan mendasar dari penyelenggaraan pendidikan.

Kondisi inilah yang tengah dialami Kabupaten Pasaman, yang menjadi permasalahan klasik yang belum kunjung tuntas. Sehingga menjadi agenda utama pembangunan yang  butuh skala prioritas Pemerintah Daerah yang tidak mungkin terlaksana dengan hanya mengandalkan kemampuan keuangan daerah dan partisipasi masyarakat saja. Meminta kepedulian Pemerintah Pusat yang sebesar-besarnya dalam berbagai bentuk program pengadaan dan pendanaan berkelanjutan melalui pengalokasian anggaran pada APBN dan APBN.P

Lebih dari itu, disamping terhadap negara, tentunya kepada masyarakat kabupaten Pasaman yang berada di perantauan, terutama di kota-kota besar di berbagai penjuru negeri, bahkan yang hidup menetap di luar negeri. Dimana, yang kualitas hidup dan tingkat kesejahteraannya jauh lebih baik ketimbang sanak suadaranya yang tinggal menghuni kampung halaman kelahirannya. Tertumpang harapan untuk mau sedikit berbagi kelebihan rezki, ilmu dan keterampilan buat menebus keterbelakangan famili dan kaumnya yang masih jauh dari tuntutan kemajuan zaman.

Perhatian utama masyarakat Perantau Pasaman yang memilih tetap hidup di rantau, tentu  yang sudah sejahtera, sangat dibutuhkan untuk mau dan peduli dengan berbagai kekurangan dan ketertinggalan kampung tanah tumpah darahnya.

Bila kita cari tahu, betapa masyarakat Minang di Perantauan, selama ini sangat terkenal dengan ikatan persaudaraan di tempat perantauannya, sehingga lahirlah berbagi organisasi yang punya kekuatan tersendiri untuk saling berkontribusi membela suadaranya yang terjebak kesulitan. Kemudian kesamaan pandangan tersebut terwadahi pula pada lingkup kepedulian terhadap tingkat kesejahteraan sanak famili di rantau maupun di ranah Minang dengan nama Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang).

Gebu Minang mengembangkan sayap dengan membentuk lembaga-lembaga keuangan mikro seperti pendirian lembaga simpan pinjam perbankkan, sebagimana berdirinya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di berbagi kota di ranah Minang seperti di Kota Padang ada BPR Berok Gunung Pangilun, di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota ada BPR Sinamar, BPR Halaban dan sebagainya.

Lalu untuk memperlihatkan wujud kecintaan kepada kampung halaman dalam bentuk kehadirannya di tanah asal, dilakukan Gerakan Pulang Basamo, sehingga muncullah berbagai nama yang cukup berpengaruh keluar dan ke dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat. Ada namanya Minang Pulang Basamo, Mungka Pulang Basamo, Rang Sulik Aia Pulang Kampung dan seabrek istilah yang tak mungkin disebut satu persatu.

Hanya yang belum dan tidak diketahui pasti, masyarakat perantau yang berasal dari ranah Pasaman penghuni kota-kota metropolitan melakukan gerkan bersama saiyo sakato, saayun salangkah untuk berbuat secara terpadu dan terkoordinasi menampakkan kepedulian untuk berbagi kelebihan kebaikan ilmu dan harta untuk dilimpahkan kepada Urang Nagari-nya apalagi menyatukan langkah untuk pulang kampung dengan ala Pulang Basamo yang diperbuat dunsanak kita di Nagari dan Kampuang tetangga kita di Sumatera Barat ini.

Ketahuilah dunsanak kami Urang Pasaman di Rantau!…  apakah dunsanak sudah tidak ingat lagi dengan lamaknya Bareh Tapuih, yang kini tak lagi surplus, tak mampu menjadi pemasok kebutuhan nasional, karena irigasi bendungan raksasa Panti – Rao yang dibangun sejak 1980-an hingga kini belum kunjung tuntas. Penyebabnya barangkali tidak sebesar anggapan dunsanak, karena proyek yang dibangun dengan APBN senilai Rp. 300 miliar pada waktu itu, hanya tersangkut pembangunan tersier ke sawah rakyat saja yang kini butuh dana Rp. 20 miliar saja, tapi belum juga terwujudkan. Karena kampung kita masih miskin, PAD kita Kecil, tak mungkin sanggup membiayainya. Namun produksi Padi Pasaman dari data Distanhor pada tahun lalu, dari areal tanam 43.439 ha diperoleh hasil panen 184.183 ton.

Akan tetapi, kalau 10 ribu orang urang pasaman di Jakarta, 10 ribu orang pasaman di Medan, 10 ribu orang pasaman di Pakan Baru atau seribu orang urang pasaman di Malaysia atau dimana saja, menjalin kekompakkan untuk pulang basamo, melihat dari dekat apa sesungguhnya yang telah ada di dan belum terlaksana di kampung kita.

Selain padi, sebagai andalan komoditi hortikultura pasaman adalah jagung, pisang ameh dan jeruk. Jagung sudah mencapai areal tanam seluas  2.175 ha dengan produksi 8.742 ton di tahun 2010. Lalu Pisang Ameh Pasaman telah mulai berangsur dikembangkan, dimana tercatat areal tanam 111 ha di tahun 2010 berproduksi 2.331 ton.  Dan jeruk sudah panen 495 ha yang menghasilkan 10.095 ton.

Sesungguhnya tanah Pasaman tidaklah terlalu menyedihkan untuk menggenjot tingkat kesejahteraan rakyatnya, jika mereka dibantu oleh para investor yang bernyali dan punya komitmen untuk melaksanakan kesepakatan usaha yang telah disetujuinya. Karena potensi tambang yang sangat memungkinkan untuk memacu peningkatan taraf perekonomian. Betapa tidak, sejumlah wilayah prospek tambang di Pasaman dengan potensi  berskala besar seperti batu bara, emas, bijih besi dan Galena, timah hitam dan kaolin.

Untuk satu potensi saja, tidak sedikit areal yang menyediakan potensi. Untuk bijih besi, terdapat pada bidang areal 11.000 ha dari tiga titik penambangan, yaitu di Nagari Binjai kecamatan Tigo Nagari seluas 4.000 ha, di Nagari Aia Manggih kecamatan Lubuk Sikaping tercatat 5.000 ha dan di Nagari Padang Mantinggi.

Ketidaksiapan investor untuk tabah dengan proses yang diberlakukan negara, selama ini menyebabkan bengkalai yang tidak dapat dimanfaatkan. Persoalan hutan lindung yang dikeluhkan selama ini, telah mulai menunjukkan titik terang untuk berproduksinya sumber tambang. Sebagimana diungkap Bupati Pasaman H. Benny Utama, SH MM  baru-baru ini, bahwa telah disetujui Pemerintah Pusat untuk alih fungsi lahan dengan pelepasan kawasan hutan lindung seluas

Kabupaten Pasaman yang didiktum memiliki kawasan hutan lindung 83% itu atau seluas 237.044 ha dari total kawasan hutan 283.925 ha, sedangkan non kawsan hutan hanya 110.838 ha saja. Lalu Pemkab Pasaman  pada tahap pertama mengusulkan 48.000 ha untuk dapat dibebaskan, namun yang disetujui baru sekitar 28.000 ha, yang terdiri dari 3200 ha pelepasan bersyarat dengan pertimbangan topografi sehingga dampak strategisnya penggunaan dan pengelolaannya harus menunggu persetujuan DPR-RI dan 25.000 ha lainnya pelepasan murni yang hanya memerlukan penerbitan SK Menhut sebagimana ditandatangani pada 15/4 lalu.

Pada bidang perkebunan, sebagaimana terdata pada Pemkab Pasaman urang Pasaman tahun 2010 di kampung halaman kita sudah memiliki 5 komoditi unggulan berupa karet seluas 25.653 ha tingkat produksi 23.586 ton, Kakao 15.691 ha hasilnya mencapai 14.409 ton, Kelapa sawit 3.197 ha berproduksi 18.822 ton,   Kopi 2.509 ha mencapi 7.400 ton dan kelapa seluas 2.213 ha berproduksi 8.264 ton.***

6 Bulan Kepemimpinan Benny Utama sebagai Bupati Pasaman


Mengintip kegigihan Benny Utama

Oleh: Makmur Effendi

Energik, Dinamis, selektif dan berdedikasi tinggi tercermin dalam setiap aktifitasnya. Yakin dan optimis tak sekedar motto, tapi menjelma dalam spirit dan naluri yang memotori kegigihan. Dapat dikemukakan tentang sosok pemegang kemudi pasaman saat ini, H. Benny Utama, SH MM, terpadu tiga syarat prinsipil kepemimpinan, yaitu punya pengetahuan, kemauan dan kemampuan.

Menelusuri sepenggal perjalanan figur manajemen pemerintahan seorang Bupati H. Benny Utama membuat banyak kalangan mulai berdecak kagum dan secara spontan mengacungkan jempol sebagai rasa salutnya atas setumpuk berkas yang mencatat bukti keberhasilan yang dicapai sebagai buah dari kerja keras yang dilakukan sepenuh hati.

Mengajukan motto “Pasaman Untuk Semua” yang diusungnya ketika pencalonan dirinya sebagai kandidat Bupati pada pertengahan  tahun  lalu, sehingga pilihan rakyat pun pada tanggal 30 Juni 2010 menentukan kepercayaan untuk memimpin pasaman periode 2010 – 2015. Tekad yang sudah terucap untuk membangun Pasaman dapat kesempatan setelah dilantik pada tanggal 29 Agustus 2010.

Selanjutnya ditetapkanlah visi terwujudnya masyarakat kabupaten Pasaman yang Maju dan Berkeadilan sebagai tolok ukur kinerja aparatur yang tercatat sebagai PNS pada jajaran Pemerintah Kabupaten Pasaman. Tentu saja tercerminlah berjibun kesibukan yang meliputi keseluruhan bidang tugas kedinasan.

Ungkapan ini tidak berlebihan karena seorang Benny Utama tidak dapat dibantah dan memang sangat beralasan. Kerja keras tak kenal waktu, tak kenal lelah, menjadi bagian dari dirinya. Hal ini disandangnya bukanlah yang pertama kalinya dalam kepemimpinannya, karena berbagai jabatan penting dan bergengsi telah pernah dijalaninya. Mulai dari menjadi Ketua DPD Partai Golkar Pasaman, Wakil Bupati Pasaman, Ketua DPRD Pasaman  dan berbagai jabatan tingkat Provinsi dan bahkan di pentas Nasional diembannya dengan penuh kehati-hatian dan tanggung jawab penuh yang memang diakui oleh semua kalangan.

Bukan hanya kemampuan bekerja saja, olah pikirannya yang terucap pada berbagai pidatonya yang cukup panjang dan tanpa teks terlihat nyata penguasaan Benny Utama terhadap Pasaman di seluruh sektor pembangunan dan pemerintahan melebihi siapapun, menggambarkan kepiawaiannya dalam menguasai berbagai bidang pengetahuan, sehingga diakui pula seorang orator yang cerdas, berbakat dan kharismatik. Sementara kedekatannya pada semua orang dan dapat diakui oleh kawan dan lawan adalah potensi leadership yang  alami bagi dirinya. Begitulah komentar  yang terucap dari seorang pejabat yang sudah terbilang karatan mengabidkan diri  di daerah ini.

Kemampuan pemahaman yang dimiliki, menempatkan kualitas strateginya dalam memetakan persoalan kekinian, potensi, peluang dan solusi yang menjadi prioritas  dan dari mata rantai pembangunan yang memiliki saling keterpaduan itu mampu dikemasnya menjadi segmen yang penuh perhitungan, sehingga apa yang harus dikejar dan ditargetkan memang terukur dan terencana tanpa mengabaikan sisi lain yang mengelilinginya. Suka atau tidak atau mau tidak mau, segenap  jajaran yang terhimpun dalam Kabinet Pasaman untuk semua beserta aparatur  Pemkab Pasaman mesti terseret untuk ikut berlari kencang, mengimbangi langkah Bupati yang melesat bagi kilat itu.

Seorang ajudan pun ikut buka mulut, katanya: “Seumur-umur, baru kali ini saya melihat Bupati yang terkesan  “Gila Kerja”. Sepertinya, tiada waktu tanpa berpikir dan bekerja untuk Pasaman. Hampir tidak pernah Bapak pulang kantor sebelum jam 17.30 wib setiap harinya. Malahan, malam harinya, Bapak masih terlihat bekerja. Rata-rata setiap hari, 18 jam Bapak bekerja”, tuturnya ketika ditelusuri aktifitas Bupati yang selalu didampingi ajudan  yang jebolan STPDN itu.

Jika pernah terlontarkan anjurannya kepada segenap jajaran aparatur yang dipimpinnya supaya Berpikir Lebih, Bekerja Lebih dan Berdoa Lebih, adalah apa yang telah  lebih dulu ia jalani. Dan itupun tidak dibiarkan begitu saja dan tidak bisa ditawar, karena langsung dikontrol pada instansi yang berhubungan langsung dengan pelayanan publik, semisal Rumah Sakit Umum, Dinas  Catatan Sipil dan kependudukan dan sejumlah kantor perizinan lainnya, memang diplototinya dengan gencar di lapangan.

Oleh karena itu, munculnya keluhan masyarakat atas pelayanan yang arogan dan tidak benar  di instansi Pemkab Pasaman adalah hal yang memilukan dan memalukan bagi Benny Utama, sehingga akan langsung ditindaklanjuti. Sejatinya, pelayanan prima buat Rakyat Pasaman, bisa terlaksana.

Celah Ruang Gerak untuk berimprovisasi dan menyimpang dari jajarannya makin menciut lantaran terkunci oleh kepribadiannya yang tertuang dalam Corak Pemerintahannya yang transparan, jujur, berkeadilan, serius tapi enjoy cepat dan tepat, praktis dan sederhana. Didukung pula kecakapan Bupati Benny yang mumpuni dan aplikatif pada hampir semua bidang dan sektor pekerjaan di Pemkab Pasaman.

Pola kerja yang ditularkan kepada bawahannya berpadu dalam mekanisme yang terdata, terukur dan  terhitung yang berujung pada hasil yang optimal dan terkontrol secara strukural. Wujudnya dapat dilihat dengan keharusan aktifitas aparaturnya  dituangkan dalam Jurnal Harian PNS, sehingga apapun kesibukan yang mewarnai hari-hari PNS akan termonitor dari Jurnal tersebut, yang mendapat penilaian dan  pengawasan atasan PNS yang bersangkutan. Sehingga semuanya tidak luput dari hal ini. Mulai dari staf yang diawasi kepala seksi. Tugas Kasi dikendalikan oleh Kabid, Kabid mendapat penilaian dari Kadis, hingga asisten dan Sekdakab akan terlihat jelas kinerjanya melalui lembaran yang diisi secara rutin tersebut.

Selain itu pula, totalitas kinerja SKPD setiap bulannya selalu dievaluasi melalui agenda bulanan Coffee Morning pada setiap Senin sesudah tanggal 5 setiap bulannya, selepas Apel Gabunngan SKPD. Hal ini dilakukan sebagai konfirmasi atas laporan yang harus sampai ke tangannya paling lambat  tanggal 5 setiap bulannya yang berisikan data administrasi dan keuangan. Sehingga laporan bulanan tersebut akan menjadi materi capaian kinerja setiap unit pelaksana kegiatan masing-masing SKPD di Pemkab Pasaman. Melalui wadah itu pula, jembatan hati silaturrahim yang menciptakan kekompakan sebuah team work –nya dapat  dipupuk dipelihara.

Tidak cukup sampai disitu saja, keberpihakan pada rakyat menjadi luar biasa. Karena selain optimalisasi standar pelayanan masyarakat, Bupati Benny melakukan adjusment berani pada perimbangan alokasi Anggaran Belanja Daerah (ABD) pada  APBD Pasaman tahun 2011 ini, dimana pada tahun-tahun sebelumnya, sekitar 72% tersedot oleh penyediaan anggaran Belanja Aparatur/Pegawai, tinggallah 28% saja jatah belanja publik termasuk dana pembangunan.

Di kalangan pejabatnya, Kebijakan yang diambil,  dianggap tidak populer karena Benny Utama memangkas jatah kantong Pejabat Eselon II dan III atas  tunjangan kinerja pejabat. Dampak keuntungan pada Anggaran Belanja Publik (ABP) menjadi sangat berarti. Dengan rasio ABD turun menjadi 60% berbanding 40% APBD berhasil diperuntukkan pada ABP.

Argumen Benny Utama terhadap hal ini adalah perbandingannya dari 260.000 orang penduduk Kabupaten Pasaman, hanya 5.700 orang PNS, lalu kenapa mesti 72% ABD  terkuras untuk 5.700 orang? Sementara hanya tersisa 28% saja  alokasi ABP untuk lebih dari 250 ribu jiwa rakyat Pasaman.  Alangkah suatu perbandingan yang tak mungkin dan takkan pernah berimbang.

Selera untuk tampil lebih baik bukan pada sistem pemerintahan dan mekanisme kinerja aparatur saja. Sejumlah mega proyek segera diwujudkan dalam waktu dekat ini. Memulai pencairan APBD tri wulan  pertama tahun2011 ini, akan mengucur mendampingi APBN, APBD Provinsi, DAK dan DAU Kabupaten Pasaman bakal menyulap dandanan Kota Lubuk Sikaping yang masih terkesan  perkampungan menjadi layaknya sebuah Kota yang Representatif. Dengan target pengerjaan sampai tahun 2013 nanti, setidaknya dua konstruksi raksasa akan menjadi kebanggaan Kota Lubuk Sikaping, yaitu Jalan  Kota Dua Jalur dan Kanal Batang Sumpur jelas memberi tampilan elegan yang mempesonakan.

Ketekunan dan kegigihan untuk melakukan lobby dan strategi yang berkolaborasi membuat besarnya aliran dana pembangunan dari Pemerintah Pusat dan Provinsi memang dilakukan dengan berjibaku. Kesabarannya untuk menunggu untuk dapat bertemu seorang pejabat eselon III di halaman kantor kementrian dan sampai empat jam  berdiri dan mondar mandir karena banyaknya antrian yang berkepentingan dan ada juga yang harus menunggu sampai dua hari, asalkan dapat bertemu “orang penting” yang diinginkan bahkan pernah diperlakukan cuek oleh salah seorang Satgas di salah satu dinas tingkat provinsi di Kota Padang tak sedikitpun membuat ciut nyali dan kendornya semangat untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan daerahnya. Belum lagi sikap kurang resposive yang diperlihatkan pejabat bersangkutan setelah bertemu muka.

Pada suatu kesempatan pernah diungkap Benny Utama: “Jika kita hanya mengandalkan  dana pembangunan melalui APBD kabupaten, maka diprediksi sejauh 30 tahun ke depan, Kabupaten Pasaman belum bisa Maju”. Begitulah ucapan yang mendorong gencarnya perjuangannya mencari alternatif dan peluang yang dapat mengatasi sesuatu yang tidak bisa diterimanya sebagai takdir.

Malahan untuk melakukan pekerjaan yang butuh ketabahan dan kerja keras ini, tidak selalu dilakukan dalam perjalanan Dinas yang didampingi ajudan. Sehingga hal ini terungkap dari Kepala Dinas PU, Ewilda, ST sebagai orang satu-satunya yang mendampingi di Jakarta dalam rangka memperjuangkan dana pusat untuk pembangunan saran air bersih, dirinya nyaris putus asa. Pasalnya, untuk menemui pejabat eselon III saja  ia mesti menunggu hingga 2 jam. Kono pula sikap kurang respon diperlihatkan setelah bertemu. Tapi Syukurlah membuahkan hasil. Dana yang seharusnya bukan jatah Pasaman itu, akhirnya didapatkan.

Tak cukup sampai disitu, Ewilda dan Bupati Benny bolak balik dari satu tempat ke tempat lain  dengan berjalan kaki di tengah teriknya panas, karena letak kantor yang dituju berjauhan dan ditambah lagi luasnya halaman kantor, sehingga perjalanan dari depan jalan raya ke depan tiap kantor yang menjadi tujuan cukup jauh. Dengan menarik troli sendiri naik turun taksi di tiap halte, kadang kehujanan kadang keringat mengucur bersangatan membasahi tubuhnya tidak dipedulikan, hingga sang Kadis minta beristirahat sejenak di sebuah halte atau di bawah sebatang pohon yang cukup rindang, karena menunggu taksi lewat yang tidak selalu ada di setiap waktu.

Sesampai di gedung tujuan, tak pula langsung dilayani petugasnya, semua orang terlihat tidak peduli saja, lalu dengan penuh lemah lembut cari tahu tempat pejabat yang ingin dijumpai, lalu disuruh menunggu dari siang  itu tanpa disuruh  duduk, hingga Ewilda mengaku capek mondar-mandir sampai lewat jam 17.wib barulah ada kesempatan untuk bertemu orang penting itu.

Pejabat lain yang pernah dibawa serta adalah M. Nasir, SH kepala BPBD dan Edi Zubir Kabid PSDA Dinas PU untuk memperjuangkan pembangunan daerahnya, menjadi saksi hidup dalam cerita pilu dan pahit getir yang dilalui demi tergenjotnya dana pembangunan daerah ini.

Memang di daerah ini tidak banyak yang bisa meniru keberhasilan hidup mandiri dan disiplin tinggi dari seorang yang berstatus sebagai putra bungsu dari keluarga yang cukup menjanjikan untuk menikmati pemanjaan diri, karena bapaknya seorang pekerja keras dalam bidang enterpreneurship dan ibunya seorang tenaga pengajar yang sukses di sebuah SLTA di daerah yang sama.

Sebagai orang yang turut menyimak perjalanan tugasnya, kita memang kasihan melihat keletihan atas keseriusan bekerja Bupati Pasaman  di atas rata-rata kemampuan biasa. Akan tetapi sangat dimaklumi, bahwa mendalamnya kemengertian, Benny Utama tidak bisa membiarkan keadaan yang tak pantas untuk Pasaman, utamanya bila menyentuh kehidupan dan kepentingan Rakyat Pasaman.

Semoga Rahmat dan Pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa selalu menyertai segenap keseharian Bapak Bupati, sehingga dalam Memimpin dan Bekerja Lebih untuk Pasaman ini menghantarkan pada impian Bapak untuk menjadikan Pasaman yang lebih maju berkeadilan dan sejahtera berbudaya segera terwujud sebagai negeri yang dirahmati dalam ridha Allah. Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur. Amiin. Ya Rabbal’alamin.

%d blogger menyukai ini: