Syafaat dari Allah


Syafaat dari Allah Menurut Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (3)

Hikmah dan manfaat pemberian izin syafa’at dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan hal ini dalam ucapan beliau,

وأضاف “جوهر (المنفعة) من  هو أن الله تعالى هو الذي يعطي هدايا للأشخاص الذين  (عبادته وحده) معه ليغفر (الخطايا) وهم مع صلاة الشفاعة التي تسمح لإعطاء الله، لمجد الله إلى الشخص مع عليه وحتى أنها وصلت إلى موقف يستحق الثناء… “[1]

“Hakikat (manfaat) dari syafa’at adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang memberi karunia kepada orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadah kepada-Nya semata) dengan Dia mengampuni (dosa-dosa) mereka dengan perantaraan doa dari orang yang Allah izinkan untuk memberi syafa’at, agar Allah memuliakan orang tersebut dengan syafa’at itu dan agar dia mencapai kedudukan yang terpuji….”[1]

Dari penjelasan beliau di atas jelaslah bahwa maksud pemberian izin syafa’at dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dua hal:

1-      Memuliakan orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala izinkan untuk memberi syafa’at.

2-      Memberi manfaat kepada yang diberi syafa’at, yaitu orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadah kepada-Nya semata) dengan Allah Ta’ala mengampuni (dosa-dosa) mereka dengan perantaraan syafa’at tersebut.[2]

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin menjelaskan makna ucapan Ibnu Taimiyah di atas, beliau berkata, “Faidah (manfaat) dari syafa’at adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin mengampuni (dosa-dosa) orang yang menerima syafa’at, tetapi dengan perantaraan syafa’at tersebut.

Dan hikmah dari perantaraan (dengan syafa’at ini) dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam ucapannya (di atas). Seandainya Allah menghendaki, maka Dia akan mengampuni (dosa-dosa) mereka tanpa (perantaraan) syafa’at, akan tetapi Allah ingin menjelaskan (menampakkan) keutamaan dan kemuliaan orang yang memberi syafa’at tersebut di hadapan manusia (pada hari Kiamat). Dan sudah diketahui bahwa orang yang Allah terima syafa’atnya maka (mestinya) dia mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Maka ini berarti pemuliaan terhadap orang yang (diizinkan-Nya) memberi syafa’at, dari dua segi:

Pertama: tampaknya keutamaan pemberi syafa’at tersebut terhadap yang diberi syafa’at.

Kedua: tampaknya kedudukannya (yang mulia) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.[3]

Pembagian golongan manusia dalam menetapkan/mengimani adanya syafa’at

Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan berkata, “Dalam (menetapkan) perkara syafa’at, manusia terbagi menjadi tiga golongan:

– Golongan pertama:

orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas dalam menetapkannya, mereka adalah orang-orang Nashrani, orang-orang musyrik, kelompok ahli Tasawuf yang ekstrim, dan para pemuja/ penyembah kubur (yang dikeramatkan), di mana mereka menjadikan (menganggap) syafa’at (dari) orang-orang yang mereka agungkan di sisi Allah, seperti syafa’at (pertolongan dengan menjadi perantara) yang biasa dilakukan di dunia di hadapan para raja (penguasa), sehingga merekapun meminta syafa’at kepada selain Allah (dan ini adalah perbuatan syirik besar), sebagaimana yang Allah sebutkan (dalam al-Qur’an) tentang orang-orang musyrik.[4]

– Golongan kedua:

kelompok Mu’tazilah dan Khawarij yang berlebihan dan melampaui batas dalam menolak syafa’at, sehingga mereka mengingkari syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syafa’at selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi para pelaku dosa besar.

– Golongan ketiga:

mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menetapkan syafa’at (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) sesuai dengan yang diterangkan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka menetapkan syafa’at dengan syarat-syaratnya (yang kami sebutkan di atas).”[5]

Amal-amal shaleh yang menjadi sebab meraih syafa’at

Sebab terbesar dan utama untuk meraih syafa’at adalah memurnikan tauhid dan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memurnikan al-ittibaa’ (mengikuti dan meneladani) kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana penjelasan di atas.

Disamping itu, dalam hadits-hadist yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa amalan shaleh yang menjadi sebab untuk meraih syafa’at pada hari Kiamat nanti[6], di antaranya:

1. Membaca al-Qur’an dengan merenungi kandungan maknanya.

    Dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya bacaan al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia).”[7]

    2. Memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah setelah melaksanakan shalat-shalat yang wajib).

    Ketika ada seorang pelayan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Keperluanku adalah agar engkau (wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) memberi syafa’at bagiku pada hari Kiamat.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bantulah aku (untuk keperluanmu itu) dengan memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah).”[8]

    3. Banyak berpuasa, baik yang wajib maupun yang sunnah/ anjuran.

      Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘al-’Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa dan al-Qur’an akan memberikan syafa’at pada hari kiamat bagi seorang hamba (yang mengamalkannya), puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya.’. (Bacaan) al-Qur’an (juga) berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya.’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka, keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.[9]

      4. Tinggal di kota Madinah (kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), bersabar atas kesusahannya dan meninggal dunia di sana. Ini disebutkan dalam beberapa hadits shahih.[10]

      5. Membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta al-wasiilah untuk beliau (seperti yang diucapkan pada doa setelah mendengar azan selesai dikumandangkan).

        Dalam hadist yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…Barangsiapa yang meminta al-wasiilah untukku, maka halal baginya (mendapatkan) syafa’atku.”[11]

        6. Jenazah yang dishalatkan oleh empat puluh orang ahli tauhid.

          Dari Abdullah bin ‘Abbas shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berkata, “Sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah akan menerima/ mengabulkan syafa’at mereka terhadapnya.’”[12]

          Perlu juga untuk diingatkan di sini tentang beberapa amalan yang dianggap oleh banyak orang awam sebagai sebab meraih syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal semua itu disebutkan dalam hadits-hadits yang lemah bahkan sebagiannya hadits yang palsu. Seperti menziarahi kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam beberapa hadits, tapi semuanya hadits lemah.[13] Demikian pula berperang membela keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencintai mereka, ini disebutkan dalam hadits yang palsu.[14] Dan hadits tentang keutamaan menghafal empat puluh hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dinyatakan lemah oleh para ulama ahli hadits, seperti Imam Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnul Jauzi dan an-Nawawi.[15]

          Nasihat dan Penutup

          Pemahaman yang benar tentang syafa’at akan memotivasi orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir untuk semakin giat beribadah dan mengamalkan ketaatan kepada Allah Ta’ala, juga akan menambah kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[16] dan berusaha meneladani petunjuk beliau dalam agama.

          Lebih dari pada itu, memahami masalah ini akan menumbuhsuburkan dalam diri orang yang beriman kecintaan kepada Allah, karena dia mengetahui betapa agung kasih sayang dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertauhid, dengan Dia Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk pengampunan dosa-dosa mereka, agar mereka meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

          Bahkan, karena luasnya karunia dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, Dia Ta’ala akan mengeluarkan dari neraka siapa yang dikehendakinya dari orang-orang beriman pelaku maksiat, tanpa syafa’at.

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Kemudian, Allah akan mengeluarkan dari neraka orang-orang (yang beriman pelaku maksiat) tanpa syafa’at, akan tetapi dengan karunia dan rahmat-Nya.”[17]

          Dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Para Malaikat telah memberi syafa’at, para Nabi ‘alaihis salam (juga) telah memberi syafa’at, dan orang-orang yang beriman (juga) telah memberi syafa’at, maka tidak tersisa keculai Zat Yang Maha Penyayang (Allah Subhanahu wa Ta’ala), maka Dia menggenggam (mengambil) satu genggaman dari Neraka, lalu Dia mengeluarkan dari neraka suatu kaum (orang-orang yang beriman pelaku maksiat) yang belum pernah mengamalkan satu kebaikanpun sama sekali dan mereka telah menjadi arang….”[18]

          Demikianlah, Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk dapat meraih semua kebaikan dan kemuliaan yang dijanjikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di dunia dan di akhirat kelak, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar, Mahadekat, dan Maha Mengabulkan doa.

          وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


          [1] Kitab Majmuu’ul Fataawa (7/78).
          [2] Lihat kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/330).
          [3] Kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/345-346).
          [4] Dalam Al-Quran surat Yunus ayat 18.
          [5] Kitab Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (hal. 143-144).
          [6] Lihat kitab Asy-Syafa’ah (hal. 207-257).
          [7] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 804).
          [8] HR. Ahmad (3/500), dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahiihah (no. 2102).
          [9] HR. Ahmad (2/174), Abu Nu’aim dalam Hilayatul Auliyaa’ (8/161) dan al-Hakim (1/740), dari dua jalur yang saling menguatkan.  Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi,  dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Tamaamul Minnah (hal. 394).
          [10] Di antaranya hadits shahih riwayat Muslim (no. 1374 dan 1377), juga  hadits riwayat at-Tirmidzi (no. 3917), Ibnu Majah (no. 3112), Ahmad  (2/74) dan Ibnu hibban (no. 3741), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban  dan al-Albani.
          [11] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 384).
          [12] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 948).
          [13] Lihat kitab Asy-Syafa’ah (hal. 241).
          [14] Ibid (hal. 253).
          [15] Ibid (hal. 254-256).
          [16] Ibid (hal. 3).
          [17] Kitab Al-’Aqiidatul Waasithiyyah (hal. 20).
          [18] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 183).
          Iklan

          Asma Allah yang Paling Agung



          بسم الله الرحمن الرحيم

          Nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagiannya lebih utama dari sebagian lainnya


          Hadits-hadits di atas termasuk dari dalil-dalil dalam Al-Qur-an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa masing-masing nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki keutamaan yang berbeda-beda, dan sebagiannya lebih utama dari sebagian lainnya.[1]

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,

          “Ucapan orang yang mengatakan bahwa sifat-sifat Allah tidak berbeda-beda keutamaannya (antara sebagian dari sebagian lainnya), atau ucapan yang semakna dengan itu, adalah ucapan yang tidak dilandasi dengan dalil (dari Al-Qur-an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) …

          Siapakah yang menjadikan sifat rahmat-Nya tidak lebih utama dari sifat murka-Nya?

          Padahal dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

          Sesungguhnya Allah menulis pada sebuah kitab di sisi-Nya di atas ‘Arsy” (yang artinya), “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku“, dalam riwayat lain: mendahului kemurkaan-Ku….[2]

          Sebagaimana nama-nama dan sifat-sifat Allah yang bermacam-macam, maka demikian pula, keutamaannya (antara satu nama atau sifat dengan nama atau sifat yang lainnya) berbeda-beda. Sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam Al-Qur-an, sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ijma’ (kesepakatan kaum muslimin), dan (sesuai) dengan akal (manusia).”[3]

          Imam Ibnul Qayyim juga menjelaskan hal ini dalam ucapan beliau,

          “Sesungguhnya, sebagian dari sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih utama dari sebagian (yang lain)…, sebagaimana sifat rahmat-Nya lebih utama daripada sifat murka-Nya.

          Oleh karena itu, sifat rahmat-Nya mengalahkan dan mendahului (kemurkaan-Nya).Demikian pula, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang (termasuk) sifat-Nya.

          Sudah dimaklumi bahwa (tentu saja) firman-Nya yang mengandung pujian bagi-Nya, menyebutkan sifat-sifat (kesempurnaan)-Nya, dan (kewajiban) mentauhidkan-Nya (mengesakan-Nya dalam beribadah) lebih utama daripada firman-Nya yang berisi celaan terhadap musuh-musuh-Nya dan penjelasan (tentang) sifat-sifat (buruk) mereka.

          Oleh karena itu, surat Al-Ikhlash lebih utama daripada surat Al-Lahab (Al-Masad), dan surat Al-Ikhlash sebanding (pahala membacanya) dengan (pahala membaca) sepertiga dari Al-Qur-an.[4] (Demikian pula) ayat kursi adalah ayat yang paling utama dalam Al-Qur-an[5]….”

          Lebih lanjut, Syekh Muhammad bin Shaleh Al-’Utsaimin merinci penjelasan masalah ini. Beliau berkata,

          “Hadits ini (hadits tentang ayat kursi di atas) menunjukkan bahwa Al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (antara satu ayat dengan ayat yang lain), sebagaimana ini juga ditunjukkan dalam hadits tentang surat Al-Ikhlash (di atas).

          Pembahasan masalah ini harus diperinci dengan penjelasan berikut: jika ditinjau dari (segi) Dzat yang mengucapkan/berfirman (dengan Al-Quran) maka Al-Quran tidak berbeda-beda keutamaannya, karena Dzat yang mengucapkannya adalah satu, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

          Adapun jika ditinjau dari (segi) kandungan dan pembahasannya maka Al-Quran berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain). Surat Al-Ikhlash yang berisi pujian bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang karena mengandung (penyebutan) nama-nama dan sifat-sifat Allah (tentu), tentunya tidak sama dari segi kandungannya dengan surat Al-Masad (Al-Lahab) yang berisi penjelasan (tentang) keadaan Abu Lahab.

          Demikian pula, Al-Quran berbeda-beda keutamaannya (antara satu ayat dengan ayat yang lain) dari segi pengaruhnya (terhadap hati manusia) dan kekuatan/ ketinggian uslub (gaya bahasanya), Kita mendapati bahwa di antara ayat-ayat Al-Quran ada yang pendek tetapi berisi nasihat dan berpengaruh besar bagi hati manusia. Sementara kita mendapati bahwa ada ayat lain yang jauh lebih panjang, tetapi tidak berisi kandungan seperti ayat tadi.”[6]

           

          Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala apakah yang merupakan nama-Nya yang paling agung?

          Imam Asy-Syaukani berkata,

          “Telah terjadi perbedaan pendapat (di antara para ulama) tentang penentuan nama Allah yang paling agung dalam sekitar empat puluh pendapat, dan Imam As-Suyuthi telah menulis kitab khusus tentang masalah ini.”[7]

          Mayoritas pendapat-pendapat tersebut sangat lemah karena tidak dilandasi argumentasi kuat dari Al-Quran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun keterangan dari para shahabat radhiallahu ‘anhum.

          Tidak ketinggalan pula, orang-orang ahli bid’ah dari kalangan ahli tasawuf dan selain mereka.

          Dalam pembahasan masalah ini, mereka banyak membawakan keterangan yang batil dan tidak bernilai sama sekali. Bahkan, mereka tidak segan-segan menyampaikan hadits-hadits yang palsu, riwayat-riwayat yang dibuat-buat, atau kisah-kisah dusta untuk menguatkan kebatilan mereka, serta untuk memperdaya dan menipu orang-orang awam dan bodoh dari kalangan kaum muslimin.[8]

          Adapun dalil-dalil dari Al-Qur-an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak satu pun yang secara jelas dan tegas menentukan apakah nama Allah yang paling agung. Oleh karena itu, para ulama ber-ijtihad dalam menetukan nama Allah ini.[9]

          Dari semua pendapat dalam masalah ini, hanya tiga pendapat yang paling kuat dan lebih dekat kepada kebenaran, insya Allah. Ketiga pendapat tersebut adalah:

          Pendapat pertama,

          nama-Nya yang paling agung adalah “Allah”.

          Pendapat ini dipilih oleh beberapa ulama ahlus sunnah, seperti Imam Jabir bin Zaid Al-Azdi[10], Imam ‘Amir bin Syurahil Asy-Sya’bi[11], dan Imam Abu Abdillah Ibnu Mandah[12].

          Imam Abu Abdillah Ibnu Mandah berkata,

          “Nama-Nya Allah’ adalah pengenalan terhadap Dzat-Nya (Yang Mahamulia). Dia Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan menggunakan nama ini untuk siapa pun dari makhluk-Nya, atau dipanggil dengan nama ini sesembahan selain-Nya.

          Allah menjadikannya sebagai permulaan iman, tiang penopang Islam, kalimat kebenaran dan keikhlasan, serta penolak sekutu dan tandingan bagi-Nya. Orang yang mengucapkannya akan terlindung dari pembunuhan (dihalalkan darahnya), dengannya dibuka kewajiban-kewajiban (dalam Islam), terikatnya sumpah-sumpah, perlindungan dari setan, serta dengan nama-Nyalah segala sesuatu dibuka dan ditutup. Maka, maha suci nama-Nya, dan tiada sembahan yang benar selain-Nya.”[13]

          Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syekh Al-Albani[14] dan Syekh ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr. Bahkan, Syekh ‘Abdur Razzaq mengatakan bahwa pendapat inilah yang terkenal di kalangan para ulama dan lebih dekat dengan dalil-dalil dari Al-Quran dan as-sunnah. Beliau juga menjelaskan bahwa nama “Allah” disebutkan dalam semua hadits yang mengisyaratkan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung.[15]

          Pendapat kedua,

          nama-Nya yang paling agung adalah “Al-Hayyu Al-Qayyum” (Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri dan menegakkan semua makhluk-Nya)

          Pendapat ini dikuatkan oleh beberapa ulama, seperti Al-Qasim bin ‘Abdur Rahman Ad-Dimasyqi[16], murid sahabat Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah[17], dan Syekh Muhammad bin Shaleh Al-’Utsaimin[18].

          Imam Ibnul Qayyim berkata,

          “Sesungguhnya, sifat (Allah Subhanahu wa Ta’ala) al-hayat (Mahahidup) mengandung dan meliputi semua sifat kesempurnaan, sedangkan sifat al-qayyumiyah (Maha Berdiri sendiri dan menegakkan semua makhluk-Nya) mengandung semua sifat perbuatan Allah.

          Oleh karena itu, nama Allah yang paling agung –yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkan (doanya), dan jika dia meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi (permintaannya)– adalah nama-Nya ‘Al-Hayyu Al-Qayyum‘.”[19]

          Syekh Muhammad bin Shaleh Al-’Utsaimin berkata,

          “Kedua nama ini (Al-Hayyu Al-Qayyum) adalah nama Allah yang paling agung, yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkan (doanya).

          Oleh karena itu, ketika berdoa (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala), seorang hamba sepatutnya bertawasul (menjadikan perantara untuk memudahkan dikabulkannya doa) dengan nama Allah ini, dengan mengatakan, ‘Wahai Al-Hayyu Al-Qayyum (wahai Yang MahaHidup lagi Maha Berdiri sendiri dan menegakkan semua makhluk-Nya).” [31][20]

          Pendapat ketiga,

          nama-Nya yang paling agung adalah nama-nama-Nya yang mengandung semua sifat-sifat kesempurnaan dan kemuliaan-Nya. Jadi, bukanlah yang dimaksud satu nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tertentu.

          Pendapat ini yang dipilih dan dikuatkan oleh Syekh ‘Abdur Rahman As-Sa’di. Beliau berkata,

          “Sesungguhnya nama Allah yang paling agung adalah jenis (dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala), dan bukanlah satu nama tertentu, karena sesungguhnya nama-nama Allah (yang maha indah) ada dua macam:

          Yang pertama,

          nama-nama-Nya yang (hanya) mengandung satu atau dua sifat, atau sifat-sifat yang terbatas.

          Yang kedua,

          nama-nama-Nya yang menunjukkan semua sifat-sifat kesempurnaan milik Allah, dan mengandung sifat-sifat keagungan, kemuliaan dan keindahan. Jenis kedua inilah yang merupakan nama-Nya yang paling agung, karena nama-nama ini menunujukkan berbagai makna yang paling agung dan paling luas.

          Maka, nama ‘Allah’ adalah (termasuk) nama-Nya yang paling agung. Demikian pula, nama-Nya ‘Ash-Shamad’ (Yang Maha Sempurna dan bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Demikian pula, ‘Al-Hayyu Al-Qayyum’, ‘Al-Hamid Al-Majid’ (Yang Maha Terpuji lagi Mulia), ‘Al-Kabir Al-’Azhim‘ (Yang Mahabesar dan Agung), dan ‘Al-Muhith” (Yang Maha Meliputi semua makhluk-Nya)’.” [32][21]

          Di kitab lain, beliau berkata, “Nama Allah yang paling agung di antara nama-nama-Nya adalah semua nama yang disebutkan tersendiri (dalam Al-Quran dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) atau digandengkan dengan nama-Nya yang lain, jika nama tersebut menunjukkan semua sifat dzatiyyah (berhubungan dengan zat-Nya dan terus-menurus ada) dan fi’liyyah (berhubungan dengan perbuatan-Nya yang terjadi sesuai dengan kehendak-Nya) milik Allah, atau menunjukkan makna semua sifat-Nya.

          Seperti nama-Nya ‘Allah’, yang menghimpun semua makna al-uluhiyyah (hak untuk disembah dan diibadahi) secara keseluruhan, yang merupakan semua sifat kesempurnaan-Nya.

          Maka, dengan ini kita ketahui bahwa nama Allah yang paling agung adalah jenis (dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala), dan pendapat inilah yang ditunjukkan dalam dalil-dalil syariat (Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” [33][22]

           

          Kesimpulan dan penutup


          Ketiga pendapat di atas masing-masing memiliki argumentasi yang kuat dan dipilih oleh para ulama ahlus sunnah yang terpercaya. Meskipun secara pribadi, penulis lebih cenderung memilih pendapat yang ketiga, karena pendapat inilah yang menghimpun semua dalil dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang nama Allah yang paling agung, wallahu a’lam. [34][23]

          Bagi kita yang ingin berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang paling baik dan utama adalah dengan mengucapkan lafal doa yang kami sebutkan dalam hadits pertama dan kedua di atas, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menyampaikan bahwa doa tersebut mengandung nama Allah yang paling agung, yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkan (doanya) dan jika dia meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi (permintaannya).

          Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia senantiasa menganugerahkan petunjuk dan taufik-Nya kepada kita untuk memahami dengan benar sifat-sifat keagungan-Nya, yang dengan itu kita akan mencapai keimanan dan ketakwaan yang sempurna kepada-Nya. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

          وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

          _____________________________________________________________

          [1] Lihat kitab Fiqhul Asma`il Husna, hlm. 70. 
          [2] Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (no. 3022 dan 7115) dan Muslim (no. 2751).
          [3] Kitab Majmu’ul Fatawa: 17/211–212.
          [4] Hadits shahih riwayat Al-Bukhari, no. 4726, 4727, dan 6267; dan Muslim, no. 811.
          [5] Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Muslim, no. 810, dari Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu .
          [6] Kitab Syarhul Aqidatil Wasithiyyah: 1/164–165.
          [7] Kitab Tuhfatudz Dzakirin, hlm. 79.
          [8] Lihat kitab Fiqhul Asma`il Husna, hlm. 72.
          [9] Lihat kitab Fiqhul Asma`il Husna, hlm. 73.
          [10] Dinukil oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf: 7/234, no. 35612. Jabir bin Zaid adalah imam besar dari kalangan tabi’in yang terkenal dengan kunyah beliau “Abu Asy-Sya’tsaa’ dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat kitab Taqribut Tahdzib, hlm. 136.
          [11] Ibid. Beliau adalah imam besar yang terkenal dari kalangan tabi’in, sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat kitab Taqribut Tahdzib , hlm. 287.
          [12] Dalam kitab beliau At-Tauhid:  2/21. Beliau adalah Muhammad bin Yahya bin Mandah Al-Ashbahani, imam  besar dan penghapal hadits yang ternama. Biografi beliau dalam Siyaru A’lamin Nubala’: 14/188.
          [13] Ibid.
          [14] Ash-Shahihah: 2/371.
          [15] Lihat kitab Fiqhul Asma`il Husna, hlm. 72–73.
          [16] Dinukil oleh Imam Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak: 1/684. Biografi Al-Qasim bin ‘Abdur Rahman dalam kitab Tahdzibul Kamal: 23/383.
          [17] Dalam kitab beliau Zadul Ma’ad: 4/185.
          [18] Dalam kitab beliau Syarhul ‘Aqidatil Wasithiyyah: 1/166.
          [19] Kitab Zadul Ma’ad: 4/185.
          [20] Dalam kitab beliau Syarhul ‘Aqidatil Wasithiyyah: 1/166.
          [21] Kitab Fathul Malikil ‘Allam, hlm. 26–27.
          [22] Kitab Tafsiru Asma`illahil Husna, hlm. 16–17.
          [23] [34] Lihat catatan kaki kitab Tafsiru Asma`illahil Husna, hlm. 17.

           

          Syarat-syarat Syafaat dari Allah


          Syarat-syarat hak mendapat Syafaat


          Semua syafa’at adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, maka syafa’at yang diterima di sisi-Nya hanyalah syafa’at yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan-Nya.[1]

          Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

          قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

          Katakanlah, “Semua syafa’at itu milik Allah (semata-mata).” (QS. az-Zumar: 44).

          Syarat-syarat diterimanya syafa’at tersebut adalah[2]:

          1- Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang yang akan memberi syafa’at.

          Dalam hal ini mereka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi lainnya ‘alaihissalam, serta para Malaikat dan orang-orang yang shaleh dari kaum mukminin, demikian juga anak-anak kaum muslimin yang meninggal dunia sebelum baligh (dewasa), dua atau tiga orang, dapat memberi syafa’at kepada orang tuanya.[3]

          2- Ridha Allah Ta’ala terhadap orang yang akan diberi syafa’at.

          3- Izin Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam pemberian syafa’at tersebut.

          Dan izin dari-Nya adalah setelah ridha-Nya kepada orang yang akan memberi syafa’at dan orang yang akan diberi syafa’at.

          Dalil-dalil yang menunjukkan ketiga syarat tersebut adalah ayat-ayat al-Qur’an yang kami sebutkan di atas.

          Adapun hadits-hadist di atas, maka semua menunjukkan bahwa hanya orang-orang yang bertauhid dengan mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah dan menjauhi segala bentuk perbuatan syirik kepada Allah, merekalah yang diridhai oleh Allah dan mendapat izin dari-Nya untuk menerima syafa’at. Sementara orang-orang yang berbuat syirik maka syafa’at untuk mereka tertolak dan tidak bermanfaat di sisi-Nya.

          Sebagaimana firman-Nya,

          فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

          Maka tidak berguna bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” (QS. al-Muddatstsir: 48).[4]

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Syafa’at yang dinafikan (dalam) al-Qur’an secara mutlak adalah yang terdapat kesyirikan padanya, inilah yang tertolak secara mutlak.

          Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan syafa’at (yang benar) dengan izin-Nya di beberapa ayat (dalam al-Qur’an), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan (dalam hadits-hadits yang shahih) bahwa syafa’at tersebut hanya berlaku bagi orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadahnya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata), maka syafa’at tersebut bersumber dari tauhid dan yang berhak menerimanya (hanyalah) orang-orang yang bertauhid.”[5]

          Imam Ibnul Qayyim berkata, “Renungkanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (dalam hadits di atas); bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan sebab utama untuk mendapatkan syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memurnikan tauhid (penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata), yang ini sangat berseberangan dengan persangkaan orang-orang musyrik bahwa syafa’at itu diraih dengan menjadikan pelindung-pelindung (selain Allah) sebagai pemberi syafa’at, menyembah dan berloyal kepada mereka.[6]

          Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membantah persangkaan dusta orang-orang musyrik tersebut dan beliau r menyampaikan bahwa sebab (untuk meraih) syafa’at adalah (dengan) memurnikan tauhid, dan ketika itulah Allah mengizinkan kepada pemberi syafa’at untuk memberikan syafa’at… Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan meridhai ucapan dan perbuatan (manusia) kecuali (yang dilandasi) tauhid kepada-Nya dan ittibaa’ (mengikuti petunjuk dan sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ….”[7]

           

          Macam-macam syafa’at


          Secara umum, syafa’at terbagi menjadi dua macam[8]:

          1- Syafa’at yang benar,

          yaitu syafa’at yang ditetapkan dalam al-Qur’an dan memenuhi syarat-syarat syafa’at yang kami sebutkan di atas.

          2- Syafa’at yang batil,

          yaitu syafa’at yang dinafikan dalam al-Qur’an karena tidak memenuhi syarat-syarat di atas, inilah syafa’at yang dijadikan sandaran oleh orang-orang musyrik kepada sembahan-sembahan mereka, di mana mereka menyembah sembahan-sembahan tersebut dan menyangka sembahan-sembahan tersebut bisa memberi syafa’at untuk mereka di sisi Allah.

          Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

          وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

          Dan mereka menyembah kepada selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Sembahan-sembahan itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi”? Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS. Yunus: 18).

          Akan tetapi syafa’at ini tertolak dan tidak bermanfaat sama sekali, sebagaimana firman-Nya,

          فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

          Maka, tidak berguna bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” (QS. al-Muddatstsir: 48).

          Kemudian syafa’at yang benar terbagi lagi menjadi dua bagian besar[9], yaitu:

          a) Syafa’at yang khusus

          dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

          Terbagi atas tiga macam:

          1- Syafa’at al-’uzhma (syafa’at yang paling agung),

          Iinilah al-maqaamul mahmuud (kedudukan yang terpuji) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[10]

          Syafa’at ini adalah syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh umat manusia ketika mereka dikumpulkan di padang mahsyar untuk menunggu keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

          Pada waktu itu manusia merasakan kesusahan dan penderitaan yang sangat besar, sehingga mereka mendatangi para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa bin Maryam, agar meminta syafa’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi mereka.

          Tapi semua para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut mengajukan keberatan, lalu mereka meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliaulah yang diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberikan syafa’at tersebut.[11]

           

          2- Syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penghuni surga untuk masuk ke dalam surga,

          Karena ketika penduduk surga telah melewati ash-shiraath (jembatan yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahanam), mereka mendapati pintu surga tertutup. Maka mereka meminta kepada para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas untuk meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar membuka pintu surga, tapi mereka tidak mampu, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminta syafa’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membukan pintu-pintu surga bagi penghuninya.[12]

          Inilah yang diisyaratkan oleh Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

          Akulah yang pertama kali (diizinkan Allah Subhanahu wa Ta’ala) untuk memberikan syafa’at di surga.”[13]

          Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

          Aku mendatangi pintu surga pada hari Kiamat lalu aku meminta dibukakan (pintu surga), maka penjaga surga bertanya, ‘Siapakah kamu?’, aku menjawab, ‘(Aku Nabi) Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam)’, maka penjaga itu berkata, “Dengan kamulah aku diperintahkan untuk tidak membukakan (pintu surga) kepada seorangpun sebelummu.”[14]

          3- Syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was allam kepada paman beliau Abu Thalib untuk meringankan azab yang menimpanya di neraka.

          Dalam hadits yang shahih, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah engkau bisa memberi manfaat (walaupun) sedikit kepada pamanmu (Abu Thalib), (Karena) dulu dia selalu melindungi dan membelamu?”

          Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

          Iya, dia (berada) di tempat yang dangkal (tidak dalam) di Neraka (diringankan siksaannya), kalau bukan karena aku, maka mestinya dia (ditempatkan) di dasar neraka yang paling bawah).”[15]

          Imam an-Nawawi dalam kitab Shahih Muslim mencantumkan hadits ini pada bab: Syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada (paman beliau) Abu Thalib.

          Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

          Semoga syafa’atku bermanfaat baginya (Abu Thalib) pada hari Kiamat, sehingga dia ditempatkan di neraka yang dangkal, yang mencapai kedua mata kakinya dan dengan itu otaknya mendidih.”[16]

          Syafa’at ini khusus hanya bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paman beliau Abu Thalib, karena hukum asalnya orang kafir tidak bisa mendapatkan syafa’at, maka ini merupakan pengecualiaan dan pengkhususan. Dan syafa’at inipun tidak mengeluarkannya dari Neraka, tapi cuma meringankan azab yang menimpanya.[17]

           

          b) Syafa’at umum

          yang bisa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain beliau, yaitu para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, para Malaikat dan orang-orang yang shaleh dari kaum mukminin. Syafa’at ini juga ada tiga macam:

          1- Syafaa’at kepada orang-orang beriman yang berhak masuk Neraka karena dosa-dosa mereka,

          maka dengan syafa’at tersebut mereka tidak dimasukkan ke dalam neraka.

          Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Syafa’at ini bisa dijadikan sebagai dalil yang menunjukkannya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

          Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah akan menerima/mengabulkan syafa’at mereka terhadapnya.[18]

          Sesungguhnya syafa’at (dalam hadits) ini terjadi sebelum orang tersebut masuk neraka, maka Allah menerima/ mengabulkan syafa’at mereka terhadapnya.”[19]

          2- Syafa’at kepada orang-orang beriman yang telah dimasukkan ke dalam neraka karena dosa-dosa mereka,

          kemudian dengan syafa’at tersebut mereka dikeluarkan dari neraka.

          Syafa’at ini disebutkan dalam banyak hadits shahih dan bahkan mencapai derajat mutawatir, sehingga para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semua Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat menetapkan syafa’at ini.

          Bahkan semua kelompok dalam Islam menetapkannya, kecuali dua kelompok yang mengingkarinya, yaitu Khawarij dan Mu’tazilah, mereka mengingkari syafa’at kepada pelaku maksiat secara mutlak, karena keyakinan sesat mereka bahwa pelaku dosa besar akan kekal selamanya di dalam Neraka.[20]

          Dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik dan Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

          Syafa’atku adalah untuk para pelaku dosa besar dari umatku.”[21]

          3- Syafa’at bagi penduduk surga untuk meninggikan derajat mereka dan menambah keutamaan mereka.

          Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata[22], “(Dalil yang menunjukkan) syafa’at ini diambil dari doa kaum mukminin sebagian mereka kepada yang lain, sebagaimana doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abu Salamah radhiallahu ‘anhu,

          Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya (di Surga) bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk, lapangkan dan terangilah kuburannya, dan jagalah orang-orang yang ditinggalkannya.”[23]

           


          [1] Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir (4/72) dan Tafsir al-Qurthubi (15/264).
          [2] Lihat kitab-kitab berikut: Tafsir Ibnu Katsir (4/72), Tafsir al-Qurthubi (15/264), Fathul Majiid (hal. 244-245), Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/168) dan Al-Irsyad ila Shahiihil I’tiqaad (hal. 224).
          [3] Sebagaimana dalam hadits riwayat an-Nasa’i (no. 1876), Ahmad (2/510 dan  6/431) dan al-Hakim  (no. 1416), dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim,  adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani.
          [4] Lihat kitab Fathul Majiid (hal. 251) dan Al-Irsyad ila Shahiihil I’tiqaad (hal. 224).
          [5] Kitab Majmu’ul Fataawa (7/79).
          [6] Sebagaimana ucapan mereka yang dinukil dalam al-quran surat Yunus: 18.
          [7] Kitab Madaarijus Saalikiin (1/341).
          [8] Lihat kitab Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/168) dan Asy-Syafa’ah (hal. 8-12). Lihat juga pembagian macam-macam syafa’at dalam referensi berikut: Al-’Aqiidatil Waasithiyyah (hal. 20),  Fathul Majiid (hal. 251-252), Al-Irsyad ila Shahiihil I’tiqaad (hal. 224), dan Riyaadhul Jannah.
          [9] Lihat kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/332-335).
          [10] Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 589 dan 1405).
          [11] Lihat selengkapnya dalam hadits yang panjang riwayat al-Bukhari (no. 7002) dan Muslim (no. 193).
          [12] Sebagimana dalam hadits shahih yang panjang riwayat Imam Muslim (no. 195).
          [13] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 196).
          [14] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 197).
          [15] Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 3670 dan 5855) dan Muslim (no. 209).
          [16] Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 3672 dan 6196) dan Muslim (no. 210).
          [17] Lihat kitab Fathul Majiid (hal. 252), Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/176-177) dan Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/334).
          [18] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 948).
          [19] Kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/334-335).
          [20] Lihat kitab Fathul Majiid (hal. 251), Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/178) dan Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/335).
          [21] Hadits riwayat Abu Dawud (no. 4739), at-Tirmidzi (no. 2435), Ibnu Majah  (no. 4310), Ahmad (3/213), Ibnu Hibban (no. 6467 dan 6468) dan al-Hakim  (no. 228 dan 3442), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu  Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani.
          [22] Dalam kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/335).
          [23] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 920).

          Seputar Istighatsah


          Pengertian, Hukum dan Dalil-dalil

          بسم الله الرحمن الرحيم

          Berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dua bentuk ibadah yang sangat dekat dengan keseharian manusia, khususnya hamba-hamba Allah yang shaleh dan dekat dengan-Nya. Merekalah orang-orang yang mampu merealisasikan penghambaan diri yang sebenarnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sempurna, yang tersimpul dalam firman-Nya,

          إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

          Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Faaihah: 5).

          Imam Ibnu Katsir berkata, “(Mengamalkan kandungan ayat) ini adalah kesempurnaan taat (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala), bahkan (inti) agama Islam seluruhnya kembali kepada dua makna ini (beribadah dan meminta pertolongan kepada-Nya). Sebagaimana ucapan salah seorang ulama salaf. ‘Surat Al-Fatihah adalah rahasia (inti kandungan) Al-Quran dan rahasia (inti kandungan) Al-Fatihah adalah kalimat (ayat) ini.”[1]

          Termasuk bentuk doa dan meminta pertolongan kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala adalah ibadah agung, yang kita kenal dengan nama istigatsah kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala. Ibadah ini termasuk amal shaleh yang paling utama dan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.[2]

          Pengertian istigatsah dan perbedaannya dengan doa


          Menurut para ahli bahasa Arab, istigatsah termasuk dari jenis-jenis an-nida’ (panggilan/seruan), yang secara bahasa berarti: meminta kepada pihak yang diseru untuk menghilangkan kesulitan orang lain.[3]

          Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Istigatsah artinya meminta al-gauts yang berarti menghilangkan kesusahan, sama dengan (kata) al-istinshaar artinya meminta bantuan dan al-isti’aanah artinya meminta pertolongan.”[4]

          Ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

          إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لكم

          “(Ingatlah), ketika kalian beristigatsah kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS. Al-Anfal: 9).

          Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata, “Artinya: kalian meminta pertolongan kepada-Nya dari musuh-musuh kalian (orang-orang kafir) dan berdoa kepada-Nya agar kalian mengalahkan mereka.”[5]

          Adapun perbedaan antara istigatsah dengan doa adalah bahwa istigatsah hanya dikhusukan pada permohonan dalam keadaan sulit dan susah, sedangkan doa bersifat lebih umum, karena bisa dilakukan dalam kondisi susah maupun kondisi lainnya. Oleh karena itu, semua bentuk istigatsah adalah temasuk doa, tapi tidak semua doa adalah istigatsah.[6]

          Dalil-dalil istigatsah dan hukumnya dalam Islam


          Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

          أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

          Atau siapakah yang memperkenankan (permohonan) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengambil peringatan.” (QS. An-Naml: 62)

          Imam Ibnu Katsir berkata, “(Dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan bahwa Dialah (satu-satunya) yang diseru ketika (timbul) berbagai macam kesusahan, dan Dialah yang diharapkan (pertolongan-Nya) ketika (terjadi) berbagai macam malapetaka, sebagaimana firman-Nya,

          وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلا إِيَّاهُ

          Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, maka hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Allah.” (QS. Al-Isra’: 67).

          Juga firman-Nya,

          ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

          Kemudian bila kamu ditimpa bencana, maka hanya kepada-Nyalah kamu memohon pertolongan. (QS. An-Nahl: 53)[7]

          Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

          وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

          Jika Allah menimpakan suatu kesulitan kepadamu, maka tidak ada yang (mampu) menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Yunus: 107)

          Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata, “(Arti ayat ini): Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Muhammad, jika Allah menimpakan kesusahan atau bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali (Allah  Subhanahu wa Ta’ala) Rabbmu (Tuhanmu) yang telah menimpakannya kepadamu, dan bukanlah sembahan-sembahan dan tandingan-tandingan lain (selain Allah  Subhanahu wa Ta’ala) yang disembah oleh orang-orang musyrik itu (yang mampu menghilangkannya).”[8]

          Semua ayat di atas menunjukkan bahwa istigatsah adalah termasuk ibadah yang paling agung dan mulia, yang hanya layak ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Sehingga menujukannya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah termasuk perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam (menjadi kafir).

          Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan hukum ini dengan tegas dalam firman-Nya,

          وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

          Dan janganlah kamu menyeru (memohon) kepada sembahan-sembahan selain Allah yang tidak mampu memberikan manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu, sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim (musyrik).” (QS. Yunus: 106).

          Syekh ‘Abdur Rahman As-Sa’di berkata, “(Dalam ayat ini), zalim yang dimaksud adalah syirik, sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala,

          إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

          Sesungguhnya (perbuatan) syirik (mempersekutukan Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

          Maka, seandainya sebaik-sebaik manusia (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyeru kepada selain Allah bersamaan dengan menyeru-Nya maka niscaya beliau termasuk orang-orang yang zalim dan musyrik, maka bagaimana lagi dengan orang selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? (Tentu lebih besar lagi dosanya).”[9]

          Imam Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk jenis-jenis kesyirikan yaitu meminta (pemenuhan) hajat dari orang-orang mati (yang dianggap sebagai wali), beristigatsah dan menghadapkan diri kepada mereka. Inilah pangkal kesyirikan (yang terjadi) di alam semesta. Orang yang telah mati telah terputus amal perbuatannya dan dia tidak memiliki (kemampuan untuk memberi) manfaat maupun (mencegah) keburukan bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang (lain) yang beristigatsah kepadanya atau meminta (pemenuhan) hajat kepadanya!”[10]

          Oleh karena itu, Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab mencantumkan hal ini dalam Kitab At-Tauhid[11] pada bab khusus, (yaitu bab) “Termasuk (perbuatan) syirik (mempersekutukan Allah) adalah melakukan istigatsah kepada selain-Nya atau menyeru (memohon) kepada selain-Nya.”


          [1] Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (1/48).[2] Lihat keterangan Syekh Al-’Utsaimin dalam kitab Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 60.
          [3] Lihat muqaddimah tahqiq kitabAl-Istigatsatu fir Raddi ‘alal Bakri, hlm. 41.
          [4] Kitab Majmu’ul Fatawa: 1/103.
          [5] Kitab Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur`an: 13/409.
          [6] Lihat kitab Fathul Majid, hlm. 200.
          [7] Kitab Tafsir Ibnu Katsir: 3/492.
          [8] Kitab Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur`an: 15/219.
          [9] Kitab Taisirul Karimir Rahman, hlm. 375; lihat juga kitab Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid: 1/266 dan At-Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, hlm. 183.
          [10] Kitab Madaarijus Salikiin: 1/346.
          [11] Lihat kitab Fathul Majid, hlm. 200.

          Macam-macam Bentuk Istighatsah

          Secara garis besar, istigatsah terbagi menjadi dua macam:[1]

          A. Istigatsah masyru’ah

          (istigatsah yang disyariatkan dalam agama Islam).

          Ini ada dua macam bentuknya:

          1. Istigatsah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

          Inilah istigatsah yang diperintahkan dalam Islam. Tidak ada yang dapat menghilangkan kesusahan secara mutlak kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya, dan semua pertolongan yang datang kepada manusia adalah dari sisi-Nya.

          Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang istigatsah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiallahu ‘anhum pada malam hari sebelum Perang Badar,

          إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ

          “(Ingatlah), ketika kamu beristigatsah kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang bertutut-turut.’” (QS. Al-Anfal: 9)[2]

          Syekh Muhamad bin Shalih Al-’Utsaimin berkata, “Istigatsah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk amal shalih yang paling utama dan paling sempurna (pahalanya), dan merupakan kebiasaan para rasul ‘alaihimus salam dan pengikut mereka.”[3]

          2. Istigatsah kepada orang yang masih hidup dan ada di hadapan kita,

          terbatas dalam hal-hal yang mampu dilakukan oleh manusia pada umumnya.

          Istighatsah semacam ini diperbolehkan, sebagaimana diperbolehkan meminta pertolongan kepada mereka dalam hal-hal tersebut.[4]

          Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kisah Nabi Musa ‘alaihis salam,

          وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِين

          Dan Musa masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi, yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Firaun). Maka orang dari golongannya beristigatsah (meminta pertolongan) kepadanya, untuk mengalahkan orang yang berasal dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah orang itu. Musa berkata, ‘Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya setan itu musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).’” (QS. Al-Qashash: 15).

          Dalam ayat ini, orang dari kalangan Bani Israil tersebut ber-istigatsah (meminta pertolongan) kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dalam hal yang mampu dilakukan Nabi Musa ‘alaihis salam, dan ini tidak bertentangan dengan kesempurnaan tauhid.[5]

          Akan tetapi, perlu diingatkan di sini, bahwa ketika kita meminta pertolongan kepada seseorang dalam hal yang mampu dilakukannya, maka dalam rangka menjaga kesempurnaan tauhid, kita wajib meyakini bahwa pertolongan orang tersebut hanyalah sebab semata, dan tidak memiliki pengaruh secara langsung dalam menghilangkan kesulitan yang kita alami, karena yang mampu melakukan semua ini hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Jangan sampai kita bersandar kepada orang tersebut dan melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan semua sebab, karena ini semua akan merusak kesempurnaan tauhid kita.[6]

          B. Istigatsah mamnu’ah

          (istigatsah yang dilarang/ diharamkan dalam agama Islam). Ini juga ada dua macam bentuknya:

          1. Istigatsah kepada orang yang masih hidup atau orang yang sudah mati dan tidak ada di hadapan kita, dalam hal-hal yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

          Seperti; memberi rezeki, keselamatan, menyembuhkan penyakit, menolak bencana dan lain-lain. Ini adalah perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya murtad (keluar dari agama Islam).

          Pelakunya bisa menjadi murtad karena mereka yang melakukan perbuatan ini meyakini bahwa orang yang mereka mintai pertolongan tersebut memiliki kemampuan tersembunyi (gaib) untuk mempengaruhi dan mengatur kejadian di alam semesta ini, padahal (kemampuan) ini adalah milik khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata.

          Sehingga dengan ini, mereka telah memberikan sebagian dari sifat-sifat rububiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala (mengatur dan menguasai alam semesta) kepada selain-Nya, dan ini adalah perbuatan syirik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

          أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

          Atau siapakah yang memperkenankan (permohonan) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah selain Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengambil peringatan.” (QS. An-Naml: 62)[7]

          2. Istigatsah kepada orang yang masih hidup dan ada di hadapan kita, tapi dia tidak mampu memberikan pertolongan., tanpa meyakini bahwa orang tersebut memiliki kekuatan yang tersembunyi (gaib).

          Misalnya: orang yang akan tenggelam meminta pertolongan kepada seorang yang lumpuh dan tidak bisa bergerak sama sekali.

          Ini adalah perbuatan sia-sia dan pelecehan terhadap orang yang dimintai pertolongan, maka dengan sebab ini perbuatan tersebut dilarang dalam Islam.

          Ada juga sebab lain, yaitu dikhawatirkan timbul keyakinan yang rusak bahwa orang yang dimintai pertolongan tersebut memiliki kekuatan yang tersembunyi (gaib) untuk menyelamatkan orang lain dari bahaya.[8]

           

          Kembalilah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala!


          Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan, menguasai dan mengatur alam semesta beserta isinya, Dialah semata-mata yang mampu memberikan manfaat dan menghilangkan bahaya serta kesulitan, tidak ada yang mampu melakukan semua itu kecuali Dia semata, dan tiada sekutu bagi-Nya.

          Maka, seharusnya hanya Dialah satu-satunya tempat memohon, meminta pertolongan, dan mengadukan segala kesusahan.[9]

          Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

          وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

          Jika Allah menimpakan suatu kesulitan kepadamu, maka tidak ada yang (mampu) menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Yunus: 107)

          Alangkah buruk serta sesat orang yang memalingkan semua itu kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala,

          وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

          Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang memohon (pertolongan) kepada (sembahan-sembahan) selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 5)

          Maka, kembalilah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyandarkan semua urusan kita, meminta pertolongan dan keselamatan dari semua kesusahan kepada-Nya semata. Inilah satu-satunya cara untuk meraih kebahagiaan dan ketenangan hidup.

          Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

          فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ. وَلا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

          Maka segeralah kamu berlari (kembali) kepada Allah. Sesungguhnya, aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu menjadikan sembahan yang lain selain Allah (berbuat syirik kepada-Nya). Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (QS. Adz-Dzariyat: 50–51)

          Artinya, berlindunglah kepada-Nya dan bersandarlah kepada-Nya dalam semua urusanmu.[10]

          Dalam ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengungkapkan perintah untuk kembali kepadanya dengan firman-Nya: firru ilallah (berlarilah menuju/ kepada Allah) karena adanya makna yang agung dan tinggi dalam ungkapan ini.

          Syekh ‘Abdur Rahman As-Sa’di berkata, “Allah menamakan (sikap) kembali kepada-Nya dengan al-firaar (berlari kepada-Nya), karena (sikap) kembali (bersandar) kepada selain Allah akan menimbulkan berbagai macam ketakutan dan kesusahan. (Sebaliknya), kembali kepada Allah akan mendatangkan berbagai macam kemudahan, keamanan, kebahagiaan, dan keberhasilan.”[11]

          Serta firman Allah Subhanahu wa Ta’ala selanjutnya “Dan janganlah kamu menjadikan sembahan yang lain di samping Allah (berbuat syirik kepada-Nya)” menunjukkan bahwa menjauhi perbuatan syirik adalah termasuk sikap kembali kepada Allah. Bahkan ini adalah landasan utama kembali kepada-Nya, yaitu dengan meninggalkan semua yang disembah dan dimintai pertolongan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memurnikan ibadah, rasa takut, barharap, berdoa, dan meminta pertolongan semata-mata hanya kepada-Nya.[12]

           

          Penutup

          Sebagai penutup, renungkanlah nasihat Syekh ‘Abdul Muhsin Al-Qasim[13] berikut ini, “Istigatsah kepada Allah mengandung (sikap) merasa butuh yang sempurna kepada Allah dan keyakinan (yang utuh) akan kecukupan dari-Nya, dan ini termasuk amal shaleh yang paling utama dan mulia.

          Seorang manusia dalam hidupnya selalu menghadapi berbagai macam bencana dan kesusahan, sehingga barangsiapa yang ber-istigatsah kepada Allah untuk menghilangkan segala kesusahan (yang menimpanya) maka sungguh dia telah menunaikan suatu ibadah besar yang biasa dilakukan oleh para nabi ‘alaihimus salam dan orang-orang yang shaleh ketika mereka menghadapi kesulitan, dan kemudian Allah menghilangkan kesulitan-kesulitan mereka.”[14]

          Demikianlah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk selalu menegakkan tauhid kepada-Nya dan menjauhi segala bentuk perbuatan kesyirikan, yang besar maupun kecil, serta menjaga kita dari semua bencana yang merusak agama dan keyakinan kita. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

          وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


          [1] Lihat muqaddimah tahqiq kitab Al-Istigatsatu fir Raddi ‘alal Bakri, hlm. 41–43.[2] Ibid, hlm. 41–42.
          [3] Kitab Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 60.
          [4] Ibid, hlm. 61.
          [5] Lihat muqaddimah tahqiq kitab Al-Istigatsatu fir Raddi ‘alal Bakri, hlm. 42.
          [6] Lihat keterangan Syekh Muhammad Al-’Utsaimin dalam kitab Al-Qaulul Mufid: 1/261.
          [7] Lihat kitab Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 61, dan muqaddimah tahqiq kitab Al-Istigatsatu fir Raddi ‘alal Bakri, hlm. 43.
          [8] Lihat kitab Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 61.
          [9] Lihat kitab Fathul Majid, hlm. 206–207.
          [10] Tafsir Ibnu Katsir: 4/303.
          [11] Kitab Taisirul Karimir Rahman, hlm. 811.
          [12] Kitab Taisirul Karimir Rahman, hlm. 811.
          [13] Beliau adalah salah seorang imam dan khatib Mesjid Nabawi di Madinah saat ini.
          [14] Kitab Taisirul Wushul, hlm. 98.

          Asma al Husna; Al-Fattaah


          Al-Fattaah,

          (Maha Pembuka Kebaikan & Pemberi Keputusan)

          بسم الله الرحمن الرحيم


          Dasar Penetapan

          Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha indah ini disebutkan dalam firman-Nya,

          قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

          Katakanlah, ‘Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Saba’: 26).

          Juga diisyaratkan dalam firman-Nya,

          وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

          Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya” (QS. Al-A’raf: 89).

          Berdasarkan ayat di atas, para ulama menetapkan nama al-Fattaah sebagai salah satu dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha indah, seperti Imam Ibnul Atsir[1], Ibnu Qayyim al-Jauziyyah[2], Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di[3], Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin[4], dan lain-lain.

           

          Makna Al-Fattaah secara bahasa


          Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata yang benar dari nama ini menunjukkan makna lawan dari kata “menutup”, kemudian dari asal makna ini diambil makna-makna yang lain dari kata ini, seperti menghukumi (memutuskan), kemenangan, dan kesuksesan.[5]

          Al-Fairuz Abadi menjelaskan bahwa nama ini secara bahasa berarti Al-hakim (yang memutuskan hukum).[6]

          Ibnul Atsir berkata, “(Arti nama Allah) Al-Fattaah adalah Yang Membuka pintu-pintu rezeki dan rahmat bagi hamba-hamba-Nya. Ada juga yang mengatakan (artinya), ‘Yang Maha Memberi hukum di antara hamba-hamba-Nya’”.[7]

           

          Penjabaran makna nama Allah Al-Fattaah


          Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah ‘Azza wa Jalla,

          وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

          Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Saba’: 26).

          Beliau berkata, “Allah (Dialah) Yang Maha pemberi keputusan hukum lagi Maha Mengetahui hukum (yang tepat dan adil) di antara hamba-hamba-Nya, karena tiada sesuatu pun (dari keadaan mereka) yang tersembunyi di hadapan-Nya, dan Dia tidak membutuhkan saksi untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.”[8]\

          Maka makna Al-Fattaah adalah Yang Maha Memutuskan hukum di antara hamba-hamba-Nya dengan hukum-hukum dalam syariat-Nya, dan hukum-hukum (ketetapan-ketetapan) dalam takdir-Nya, serta hukum-hukum al-jazaa’ (balasan amal perbuatan yang baik dan buruk), Yang Maha Membuka mata hati orang-orang yang jujur (benar) dengan kelembutan-Nya, Membuka pintu hati mereka untuk mengenal, mencintai dan selalu kembali (bertobat) kepada-Nya, Membuka pintu-pintu rahmat-Nya dan berbagai macam rezeki, serta memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk mencapai kebaikan di dunia dan akhirat. Allah berfirman,

          مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ

          Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh-Nya maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.” (QS. Fathir: 2).[9]

          Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan dengan lebih terperinci makna nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung ini. Beliau berkata, “Al-Fattaah mempunyai dua arti:

          Pertama,

          Kembali kepada arti al-hukmu (menghukumi/ memutuskan), (yaitu) yang memutuskan dan menetapkan hukum bagi hamba-hamba-Nya dengan syariat-Nya, serta memutuskan perkara mereka dengan memberi ganjaran pahala bagi orang-orang yang menaati-Nya serta siksaan bagi orang-orang yang berbuat maksiat, di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

          قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

          Katakanlah, ‘Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Saba’: 26).

          Juga firman-Nya,

          رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

          Wahai Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil), dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.‘ (QS. Al-A’raf: 89).

          Maka, ayat pertama (menunjukkan makna) keputusan (hukum)-Nya bagi hamba-hamba-Nya pada hari kiamat, sedangkan ayat kedua (mengandung makna bahwa keputusan/hukum-Nya) di dunia dengan menolong/ memuliakan kebenaran dan penganutnya, serta merendahkan kebatilan dan penganutnya, dan menimpakan berbagai macam siksaan kepada mereka.

          Kedua,

          Dialah yang membuka semua pintu-pintu kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, (sebagaimana) firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

          مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا

          Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya.” (QS. Fathir: 2).

          Dia-lah yang membuka (pintu-pintu) manfaat dunia dan agama bagi hamba-hamba-Nya, dengan membuka hati-hati yang terkunci dari orang-orang yang dipilih-Nya di antara mereka dengan kelembutan dan perhatian-Nya, dan menghiasi hati mereka dengan pengetahuan tentang ketuhanan (tauhid dan pemahaman yang benar terhadap nama-nama yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna) dan hakikat keimanan (kepada-Nya), yang (semua itu) memperbaiki (meyempurnakan) keadaan (agama) mereka dan menjadikan mereka istiqamah (tetap tegar) di atas jalan yang lurus.

          Lebih khusus dari semua itu, sesungguhnya Allah membukakan bagi orang-orang yang mencintai-Nya dan selalu menghadapkan diri kepada-Nya pengetahuan tentang ketuhanan (tauhid dan pemahaman yang benar terhadap nama-nama yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna), keadaan rohani, cahaya (hati) yang terang, serta pemahaman dan perasaan yang benar (terhdap agama-Nya).

          Dia juga yang membuka bagi hamba-hamba-Nya pintu-pintu rezeki dan sebab-sebab untuk mendapatkannya. Dia menyediakan rezeki dan sebab-sebab memperolehnya tanpa disangka-sangka bagi orang-orang yang bertakwa, Dia menganugerahkan kepada orang-orang yang bertawakal (berserah diri kepada-Nya) lebih dari apa yang mereka minta dan harapkan, memudahkan bagi mereka (mengatasi) semua urusan yang sulit, dan membukakan pintu-pintu (pemecahan masalah) yang tertutup.”[10]

          Berdasarkan penjabaran makna nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha indah ini, kita mengetahui rahasia mengapa banyak dari para ulama yang memberi judul karya tulis mereka dengan sifat Allah al-fath[11], karena mereka memperhatikan makna nama yang agung ini, yang dengan itu mereka berharap Allah akan membukakan pintu-pintu ilmu yang bermanfaat bagi mereka dan memudahkan pemahaman yang benar dari ilmu yang mereka sampaikan kepada umat ini.[12]

           

          Pembagian sifat al-fath (maha memutuskan/ menghukumi) milik Allah Subhanahu wa Ta’ala


          Imam Ibnul Qayyim berkata,[13]

          Demikian pula al-Fattaah termasuk nama-nama-Nya (yang maha indah)

          Dan al-fath dalam sifat-sifat-Nya ada dua macam:

          Al-fath (yang berarti) menetapkan hukum, yaitu syariat Allah

          Dan al-fath (yang berarti menetapkan) ketentuan takdir, ini al-fath kedua

          Ar-Rabb (Allah ‘Azza wa Jalla) Maha Pemberi keputusan dengan dua arti ini

          Dengan keadilan dan kebaikan dari Ar-Rahman (Yang Maha luas rahmat-Nya)

          Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di ketika menjelaskan bait-bait syair di atas. Beliau berkata, “Al-Fattaah adalah Al­-Hakam (Maha Penentu hukum), Al-Muhsin (Maha Pemberi kebaikan), dan Al-Jawwaad (Maha Pemurah). Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu al-fath, ada dua macam.

          Pertama,

          (sifat) al-fath (yang berarti memutuskan) hukum dalam agama dan hukum ganjaran (amal perbuatan manusia).

          Kedua,

          Dia Maha menentukan hukum (ketetapan) takdir (bagi seluruh makhluk-Nya).

          Maka, (sifat) al-fath (memutuskan) hukum dalam agama adalah (ketentuan) syariat-Nya (yang disampaikan-Nya) melalui lisan para Rasul-Nya, (yang berisi) semua perkara yang dibutuhkan oleh hamba-hamba-Nya (untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla), dan untuk tetap istiqamah (tegar) di atas jalan yang lurus.

          Adapun (sifat) al-fath dalam hukum ganjaran (amal perbuatan manusia) adalah keputusan (hukum-Nya) terhadap para Nabi ‘alaihimus salam dan para penentang (dakwah) mereka, serta terhadap hamba-hamba yang dicintai-Nya dan musuh-musuh mereka, dengan memuliakan dan menyelamatkan para Nabi ‘alaihimus salam serta pengikut mereka, dan menghinakan serta menyiksa musuh-musuh mereka.

          Demikian pula keputusan dan hukum-Nya pada hari kiamat terhadap semua makhluk ketika ditunaikan (balasan) amal perbuatan semua manusia.

          Adapun (yang kedua), menentukan ketetapan takdir (bagi seluruh makhluk-Nya) adalah (semua) ketetapan takdir (yang diberlakukan-Nya) terhadap semua hamba-Nya, berupa kebaikan dan keburukan, manfaat dan celaka, serta pemberian dan penghalangan.

          Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

          مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِه وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُِ

          Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh-Nya maka tidak ada seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2).

          Maka Ar-Rabb (Allah Subhanahu wa Ta’ala)  adalah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui, Dia membukakan bagi hamba-hamba-Nya yang taat perbendaharaan anugerah dan kebaikan-Nya, serta membukakan bagi musuh-musuh-Nya kebalikan dari itu, semua itu dengan keutamaan (rahmat) dan keadilan-Nya.”[14]

           

          Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah Al-Fattaah


          Keimanan yang benar terhadap nama-Nya yang maha agung ini akan menjadikan seorang hamba selalu menghadapkan diri dan berdoa kepada-Nya semata-mata agar Dia membukakan baginya pintu-pintu taufik, rezeki yang halal dan rahmat-Nya, serta melapangkan dadanya untuk menerima segala kebaikan dalam Islam.

          Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

          أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

          Maka, apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22).

          Imam Al-Qurthubi berkata, “Pembukaan (pintu-pintu kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan kelapangan dada (untuk menerima kebaikan Islam) ini tidak ada batasnya (sangat luas), yang masing-masing dari orang-orang beriman mendapatkan bagian darinya. Bagian yang paling besar didapatkan oleh para Nabi ‘alaihimus salam, kemudian setelah mereka adalah para wali (kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala), kemudian para ulama, lalu orang-orang awam dari kalangan kaum mukminin, dan hanya orang-orang kafir yang tidak diberi bagian darinya oleh Allah.”[15]

          Termasuk dalam pengertian memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-Nya yang mulia ini, doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk dan keluar dari masjid.

          Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

          “Jika salah seorang dari kalian masuk ke masjid, maka hendaknya dia mengucapkan (doa),

          اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

          ‘Ya Allah, bukakalah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.’

          Dan jika dia keluar (dari mesjid) hendaknya dia mengucapkan (doa),

          اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

          Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu (anugerah) kebaikan dari-Mu.”[16]

          Maka rahmat, kemuliaan dan kebaikan seluruhnya ada di tangan Allah, Dia membukakan (pintu-pintu kebaikan) dan memudahkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan semua ini termasuk pengaruh positif dan konsekuensi mengimani nama-nya yang mulia ini.[17]

           

          Penutup


          Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua untuk semakin bersungguh-sungguh dalam mengusahakan kesempurnaan iman kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta banyak berdoa memohon kepada-Nya agar Dia membuka pintu-pintu rahmat kebaikan-Nya bagi kita, dengan menyebut nama-Nya Al-Fattaah.

          Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia memudahkan bagi kita untuk meraih semua kebaikan dan kedudukan mulia dalam agama-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pembuka pintu-pintu kebaikan lagi Maha Mengetahui.

          وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


          [1] Dalam kitab An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar: 3/771.
          [2] Dalam syair beliau An-Nuniyyah (kitab Al-Haqqul Wadhihul Mubin, hlm. 44.
          [3] Dalam kitab Tafsiru Asma`illahil Husna, hlm. 67.
          [4] Dalam kitab Al-Qawa’idul Mutsla, hlm. 41.
          [5] Kitab Mu’jamu Maqayisil Lughah: 4/375.
          [6] Kitab Al-Qamus Al-Muhith, hlm. 298.
          [7] Kitab An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar: 3/771.
          [8] Kitab Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an: 20/405.
          [9] Keterangan Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di dalam kitab Taisirul Karimir Rahman, hal. 947.
          [10] Kitab Fathur Rahimil Malikil ‘Allam, hlm. 48.
          [11] Seperti kitab Fathul Bari karya Imam Ibnu Rajab, juga karya Ibnu Hajar, kitab Fathul Qadiir karya Imam Asy-Syaukani, kitab Fathul Majid karya Syekh Abdur Rahman bin Hasan, kitab Fathu Rabbil Bariyyah karya Syekh Muhammad Al-‘Utsaimin, dan lain-lain.
          [12] Lihat catatan kaki kitab Fiqhul Asma`il Husna, hlm. 123.
          [13] Dalam syair beliau An-Nuniyyah (kitab Al-Haqqul Wadhihul Mubin, hlm. 44.
          [14] Kitab Al-Haqqul Wadhihul Mubin, hlm. 44–45.
          [15] Dinukil oleh Syekh Abdur Razzaq al-Badr dalam kitab Fiqhul Asma`il Husna, hlm. 125.
          [16] Hadits shahih riwayat Muslim, no. 713).
          [17] Lihat kitab Fiqhul Asma`il Husna, hlm. 124–125.
          %d blogger menyukai ini: