Seputar Maulid NabiMuhammad saw


Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW


Perlu diketahui, sejatinya Allah SWT juga menjadikan hari kelahiran Nabi SAW sebagai momen istimewa. Fakta bahwa Rasul SAW terlahir dalam keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177) adalah salah satu tanda.

Fakta lainnya:

Pertama, perkataan Utsman bin Abil Ash Atstsaqafiy dari ibunya yang pernah menjadi pembantu Aminah r.a. ibunda Nabi SAW.

Ibu Utsman mengaku bahwa tatkala Ibunda Nabi SAW mulai melahirkan, ia melihat bintang bintang turun dari langit dan mendekat. Ia sangat takut bintang-bintang itu akan jatuh menimpa dirinya, lalu ia melihat kilauan cahaya keluar dari Ibunda Nabi SAW hingga membuat kamar dan rumah terang benderang (Fathul Bari juz 6/583).

 

Kedua, Ketika Rasul SAW lahir ke muka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam).

 

Ketiga, riwayat yang shahih dari Ibn Hibban dan Hakim yang menyebutkan bahwa saat Ibunda Nabi SAW melahirkan Nabi SAW, beliau melihat cahaya yang teramat terang hingga pandangannya bisa menembus Istana-Istana Romawi (Fathul Bari juz 6/583).

Keempat, di malam kelahiran Rasul SAW itu, singgasana Kaisar Kisra runtuh, dan 14 buah jendela besar di Istana Kisra ikut rontok.
Kelima, padamnya Api di negeri Persia yang semenjak 1000 tahun menyala tiada henti (Fathul Bari 6/583).

Kenapa peristiwa-peristiwa akbar itu dimunculkan Allah SWT tepat di detik kelahiran Rasulullah SAW?. Tiada lain, Allah SWT hendak mengabarkan seluruh alam bahwa pada detik itu telah lahir makhluk terbaik yang pernah diciptakan oleh-Nya, dan Dia SWT mengagungkan momen itu sebagaimana Dia SWT menebar salam sejahtera di saat kelahiran nabi-nabi sebelumnya.

 

Hikmah maulid


Peringatan maulid nabi SAW sarat dengan hikmah dan manfaat. Di antaranya: mengenang kembali kepribadian Rasulullah SAW, perjuangan beliau yang penuh pelajaran untuk dipetik, dan misi yang diemban beliau dari Allah SWT kepada alam semesta.

Para sahabat radhiallahu anhum kerap menceritakan pribadi Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan. Salah satu misal, perkataan Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu anhu, “Kami selalu mengingatkan anak-anak kami tentang peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW, sebagaimana kami menuntun mereka menghafal satu surat dalam Al-Quran.”

Ungkapan ini menjelaskan bahwa para sahabat sering menceritakan apa yang terjadi dalam perang Badar, Uhud dan lainnya, kepada anak-anak mereka, termasuk peristiwa saat perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan.
Selain itu, dengan menghelat Maulid, umat Islam bisa berkumpul dan saling menjalin silaturahim. Yang tadinya tidak kenal bisa jadi saling kenal; yang tadinya jauh bisa menjadi dekat. Kita pun akan lebih mengenal Nabi dengan membaca Maulid, dan tentunya, berkat beliau SAW, kita juga akan lebih dekat kepada Allah SWT.

Sempat terbesit sebuah pertanyaan dalam benak, kenapa membaca sirah baginda rasulullah mesti di bulan maulid saja? Kenapa tidak setiap hari, setiap saat? Memang, sebagai tanda syukur kita sepatutnya mengenang beliau SAW setiap saat. Akan tetapi, alangkah lebih afdhal apabila di bulan maulid kita lebih intens membaca sejarah hidup beliau SAW seperti halnya puasa Nabi SAW di hari Asyura’ sebagai tanda syukur atas selamatnya Nabi Musa as, juga puasa Nabi SAW di hari senin sebagai hari kelahirannya.

Nah, sudah saatnyalah mereka yang anti maulid lebih bersikap toleran. Bila perlu, hendaknya bersedia bergabung untuk bersama-sama membaca sirah Rasul SAW. Atau, minimal – sebagai muslim– hendaknya merasakan gembira dengan datangnya bulan Rabiul Awal. Sudah sepantasnya di bulan ini kita sediakan waktu untuk mengkaji lebih dalam sejarah hidup Rasul SAW. Jangan lagi menggugat maulid!

 

Perayaan Maulid Bid’ah kah..?


Kita mengistimewakan hari lahirnya Rasulullah saw, sebagaimana beliau saw mengistimewakan hari diselamatkannya Nabi Musa as dari kejaran Fir’aun. Nabi berpuasa pada hari Senin sebagaimana Nabi berpuasa pada tanggal 10 Muharram, hari di mana Nabi Musa diselamatkan.
Tentang keistimewaan hari lahir Nabi saw, terdapat hadits shahih dari Abu Qatadah, seorang A’rabi (Badawi) bertanya kepada Rasulullah saw:

“Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa di hari Senin?” Maka beliau saw menjawab: “Fiihi wulidtu wafiihi unzila alayya.”
“Di hari itu aku dilahirkan dan di hari itu pula aku diturunkan wahyu Al Qur’an.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ahmad). (Dalam Shahih Muslim 8/52).

Mungkin anda bertanya, mengapa dalam perayaan maulid kita tidak berpuasa seperti yang dicontohkan oleh Rasul saw saja, tetapi malah makan-malam dan bergembira dengan membaca syair-syair pujian yang disertai alunan rebana dan lain-lain?
Jawabannya adalah, puasa merupakan salah satu cara terbaik untuk mengenang kelahiran Rasulullah saw. Dan puasa sendiri adalah ibadah murni yang akan mendapat pahala jika kita mengamalkannya secara ikhlas dan benar.
Tetapi yang menjadi tujuan dari puasa Rasulullah pada hari itu adalah untuk mengenang dan mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada beliau saw.
Karena itu, tidak ada alasan untuk melarang manusia melakukan bentuk-bentuk peringatan kelahiran Nabi saw dengan cara lain, selama hal itu dibolehkan dalam agama dan tidak berbentuk maksiat.

Sedangkan yang terpenting dalam hal ini adalah niat dan tujuan dari perayaan itu, bukan medianya semata. Karena itu, kalau kita perhatikan maka akan kita temukan berbagai macam cara umat Islam dalam memperingati hari kelahiran Nabi saw sesuai dengan kondisi dan tradisi masing-masing.

Di antara mereka ada yang dengan cara menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim, berpuasa, melantukan syair-syair pujian kepada Nabi saw, dan bersedekah makanan kepada tetangga dan kerabatnya.
Di antara sekian cara ini, yang paling terkenal di Indonesia adalah mengadakan pembacaan kitab maulid dan pengajian dengan serangkaian acaranya. Inilah yang dilakukan sebagian umat Islam di seluruh pelosok dunia dari dahulu hingga sekarang.
Hal lain yang sering dipermasalahkan dan diungkit-ungkit adalah tentang iringan rebana dan syair kasidah sebagai pelengkap acara maulid.

Seperti biasa, mereka mengatakan, itu adalah hal bid’ah yang wajib dihilangkan karena mengotori syariat Islam. Sebelum kita bahas lebih lanjut, marilah kita tengok sejarah para sahabat di masa Rasulullah saw masih hidup.
Kala itu, berita hijrahnya Rasulullah saw dari Mekkah ke Madinah telah tersebar luas. Para sahabat yang berada di Madinah tak kuasa menahan rasa rindu kepada Rasulullah saw. Setiap hari mereka menanti Nabi saw di tapal batas kota Madinah, akhirnya, saat yang dinanti-nanti pun tiba.
Rasulullah saw bersama Abu Bakar ra memasuki kota madinah dengan selamat. Kegembiraan warga Madinah tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, mereka menangis bahagia menyaksikan kekasih yang dirindukan telah berada di hadapan mata.
Dengan penuh cinta, wanita dan anak-anak pun menaati rebana dan melantunkan syair indah penuh makna yang abadi sepanjang masa. Dengan meriah mereka bersyair,

“Thala’al badru ‘alainaa.. min tsaniy yatil wadaa’.. Wa jabasy syukru ‘alainaa.. Maa da’aal lillahidaa’..”
(Telah terbit bulan purnama.. Menyinari kami dari Bukit Wada’.. Maka kita wajib bersyukur.. Karena tibanya sang da’i yang menyeru ke jalan Allah..).

Sepanjang hidupnya, Rasulullah saw tidak pernah melarang tabuhan rebana dan senandung syair yang dipersembahkan untuk menyambut kedatangannya itu.
Bahkan ketika Rasulullah saw tiba dari perang Tabuk, warga Madinah kembali menyambutnya dengan tabuhan rebana dan lantunan syair tersebut di atas. (Lihat Siratul Halabiyyah juz 3: 99, Zadul Ma’ad juz 1: 1297, Fathul Bari juz 8: 469).
Dalam hadist lain juga diriwayatkan, bahwa ketika Nabi saw tiba dari sebuah peperangan, seorang budak wanita berkulit hitam datang menemui beliau saw sambil membawa rebana dan berkata:

“Wahai Rasulullah, aku telah bernazar, jika Allah mengembalikan dirimu dalam keadaan selamat, maka aku akan menabuh rebana dan menyanyi di hadapanmu”. Rasulullah saw menjawab: “Jika kamu telah bernazar maka tunaikanlah nazarmu itu, tapi jika tidak maka jangan.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad).

 

Wanita itupun menunaikan nazarnya, ia menyanyi dan menabuh rebana di hadapan Nabi saw cukup lama. Satu demi satu sahabat Abu Bakar, Utsman, dan Ali ra datang menemui Nabi saw, budak wanita itu tetap menabuh dan menyanyi dan Nabi mendengarkan.
Ketika Umar ra tiba, wanita itu berhenti dan segera menyembunyikan rebananya dan mendudukinya, sebab ia takut kepada Umar ra yang terkenal keras dan tegas. Setelah keempat sahabat itu berkumpul di hadapan Nabi saw,

beliau bersabda:

Sesungguhnya setan pasti takut kepadamu hai Umar, ketika aku duduk, wanita itu menabuh rebana. Kemudian Abu Bakar masuk, ia tetap menabuh rebana, ketika Ali masuk, ia tetap menabuh rebana. Ketika Ustman masuk ia tetap menabuh rebana.
Akan tetapi, ketika kamu masuk hai Umar, wanita itu segera membuang rebananya.” (HR. Tirmidzi).

 

Membaca kedua hadist di atas dapat kita ambil kesimpulan. Pertama, rebana dan lantunan syair pujian sudah ada pada zaman Rasulullah saw. Kedua, Rasulullah saw tidak pernah melarang menabuh dan menyanyi (selama tidak menimbulkan syahwat dan fitnah) di masa hidupnya.
Jadi, walau mungkin Rasulullah saw tidak pernah melakukan kedua hal itu selama hidupnya, tetapi karena ketika beliau mengetahui kedua hal itu tidak pernah melarangnya,
maka hukumnya menjadi Sunnah Taqririyah (Sunnah karena Rasulullah melihat atau mendengar sesuatu yang dikerjakan para sahabat, tetapi beliau tidak melarangnya).

Dengan demikian, maka jelaslah permasalahan seputar rebana dan syair pujian kepada Nabi Muhammad saw yang sering kita mendengar bahkan melakukannya adalah boleh.

fahami dan renungkan jangan menelan faham ustadz-ustadz jahil …

 

Maulid Nabi dan Syaikh Nawawi Al-Bantani

 

Orang yang mengagungkan maulidku, maka dia bersamaku di surga”

 

“Orang yang menafkahkan satu dirham untuk kepentingan maulidku, maka seperti menafkahkan sebuah gunung yang terbuat dari emas di jalan Allah.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah menyebutkan berkata:

“Orang yang menafkahkan satu dirham untuk kepentingan maulid Nabi SAW, maka dia akan menjadi temanku di dalam surga.”

Umar bin Al-Khattab juga telah berkata:

“Orang yang mengagungkan maulid nabi SAW maka dia berarti telah menghidupkan agama Islam.”

 

Utsman bin Affan berkata:

“Orang yang menafkahkan satu dirham untuk bacaan maulid nabi SAW, maka seolah-olah dia ikut dalam Perang Badar dan Hunain.”

Ali bin Abi Thalib berkata:

“Orang yang mengagungkan maulid Nabi SAW tidak akan keluar dari dunia ini kecuali dengan iman.”

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata:

“Orang yang mengumpulkan saudaranya di saat maulid Nabi SAW, lalu menghidangkan untuk mereka makanan, serta berbuat ihsan, maka Allah akan bangkitkan dirinya di hari kiamat bersama para shiddiqin, syuhada’, shalihin dan berada dalam surga An-Na’im.”

Al-Imam As-Sirri As-Saqti berkata:

“Siapa yang mendatangi tempat dibacakannya maulid Nabi SAW, maka dia akan diberi taman di surga. Karena dia tidak mendatanginya kecuali karena cinta kepada Nabi SAW. Sedangkan Nabi SAW bersabda, “Orang yang cinta padaku maka dia akan bersamaku di surga.”

Hadits-hadits dan perkataan para shahabat serta para ulama di atas dapat ditemukan dalam kitab Madarijush-Shu’ud, yang menjadi kitab syarah atau penjelasan dari kitab Al-Maulid An-Nabawi karya Al-Imam Al-’Arif As-Sayyid Ja’far, atau yang lebih dikenal dengan Syeikh Al-Barzanji.

Penulis kitab Madarijush Shu’ud adalah tokoh besar, bahkan beliau tinggal di Makkah, namun asalnya dari negeri kita. Beliau adalah Syeikh Nawawi Al-Bantani.
Di dalam kitab susunan beliau itulah kita dapat menemukan hadits nabi atau perkataan para shahabat nabi, juga perkataan para ulama tadi mengenai keutamaan merayakan maulidur Rasul.
Semua lafadz itu mungkin tidak dilengkapi sumber rujukan, perawi, ataupun sanad. Sehingga para kritikus hadits tidak bisa melacaknya di kitab-kitab rijalul hadits, atau di kitab lainnya. Namun, hal itu tidak menjadi soal. Karena di zaman beliau, banyak kitab yang ketika mengutip hadits itu tidak disertakan sanadnya. Karena hadits tersebut memang telah dikenal luas saat itu. Bahkan di zaman sekarang pun banyak buku-buku yang mengutip hadits tanpa sanad dan perawi, hanya dituliskan dalam kurung “Al-Hadits”

.

Siapakah Syeikh Nawawi Bantani?

Beliau adalah ulama besar abad ke-19 yang tinggal di Makkah, namun beliau asli Indonesia. Kata Al-Bantani merujuk kepada daerah asalnya, yaitu Banten. Tepatnya Kampung Tanara, Serang, Banten.

Beliau adalah anak sulung seorang ulama Banten. Beliau lahirtahun 1230 Hijrah/1814 Masehidan wafat di Makkah tahun 1314 Hijrah/1897 Masehi. Beliau menuntut ilmu ke Makkah sejak usia 15 tahun dan selanjutnya setelah menerima pelbagai ilmu di Mekah, beliau meneruskan pelajarannya ke Syam (Syiria) dan Mesir.

Syeikh Nawawi al-Bantani kemudian mengajar di Masjidil Haram. Setiap kali beliau mengajar, dikelilingi oleh tidak kurang dua ratus orang. Ini menunjukkan bahwa keulamaan beliau diakui oleh para ulama di Makkah pada masa itu. Yang menarik, disebutkan bahwa saat mengajar di Masjid Al-Haram itu, beliau menggunakan dengan bahasa Jawa dan Sunda.

Karena sangat terkenalnya, bahkan beliau pernah diundang ke Universitas Al-Azhar, Mesir untuk memberi ceramah atau fatwa-fatwa pada beberapa perkara tertentu.

Syeikh Nawawi termasuk ulama penulis yang produktif. Hari-harinya digunakan untuk menulis. Beberapa sumber menyebutkan Syekh Nawawi menulis lebih dari 100 buku, 34 di antaranya masuk dalam Dictionary of Arabic Printed Books.

Dari sekian banyak bukunya, beberapa di antaranya antara lain: Tafsir Marah Labid, Atsimar al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Zhulam, al-Futuhat al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Shamad, al-Aqdhu Tsamin, Uqudul Lijain, Nihayatuz Zain, Mirqatus Su’udit Tashdiq, Tanqihul Qoul, syarah Kitab Lubabul Hadith, Nashaihul Ibad.

Murid-Murid Syeikh Nawawi

Di antara yang pernah menjadi murid beliau adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) almarhum Kiyai Haji Hasyim Asy’ari. Juga kiyai Khalil Bangkalan Madura. Juga termasuk kiyai Machfudh dari Tremas, Jawa Timur.
Dari para kiyai itulah kemudian agama Islam disebarkan di seantero tanah Jawa, lewat berbagai pondok pesantren, madrasah, majelis ta’lim, pengajian dan tabligh akbar.

Mengatakan perayaan maulid sebagai perkara yang menyesatkan sama saja dengan menyebut Syaikh Nawawi Al-Bantani sebagai ulama penyesat. Padahal, kalaupun tak ada hadits mengenai ini, seperti dikatakan di atas bahwa tidaklah seseorang mendatangi perayaan maulid Nabi kecuali karena cinta kepada Nabi SAW.

Sedangkan Nabi SAW bersabda,

“Orang yang cinta padaku maka dia akan bersamaku di surga.” Dan hadits yang satu ini tak perlu kami sebutkan sanad dan rawinya. Juga telah dikenal luas bahwa nabi telah bersabda “Seseorang itu bersama yang dicintainya.”

******************

Hikmah Maulid Nabi] Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW.

oleh Ustadz KH. Nadirsyah Hosen*

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim Bismillahirrahmanirrahim Allahumma salli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sahbihi wasallim

Setelah Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya – tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat.

Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta,

“Ceritakan padaku akhlak Muhammad!”.

Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi.

Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam.

Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali

. Ali dengan linangan air mata berkata,

“Ceritakan padaku keindahan dunia ini!.”

Badui ini menjawab,

“Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini….”

Ali menjawab,

“Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)”


Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam yang sering disapa “Khumairah” oleh Nabi ini hanya menjawab,

khuluquhu al-Qur’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an).

Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur’an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu’minun [23]: 1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, “Ah semua perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. “Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.’” Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu.

Aisyah berkata,

“Mengapa engkau tidur di sini?”

Nabi Muhammmad menjawab,

“Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.”

 

Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita?

Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mengingatkan,

“berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya.”

Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tersebut.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam sakit.

Tentang Umar, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pernah berkata,

“Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta’wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam menjawab “ilmu pengetahuan.”

Tentang Utsman, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.” “Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.”

Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah…ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur’an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan “Wahai Nabi”. Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.

Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka.

Sebelum Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata:

“Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin.”

Kata Umar,

“Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.”

Abu Bakar berkata ke Umar,

“Kamu hanya ingin membantah aku saja,”

Umar menjawab,

“Aku tidak bermaksud membantahmu.”

Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras.

Waktu itu turunlah ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya” (QS. Al-Hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, “Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.” Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam,

“Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami”

Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bertanya,

“Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?”

“Sudah.” kata Utbah.

Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Ketika Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam? “Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu.” Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berkata pada para sahabat,

“Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!”

Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.” Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap “membereskan” orang itu. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berkata, “Lakukanlah!”

Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis,

“Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah”.

Seketika itu juga terdengar ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam ke hadirat-Nya.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na’udzu billah…..

Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika saat haji Wada’, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?” Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam melanjutkan, “Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah…..?” Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “Benar ya Rasul!”

Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah!”. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. “Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah”

 

Maulid Nabi : Kritik atas Jamaah Takfiriyah


Dan salah satu bentuk untuk mengenang dan meneladani beliau adalah dengan selalu mengingatnya. Persis kaum Wahabi ketika mengenang Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab dengan cara menukil dan menghidupkan manhaj TBCnya, hanya saja mereka tidak sadar bahwa dengan menghidupkan manhaj dan menukil fatwa-fatwa TBC itu pada hahekatnya adalah mengenangnya dan memperingatinya. Dan kesalahan fatal yang di lakukan oleh kaum wahabi adalah dengan klaim bahwa setiap tindakan atau perbuatan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh Kanjeng Nabi s.a.w adalah sunnah. Padahal tidak “mesti” [dalam tanda kutip] demikian.

 

Maulid Nabi antara Halal dan Haram: Kritik atas Jamaah Takfiriyah


Assalamualaika Ya Sulalatul Wujud…. Assalamualaika Ya Sofwatul Wujud…. Assalamualaika Ya Zubdatul Wujud, Assalamualaika Ya Musthofa Muhammad s.a.w.

Kepada Kaum Muslimin dan Muslimat, Saya Ucapkan “Selamat Atas kelahiran manusia suci, manusia agung, nuurul wujud Muhammad s.a.w”.

“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali”. [Lihat Al-quran
surat Maryam, Ayat 15]

Seperti biasa, di setiap bulan Rabiul Awwal, seperti tahun-tahun lalu, umat Islam di pojok dan sudut dunia, kembali memperingati hari kelahiran [maulid] Nabi Muhammad s.a.w. Seperti biasa pula umat Islam tumpah ruah bergembira menyambut hari kelahiran sang Matahari petunjuk segenap manusia. Muhammad s.a.w di lahirkan untuk menyobek tirai kegelapan dunia dan arab jahili. Namun demikian ada diantara umat manusia yang mengaku sebagai penerus dan penegak risalah Muhammadi s.a.w. tapi menghardik dan menyematkan dzikir TBC [Tahayul, Bid’ah, Churafat] tepat di kening umat Islam yang memperingati hari kelahiran sang Zubdatul Wujud ini.

Ada apa ini…?? Kenapa musti pangkat TBC..?? apakah dengan alasan bahwa Kanjeng Nabi s.a.w tidak pernah melaksanakan bahkan untuk memerintahkannya sehingga kita layak menjadi tumbal TBC..?. Sesederhana inikah alasannya…? Dan yang tidak kalah pentingnya adalah mengapa umat Islam merasa perlu dan harus memperingati hari kelahiran Nabi, padahal seperti kita ketahui Nabi s.a.w tidak pernah melakukannya bahkan memerintahkannya ?. TBCkah perbuatan ini..?

Jayyid…. Dalam makalah sederhana ini kita mencoba menyingkap maknadibalik peringatan Maulid Nabi s.a.w ini.

 

Nabiyullah  Nabi s.a.w dalam Al-quran


Banyak ragam cara manusia di alam ini ketika me-apresiasi sesuatu yang agung dan yang di agungkan, apalagi pangkat “agung” itu yang menyematkan adalah Allah s.w.t yang Maha Agung. Allah s.w.t. dalam Al-quran, Allah s.w.t. ketika mensifati keagungan  Nabi s.a.w berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ucapkanlah shalawat dan salam kepadanya dengan sempurna.” [Lihat QS Al-Ahzab, 33 : 56].

Begitu juga Allah s.w.t ketika mensifati Nabi s.a.w sebagai

“Rahmatan lil Alamin” dalam Al-quran berfirman:

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk [menjadi] rahmat bagi semesta alam”. [Lihat QS Al-Anbiya, 21 : 107.]

Salah satu pujian Allah s.w.t. terhadap  Nabi s.a.w adalah dengan memerintahkan kepada semua ciptaannya untuk bershalawat kepadanya. Malaikat sekalipun. Oleh karena itu  Nabi s.a.w layak mendapat titel “Rahmatan lil alamiin” karena memang dalam diri beliau selalu tercurah rahmat Allah dan kemudian rahmat tersebut beliau sebarkan ke seluruh makhluk Allah s.w.t. Sementara itu, agar manusia dapat menyerap rahmatNYA, tidak ada jalan lain kecuali dengan mencintai dan mengikuti teladan beliau. Untuk menanamkan kecintaan kepada beliau, maka kita pun selayaknya untuk selalu mengenang beliau.

Dan salah satu bentuk untuk mengenang dan meneladani beliau adalah dengan selalu mengingatnya. Persis kaum Wahabi ketika mengenang Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab dengan cara menukil dan menghidupkan manhaj TBCnya, hanya saja mereka tidak sadar bahwa dengan menghidupkan manhaj dan menukil fatwa-fatwa TBC itu pada hahekatnya adalah mengenangnya dan memperingatinya. Dan kesalahan fatal yang di lakukan oleh kaum wahabi adalah dengan klaim bahwa setiap tindakan atau perbuatan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh Kanjeng Nabi s.a.w adalah sunnah. Padahal tidak “mesti” [dalam tanda kutip] demikian.

Contoh kecil adalah kalau saja setiap yang di lakukan atau yang tidak di lakukan oleh kanjeng Nabi s.a.w adalah sunnah apakah ketika beliau mengendarai onta juga di anggap sunnah dan wajib bagi kita untuk mengikutinya..?? atau apakah ketika rasul tidak berdakwah melalui internet dan kita melakukan dakwah melalui internet adalah TBC..? dan banyak sekali contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari kita yang tidak dilakukan oleh kanjeng Nabi, Sahabat, Tabiin, dan Tabiin Tabiin. TBCkah kita..?

 

Zubdatul Basyariyah


Allah s.w.t. Maha Karim wa yuhibbul karom. Dalam Al-quran disebutkan: “Laqad karramna Bani Adam…” dan :”Yarfaullahul ladhina aamanu minkum..”. dan :”Walladhina uutul ilma darajah..”. atau :”Inna akramakum indallahi atqakum”. Semua ayat diatas adalah menceritakan betapa Allah swt menyaring di antara makhluknya dan memulyakanNYA dengan memberikan beberapa afdholiyah dan kemulyaan. Dan inilah yang oleh Allah swt mereka disebut sebagai “Al asholatul Basyariyah” . Dan maqam serta kemulyaan ini hanya dihuni dan dimiliki oleh mereka-mereka yang beriman, berilmu, dan bertaqwa. Dan dari makhluk Allah swt yang tersaring itu, Allah swt juga menyaring lagi yang didalamnya di huni oleh para Anbiya Allah , para Auliya Allah yang dikenal dengan sebutan “Sulalatul Basyariyah”. Belum berhenti sampai disitu Allah swt juga menyaring lagi diantara anbiya Allah yang kita kenal dengan Nabi Ulil Azmi, yang disebut sebagai “Sofwatul Basyariyah”.

Lalu dimana letak dan kedudukan Kanjeng Nabi s.a.w..?. Karena Kanjeng Nabi s.a.w adalah inti sari dari semua makhluk Allah s.w.t., maka disinilah letak keangungannya yang tidak tertandingi oleh makhluk dari zaman Nabi Adam a.s. hingga hari kiamat nanti. Dari makhluk di bumi maupun dilangit. Oleh karena itu karena Kanjeng Nabi s.a.w adalah inti sari dari semua makhluk, perasan dari segala inti maka beliau disebut sebagai “Zubdatul Basyariyah”. Oleh karena itu Allah s.w.t bersahalawat kepadanya dan menyeru kepada alam hatta malaikat untuk bershalawat kepadanya. Maka ayyuhannas….. !! bershalawatlah atasnya.

Perbedaan diantara maqam keempat itu adalah bahwa Asshulalah dan Asshoffah adalah inti sari dari Alasholah, semantara Zubdah adalah inti sari dari keduanya. Maka ayyuhannas…Renungkanlah kedudukan Rasul kecintaan Allah s.w.t. ini..!! [Lihat kamus lisanul Arab].


Syiar dan Maulid Nabi


Begitulah kedudukan Kanjeng Nabi s.a.w. disisi Allah s.w.t. Sulit untuk diterjemahkan dalam kata dan tulisan. Wa ma adroka Muhammad illa Muhammad !!

Memperingati kelahiran Nabi s.a.w adalah salah bentuk dari sebuah penghormatan dan pengagungan, menghidupkan kembali keafdholiannya, bentuk lain dari syiar. Jika dalam memperingati hari kelahiran Kanjeng Nabi s.a.w itu di anggap TBC hanya gara-gara sebagian kecil dari pelaku di “anggap keterlaluan” [Lihat Majmu’ Fatawa fii Arkanil Islam, soal no. 89] kenapa yang di anggap TBC adalah memperingatinya..?? dan bukan pelaku yang di anggap menyimpang..??. Bukankah Allah s.w.t dalam Al-quran juga mengucapkan selamat atas Nabi Isa a.s….?.

Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali”. [Lihat Al-quran surat Maryam, Ayat 15].

Kenapa kita di cap terkena penyakit TBC ketika kita mengucapkan selamat datang wahai Zubdatul Basyariyah dalam kitab Al-barjanji…??. Bukankah Allah s.w.t. juga melakukanya kepada Kekasihnya [Nabi Isa a.s]…??

Masuk nerakakah kita, ketika bersyukur atas Kanjeng Nabi s.a.w dengan membaca Qasidah dan pujian-pujian atas Kanjeng Nabi s.a.w…??. Dan adakah jaminan masuk surga ketika kaum Wahabi mengucapkan pujian-pujian dan qasidah terhadap Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab cs..? bukankah itu juga bentuk dari TBC..??. Hat lana dalil ala dakwatika…..

Allahu A’lam

**************

Makna Dan Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW

Mari sejenak kita merenungi Makna dan Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tanggal 12 Rabiul Awal 1432 H, bertepatan pada 15 Februari 2011 seluruh kaum muslim merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, tidak lain merupakan warisan peradaban Islam yang dilakukan secara turun temurun.

Dalam catatan historis, Maulid dimulai sejak zaman kekhalifahan Fatimiyah di bawah pimpinan keturunan dari Fatimah az-Zahrah, putri Muhammad. Perayaan ini dilaksanakan atas usulan panglima perang, Shalahuddin al-Ayyubi (1137M-1193 M), kepada khalifah agar mengadakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad.

Tujuannya adalah untuk mengembalikan semangat juang kaum muslimin dalam perjuangan membebaskan Masjid al-Aqsha di Palestina dari cengkraman kaum Salibis. Yang kemudian, menghasilkan efek besar berupa semangat jihad umat Islam menggelora pada saat itu.

Secara subtansial, perayaan Maulid Nabi adalah sebagai bentuk upaya untuk mengenal akan keteladanan Muhammad sebagai pembawa ajaran agama Islam. Tercatat dalam sepanjang sejarah kehidupan, bahwa nabi Muhammad adalah pemimipn besar yang sangat luar biasa dalam memberikan teladan agung bagi umatnya.

Dalam konteks ini, Maulid harus diartikulasikan sebagai salah satu upaya transformasi diri atas kesalehan umat. Yakni, sebagai semangat baru untuk membangun nilai-nilai profetik agar tercipta masyarakat madani (Civil Society) yang merupakan bagian dari demokrasi seperti toleransi, transparansi, anti kekerasan, kesetaraan gender, cinta lingkungan, pluralisme, keadilan sosial, ruang bebas partisipasi, dan humanisme.

Dalam tatanan sejarah sosio antropologis Islam, Muhammad dapat dilihat dan dipahami dalam dua dimensi sosial yang berbeda dan saling melengkapi.

Pertama, dalam perspektif teologis-religius, Muhammad dilihat dan dipahami sebagai masosok nabi sekaligus rasul terakhir dalam tatanan konsep keislaman. Hal ini memposisikan Muhammad sebagai sosok manusia sakral yang merupakan wakil Tuhan di dunia yang bertugas membawa, menyampaikan, serta mengaplikasikan segala bentuk pesan “suci” Tuhan kepada umat manusia secara universal.

Kedua, dalam perspektif sosial-politik, Muhammad dilihat dan dipahami sebagai sosok politikus andal. Sosok individu Muhammad yang identik dengan sosok pemimpin yang adil, egaliter, toleran, humanis, serta non-diskriminatif dan hegemonik, yang kemudian mampu membawa tatanan masyarakat sosial Arab kala itu menuju suatu tatanan masyarakat sosial yang sejahtera dan tentram.

Tentu, sudah saatnya bagi kita untuk mulai memahami dan memperingati Maulid secara lebih mendalam dan fundamental, sehingga kita tidak hanya memahami dan memperingatinya sebatas sebagai hari kelahiran sosok nabi dan rasul terakhir yang sarat dengan serangkaian ritual-ritual sakralistik-simbolik keislaman semata, namun menjadikannya sebagai kelahiran sosok pemimpin.

Karena bukan menjadi rahasia lagi bila kita sedang membutuhkan sosok pemimpin bangsa yang mampu merekonstruksikan suatu citra kepemimpinan dan masyarakat sosial yang ideal, egaliter, toleran, humanis dan nondiskriminatif, sebagaimana dilakukan Muhammad untuk seluruh umat manusia.

Kontekstualisasi peringatan Maulid tidak lagi dipahami dari perspektif keislaman saja, melainkan harus dipahami dari berbagai perspektif yang menyangkut segala persoalan. Misal, politik, budaya, ekonomi, maupun agama.

Dua Belas Bukti bahwa Muhammad adalah Nabi Sejati



Twelve Proofs that Muhammad is a True Prophet

Dua Belas Bukti bahwa Muhammad adalah Nabi Sejati

Shaykh `Abdul Rahman `Abdul Khaliq Syaikh Abdul Rahman Abdul Khaliq “

My brothers and sisters everywhere!

Saya saudara-saudara di mana-mana!

With this essay, I am not singling out the adherents of Islam – to which I ascribe – but rather I am writing this essay to every man and woman throughout the whole world.

Dengan esai ini, saya tidak singling keluar penganut Islam – yang saya menganggap – melainkan Saya menulis esai ini untuk setiap pria dan wanita di seluruh dunia.

I ask Allah that He facilitates tat this essay reaches every ear, falls under the sight of every eye, and is understood by every heart…

Saya meminta Allah bahwa Dia memudahkan esai tat ini mencapai setiap telinga, berada di bawah melihat setiap mata, dan dipahami oleh setiap hati …

Muhammad the son of `Abdullah is Allah’s Prophet and the Final Messenger Sent by Allah to the Inhabitants of Earth.

Muhammad bin `Abdullah adalah Nabi Allah dan Rasul Final Dikirim oleh Allah untuk Penduduk Bumi.

My brothers and sisters everywhere! Saya saudara-saudara di mana-mana! You should know that the Messenger, Muhammad the son of `Abdullah (may Allah’s blessings and peace be upon him) is Allah’s Messenger in reality and truth.

Anda harus tahu bahwa Rasul, Muhammad bin `Abdullah (semoga berkat Allah dan saw) adalah utusan Allah dalam realitas dan kebenaran. The evidences that show his veracity are abundant. Bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran-Nya yang melimpah. None but an infidel, who out of arrogance alone, could deny these signs. Tidak ada tapi kafir, yang keluar dari kesombongan saja, bisa mengingkari tanda-tanda ini.

Among these proofs:

Diantara bukti:

1. 1. Muhammad (may Allah’s blessings and peace be upon him) was raised illiterate, unable to read or write, and remained like that till his death.

Muhammad (semoga rahmat Allah dan saw) dibangkitkan buta huruf, tidak dapat membaca atau menulis, dan tetap seperti itu sampai kematiannya.

Among all his people, he was known as being truthful and trustworthy.

Di antara semua umat-Nya, ia dikenal sebagai jujur dan dapat dipercaya.

Before receiving revelation, he had no prior knowledge of Religion or any previously sent Message.

Sebelum menerima wahyu, dia tidak punya pengetahuan sebelumnya dari Agama atau pesan yang dikirim sebelumnya.

He remained like that for his first forty years.

Dia tetap seperti itu selama bertahun-tahun pertamanya empat puluh.

Revelation then came to Muhammad with the Koran that we now have between our hands.

Wahyu lalu datang ke Muhammad dengan Quran bahwa kita sekarang memiliki antara tangan kami.

This Koran mentioned most of the accounts found in the previous scriptures, telling us about these events in the greatest detail as if he witnessed them.

Al Qur’an ini disebutkan sebagian besar rekening yang ditemukan dalam kitab suci sebelumnya, bercerita kepada kita tentang peristiwa ini dalam rincian terbesar seolah-olah ia menyaksikan mereka.

These accounts came precisely as they were found in the Torah sent down to Moses and in the Gospel sent down to Jesus.

Akun ini datang tepat seperti yang mereka ditemukan di dalam Taurat diturunkan kepada Musa dan dalam Injil diturunkan kepada Yesus.

Neither the Jews or Christians were able to belie him regarding anything that he said.

Baik Yahudi atau Kristen mampu mendustakan apa pun mengenai bahwa ia berkata.

2. 2. Muhammad (may Allah’s blessings and peace be upon him) also foretold of everything that would occur to him and his community after him, pertaining to victory, the removal of the tyrannical kingdoms of Chosroes [the royal title for the Zoroastrian kings of Persia] and Caesar, and the establishment of the religion of Islam throughout the earth.

Muhammad (semoga rahmat Allah dan saw) juga meramalkan segala sesuatu yang akan terjadi padanya dan masyarakat setelah dia, berkaitan dengan kemenangan, penghapusan kerajaan tirani Chosroes [judul kerajaan bagi raja-raja Zoroaster Persia] dan Caesar, dan pembentukan agama Islam di seluruh bumi.

These events occurred exactly as Muhammad foretold, as if he was reading the future from an open book.

Peristiwa ini terjadi persis seperti yang diramalkan Muhammad, seolah-olah ia sedang membaca masa depan dari sebuah buku yang terbuka.

3. 3. Muhammad (may Allah’s blessings and peace be upon him) also brought an Arabic Koran that is the peak of eloquence and clarity.

Muhammad (semoga rahmat Allah dan saw) juga membawa Qur’an bahasa Arab yang merupakan puncak kefasihan dan kejelasan.

The Koran challenged those eloquent and fluent Arabs of his time, who initially belied him, to bring forth a single chapter like the Koran.

Quran menantang orang-orang Arab fasih dan lancar waktu, yang awalnya mendustakan dia, untuk mendatangkan satu bab seperti al-Qur’an.

The eloquent Arabs of his day were unable to contest this Koran.

Orang-orang Arab fasih pada masanya tidak dapat kontes Al Qur’an ini.

Indeed, till our day, none has ever dared to claim that he has been able to compose words that equal-or even approach-the order, grace, beauty, and splendor of this Glorious Koran.

Memang, sampai hari kita, tidak pernah berani mengklaim bahwa ia telah mampu menyusun kata-kata yang sama-atau bahkan pendekatan-urutan, rahmat, keindahan, dan kemegahan dari Alquran.

4. 4. The life history of this Noble Prophet was a perfect example of being upright, merciful, compassionate, truthful, brave, generous, distant from all evil character, and ascetic in all worldly matters, while striving solely for the reward of the Hereafter.

Sejarah hidup Nabi ini Noble adalah contoh yang sempurna menjadi tegak, murah hati, belas kasih, jujur, berani, dermawan, jauh dari semua karakter yang jahat, dan asketis dalam segala hal duniawi, sementara berjuang semata-mata untuk pahala di akhirat.

Moreover, in all his actions and dealings, he was ever mindful and fearful of Allah.

Selain itu, dalam semua tindakan dan transaksi, ia selalu waspada dan takut Allah.

5. 5. Allah instilled great love for Muhammad (may Allah’s blessings and peace be upon him) in the hearts of all who believed in and met him.

Allah menanamkan kasih yang besar bagi Muhammad (semoga rahmat Allah dan saw) di dalam hati semua orang yang percaya dan bertemu dia.

This love reached such a degree that any of his companions would willingly sacrifice his (or her) self, mother or father for him.

Cinta ini mencapai tingkat yang salah satu temannya rela mengorbankan (atau dia) dirinya, ibu atau ayah baginya.

Till today, those who believe in Muhammad honor and love him.

Hingga hari ini, orang-orang yang percaya pada Muhammad menghormati dan mencintainya.

Anyone of those who believe in him would ransom his own family and wealth to see him, even if but once.

Siapapun dari mereka yang percaya kepada-Nya akan menebus keluarganya sendiri dan kekayaan melihatnya, bahkan jika tetapi sekali.

6. 6. All of history has not preserved the biography of any person in the manner it has preserved the life of Muhammad, who is the most influential human in history.

Semua sejarah belum diawetkan biografi setiap orang dengan cara yang telah diawetkan kehidupan Muhammad, yang merupakan manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah.

Nor has the entire earth known of anyone whom every morning and evening, and many times thereafter throughout the day, is thought of by those who believe in him.

Juga memiliki seluruh bumi diketahui siapa saja yang setiap pagi dan sore, dan sering kali setelah sepanjang hari, yang dianggap oleh mereka yang percaya padanya.

Upon remembering Muhammad, the believers in him will greet him and ask Allah to bless him.

Setelah mengingat Muhammad, orang percaya di dalam Dia akan menyambut dia dan meminta Allah untuk memberkatinya.

They do such with full hearts and true love for him.

Mereka melakukan tersebut dengan hati yang penuh dan cinta sejati baginya.

7. 7. Nor has there every been a man on earth whom is still followed in all his doings by those who believe in him.

Juga telah ada setiap menjadi manusia di bumi yang masih diikuti dalam segala perbuatan-Nya oleh mereka yang percaya padanya.

Those who believe in Muhammad, sleep in the manner he slept; purify themselves (through ablution and ritual washing) in the manner he purified himself; and adhere to his practice in the way they eat, drink, and clothe themselves.

Mereka yang percaya pada Muhammad, tidur dengan cara dia tidur, menyucikan diri (melalui wudhu dan ritual mencuci) dengan cara yang ia dimurnikan dirinya sendiri, dan mematuhi praktek dalam cara mereka makan, minum, dan pakaian sendiri.

Indeed in all aspects of their lives, the believers in Muhammad adhere to the teachings he spread among them and the path that he traveled upon during his life.

Memang dalam semua aspek kehidupan mereka, orang percaya pada Muhammad mematuhi ajaran dia menyebar di kalangan mereka dan jalan yang dia pergi setelah selama hidupnya.

During every generation, from his day till our time, the believers in this Noble Prophet have fully adhered to his teachings.

Selama setiap generasi, dari hari itu sampai waktu kita, orang percaya dalam hal ini Nabi Noble sepenuhnya ditaati ajaran-ajarannya.

With some, this has reached the degree that they desire to follow and adhere to the Prophet’s way in his personal matters regarding which Allah has not sought of them to adhere to in worship.

Dengan beberapa, ini telah mencapai tingkat yang mereka inginkan untuk mengikuti dan mematuhi cara Nabi dalam urusan pribadinya tentang yang Allah tidak berusaha dari mereka untuk mematuhi dalam ibadah.

For example, some will only eat those specific foods or only wear those specific garments that the Messenger liked.

Sebagai contoh, beberapa hanya akan memakan makanan tersebut tertentu atau hanya memakai pakaian khusus yang mereka Rasul suka.

Let alone all that, all those who believe in Muhammad repeat those praises of Allah, special prayers, and invocations that he would say during each of his actions during day and night, like: what he would say when he greeted people, upon entering and leaving the house, entering and leaving the mosque, entering and leaving the bathroom, going to sleep and awaking from sleep, observing the new crescent, observing the new fruit on trees, eating, drinking, dressing, riding, traveling and returning from travel, etc.

Biarkan saja semua itu, semua orang yang percaya pada Muhammad mengulangi memuji Allah, doa khusus, dan doa bahwa ia akan mengatakan pada setiap tindakan di siang hari dan malam, seperti: apa yang akan dikatakannya ketika ia menyapa orang, saat memasuki dan meninggalkan rumah, memasuki dan meninggalkan masjid, masuk dan keluar kamar mandi, akan tidur dan bangun dari tidur, mengamati sabit baru, mengamati buah baru di pohon-pohon, makan, minum, berpakaian, naik, perjalanan dan kembali dari perjalanan, dll

Let alone all that, all those who believe in Muhammad fully perform-even to the minute detail-every act of worship-like prayer, fasting, charity, and pilgrimage-as this Noble Messenger (may Allah’s blessings and peace be upon him) taught and as he himself performed.

Biarkan saja semua itu, semua orang yang percaya pada Muhammad sepenuhnya melakukan-bahkan tindakan-detail setiap menit doa ibadah seperti, puasa, zakat, dan haji-seperti ini Messenger Noble (mungkin berkat Allah dan saw) mengajarkan dan sebagai dia sendiri dilakukan.

All of this allows those who believe in him, to live their lives in all aspects with this Noble Messenger as their example, as if he was standing before them, for them to follow in all their doings.

Semua ini memungkinkan orang-orang yang beriman kepadanya, untuk menjalani kehidupan mereka dalam semua aspek dengan Noble Messenger sebagai contoh mereka, seolah-olah ia sedang berdiri di depan mereka, bagi mereka untuk mengikuti semua perbuatan mereka.

8. 8. There has never been nor will there ever be a man anywhere upon this earth who has received such love, respect, honor, and obedience in all matters-small and large alike-as has this Noble Prophet.

Tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada seorang pria mana pun di atas bumi ini yang telah menerima cinta seperti, rasa hormat, kehormatan, dan ketaatan dalam semua ini hal-kecil dan besar sama-seperti yang suci Nabi.

9. 9. Since his day, in every region of the earth and during every period, this Noble Prophet has been followed by individuals from all races, colors and peoples.

Sejak hari itu, di setiap wilayah bumi dan pada setiap periode, Nabi Mulia ini telah diikuti oleh individu-individu dari semua, warna ras dan bangsa.

Many of those who followed him were previously Christians, Jews, pagans, idolaters, or without any religion.

Banyak dari mereka yang mengikutinya sebelumnya Kristen, Yahudi, orang-orang kafir, penyembah berhala, atau tanpa agama apapun.

Among those who chose to follow him, were those who were known for their sound judgment, wisdom, reflection, and foresight.

Di antara mereka yang memilih untuk mengikutinya, adalah mereka yang dikenal untuk penghakiman suara mereka, kebijaksanaan, refleksi, dan foresight.

They chose to follow this Noble Prophet after they witnessed the signs of his truthfulness and the evidences of his miracles.

Mereka memilih untuk mengikuti Nabi Noble setelah mereka menyaksikan tanda-tanda kebenaran dan bukti-bukti mukjizat-mukjizatnya.

They did not choose to follow Muhammad out of compulsion or coercion or because they had adopted the ways of their fathers and mothers.

Mereka tidak memilih untuk mengikuti Muhammad keluar dari paksaan atau paksaan atau karena mereka telah mengadopsi cara ayah dan ibu.

Indeed many of the followers of this Prophet (may Allah’s blessings peace be upon him), chose to follow him during the time when Islam was weak, when there were few Muslims, and when there was severe persecution of his followers on earth.

Memang banyak dari pengikut Nabi ini (mungkin berkat Allah damai atas dia), memilih untuk mengikutinya selama ini ketika Islam lemah, bila ada beberapa Muslim, dan ketika ada penganiayaan berat pengikutnya di bumi.

Most people who have followed this Prophet (may Allah’s blessings and peace be upon him) have done so not to acquire some material benefits.

Kebanyakan orang yang telah mengikuti Nabi ini (mungkin berkat Allah dan saw) telah melakukan sehingga tidak untuk memperoleh beberapa manfaat material.

Indeed many of his followers have suffered the greatest forms of harm and persecution as a result of following this Prophet.

Memang banyak pengikutnya menderita bentuk terbesar kerusakan dan penganiayaan sebagai akibat dari mengikuti Nabi ini.

Despite all this harm and persecution, this did not turn them back from his religion.

Meskipun semua ini merugikan dan penganiayaan, ini tidak mengubah mereka kembali dari agamanya.

My brethren! Saya saudara-saudara! All of this clearly indicates to anyone possessing any sense, that this Prophet was truly and really Allah’s messenger and that he was not just a man who claimed prophethood or spoke about Allah without knowledge.

Semua ini jelas menunjukkan kepada siapa pun yang memiliki akal, bahwa Nabi ini benar-benar dan benar-benar Rasul Allah dan bahwa dia tidak hanya seorang pria yang mengaku kenabian atau berbicara tentang Allah tanpa pengetahuan.

10. 10. With all this, Muhammad came with a great religion in its credal and legal make-up.

Dengan semua ini, Muhammad datang dengan agama besar dalam Surat credal dan hukum make-up.

Muhammad described Allah with qualities of complete perfection, and at the same time in a manner that is free of ascribing to Him any imperfection.

Muhammad menggambarkan Allah dengan sifat kesempurnaan lengkap, dan pada saat yang sama dengan cara yang bebas dari menganggap kepada-Nya ketidaksempurnaan apapun.

Neither the philosophers or the wise could ever describe Allah like such.

Baik filsuf atau orang bijak yang bisa menggambarkan Allah seperti tersebut.

Indeed it is impossible to imagine that any human mind could conceive of an existing being that possesses such complete ability, knowledge, and greatness; Who has subdued the creation; Who has encompassed everything in the universe, small or large; and Who possesses such perfect mercy.

Memang tidak mungkin untuk membayangkan bahwa setiap pikiran manusia bisa membayangkan yang ada adalah bahwa memiliki kemampuan lengkap seperti, pengetahuan, dan kebesaran; Siapa yang memiliki tenang penciptaan; Siapa yang mencakup segala sesuatu di alam semesta, kecil atau besar, dan Siapa yang memiliki seperti sempurna belas kasihan.

Nor is it in the ability of any human being to place a perfect law based upon justice, equality, mercy and objectivity for all human activity on earth like the laws that Muhammad brought for all spheres of human activity – like buying and selling, marriage and divorce, renting, testimony, custody, and all other contracts that are necessary to uphold life and civilization on earth.

Juga bukan pada kemampuan setiap manusia untuk menempatkan hukum yang sempurna berdasarkan keadilan, rahmat kesetaraan, dan obyektivitas untuk semua aktivitas manusia di bumi seperti hukum bahwa Muhammad membawa untuk semua bidang aktivitas manusia – seperti membeli dan menjual, perkawinan dan perceraian, menyewa, kesaksian, tahanan, dan semua kontrak lainnya yang diperlukan untuk menegakkan kehidupan dan peradaban di bumi.

11. 11. It is impossible that any person conceive wisdom,, morals, good manners, nobleness of characters as what this honorable Prophet (may Allah’s blessings and peace be upon him) brought.

Tidak mungkin bahwa setiap orang mengandung hikmat,, moral, sopan santun, keluhuran karakter seperti apa yang mulia Nabi ini (mungkin berkat Allah dan saw) dibawa.

In a full and complete manner, Muhammad spread a teaching regarding character and manners toward one’ parents, relatives, fiends, family, humanity, animals, plants and inanimate objects.

Dengan cara yang penuh dan lengkap, Muhammad menyebarkan ajaran mengenai karakter dan perilaku terhadap, salah satu ‘kerabat orang tua, iblis, keluarga, kemanusiaan, hewan, tumbuhan dan benda mati.

It is impossible for the human mind alone to grasp all of that teaching or come with a similar teaching.

Tidak mungkin bagi pikiran manusia sendiri untuk memahami semua ajaran itu atau datang dengan ajaran serupa.

All of that unequivocally indicates that this Messenger did not bring an) of this religion from his own accord, but that it was rather a teaching and inspiration that he received from the One Who created the earth and the high heavens above and created this universe in its miraculous architecture and perfection.

Semua itu jelas-jelas menunjukkan bahwa Rasulullah ini tidak membawa) dari agama dari kemauannya sendiri, tetapi itu lebih merupakan pengajaran dan inspirasi yang ia terima dari Satu Yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi di atas dan telah menciptakan alam semesta ini yang ajaib arsitektur dan kesempurnaan.

12. 12. The legal and credal make-up of the religion that the Messenger, Muhammad, (may Allah’s blessings and peace be upon him) brought resembles the engineering of the heavens and the earth.

Hukum dan credal make-up dari agama bahwa Rasulullah, Muhammad, (semoga berkat Allah dan saw) membawa menyerupai rekayasa langit dan bumi.

All of that indicates that He who created the heavens and the earth is the One Who sent down this great law and upright religion.

Semua itu menunjukkan bahwa Dia yang menciptakan langit dan bumi adalah Satu yang telah menurunkan hukum besar ini dan agama tegak.

The degree of inimitability of the Divine law that was sent down upon Muhammad is to the same degree of inimitability of the Divine creation of the heavens and earth.

Tingkat ditiru dari hukum Tuhan yang diturunkan kepada Muhammad adalah untuk tingkat yang sama ditiru dari penciptaan Ilahi dari langit dan bumi.

For just as humanity cannot create this universe, in the same manner humanity cannot bring forth a law like Allah’s law that He sent down upon His servant and messenger Muhammad (may Allah’s blessings and peace be upon him).

Karena sama seperti manusia tidak dapat menciptakan alam semesta ini, dalam kemanusiaan dengan cara yang sama tidak dapat mengeluarkan hukum seperti hukum Allah bahwa Dia mengutus ke atas hamba-Nya dan Rasul Muhammad (semoga rahmat Allah dan saw).

Sumber: http://www.islam-guide.com

NABI MUHAMMAD, KESUDAHAN PARA NABI, NABI TERAKHIR (KHATAMAN NABIYYIN)



Oleh: Simon Ali Yasir

[Akhir-akhir ini marak dibicarakan di pelbagai media masa baik elektronik maupun koran tentang aliran Al Qiyadah Al Islamiyah, pengakuan pendiri aliran tersebut (Ahmad Mushadiq) bahwa dirinya adalah nabi dan rasul menimbulkan pertentangan keyakinan umat Islam yang berdasar kepada Quran Suci dan Hadits. Tidak disangsikan lagi bahwasannya Nabi Suci Muhammad saw adalah Nabi terakhir, karena itu anggapan adanya nabi setelah Nabi Muhammad saw tentu saja bertentangan dengan Quran Suci dan Hadits, namun yang cukup menggelitik dibenak saya adalah bukankah mainstream umat Islam juga umumnya meyakini bahwa akan datang lagi Nabi setelah Nabi Muhammad saw yakni Nabi Isa as?. Dalam hal ini Hazrat Mirza Ghulam Ahmad beserta para muridnya yang setia (Ahmadiyah Lahore)  berkeyakinan teguh bahwa Nabi Suci Muhammad adalah Nabi terakhir dalam artian tidak akan datang lagi nabi, baik nabi baru maupun nabi lama, berikut ini adalah dalil-dalil dari Qur’an Suci dan Hadits]

 

Maha berkah Dia Yang telah menurunkan Furqon (Pemisah) kepada hamba-Nya, agar ia menjadi juru ingat bagi bangsa-bangsa” (25:1).

Segala sesuatu itu terjadi karena kebutuhan, Karena kenabian telah sempurna pada diri Nabi Suci Muhammad saw­. dan agama dalam Islam, maka sekarang dunia tidak lagi membutuhkan datangnya Nabi dan agama baru. Quran Suci menyatakan sebagai berikut:

Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang-orang kamu, melainkan ia adalah Utusan Allah dan penutup para nabi … (33:40)

1.1 Dasar Pengertian

Sabda Ilahi dalam Quran Suci (33:40) itu mengandung tiga pernyataan yang saling berkaitan, yaitu

  • 1. Nabi Suci Muhammad saw. bukan ayah salah seorang lelaki turunan siapapun.
  • 2. Nabi Suci Muhammad saw. adalah Utusan Allah.
  • 3. Nabi Suci Muhammad saw. adalah penutup para Nabi.

1.1.1 Masalah Abuwwat

Pernyataan pertama menegaskan bahwa garis keturunan kejasmanian pada beliau tertolak. Dengan turunnya ayat tersebut lenyaplah segala perhubungan sebagai bapak dengan anak antara Nabi Suci saw. dengan Zaid anak laki-laki Haritsah, Sebelum turunnya ayat tersebut Zaid anak angkat Nabi Saw. biasa dipanggil Zaid bin Muhammad. Ayat tersebut diturunkan sebagai jawaban atas tuduhan orang-orang kafir dan munafik yang memfitnah Nabi Suci saw. telah mengawini menantunya sendiri. Perkawinan Nabi dengan Siti Zainab seorang janda, bekas isteri Zaid bin Haritsah, oleh orang-orang kafir dan munafik digunakan sebagai kesempatan untuk menodai nama baik Nabi Suci saw. Mereka menuduh bahwa Nabi Suci mengawini menantunya sendiri. Tuduhan itulah yang menyebabkan turunnya ayat tersebut. Dengan demikian teranglah bahwa Nabi Suci saw. tidak mengawini bekas menantunya sendiri, sebab Zaid bukan anak Muhammad melainkan anak Haritsah. Perkawinan itu direstui oleh Allah (33:37, 38).

1.1.2 Masalah Risalah

Pernyataan kedua menegaskan bahwa beliau adalah Utusan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa beliau mempunyai kebapaan – (Abuwwat) yang lebih mulia, yaitu kebapaan dalam segi kerohanian. Hubungan seperti ini berlaku pula pada nabi-nabi yang lain terhadap pengikut pengikutnya. Hubungan seorang nabi dengan pengikut-pengikutnya itu bagaikan hubungan seorang ayah terhadap anak-anaknya. Sebagaimana seorang anak itu mempunyai beberapa sifat ayahnya, demikian pula pengikut-pengikut para nabi yang sempurna itu mempu­nyai pula beberapa sifat nabi yang diikuti pada dirinya. Misalnya: lihatlah sifat-sifat Musa as. pada umat Yahudi, sifat-sifat Yesus Kristus pada umat Kristen, sifat-sifat Budha pada umat Budhis, sifat-sifat Krisna pada umat Hindu, sifat-sifat Zarathustra pada umat Majusi, sifat-sifat Konfusius pada umat di negeri Cina dan lihatlah sifat-sifat Muhammad saw. pada umat Islam. Semua pengikut para Nabi Utusan Allah itu disebut anak-anaknya dalam arti kerohanian. Dengan demikian teranglah bahwa Nabi Suci saw. secara kejasmanian bukan ayah salah seorang lelaki turunan siapapun, tetapi beliau dalam silsilah kerohanian adalah ayah bagi seluruh umat Islam. Dan Siti Zainab bukan lagi seorang janda, bekas isteri seorang budak yang hina; akan tetapi seorang istri yang paling mulia. Siti Zainab adalah ibu orang-orang beriman.

1.1.3 Masalah Khatamunnabiyin

Pernyataan ketiga, beliau adalah QHootamu-n nabiyyiin (di Indonesiakan menjadi Khatamun nabiyin) artinya penutup para nabi, sesudah beliau tidak akan datang nabi lagi baik Nabi lama ataupun Nabi baru. Hal ini menunjukkan bahwa beliau menduduki martabat yang paling agung dan mulia daripada sekalian Nabi. Bahkan lebih mulia daripada sekalian makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Sebab garis keturunan (silsilah) kerohanian beliau berlaku terus sepanjang masa tidak dibatasi oleh ruang dan waktu seperti para Nabi sebelumnya[i]. Dalam 33:6 Allah menyatakan bahwa beliau adalah bapak rohani bagi segenap orang beriman sampai akhir zaman dan dalam 4:65 Allah menyatakan bahwa beliau adalah hakim dalam urusan rohani (agama) untuk selama-lamanya. Hal ini 1 ah yang menjadi dasar pengertian istilah khatamun nabiyin dalam arti penutup para Nabi.

Jadi turunnya ayat 40 surat Al Ahzab itu menyatakan maksud Allah SWT bahwa garis keturunan yang bersifat kejasmanian tidak diteruskan oleh beliau, melainkan Allah Ta’ala menjadikan beliau sebagai Nabi Utusan Allah yang terakhir. Dengan demikian silsilah yang bersifat kerohanian tak akan terputus untuk selama-lamanya di dunia ini. Hal ini menunjukkan bahwa silsilah kejasmanian itu dalam Islam tak ada harganya pada pandangan Allah SWT. Harga diri seseorang tidak , terletak kepada darah keturunan, kebangsaan dan kedudukan, tetapi terletak pada ketaqwaannya (49:13)

1.2 Arti Khatamunnabiyin

Arti khatamunnabiyin ialah penutup atau kesudahan para Nabi. Ini adalah arti yang sebenarnya, sebagaimana dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya serta para sahabat dan alim ulama Islam sepanjang zaman.

1.2.1 Menurut bahasa

Para alim ulama Islam dan ahli bahasa Arab mengartikan kata qHootamu-n nabiyyiin dengan makna penutup/penghabisan para nabi. Di bawah ini keterangan dari beberapa ahli.

Al Lihyani

Beliau adalah ahli bahasa Arab pada abad kedua dan ketiga Hijriah, menerangkan bahwa “qHootamul- qoum. qHootirnuhum”, artinya yang penghabisan dari mereka itu. (Lisanul Arab).

Abdul Ta’idz Sayid Muhammad Murthadha al Husaini

Beliau menerangkan bahwa “qHootamu-l qoum” berarti “penghabisan dari suatu kaum” (Tajul Arus}.

E-W. Lane

Beliau adalah ahli bahasa Arab, telah menerangkan bahwa perkataan “qHootam” dan “qHootim” berarti bahagian yang penghabisan daripada sesuatu barang dan “qHootam” berarti stempel atau cap penutup (Arabic – English Lexicon, hlm. 703).

Zamakhsyari

Beliau adalah mufassir kenamaan (467-538 H), karyanya yang termasyhur ialah Tafsir Quran Kasysyaf. Dalam kitab “Asasul Balaghah” beliau menerangkan bahwa “nabiyyan, qHootama-n nabiyyiin” artinya seorang nabi yang mencap (menutup) segala Nabi (dari Abdullah bin Mas’ud).

Abu Ja’far Muhammad ibnu Jarir at Thabari

Beliau adalah ahli tarih dan tafsir termasyhur, telah menerangkan bahwa kata “qHootama-n nabiyyiin” Itu mempunyai arti cap nabi-nabi (menurut Hasan Asim) dan “qHootima-n nabiyyiin” berarti penghabisan daripada segala nabi (Tafsir at Thabari, jus 22, him. 11).

Imam Raghib al Isfahani

Beliau adalah ahli kamus bahasa Arab, menerangkan sebagal berikut: “(Nabi Muhammad) qHootama nabiyyiin, karena ia menutup nubuwwat (kenabian) yakni ia cukupkan kenabian itu dengan kedatangannya” (Al Mufradat fi Gharibil Quran).

1.2.2 Menurut Quran Suci

Quran Suci sendiri juga menguraikan bahwa khatamun nabiyyin artinya penutup nabi-nabi. Sesudah Nabi Suci Muhammad saw tak akan datang nabi lagi, baik nabi lama atau nabi baru. Ada puluhan ayat yang menunjukkan bahwa sesudah Nabi Suci Muhammad saw tak diperlukan lagi datangnya seorang nabi, baik nabi lama ataupun nabi baru. Adapun ciri-cirinya bahwa beliau sebagai nabi yang terakhir Ialah:

1. Diutus untuk semua bangsa

Allah Ta’ala dalam Quran Suci berfirman sebagai berikut:

“Maha-berkah Dia Yang telah menurunkan Pemisah kepada hamba-Nya, agar ia menjadi juru ingat bagi sekalian bangsa” (25:1),

Lagi firman-Nya:

Artinya: Katakanlah: Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah Utusan Allah kepada kamu semuanya (7:158)

Dua ayat ,suci tersebut di atas menegaskan bahwa Nabi Suci Muhammad saw menggantikan empat nabi nasional. Dengan datangnya Nabi Suci saw Lembaga Kenabian dibuat universal (sejagat) dalam arti yang sebenarnya. Lembaga Kenabian Nasional yang ruang lingkup ajarannya hanya terbatas bagi suatu bangsa tertentu telah berakhir. Pada zaman Nabi Suci saw sudah datang waktunya seorang nabi untuk semua bangsa di dunia, tanpa membedakan batas kedaerahan, perbedaan warna kulit, suku bangsa, bahasa dan negara. Tiap-tiap bangsa di dunia yang mempunyai sejarah agama yang berbeda-beda telah mempersatukan dalam satu yaitu Islam. Maka dari itu ajaran Islam dimulai dengan “segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam (sekalian bangsa)” (1:1). Dengan demikian segala bentuk susunan kata seperti “Tuhannya Israil” (I Samuel 25:32); yang membatasinya sebagai Tuhan dari suatu bangsa, telah ditinggalkan oleh Quran Suci dan dipergunakan kata-kata “Robbu-1 “aalamiin” (Tuhan sekalian bangsa) untuk menunjukkan bahwa ajaran Quran Suci diperuntukkan bagi segala bangsa di dunia. Para nabi sebelum Nabi Suci saw tiada seorang pun yang menyatakan diri kepada dunia, bahwa kedatangannya untuk seluruh kemanusiaan. Sebagai contoh ialah Nabi Isa as, seorang Nabi nasional yang terakhir. Kepada seorang wanita kanaan menyatakan sebagai berikut: “Aku hanya disuruh kepada seluruh domba yang sesat dari kaum Bani Israil Tidak patut diambil roti dari anak-anak lalu mencampakkannya kepada anjing” (Matius 15:26).

Jadi kesudahan kenabian pada diri Nabi Suci saw adalah dasar daripada persatuan dunia. Dunia tidak membutuhkan lagi datangnya nabi dan agama baru yang akan mengadakan umat yang baru,

2. Beriman kepada semua Kitab suci dan para nabi

Tanda kedua daripada kesudahan kenabian pada diri Nabi Suci Muhammad saw ialah kewajiban para pengikutnya untuk mengimankan kepada semua kitab suci dari para nabi tanpa membeda-bedakan antara yang satu di antara mereka (2:136; 3:83; dan lain-lain). Para nabi terdahulu tak ada yang mewajibkan kepada para pengikutnya untuk mengimankan kepada para Nabi Utusan Allah pada bangsa lain. Akan tetapi Quran Suci menerangkan bahwa mereka yang beriman ialah:

Dan yang beriman kepada yang diturunkan kepada engkau dan apa yang diturunkan sebelum engkau (2:4) Kalimat maa unzila min qoblika” itu menunjukkan bahwa sesudah Nabi Suci Muhammad saw tidak akan diturunkan lagi wahyu kenabian. Wahyu kenabian hanya diturunkan sebelum Nabi Suci saw saja.

Umat Islam wajib mengimankan kepada semua kitab suci dan semua nabi, karena para nabi itu datang menyiapkan pengikut mereka untuk menerima guru jagat, yaitu Nabi Suci Muhammad saw. Semua nabi telah mendapatkan perjanjian dari Allah dan menerima sebuah kitab suci dan nubuwwat (ramalan) datangnya Nabi Agung yang akan membenarkan ajaran mereka (3:80-84)[ii]

3. Adanya petunjuk yang sempurna

Tujuan Allah membangkitkan seorang nabi untuk semua bangsa ialah untuk menyatakan kehendak-Nya bahwa agama Allah telah sempurna, ajarannya memenuhi segala kebutuhan manusia pada setiap zaman. Allah Ta’ala berfirman sebagai berikut:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kamu Agama kamu dan Aku lengkapkan nikmat-Ku kepada kamu dan Aku pilihkan untuk kamu Islam sebagai agama (5:3),

Jadi kesempurnaan agama berhubungan erat dengan kesempurnaan kenabian. Dengan datangnya Islam, tidak diperlukan datangnya nabi lagi, baik nabi lama ataupun nabi baru, Sebab kalau masih tetap akan datang nabi lagi, pasti akan menimbulkan golongan dan umat baru. Hal ini akan menggoyahkan persatuan dunia yang dituju oleh Islam yang ajarannya melingkupi segala macam kebutuhan manusia sepanjang zaman

4. Adanya contoh yang sempurna

Nabi Suci saw bukan hanya sebagai Nabi yang terakhir dan pembawa agama yang sempurna saja, melainkan pula sebagai contoh yang sempurna. Oleh karena itu barang siapa yang ingin memurnikan tujuan hidupnya dan ingin makrifat kepada Allah SWT cukup mencontoh tingkah laku Nabi Suci saw saja. Allah Ta’ala sendiri telah menyatakan sebagai berikut:

Sesungguhnya kamu mempunyai dalam diri Rasulullah teladan yang baik bagi orang yang mendambakan (bertemu) dengan Allah dan Hari Akhir, dan yang ingat sebanyak-banyaknya kepada Allah (33:21).

Di tempat yang lain Allah berfirman sebagai berikut:

Dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang agung (68:4)

Lagi firman-Nya:

Utusan dari Allah, yang membacakan[iii] halaman-halaman yang suci, Yang di dalamnya berisi Kitab-kitab yang benar,(98:2-3)

Ayat-ayat suci tersebut di atas menjelaskan bahwa hidup Nabi Suci saw adalah gambaran yang sempurna dari segala ajaran kitab suci. Keluhuran dan kesempurnaan akhlak beliau disaksikan oleh sejarah. Lawan-lawan yang hendak membunuh beliau memberi gelar Al Amin artinya orang yang dapat dipercaya. Sehingga banyak di antara mereka yang memeluk agama Islam karena tertarik kepada ketinggian akhlak Nabi Suci saw, sebagaimana dinyatakan oleh Quran Suci sebagai berikut:

Kerap kali orang-orang kafir menginginkan sekiranya mereka dahulu Muslim (15:2)

Siti Aisyah, seorang isteri yang paling mesra hubungannya dengan beliau mengatakan: “Akhlak-akhlak beliau adalah Al-Quran”. Oleh karena itu beliaulah satu-satunya orang yang berhak berkata:

Jika kamu cinta kepada Allah, ikutilah aku; Allah akan mencintai kamu,409 dan melindungi kamu dari dosa. Dan Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih (3:30).

5. Adanya penjagaan petunjuk yang telah sempurna

Sebagai bukti kelima bahwa kenabian telah berakhir pada diri Nabi Suci saw ialah adanya jaminan Ilahi terhadap kemurnian petunjuk yang telah diwahyukan kepada Nabi Suci Muhammad saw. Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Suci sebagai berikut:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Peringatan, dan sesungguhnya Kami adalah penjaganya (15:9).

Penjagaan Ilahi itu tidak diserahkan kepada manusia, melainkan terletak pada tangan Allah SWT sendiri (perhatikan kata-kata “wainnaa lahuu lakHaafiizHuun” artinya dan sesungguhnya Kami (Allah) adalah Penjaganya). Dengan demikian Quran Suci atau agama Islam tak akan mengalami nasib seperti kitab suci atau agama terdahulu. Kitab suci dan agama terdahulu baru beberapa tahun sepeninggal pembawanya telah mengalami perubahan dari pada bentuk asli, karena “mereka mengganti kata-kata dari pada tempatnya” (4:46). Sebagai contoh kitab Injil, yang disampaikan kepada Bani Israil 600 tahun sebelum Quran Suci diturunkan, dalam tempo beberapa puluh tahun sepeninggal Isa Almasih tidak dapat diketemukan lagi dalam bentuknya yang asli sebagai ajaran agama dari Nabi Allah. Telah menjadi lebih dari empat Injil yang ajarannya saling bertentangan. Hal semacam ini tidak akan terjadi pada Quran Suci sebagai petunjuk yang sempurna yang diperuntukkan kepada semua bangsa dan zaman.

6. Penjaga itu Mujadid, bukan Nabi

Penjaga petunjuk yang telah sempurna itu bukan Nabi. Dalam terminologi islam, penjaga itu disebut Mujadid artinya Pembaharu yaitu orang yang ditugaskan oleh Allah untuk mengadakan pembaharuan (tajdid) dalam Islam. Tajdid ialah usaha membersihkan kotoran-kotoran dan kesesatan-kesesatan yang masuk dalam Islam dan menyajikan gambaran Islam yang sebenarnya yang selaras dengan tuntutan zaman. Para Mujaddid itu termasuk “ulil-amri minkum”, sebagaimana dinyatakan oleh Quran Suci sebagai berikut:

“Wahai orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah, dan ta’atlah kepada Utusan, dan kepada yang memegang kekuasaan di antara kamu; lalu jika kamu bertengkar mengenai suatu hal, kembalikanlah itu kepada Allah dan Utusan” (4:59).

Dua kali perkataan Rasul pada ayat tersebut di atas ialah Nabi Suci Muhammad saw. Petunjuk jalan kebenaran yang akan selalu datang kepada umat Islam setiap ditimpa kerusakan termasuk ulil-amri minkum (yang memegang kekuasaan di antara kamu). Ulil-amri itu bukan nabi. Termasuk ulil-amri ialah para mujadid yang datang pada permulaan tiap-tiap abad. Jadi mujadid itu bukan nabi, sebab Muhammad saw adalah Nabi yang terakhir. Maka dari itu orang dapat berselisih paham tentang datangnya ulil-amri, sesudah Nabi Suci Muhammad saw. karena ulil-amri itu bukan nabi. Itulah sebabnya maka dalam 4:59 tersebut di atas ditegaskan “jika kamu bertengkar mengenai sesuatu hal, kembali

7. Mujadid adalah khalifatun Nabi

Bukti ketujuh bahwa kenabian telah berakhir pada diri Nabi Suci Muhammad saw ialah adanya janji Ilahi kepada umat Islam bahwa Allah SWT akan selalu membangkitkan

Allah berfirman:

Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan berbuat baik, bahwa Ia pasti akan membuat mereka penguasa di bumi sebagaimana Ia telah membuat orang-orang sebelum mereka menjadi penguasa

Hanya bedanya, khalifah-khalifah Nabi Musa as pada Bani israil adalah para nabi Utusan Allah, Allah berfirman: “Dan kami menyusulkan sesudah Musa dengan beberapa Utusan.(2:87); sedangkan khalifah Nabi Suci Muhammad saw bukan nabi, tetapi hanya seorang ulama Islam yang seperti Nabi Bani Israel, Nabi Suci bersabda: “ulama-ulama umatku seperti nabi-nabi bani Israel”. Mereka lebih termasyhur dengan sebutan Mujadid

1.2.3 Menurut nabi Muhammad saw

Sekarang perhatikanlah arti khatamunnabiyyin menurut Nabi Suci Muhammad saw sendiri. Dengan panjang lebar beliau menjelaskan bahwa Khatamun nabiyyin artinya penutup para nabi-nabi. Di bawah ini sebagian dari pernyataan-pernyataan beliau.

1. Laa nabiyya ba’di (Tak ada nabi sesudahku)

Hadits Nabi meriwayatkan sebagai berikut:

Rasulullah pergi ke medan perang Tabuk dan meninggalkan baginda Ali. Maka Ali berkata: Mengapa saya ditinggalkan buat menjaga anak-anak dan perempuan-perempuan? Nabi bersabda:Tidakkah engkau ridha jadi menggantiku sebagaimana Harun menjadi pengganti Musa, hanya bedanya tidak ada nabi lagi sesudahku (Bukhari)

Hadits lain meriwayatkan sebagai berikut:

Sesungguhnya akan datang pada umatku tiga puluh penipu. Tiap-tiap orang dari mereka akan mengaku bahwa ia seorang nabi dan saya adalah penutup para nabi dan tidak ada lagi nabi sesudahku (Bukhari)          .

2. Nabi adalah Al “Aaqib (penghabisan)

Nabi Suci saw pernah menyatakan bahwa dirinya adalah Al “aaqib artinya yang penghabisan, yaitu penghabisan para nabi (Lane’s Lexicon, hlm. 2103). Suatu Hadis Nabi meriwayatkan sebagai berikut:

Artinya:Saya mempunyai lima nama: Saya ini Muhammad, Ahmad dan saya Al Mahi (yang menghapuskan) karenanya Allah menghapuskan kekafiran, dan saya ini Al Hasyir (Yang mengumpulkan) karena yang mengumpulkan segala manusia mengikuti jejakku, dan saya bernama pula Al ‘Aqip (Yang penghabisan karena sesudahnya tak akan datang nabi lagi (Bukhari-Muslim)

3. Nabi laksana batu gedung

Dalam Hadis banyak kita temukan beberapa lukisan, bahwa Nabi Suci Muhammad saw sebagai batu penjuru bagi sebuah gedung. Batu itulah yang dipasang paling akhir untuk menyempurnakan bangunan tersebut. Nabi Suci saw pernah bersabda sebagai berikut:

Artinya:

“Sesungguhnya perbandinganku dengan para nabi sebelumku itu sebagai seorang yang membikin sebuah rumah yang dibuat indah sekali dan rapi pula, kecuali sebuah batu yang ditempatkan di penjuru: maka orang-orangpun mulailah berjalan mengelilingi rumah itu, dengan takjub mereka berkata: Mengapa batu ini tidak ditempatkan? Beliau bersabda: Sayalah batu itu dan sayalah penutup para nabi (Bukhari)

4. Umarlah yang patut jadi nabi

Nabi Suci saw pernah bersabda: “Sekiranya ada lagi nabi sesudahku, dia itu adalah Umar” (Tirmidzi). Lagi Nabi Suci saw pernah bersabda sebagai berikut:

Sekiranya aku tak dibandingkan ditengah-tengah kamu, niscaya umarlah yang dibangkitkan “(jadi Nabi Utusan Allah)” (Mirah, jilid 5, hlm 539)

Berdasarkan dua Hadis Nabi tersebut di atas, teranglah bahwa Nabi Suci saw adalah penutup para nabi. Buktinya, Umar bin Khathab tak pernah menyatakan diri sebagai nabi.

5. Yang ada hanya khalifah nabi

Nabi Suci saw menerangkan bahwa sesudah beliau tak akan datang nabi lagi, yang akan. selalu datang ialah khalifah-khalifah yang banyak. Sabdanya sebagai berikut:

Adapun Bani Israil itu dipimpin oleh Nabi-nabi. Setiap seorang nabi wafat maka datanglah nabi yang lain, dan sesungguhnya sesudah saya tidak akan datang nabi lagi, tetapi akan ada khalifah-khalifah yang banyak (Bukhari)

6. Khalifah, seperti nabi bani Israil

Nabi ‘Suci saw menerangkan bahwa khalifah-khalifah yang banyak itu adalah ulama Islam yang seperti nabi bani Israil. Mereka dibangkitkan pada permulaan tiap-tiap abad untuk menjaga kemurnian agama Islam. Nabi Suci saw menerangkan sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah akan selalu membangkitkan pada umat (Islam) ini pada tiap-tiap permulaan abad seseorang yang akan memperbaiki agamanya baginya (Abi Daud).

1.2.4 Menurut sahabat Nabi

Para sahabat adalah orang yang menerima sinar rohani langsung dari Nabi Suci saw. Merekalah yang dapat menghayati semua ajaran yang disampaikan oleh Nabi Suci saw. Mereka mempunyai i’tiqad bahwa Nabi Suci saw adalah Nabi yang terakhir, sesudah beliau tak akan datang Nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru, membawa syariat ataupun tidak. suatu atsar sahabat meriwayatkan sebagai berikut:

Telah berkata Ismail bin Abi Khalid: saya pernah bertanya kepada Abdullah bin Abi Aufa: Apakah tuan lihat Ibrahim anak Rasulullah? Jawabnya Ibrahim telah wafat selagi masih kecil. Jika ditakdirkan ada nabi sesudah nabi Muhammad niscaya hidup anaknya, tetapi tidak akan datang nabi sesudah beliau (Ibnu Majah)

Lagi ada suatu riwayat sebagai berikut:

Ada orang bertanya kepada Anas. Berapa umur Ibrahim? Ia menjawab Ibrahim telah memenuhi nubuatan, dan jika ia hidup, niscaya ia jadi nabi, tetapi ia tidak hidup, karena nabi kamu (Muhammad saw) adalah Nabi yang penghabisan” (Ahmad).

1.2.5 Menurut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah Mujadid abad ke-14 Hijriah, yang bergelar Masih dan Mahdi. Banyak orang menuduh beliau bahwa beliau tidak percaya akan berakhirnya kenabian pada diri Nabi Muhammad saw[iv]. Tuduhan ini tidak benar! Di bawah ini adalah penjelasan beliau tentang arti khatamun nabiyyin. Katanya:

“Tidakkah engkau ketahui bahwa Tuhan Yang Maha penyayang dan Pemurah telah namakan Nabi kita saw dengan Khatamal ambiya” dengan tidak pakai kecuali, dan ditafsirkan perkataan itu oleh Nabi kita sendiri dengan perkataannya: laa nabiyya ba’di, yakni tidak ada seorang nabi sesudahku dengan terang. Jika kita bolehkan lahirnya satu nabi sesudah Nabi Suci Muhammad saw berarti kita membolehkan terbukanya pintu wahyu kenabian sesudah tertutupnya. Yang demikian ini suatu omongan yang jelek. Bagaimana bisa jadi datang seorang nabi sesudah Nabi kita saw padahal terputus wahyu nubuwwat sesudah wafatnya Nabi, dan Allah telah mengakhiri sekalian nabi dengan dia.” (Hamamatul Busyra, him. 74-77).

Pada kitabnya yang lain beliau menegaskan sebagai berikut:

“Saya mempunyai kepercayaan yang teguh bahwa Nabi kita saw ialah Nabi yang penghabisan dan tak akan datang nabi lagi sesudah beliau kepada umat ini, baik nabi baru atau nabi lama.” {Nisyan-i-Asmani, him. 28).

1.2.6 Menurut bukti sejarah

Sejarah kemanusiaan juga membuktikan bahwa silsilah kenabian telah terputus. Sudah lebih dari 1.400 tahun sesudah Nabi Suci saw tidak seorang pun yang dibangkitkan sebagai Nabi Utusan Allah. Dalam sejarah dunia hanya satu kali terjadi fatrah (kosong kenabian). Selama 600 tahun tiada seorang nabi pun yang dibangkitkan. Allah Ta’ala berfirman sebagai berikut:

Wahai kaum Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Utusan Kami yang memberi penjelasan kepada kamu setelah terjadinya penghentian para Utusan, agar kamu tak berkata: Kami tak kedatangan orang yang mengemban kabar baik dan juru ingat (5:19).

Sehubungan dengan terputusnya para Utusan itu Nabi Suci saw bersabda sebagai berikut: “Laisa bainii wabainahuu nabiyyun” artinya: “Antara aku dengan dia (lsa Almasih) tak ada seorang nabipun”. (Bukhari).

Jadi waktu yang sekian lama tiada seorang nabi pun yang dibangkitkan Allah itu suatu pertanda akan datangnya seorang Utusan Allah untuk seluruh umat manusia. Selama 600 tahun dunia menanti-nanti kedatangan nabi dunia itu. Sebelum itu dalam sejarah dunia nabi-nabi datang dalam jangka waktu yang lebih pendek. Dengan demikian, jelaslah bahwa kenabian telah diakhiri pada diri Nabi Suci Muhammad saw. Jika sampai ribuan tahun orang menanti-nantikan datangnya seorang nabi, maka nabi yang datang kemudian itu akan lebih besar daripada Nabi Suci Muhammad saw sendiri. Hal ini bertentangan dengan sebutan Nabi Suci sebagai khatamun nabiyyin, nabi yang terbesar dan terakhir. Sejarah mencatat, sesudah Nabi Suci Muhammad saw di dunia ini tiada seorang

 


 

[i] Misalnya Quran Suci 29:14 menerangkan bahwa usia Nabi Nuh as 950 tahun. Hal ini berarti bahwa umur kenabian (syariat) Nabi Nub as 950 tahun. Jadi kenabian seseorang Utusan Allah itu berakhir dengan bangkitnya seorang Nabi yang lain.

[ii] Ramalan kedatangan Nabi Suci Muhammad saw oleh Nabi-nabi Israil tersebut dalam: Bilangan 18:15-22; 33:1-3; Kejadian 12:2-3; 16:8-16 17:4-14;20:21)l8:21; Yesaya 42:1-16 Yermia 31: 31-32; Habakuk 3:3-6; Daniel 2:38-45; Yahya 14:15-17; 16:12-13 dan Lain-lain. Zarathustra meramalkan dalam Dasatir 14. Ramalan Weda dapat kita baca dalam Bhavishya-Purana, Purwa 3, Khand 3 Shalob 3,7,8, Krisna meramalkan dalam Bhagawadgita IV:7-8. Ramalan Budha dapat kita baca dalam Digha Nikaya 111:76

[iii] Membacakan sebagai terjemahan dari kata “yatlu“, akar katanya tala arti aslinya mengikutinya atau berbuat sesuai dengan (kitab suci ) itu (Ibnu Abbas). Tugas seorang Nabi selain menyampaikan wahyu Ilahi ialah menerangkan dan memberi contoh bagaimana mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari

[iv] Sebagian besar pengikut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang ekstrem berpendapat bahwa Nabi Suci Muhammad saw bukan Nabi yang terakhir. Mereka berpendapat bahwa pintu kenabian tetap terbuka untuk selama-lamanya sampai hari Kiamat.

 

 

Murtad Dalam Islam



Posted on Jumat, 26 Oktober 2007 by erwan

Oleh: Maulana Muhammad Ali

[Benarkah hukuman Murtad dalam Islam adalah halal darahnya? Bukankah Tak ada paksaan dalam Agama Islam, berikut ini kami sajikan artikel dari Islamologi untuk menghilangkan kesalah-pahaman bahwa Islam adalah agama kekerasan agama intoleransi serta agama yang brutal. Untuk melengkapi pengetahuan tentang masalah ini ada baiknya juga membaca artikel: Jihad dan Jizyah ]

Kata murtad berasal dari kata irtadda menurut wazan ifta’ala, berasal dari kata radda yang artinya: berbalik. Kata riddah dan irtidad dua-duanya berarti kembali kepada jalan, dari mana orang datang semula. Tetapi kata Riddah khusus digunakan dalam arti kembali pada kekafiran, sedang kata irtidad digunakan dalam arti itu, tapi juga digunakan untuk arti yang lain (R), dan orang yang kembali dari Islam pada kekafiran, disebut murtad. Banyak sekali terjadi salah paham terhadap masalah murtad ini, sama seperti halnya masalah jihad. Pada umumnya, baik golongan Muslim maupun non-Muslim, semuanya mempunyai dugaan, bahwa menurut Islam, kata mereka, orang murtad harus dihukum mati. Jika Islam tak mengizinkan orang harus dibunuh karena alasan agama, dan hal ini telah diterangkan di muka sebagai prinsip dasar Islam, maka tidaklah menjadi soal tentang kekafiran seseorang, baik itu terjadi setelah orang memeluk Islam ataupun tidak. Oleh sebab itu, sepanjang mengenai kesucian nyawa seseorang, kafir dan murtad itu tak ada bedanya.

Persoalan murtad menurut Qur’an

Qur’an Suci adalah sumber syari’at Islam yang paling utama; oleh sebab itu akan kami dahulukan. Soal pertama, dalam Qur’an tak ada satu ayat pun yang membicaraan perihal murtad secara kesimpulan. Irtidad atau perbuatan murtad yang terjadi karena menyatakan diri sebagai orang kafir atau terang-terangan mengingkari Islam, ini tak dapat dijadikan patokan, karena adakalanya orang yang sudah mengaku Islam, mempunyai pendapat atau melakukan perbuatan yang menurut penilaian ulama ahli fiqih, bukanlah bersumber kepada Islam. Mencaci-maki seorang Nabi atau menghina Qur’an, acapkali dijadikan alasan untuk memperlakukan seseorang sebagai orang murtad, sekalipun ia secara sungguh-sungguh mengaku sebagai orang beriman kepada Qur’an dan Nabi. Soal kedua, pengertian umum bahwa Islam menghukum mati orang murtad, ini tak ada dalilnya dalam Qur’an Suci. Dalam Encyclopaedia of Islam, tuan Heffeming mengawali tulisannya tentang masalah murtad dengan kata-kata: “Dalam Qur’an, ancaman hukuman terhadap orang yang murtad hanya akan dilakukan di Akhirat saja”. Dalam salah satu wahyu Makkiyah terakhir, terdapat uraian: “Barangsiapa kafir kepada Allah sesudah beriman -bukannya ia dipaksa, sedang hatinya merasa tentram dengan iman, melainkan orang yang membuka dadanya untuk kekafiran-, mereka akan ditimpa kutuk Allah, dan mereka akan mendapat siksaan yang pedih” (16:106). Dari ayat ini terang sekali bahwa orang murtad akan mendapat siksaan di Akhirat, dan hal ini tak diubah oleh wahyu yang diturunkan belakangan tatkala pemerintah Islam telah berdiri, setelah Nabi Suci hijrah ke Madinah. Dalam salah satu wahyu Madaniyah permulaan, orang murtad dibicarakan sehubungan dengan berkobarnya pertempuran yang dilancarkan oleh kaum kafir dengan tujuan untuk memurtadkan kaum Muslimin dengan kekuatan senjata: Dan mereka tak akan berhenti memerangi kamu sampai mereka mengembalikan kamu dari agama kamu, jika mereka dapat. Dan barangsiapa di antara kamu berbalik dari agamanya (yartadda) lalu ia mati selagi ia kafir, ini adalah orang yang sia-sia amalnya di dunia dan di Akhirat. Dan mereka adalah kawan api, mereka menetap di sana (2:217).[1] Maka apabila orang menjadi murtad, ia akan dihukum karena ia kembali mengerjakan perbuatan jahat lagi, tetapi ia tidaklah dihukum di dunia, melainkan di Akhirat. Adapun perbuatan baik yang ia lakukan selama menjadi Muslim, menjadi sia-sia karena ia mengambil jalan buruk dalam hidupnya.

Surat ketiga yang diturunkan pada tahun ketiga Hijriah, membicarakan berulangkali orang yang kembali kepada kekafiran setelah mereka memeluk Islam, namun hukuman yang diuraikan di dalam Surat tersebut akan diberikan di Akhirat. Qur’an berfirman: “Bagaimana Allah memimpin kaum yang kafir sesudah mereka beriman, dan sesudah mereka menyaksikan bahwa Rasul itu benar; dan sesudah datang kepada mereka tanda-bukti yang terang (3:85). “Pembalasan mereka ialah, mereka akan ditimpa laknat Allah (3:86). “Terkecuali mereka yang bertobat sesudah itu, dan memperbaiki kelakuan mereka” (3:88). “Sesungguhnya orang yang kafir sesudah mereka beriman, lalu mereka bertambah kafir, tobat mereka tak akan diterima (3:89).

Adapun dalil yang paling meyakinkan bahwa orang murtad tidak dihukum mati, ini tercantum dalam rencana kaum Yahudi yang diangan-angankan selagi mereka hidup di bawah pemerintahan Islam di Madinah. Qur’an berfirman: “Dan golongan kaum Ahli Kitab berkata: Berimanlah kepada apa yang diturunkan kepada arang-orang yang beriman pada bagian permulaan hari itu, dan kafirlah pada bagian terakhir hari itu” (3:71). Bagaimana mungkin orang yang hidup di bawah pemerintahan Islam dapat meng-angan-angankan rencana semacam itu yang amat merendahkan martabat Islam, jika perbuatan murtad harus dihukum mati? Surat al-Maidah adalah Surat yang diturunkan menjelang akhir hidup Nabi Suci, namun dalam Surat itu perbuatan murtad dibebaskan dari segala hukuman dunia: “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan kaum yang Allah cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada-Nya (5:54). Sepanjang mengenai Qur’an Suci, tak ada satu ayat pun yang menerangkan bahwa orang murtad harus dihukum mati, bahkan ayat yang membicarakan perbuatan murtad tak membenarkan adanya hukuman semacam itu, dan tak dibenarkan pula oleh ayat 2:256 yang ini merupakan Magna Charta bagi kemerdekaan beragama yang berbunyi: “laa ikraha fiddiin – Tak ada paksaan dalam agama.

Persoalan murtad menurut Hadits

Marilah kita sekarang meninjau uraian Hadits, yang dalil Hadits inilah yang dipakai oleh kitab-kitab fiqih sebagai dasar adanya hukuman mati bagi kaum murtad. Tak sangsi lagi bahwa uraian Hadits yang bersangkutan mencerminkan uraian yang timbul belakangan, namun demikian, jika Hadits itu kita pelajari dengan teliti, sampailah pada kesimpulan, bahwa perbuatan murtad tidaklah dihukum, terkecuali apabila perbuatan murtad itu dibarengi dengan peristiwa lain yang menuntut suatu hukuman bagi pelakunya. Imam Bukhari yang tak sangsi lagi merupakan penulis Hadits yang paling teliti dan paling hati-hati, amatlah tegas dalam hal ini. Dalam Kitab Bukhari terdapat dua bab yang membahas masalah murtad; yang satu berbunyi: Kitabul-muharibin min ahlil-kufri wariddah, artinya Kitab tentang orang yang berperang (melawan kaum Muslim) dari golongan kaum kafir dan kaum murtad. Adapun yang satu lagi berbunyi: Kitab istita-bal-mu’anidin wal-murtadin wa qitalihim, artinya Kitab tentang seruan bertobat bagi musuh dan kaum murtad dan berperang melawan mereka. Dua judul itu sudah menjelaskan sendiri. Judul yang pertama, menerangkan seterang-terangnya bahwa yang dibicarakan hanyalah kaum murtad yang berperang melawan kaum Muslimin. Adapun judul yang kedua, hubungan kaum murtad dengan musuh-musuh Islam. Itulah yang sebenarnya menjadi pokok dasar seluruh persoalan; hanya karena salah paham sajalah maka dirumuskan suatu ajaran yang bertentangan dengan ajaran Qur’an yang terang-benderang. Pada waktu berkobarnya pertempuran antara kaum Muslimin dengan kaum kafir, kerapkali terjadi orang menjadi murtad dan bergabung dengan musuh untuk memerangi kaum Muslimin. Sudah tentu orang semacam itulah yang harus diperlakukan sebagai musuh, bukan karena murtadnya, melainkan karena berpihak kepada musuh. Lalu ada pula kabilah yang tak berperang dengan kaum Muslimin dan apabila ada orang murtad dan bergabung dengan mereka, orang tersebut tak diapa-apakan. Orang semacam itu disebut seterang-terangnya dalam Qur’an Suci: “Terkecuali orang-orang yang bergabung dengan kaum yang mempunyai ikatan perjanjian antara kamu dan mereka, atau orang-orang yang datang kepada kamu sedangkan hati mereka mengerut karena takut memerangi kamu atau memerangi golongan mereka sendiri. Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia beri kekuatan kepada mereka melebihi kamu, sehingga mereka berani memerangi kamu. Lalu jika mereka mengundurkan diri dari kamu, dan tak memerangi kamu,dan menawarkan perdamaian kepada kamu, maka Allah tak memberi jalan kepada kamu untuk melawan mereka (4:90).

Satu-satunya peristiwa yang disebutkan dalam Hadits sahih mengenai pemberian hukuman kepada kaum murtad ialah peristiwa segolongan orang dari kabilah ‘Ukul yang memeluk Islam dan ikut hijrah ke Madinah, tetapi mereka tak merasa cocok dengan udara di Madinah, maka dari itu Nabi Suci menyuruh mereka supaya tinggal di suatu tempat di luar Madinah, yang di sana dipelihara unta perahan milik pemerintah, sehingga mereka dapat menikmati udara terbuka dan minum susu. Mereka menjadi sehat sekali, tetapi kemudian mereka membunuh penjaganya dan membawa lari untanya. Kejadian itu dilaporkan kepada Nabi Suci, lalu sepasukan tentara diperintah untuk mengejar mereka, dan mereka dihukum mati (Bu. 56:152).[2] Riwayat itu terang sekali bahwa bukan dihukum mati karena murtad, melainkan karena membunuh si penjaga unta.

Banyak sekali orang yang hanya menekankan satu Hadits yang berbunyi: “Barangsiapa murtad dari agamanya. Bunuhlah dia” (Bu. 88:1). Tetapi mengingat apa yang diungkapkan dalam Kitab Bukhari bahwa yang dimaksud murtad ialah orang yang berbalik memerangi kaum Muslimin, dan menghubungkan nama mereka dengan nama-nama musuh Islam, maka terang sekali bahwa yang dimaksud oleh Hadits tersebut ialah orang yang mengubah agamanya dan bergabung dengan musuh-musuh Islam lalu bertempur melawan kaum Muslimin. Hanya dengan pembatasan dalam arti itulah, maka Hadits tersebut dapat disesuaikan dengan Hadits lain, atau dengan prinsip-prinsip yang digariskan oleh Qur’an Suci. Sebenarnya, kata-kata Hadits tersebut begitu luas sehingga mencakup segala pergantian agama, agama apa saja. Jika demikian, maka orang non-Muslim yang masuk Islam, atau orang Yahudi yang masuk Kristen, harus dibunuh. Terang sekali bahwa uraian semacam itu tak dapat dilakukan kepada Nabi Suci. Maka Hadits tersebut tak dapat diterima begitu saja tanpa diberi pembatasan dalam artinya.

Hadits lain yang membicarakan pokok persoalan yang sama menjelaskan arti Hadits tersebut di atas. Hadits ini menerangkan bahwa orang Islam hanya boleh dibunuh dalam tiga hal, antara lain disebabkan “ia meninggalkan agamanya, dan meninggalkan masyarakat (attariku lil-jama’ah)” (Bu. 88:6). Menurut versi lain berbunyi: “orang yng memisahkan diri (al-mufariq) dari masyarakat”. Terang sekali bahwa yang dimaksud memisahkan diri dari atau meninggalkan masyarakat, yang dalam Hadits itu ditambahkan sebagai syarat mutlak, ialah bahwa ia meninggalkan kaum Muslimin dan bergabung dengan musuh. Dengan demikian, kata-kata Hadits itu bertalian dengan waktu perang. Jadi perbuatan yang dihukum mati itu bukan disebabkan mengubah agamanya, melainkan desersi.

Dalam Kitab Bukhari tercantum pula satu contoh yang sederhana tentang perbuatan murtad: “Seorang Arab dari padang pasir menghadap Nabi Suci untuk memeluk Islam di bawah tangan beliau. Selagi ia masih di Madinah, ia diserang penyakit demam, maka dari itu ia menghadap Nabi Suci dan berkata: Kembalikan bai’atku, Nabi Suci menolaknya, lalu ia menghadap lagi dan berkata: Kembalikan bai’atku, Nabi Suci pun menolaknya, lalu ia pergi” (Bu. 94:47). Hadits tersebut menerangkan bahwa mula-mula penduduk padang pasir itu memeluk Islam. Pada hari berikutnya, karena ia diserang penyakit demam, ia mengira bahwa penyakit itu disebabkan karena ia memeluk Islam, maka dari itu ia menghadap Nabi Suci untuk menarik kembali bai’atnya. Ini adalah terang-terangan perbuatan murtad, namun dalam Hadits itu tak diterangkan bahwa penduduk padang pasir itu dibunuh. Sebaliknya, Hadits itu menerangkan bahwa ia kembali ke padang pasir dengan aman.

Contoh lain tentang perbuatan murtad yang sederhana diuraikan dalam satu Hadits bahwa pada suatu hari seorang Kristen memeluk Islam, lalu ia murtad dan menjadi Kristen kambali, namun demikian, ia tidak dibunuh. “Sahabat Anas berkata, bahwa seorang Kristen memeluk Islam dan membaca Surat Ali ‘Imran, dan ia menuliskan ayat Qur’an untuk Nabi Suci, lalu ia berbalik menjadi Kristen kembali, dan ia berkata: Muhammad tak tahu apa-apa selain apa yang aku tulis untuknya. Lalu Allah mencabut nyawanya, lalu kaum Muslimin menguburnya” (Bu. 61:25). Selanjutnya Hadits itu menerangkan tentang peristiwa dihempaskannya tubuh orang itu oleh bumi. Terang sekali bahwa peristiwa itu terjadi di Madinah setelah diturunkannya Surat kedua (al-Baqarah) dan Surat ketiga (Ali ‘Imran) tatkala negara Islam telah berdiri, namun demikian orang yang murtad itu tak dianiaya, sekalipun ia mengucapkan kata-kata yang amat menghina Nabi Suci, dan menyebut beliau sebagai pembohong yang tak tahu apa-apa, selain apa yang ia tulis untuknya.

Di muka telah kami terangkan bahwa Qur’an menguraikan kaum murtad yang bergabung dengan kabilah yang mengikat perjanjian persahabatan dengan kaum Muslimin, dan kaum murtad yang benar-benar mengundurkan diri dari pertempuran, yang tak memihak kepada kaum Muslimin dan tak pula kepada musuh, dan menerang-kan agar mereka jangan diganggu (4:90). Semua itu menunjukkan bahwa Hadits yang menerangkan bahwa kaum murtad harus dibunuh, ini khusus hanya ditujukan terhadap kaum murtad yang memerangi kaum Muslimin.

Perbuatan murtad dan fiqih

Jika kita membaca kitab fiqih, di sana diuraikan bahwa mula-mula para ulama fiqih menggariskan satu prinsip yang bertentangan sekali dengan Qur’an Suci, yakni orang dapat dihukum mati karena murtad. Dalam Kitab Hidayah diuraikan: “Orang yang murtad, baik orang merdeka maupun budak, kepadanya disajikan agama Islam; jika ia menolak, ia harus dibunuh” (H.I. hal. 576).  Tetapi setelah Kitab Hidayah menguraikan prinsip tersebut, segera disusul dengan uraian yang bertentangan dengan menyebut orang murtad sebagai “orang kafir yang melancarkan perang (kafir harbiy) yang kepadanya telah disampaikan dakwah Islam” (H.I. hal. 577). Ini menunjukkan bahwa dalam Kitab Fiqih pun, orang murtad yang dihukum mati, ini disebabkan karena ia musuh yang memerangi kaum Muslimin. Adapun mengenai perempuan yang murtad, mereka tidak dihukum mati, karena alasan berikut ini: “Alasan kami mengenai hal ini ialah, bahwa Nabi Suci melarang membunuh kaum perempuan dan karena pembalasan yang sebenarnya (bagi kaum mukmin dan kafir) itu ditangguhkan hingga Hari Kiamat, dan mempercepat pembalasan terhadap mereka di dunia akan menyebabkan kekacauan, dan penyimpangan dari prinsip ini hanya diperbolehkan apabila terjadi kerusakan di bumi berupa pertempuran, dan hal ini tak mungkin dilakukan oleh kaum perempuan, karena kondisi mereka tak mengizinkan” (HI hal. 577). Ulama yang menafsiri kitab itu menambahkan keterangan: “Menghukum mati orang murtad itu wajib, karena ini akan mencegah terjadinya pertempuran yang merusakkan, dan ini bukanlah hukuman karena menjadi kafir” (idem). Selanjutnya ditambahkan keterangan sebagai berikut: “Hanya karena kekafiran saja, tidaklah menyebabkan orang boleh dibunuh menurut hukum” (idem). Terang sekali bahwa dalam hal pertempuran dengan kaum kafir, ulama ahli fiqih berbuat kesalah-pahaman, dan nampak sekali terjadi pertentangan antara prinsip yang digariskan oleh Qur’an dengan kesalah-pahaman yang masuk dalam pikiran ulama ahli fiqih. Qur’an Suci menggariskan seterang-terangnya bahwa orang murtad dihukum mati, bukan karena kekafirannya melainkan karena hirab atau memerangi kaum Muslimin. Adapun alasannya dikemukakan seterang-terangnya bahwa menghukum mati orang karena kekafiran, ini bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Tetapi ulama ahli fiqih salah paham, bahwa kemampuan berperang, mereka anggap sebagai keadaan perang, suatu anggapan yang tak masuk akal samasekali. Jika itu yang dimaksud, bahwa orang murtad mempunyai kemampuan berperang, anak kecil pun dapat disebut harbiy (orang berperang), karena anak kecil itu akan tumbuh menjadi besar dan mempunyai kemampuan berperang; bahkan kaum perempuan yang murtad pun tak dapat dikecualikan dari hukuman mati, karena mereka pun mempunyai kemampuan berperang. Undang-undang hukum pidana bukanlah berdasarkan atas kemampuan, melainkan atas kenyataan. Jadi, ulama fiqih pun mengakui benarnya prinsip bahwa orang tidak dapat dihukum mati hanya karena ia mengubah agamanya, terkecuali apabila orang murtad itu memerangi kaum Muslimin. Bahwa ulama fiqih telah berbuat kesalah pahaman dalam mengartikan hirab atau keadaan perang, adalah soal lain.

___________


[1]. Penulis Kristen yang bersemangat sekali untuk menemukan ayat Qur’an yang menghukum mati orang murtad, tak segan-segan lagi menerjemahkan kata fayamut (yang sebenarnya berarti: lalu ia mati) mereka terjemahkan: lalu ia dihukum mati, suatu terjemahan yang amat keliru. Kata fayamut adalah kata kerja aktif, dan kata yamutu artinya ialah mati. Digunakannya kata itu membuktikan seterang-terangnya bahwa perbutaan murtad tidaklah dihukum mati. Sebagian mufassir menarik kesimpulan yang salah terhadap ayat yang berbunyi: “ini adalah orang yang sia-sia amal perbuatannya”, ini tidaklah berarti bahwa ia akan diperlakukan sebagai penjahat. Adapun yang dimaksud dengan kata amal di sini ialah perbuatan baik yang ia lakukan selama ia menjadi Muslim. Amal inilah yang akan menjadi sia-sia, baik di dunia maupun di akhirat setelah ia murtad. Perbuatan baik hanya akan ada gunanya jika perbuatan baik itu mendatangkan kebaikan bagi seseorang, dan dapat meningkatkan kesadaran menuju perkembangan hidup yang tinggi. Di tempat lain dalam Qur’an Suci diuraikan bahwa perbuatan orang akan sia-sia jika ia hanya bekerja untuk duniawinya saja dan mengabaikan kehidupan akhirat: “Yaitu orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia, dan mengira bahwa mereka adalah ahli dalam membuat barang-barang. Mereka mengafiri ayat-ayat Tuhan dan mengafiri perjumpaan dengan-Nya, maka sia-sialah amal mereka. Maka dari itu Kami tak akan menegakkan timbangan bagi mereka pada Hari Kiamat” (18:104-105). Dalam ayat ini, yang dimaksud habithat ialah perbuatan yang sia-sia sepanjang mengenai kehidupan rohani.

[2]. Sebagian Hadits menerangkan bahwa mereka disiksa sampai mati. Jika ini terjadi sungguh-sungguh, ini hanyalah sekedar hukum qisas, yang sebelum turun wahyu tentang hukum pidana secara Islam, hukum qisas menjadi peraturan yang lazim. Sebagian Hadits menerangkan bahwa segolongan orang dari kabilah ‘Ukul mencukil mata penjaga unta, lalu digiringnya ke gunung batu yang panas, agar ia mati kesakitan. Oleh sebab itu lalu mereka juga dihukum mati seperti itu (Ai. VII, hal. 58). Tetapi Hadits lain membantah tentang digunakannya hukum qisas dalam peristiwa tersebut. Menurut Hadits ini, Nabi Suci berniat menyiksa mereka sampai mati sebagaimana telah mereka lakukan terhadap si penjaga unta, tetapi sebelum beliau melaksanakan hukuman itu, beliau menerima wahyu yang mengutarakan hukuman bagi mereka yang melakukan pelanggaran semacam itu, yang berbunyi: “Adapun hukuman orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berbuat bencana di bumi, ialah mereka harus dibunuh atau disalib atau dipotong tangan mereka berselang-seling, atau dipenjara” (5:33) (IJ-C. VII, hal. 121). Jadi, menurut ayat ini, perbuatan murtad ialah melancarkan perang terhadap Allah dan Rasul-Nya. Adapun hukumannya bermacam-macam selaras dengan sifat kejahatan yang mereka lakukan. Adakalanya dihukum mati atau disalib apabila ia menjalankan teror; tetapi adakalanya hanya dihukum penjara saja.

Masa Keemasan Kehidupan


Saat Terindah dalam Hidup Manusia

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Pernakah Anda mengalami saat-saat terindah dalam hidup Anda? Apakah yang Anda rasakan pada saat itu? Bukankah Anda merasakan hati Anda sangat bahagia, sehingga Anda ingin seandainya saat-saat itu terulang kembali?

Setiap insan tentu pernah merasakan saat-saat terindah dalam hidupnya, akan tetapi masing-masing orang akan menjadikan saat terindah dalam hidupnya sesuai dengan apa yang mendominasi hati dan jiwanya.

Orang yang sedang semangat melakukan usaha perdagangan dan bisnis menganggap saat terindah adalah ketika dia berhasil meraup keuntungan besar dan berlipat ganda dalam bisnisnya. Orang yang berambisi besar untuk mendapatkan kedudukan dan jabatan duniawi merasa saat yang terindah adalah ketika dia berhasil menduduki jabatan tinggi dan penting dalam kariernya.

Demikian pula, orang yang sedang dimabuk cinta merasa bahwa saat terindah adalah ketika cintanya diterima oleh sang kekasih dan ketika berjumpa dengannya.

Demikianlah sekilas gambaran keadaan manusia dalam menilai saat-saat terindah dalam hidup mereka. Sekarang, marilah kita perhatikan dan renungkan dengan seksama, manakah di antara semua itu yang benar-benar merupakan kebahagiaan dan keindahan yang sejati, sehingga orang yang mendapatkannya berarti sungguh dia telah merasakan saat terindah dalam hidupnya?

Renungan tentang keindahan dan kebahagiaan hidup yang sejati

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Sesungguhnya, bentuk-bentuk kebahagiaan (keindahan) yang diprioritaskan oleh jiwa manusia ada tiga (macam):

1- Kebahagiaan (keindahan) di luar zat (diri) manusia,

bahkan keindahan ini merupakan pinjaman dari selain dirinya, yang akan hilang dengan dikembalikannya pinjaman tersebut.

Inilah kebahagiaan (keindahan) dengan harta dan kedudukan (jabatan duniawi)…

Keindahan seperti ini adalah seperti keindahan seseorang dengan pakaian (indah) dan perhiasannya, tapi ketika pandanganmu melewati penutup dirinya tersebut, maka ternyata tidak ada satu keindahanpun yang tersisa pada dirinya!

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa ada seorang ulama yang menumpang sebuah kapal laut bersama para saudagar kaya, kemudian kapal tersebut pecah (dan tenggelam bersama seluruh barang-barang muatan). Maka, para saudagar tersebut serta merta menjadi orang-orang yang hina dan rendah (karena harta mereka tenggelam di laut) padahal sebelumnya mereka merasa mulia (bangga) dengan kekayaan mereka. Sedangkan ulama tersebut sesampainya di negeri tujuan beliau dimuliakan dengan berbagai macam hadiah dan penghormatan (karena ilmu yang dimilikinya). Ketika para saudagar yang telah menjadi miskin itu ingin kembali ke negeri mereka, mereka bertanya kepada ulama tersebut, “Apakah Anda ingin menitip pesan atau surat untuk kaum kerabat Anda?” Maka ulama itu menjawab, “Iya, sampaikanlah kepada mereka, ‘Jika kalian ingin mengambil harta (kemuliaan), maka ambillah harta yang tidak akan tenggelam (hilang) meskipun kapal tenggelam, oleh karena itu jadikanlah ilmu sebagai (barang) perniagaan (kalian).”

2 (Bentuk) kebahagiaan (keindahan) yang kedua: kebahagiaan (keindahan) pada tubuh dan fisik manusia,

seperti kesehatan tubuh, keseimbangan fisik dan anggota badan, keindahan rupa, kebersihan kulit dan kekuatan fisik.

Keindahan ini meskipun lebih dekat (pada diri manusia) jika dibandingkan dengan keindahan yang pertama, namun pada hakikatnya keindahan tersebut di luar diri dan zat manusia, karena manusia itu dianggap sebagai manusia dengan ruh dan hatinya, bukan (cuma sekedar) dengan tubuh dan raganya, sebagaimana ucapan seorang penyair,

يا أيها الناس الذين (فقط) المادية اهتمام، كم لرعاية  جسمك

وكنت (وتسمى) رجل مع روحك وليس مع جسمك

Wahai orang yang (hanya) memperhatikan fisik, betapa besar kepayahanmu dengan mengurus tubuhmu

Padahal kamu (disebut) manusia dengan ruhmu bukan dengan tubuhmu

(Mulai dari sini sampai akhir paragraf ini adalah keterangan tambahan dari penulis) Inilah keindahan semu dan palsu milik orang-orang munafik yang tidak dibarengi dengan keindahan jiwa dan hati, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela mereka dalam firman-Nya,

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ

 

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh (penampilan fisik) mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar.” (QS. al-Munafiqun: 4).

Artinya: mereka memiliki penampilan rupa dan fisik yang indah, tapi hati dan jiwa mereka penuh dengan keburukan, ketakutan dan kelemahan, tidak seperti penampilan lahir mereka (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/472; Tafsir al-Qurthubi, 18/124-125; dan Fathul Qadiir, 7/226).

3- (Bentuk) kebahagiaan (keindahan) yang ketiga: inilah kebahagiaan (keindahan) yang sejati, keindahan rohani dalam hati dan jiwa manusia,

yaitu keindahan dengan ilmu yang bermanfaat dan buahnya (amalan shaleh untuk mendekatkan kepada Allah Ta’ala).

Sesungguhnya, kebahagiaan inilah yang menetap dan kekal (pada diri manusia) dalam semua keadaan, dan menyertainya dalam semua perjalanan (hidupnya), bahkan pada semua alam yang akan dilaluinya, yaitu: alam dunia, alam barzakh (kubur) dan alam tempat menetap (akhirat). Dengan inilah seorang hamba akan meniti tangga kemuliaan dan derajat kesempurnaan.” (Kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah, 1/107-108).

*********************************

Berbahagialah dengan saat terindah dalam hidupmu!


Berdasarkan renungan tentang keindahan dan kebahagiaan hidup di atas, maka jelaslah bahwa keindahan dan kebahagiaan yang sejati dalam hidup manusia adalah dengan mengamalkan amalan shaleh yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengutamakannya di atas segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Inilah keindahan dan kebahagiaan sejati yang direkomendasikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

 

Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka (orang-orang yang berilmu) bergembira (berbangga), karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa (kesenangan duniawi) yang dikumpulkan (oleh manusia).’” (QS Yunus:58).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar mereka merasa bangga (gembira dan bahagia) dengan anugerah yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka, dan Dia Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa anugerah dari-Nya itu lebih indah dan mulia dari semua kesenangan dunia yang berlomba-lomba dikejar oleh kebanyakan manusia. ”Karunia Allah” dalam ayat ini ditafsirkan oleh para ulama ahli tafsir dengan “keimanan”, sedangkan “Rahmat Allah” ditafsirkan dengan “Al-Quran”, yang keduanya (keimanan dan Al-Quran) adalah ilmu yang bermanfaat dan amalan shaleh, sekaligus keduanya merupakan petunjuk dan agama yang benar (yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) (lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam kitab Miftahu Daaris Sa’aadah, 1/51).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata, “Kenikmatan (yang berupa) agama (iman) yang bergandengan dengan kebahagiaan dunia dan akhirat (jelas) tidak bisa dibandingkan dengan semua kenikmatan duniawi yang hanya sementara dan akan hilang.” (kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 366).

Inilah kebahagiaan hakiki bagi hati dan jiwa manusia, yang digambarkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam ucapan beliau, “Semua perintah Allah (dalam agama Islam), hak-Nya (ibadah) yang Dia wajibkan kepada hamba-hamba-Nya, serta semua hukum yang disyariatkan-Nya (pada hakikatnya) merupakan qurratul ‘uyuun (penyejuk pandangan mata), serta kesenangan dan kenikmatan bagi hati (manusia), yang dengan (semua) itulah hati akan terobati, (merasakan) kebahagiaan, kesenangan dan kesempurnaan di dunia dan akhirat. Bahkan hati (manusia) tidak akan merasakan kebahagiaan, kesenangan dan kenikmatan yang hakiki kecuali dengan semua itu.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدىً وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ، قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa (kesenangan duniawi) yang dikumpulkan (oleh manusia).’” (QS.Yuunus: 57-58)” (Kitab Ighaatsatul Lahfaan, hal. 75-76 – Mawaaridul Amaan).

Maka berdasarkan semua ini, berarti saat yang paling indah dalam hidup seorang manusia adalah ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan taufik-Nya kepadanya untuk mengikuti jalan Islam dan memberi petunjuk kepadanya untuk memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya guna mencapai keridhaan-Nya.

Inilah pernyataan yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada shahabat yang mulia, Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat al-Quran (QS. at-Taubah: 118) tentang diterima-Nya taubat shahabat ini dan dua orang shahabat lainnya radhiallahu ‘anhum,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya dengan wajah yang berseri-seri karena gembira,

Berbahagialah dengan hari terindah yang pernah kamu lalui sejak kamu dilahirkan ibumu.”

(Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 4156 dan Muslim, no. 2769).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan hari diterimanya taubat seorang hamba oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai hari/ saat yang terindah dalam hidupnya karena taubat itulah yang menyempurnakan keislaman seorang hamba, maka ketika dia masuk Islam itulah awal kebahagiaannya dan ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubatnya itulah penyempurna dan puncak kebahagiaannya, sehingga hari itu adalah saat terindah dalam hidupnya (lihat kitab Fathul Baari, 8/122).

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Dalam hadits ini terdapat argumentasi (yang menunjukkan) bahwa hari yang paling indah dan utama bagi seorang hamba secara mutlak adalah ketika dia bertaubat kepada Allah dan Allah menerima taubatnya…

Kalau ada yang bertanya, ‘Bagaimana (mungkin) hari ini (dikatakan) lebih baik daripada hari (ketika) dia masuk Islam?’

Jawabannya, hari ini adalah penyempurna dan pelengkap hari (ketika) dia masuk Islam, maka hari (ketika) dia masuk Islam adalah awal kebahagiaanya, sedangkan hari taubatnya adalah penyempurna dan pelengkap kebahagiaanya, wallahu musta’aan.” (Kitab Zaadul Ma’aad, 3/511).

Senada dengan hadits di atas, ucapan shabat yang mulia, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu yang menggambarkan kegembiraan para shahabat radhiallahu ‘anhum ketika mendengar sebuah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Anas bin Malik berkata, “Maka kami (para shahabat radhiallahu ‘anhum) tidak pernah merasakan suatu kegembiraan setelah (kegembiraan dengan) Islam melebihi kegembiraan kami tatkala mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Engkau (akan dikumpulkan di surga) bersama orang yang kamu cintai.

Maka, aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dan Umar radhiallahu ‘anhu, dan aku berharap akan bersama mereka (di surga nanti) dengan kecintaanku kepada mereka meskipun aku belum mampu melakukan seperti amal perbuatan mereka.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 3485 dan Muslim, no. 2639).

 

Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa saat-saat yang terindah bagi orang-orang yang sempurna imannya, para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ketika mereka mendapat hidayah untuk menempuh jalan Islam dan ketika mereka memahami, serta mengamalkan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mencapai ridha-Nya dan masuk ke dalam surga-Nya.

 

****************************

Saat yang paling indah di akhirat kelak adalah ketika bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

 

Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya (Allah Ta’ala), maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan Allah dengan apapun dalam beribadah kepada-Nya.” (QS al-Kahfi: 110).

 

Inilah saat terindah yang dinanti-nantikan oleh orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu saat ketika bertemu dengan-Nya untuk mendapatkan balasan kebaikan dan kemuliaan dari-Nya (lihat kitab Fathul Baari, 4/118).

Dalam sebuah doa dari Imam Hasan al-Bashri, “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amalan kami sebelum ajal (menjemput) kami, dan jadikanlah sebaik-baik hari (bagi) kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu.” (Dinukil oleh Imam Harits bin Abi Usamah dalam Musnad al-Harits, 2/756 – Bugyatul Baahits).

Mereka inilah orang-orang yang mencintai perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah-pun mencintai perjumpaan dengan mereka, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Barangsiapa yang mencintai perjumpaan dengan Allah, maka Allah mencintai perjumpaan dengannya.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 6142 dan Muslim, no. 2683).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kegembiraan orang yang bertakwa ketika bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan amal shaleh yang mereka lakukan di dunia, dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan; kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabb-nya (Allah Subhanahu wa Ta’ala)” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 7054 dan Muslim, no. 1151).

Kemudian, saat yang paling indah bagi orang-orang yang beriman ketika berjumpa dengan Allah Ta’ala adalah saat mereka memandang wajah-Nya yang Mahamulia. Inilah kenikmatan tertinggi yang Allah janjikan bagi mereka yang melebihi besarnya kenikmatan lainnya yang ada di surga.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

 

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yuunus: 26).

 

Arti “tambahan” dalam ayat ini ditafsirkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih, yaitu kenikmatan melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sal;lam adalah orang yang paling memahami makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (lihat kitab  Syarhul ‘Aqiidatil Waashithiyyah, 1/452).

Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا كان أهل الجنة دخلت الجنة، قال تعالى : ‘ هل أنت (يا أهل الجنة) تريد شيئا وبالإضافة إلى ذلك (الجنة المتعة)؟ “هكذا قالوا،’هل أنت لم بيض وجوهنا؟ لن كنت قد أدخلت لنا في الجنة وانقذنا من الجحيم (عقوبة)؟ “ثم (في ذلك الوقت) الله يفتح الحجاب الذي يغطي وجهه لمجد)، ولها حديقة قط (المتعة)، بقدر ما مثل عن شكل (وجه) الله. “في وقت لاحق، سلم صلى على النبي وا  قراءة الفقرة أعلاه (وروى حديث صحيح مسلم في صحيح مسلم، رقم 181).

Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)?’ Maka mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka?’ Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Mahamulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas (Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahih Muslim, no. 181).

 

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa kenikmatan melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kenikmatan yang paling mulia dan agung, serta melebihi kenikmatan-kenikmatan di surga lainnya (lihat kitab  Syarhul ‘Aqiidatil Waashithiyyah, 1/453).

Imam Ibnu Katsir berkata, ”(Kenikmatan) yang paling agung dan tinggi (yang melebihi semua) kenikmatan di surga adalah memandang wajah Allah yang Mahamulia, karena inilah “tambahan” yang paling agung (melebihi) semua (kenikmatan) yang Allah berikan kepada para penghuni surga. Mereka berhak mendapatkan kenikmatan tersebut bukan (semata-mata) karena amal perbuatan mereka, tetapi karena karunia dan rahmat Allah.” (Kitab  Tafsir Ibnu Katsir, 4/262).

 

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan kenikmatan tertinggi ini dengan sifat kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disebutkan dalam hadits di atas, yaitu selalu merindukan perjumpaan dengan Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam doa beliau,

“(يا الله) وأطلب اليك بارادتك يبحث في وجهه (في القرن المقبل) وأطلب لك شوق أن ألتقي بكم (عندما يكون العالم)، من دون أي خطر من الأذى والبهتان الذي هو مضلل.” [والموارد البشرية ناسا أنا في السنن و(3 / 54 و 3 / 55)، الإمام أحمد في المسند (4 / 264) وابن حبان في صحيحه (رقم 1971) و آل الحكيم في المستدرك (رقم 1900)، وافق  ابن حبان، الحكيم، من شعبة الموارد البشرية الذهبي والشيخ الألباني في الجنةl السنة  قسم الصناعات السمكية “(رقم 424)].

“(Ya Allah) aku meminta kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia), tanpa adanya bahaya yang mencelakakan dan fitnah yang menyesatkan.” [HR An Nasa-i dalam As-Sunan (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam Al-Musnad (4/264), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 1971) dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, disepakati oleh Adz-Dzahabi dan Syaikh Al-Albani dalam Zhilaalul Jannah fii Takhriijis Sunnah” (no. 424)].

 

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahafaan [hal. 70-71 dan hal. 79 (Mawaaridul Amaan, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad-Dammaam, 1415 H)] menjelaskan keterkaitan dua hal ini, yaitu bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala) adalah balasan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang yang selalu mengharapkan dan merindukan pertemuan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu kekasih-Nya yang telah merasakan kesempurnaan dan kemanisan iman, yang wujudnya berupa perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya.

Atau dengan kata lain, orang yang akan menjumpai saat yang paling indah dan dinanti-nantikan di akhirat ini, yaitu saat melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Mahamulia, adalah orang yang ketika di dunia dia merasakan bahwa saat terindah dalam hidupnya adalah ketika dia beribadah dan mendekatkan diri kepada Zat yang dicintainya, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Nasihat dan penutup

Demikianlah gambaran saat-saat paling indah bagi para kekasih Allah ‘Azza wa Jalla di dunia dan akhirat, bandingkanlah dengan saat-saat yang dianggap paling indah oleh mayoritas manusia sekarang ini.

Kemudian tanyakan kepada diri kita sendiri: apakah yang kita anggap sebagai saat terindah dalam hidup kita?

Maka, berbahagialah hamba Allah yang menjadikan saat terindah dalam hidupnya ketika dia beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berbahagialah dengan kabar gembira dari Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini,

 

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنزلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ نزلا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (ber-istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan memberi kabar gembira), ‘Janganlah kamu merasa takut dan bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah penolong-penolongmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta.’ Sebagai hidangan (balasan yang kekal bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushilat: 30-32).

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

 

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ، لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ، لا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ، ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali (kekasih) Allah itu, tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62-64).

 

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk mendapatkan kebaikan dari-Nya di dunia dan akhirat, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

Syafaat dari Allah


Syafaat dari Allah Menurut Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (3)

Hikmah dan manfaat pemberian izin syafa’at dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan hal ini dalam ucapan beliau,

وأضاف “جوهر (المنفعة) من  هو أن الله تعالى هو الذي يعطي هدايا للأشخاص الذين  (عبادته وحده) معه ليغفر (الخطايا) وهم مع صلاة الشفاعة التي تسمح لإعطاء الله، لمجد الله إلى الشخص مع عليه وحتى أنها وصلت إلى موقف يستحق الثناء… “[1]

“Hakikat (manfaat) dari syafa’at adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang memberi karunia kepada orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadah kepada-Nya semata) dengan Dia mengampuni (dosa-dosa) mereka dengan perantaraan doa dari orang yang Allah izinkan untuk memberi syafa’at, agar Allah memuliakan orang tersebut dengan syafa’at itu dan agar dia mencapai kedudukan yang terpuji….”[1]

Dari penjelasan beliau di atas jelaslah bahwa maksud pemberian izin syafa’at dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dua hal:

1-      Memuliakan orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala izinkan untuk memberi syafa’at.

2-      Memberi manfaat kepada yang diberi syafa’at, yaitu orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadah kepada-Nya semata) dengan Allah Ta’ala mengampuni (dosa-dosa) mereka dengan perantaraan syafa’at tersebut.[2]

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin menjelaskan makna ucapan Ibnu Taimiyah di atas, beliau berkata, “Faidah (manfaat) dari syafa’at adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin mengampuni (dosa-dosa) orang yang menerima syafa’at, tetapi dengan perantaraan syafa’at tersebut.

Dan hikmah dari perantaraan (dengan syafa’at ini) dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam ucapannya (di atas). Seandainya Allah menghendaki, maka Dia akan mengampuni (dosa-dosa) mereka tanpa (perantaraan) syafa’at, akan tetapi Allah ingin menjelaskan (menampakkan) keutamaan dan kemuliaan orang yang memberi syafa’at tersebut di hadapan manusia (pada hari Kiamat). Dan sudah diketahui bahwa orang yang Allah terima syafa’atnya maka (mestinya) dia mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Maka ini berarti pemuliaan terhadap orang yang (diizinkan-Nya) memberi syafa’at, dari dua segi:

Pertama: tampaknya keutamaan pemberi syafa’at tersebut terhadap yang diberi syafa’at.

Kedua: tampaknya kedudukannya (yang mulia) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.[3]

Pembagian golongan manusia dalam menetapkan/mengimani adanya syafa’at

Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan berkata, “Dalam (menetapkan) perkara syafa’at, manusia terbagi menjadi tiga golongan:

– Golongan pertama:

orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas dalam menetapkannya, mereka adalah orang-orang Nashrani, orang-orang musyrik, kelompok ahli Tasawuf yang ekstrim, dan para pemuja/ penyembah kubur (yang dikeramatkan), di mana mereka menjadikan (menganggap) syafa’at (dari) orang-orang yang mereka agungkan di sisi Allah, seperti syafa’at (pertolongan dengan menjadi perantara) yang biasa dilakukan di dunia di hadapan para raja (penguasa), sehingga merekapun meminta syafa’at kepada selain Allah (dan ini adalah perbuatan syirik besar), sebagaimana yang Allah sebutkan (dalam al-Qur’an) tentang orang-orang musyrik.[4]

– Golongan kedua:

kelompok Mu’tazilah dan Khawarij yang berlebihan dan melampaui batas dalam menolak syafa’at, sehingga mereka mengingkari syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syafa’at selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi para pelaku dosa besar.

– Golongan ketiga:

mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menetapkan syafa’at (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) sesuai dengan yang diterangkan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka menetapkan syafa’at dengan syarat-syaratnya (yang kami sebutkan di atas).”[5]

Amal-amal shaleh yang menjadi sebab meraih syafa’at

Sebab terbesar dan utama untuk meraih syafa’at adalah memurnikan tauhid dan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memurnikan al-ittibaa’ (mengikuti dan meneladani) kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana penjelasan di atas.

Disamping itu, dalam hadits-hadist yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa amalan shaleh yang menjadi sebab untuk meraih syafa’at pada hari Kiamat nanti[6], di antaranya:

1. Membaca al-Qur’an dengan merenungi kandungan maknanya.

    Dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya bacaan al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia).”[7]

    2. Memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah setelah melaksanakan shalat-shalat yang wajib).

    Ketika ada seorang pelayan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Keperluanku adalah agar engkau (wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) memberi syafa’at bagiku pada hari Kiamat.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bantulah aku (untuk keperluanmu itu) dengan memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah).”[8]

    3. Banyak berpuasa, baik yang wajib maupun yang sunnah/ anjuran.

      Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘al-’Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa dan al-Qur’an akan memberikan syafa’at pada hari kiamat bagi seorang hamba (yang mengamalkannya), puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya.’. (Bacaan) al-Qur’an (juga) berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya.’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka, keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.[9]

      4. Tinggal di kota Madinah (kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), bersabar atas kesusahannya dan meninggal dunia di sana. Ini disebutkan dalam beberapa hadits shahih.[10]

      5. Membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta al-wasiilah untuk beliau (seperti yang diucapkan pada doa setelah mendengar azan selesai dikumandangkan).

        Dalam hadist yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…Barangsiapa yang meminta al-wasiilah untukku, maka halal baginya (mendapatkan) syafa’atku.”[11]

        6. Jenazah yang dishalatkan oleh empat puluh orang ahli tauhid.

          Dari Abdullah bin ‘Abbas shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berkata, “Sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah akan menerima/ mengabulkan syafa’at mereka terhadapnya.’”[12]

          Perlu juga untuk diingatkan di sini tentang beberapa amalan yang dianggap oleh banyak orang awam sebagai sebab meraih syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal semua itu disebutkan dalam hadits-hadits yang lemah bahkan sebagiannya hadits yang palsu. Seperti menziarahi kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam beberapa hadits, tapi semuanya hadits lemah.[13] Demikian pula berperang membela keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencintai mereka, ini disebutkan dalam hadits yang palsu.[14] Dan hadits tentang keutamaan menghafal empat puluh hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dinyatakan lemah oleh para ulama ahli hadits, seperti Imam Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnul Jauzi dan an-Nawawi.[15]

          Nasihat dan Penutup

          Pemahaman yang benar tentang syafa’at akan memotivasi orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir untuk semakin giat beribadah dan mengamalkan ketaatan kepada Allah Ta’ala, juga akan menambah kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[16] dan berusaha meneladani petunjuk beliau dalam agama.

          Lebih dari pada itu, memahami masalah ini akan menumbuhsuburkan dalam diri orang yang beriman kecintaan kepada Allah, karena dia mengetahui betapa agung kasih sayang dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertauhid, dengan Dia Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk pengampunan dosa-dosa mereka, agar mereka meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

          Bahkan, karena luasnya karunia dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, Dia Ta’ala akan mengeluarkan dari neraka siapa yang dikehendakinya dari orang-orang beriman pelaku maksiat, tanpa syafa’at.

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Kemudian, Allah akan mengeluarkan dari neraka orang-orang (yang beriman pelaku maksiat) tanpa syafa’at, akan tetapi dengan karunia dan rahmat-Nya.”[17]

          Dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Para Malaikat telah memberi syafa’at, para Nabi ‘alaihis salam (juga) telah memberi syafa’at, dan orang-orang yang beriman (juga) telah memberi syafa’at, maka tidak tersisa keculai Zat Yang Maha Penyayang (Allah Subhanahu wa Ta’ala), maka Dia menggenggam (mengambil) satu genggaman dari Neraka, lalu Dia mengeluarkan dari neraka suatu kaum (orang-orang yang beriman pelaku maksiat) yang belum pernah mengamalkan satu kebaikanpun sama sekali dan mereka telah menjadi arang….”[18]

          Demikianlah, Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk dapat meraih semua kebaikan dan kemuliaan yang dijanjikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di dunia dan di akhirat kelak, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar, Mahadekat, dan Maha Mengabulkan doa.

          وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


          [1] Kitab Majmuu’ul Fataawa (7/78).
          [2] Lihat kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/330).
          [3] Kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/345-346).
          [4] Dalam Al-Quran surat Yunus ayat 18.
          [5] Kitab Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (hal. 143-144).
          [6] Lihat kitab Asy-Syafa’ah (hal. 207-257).
          [7] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 804).
          [8] HR. Ahmad (3/500), dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahiihah (no. 2102).
          [9] HR. Ahmad (2/174), Abu Nu’aim dalam Hilayatul Auliyaa’ (8/161) dan al-Hakim (1/740), dari dua jalur yang saling menguatkan.  Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi,  dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Tamaamul Minnah (hal. 394).
          [10] Di antaranya hadits shahih riwayat Muslim (no. 1374 dan 1377), juga  hadits riwayat at-Tirmidzi (no. 3917), Ibnu Majah (no. 3112), Ahmad  (2/74) dan Ibnu hibban (no. 3741), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban  dan al-Albani.
          [11] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 384).
          [12] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 948).
          [13] Lihat kitab Asy-Syafa’ah (hal. 241).
          [14] Ibid (hal. 253).
          [15] Ibid (hal. 254-256).
          [16] Ibid (hal. 3).
          [17] Kitab Al-’Aqiidatul Waasithiyyah (hal. 20).
          [18] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 183).

          Mengapa harus shalat / Shalat?


          Mengapa harus shalat / Shalat?

          Bunyinya seperti satu pertanyaan yang bodoh, tetapi mengapa banyak dikalangan masyarakat kita mengambil mudah akan hal shalat. Tidak Allah jadikan sesuatu itu tanpa kebaikannya, seperti puasa yang sebelum adanya penelitian ilmiah tentang manfaatnya puasa dari sudut kesehatan, mayoritas menganggap itu adalah perintah Allah dan kita harus melakukannya. Dengan adanya laporan penelitian manfaat puasa, yang taat berpuasa semakin beriman kepada dan yang sebelumnya liat untuk berpuasa mungkin tergerak akan hatinya untuk melakukannya.

           

          Bagaimana pula dengan shalat yang juga rukun islam, banyak yang berpuasa tetapi tidak shalat, mungkin bagi kaum tersebut, puasa lebih kepada tradisi untuk berhari raya karena tanpa puasa, hari raya tidak lah berarti, mereka ini sadar yang puasa tanpa shalat sia-sia saja tetapi masih tidak terbuka hati untuk shalat. Mungkin dengan adanya laporan penelitian ilmiah akan manfaat shalat barangkali akan berubah hati mereka untuk shalat?

          Tidak perlu penelitian ilmiah manfaat shalat bagi yang beriman karena itu perintah Allah, tetapi salat yang diterima hanyalah yang khusyuk, jadi apakah sia-sia shalat mereka yang tidak khusyuk? Apakah mereka juga sama dengan golongan yang tidak shalat? Shalat yang diterima yaitu yang khusyuk atau fokus dapat mencegah manusia dari kemungkaran, tetapi bagaimana kekhusyukan itu mengubah sikap manusia dari kemungkaran? Apakah proses didalam diri manusia itu sendiri dari sudut sains? Saya menemukan penelitian tentang otak oleh Dr. Daniel Amen, pakar brain scan dr USA. Didalam websitenya ada beberapa photo pemindaian otak dari berbagai individu dengan berbagai masalah didalam otak yang mencorak pikiran mereka.

           

          Perhatikan pemindaian otak mereka yang bersyukur dan mereka yang tidak? Mereka yang selalu bersyukur otaknya aktif hampir secara menyeluruh dibandingkan dengan yang tidak (biru mewakili area yang aktif sedangkan yang merah adalah kurang aktif). Otak yang aktif keseluruhan, cara individu itu berpikir sudah semestinya lebih berbeda dibandingkan otak yang kurang aktif. Kepandaian, moralitas, daya ingat, tingkat creativiti, prestasi akademik, kepekaan, moralitas, kebugaran, stabilitas dan kontrol emosi yang baik, kematangan dan sebagainya adalah hasil dari otak yang berfungsi secara keseluruhan. Jika kita kaitkan dengan shalat, bukankah shalat itu cara kita mengucapkan syukur kita kepada Allah? Hampir seluruh bacaan dalam salat itu lebih ke puji kepada. Buktinya juga dapat dilihat dari mayoritas individu yang cemerlang dalam ujian adalah mereka yang menjaga shalatnya.

          Apa bedanya mereka yang khusyuk dengan yang tidak. Selain dari mendekatkan diri kita dengan Allah, khusyuk dan fokus itu membantu kita mencapai apa saja impian hidup kita didunia ini. Banyak yang tahu tentang Law of Attraction yang kita dapat capai apa saja hajat didalam hidup kita jika kita fokus dalam pikiran kita apa yang kita inginkan, jadi jika kita bisa fokus ke Allah didalam shalat, sangat mudah untuk lebih fokus ke apa yang kita hajati dari segi harta, kasih sayang, kesehatan dan sebagainya.

           

          Dengan taatnya kita kepada Allah, dalam salat dan selalu bersyukur kepada, bukankah untuk menciptakan realitas yang kita inginkan sangat mudah. Percaya akan keesaanNya, pemurahNya, pengasihNya, apa yang kita hajati sudah ada digenggaman kita, beriman kepadanya. Apa itu beriman? Percaya kepada sesuatu yang tidak bolah dibuktikan jadi jika kita percaya kepada Allah, apa yang kita hajati tidak mustahil. Itu yang dinamakan menciptakan realitas kita sendiri, dengan keredhaanNya.

          Ini pula gambar pemindaian otak yang dinamakan surface scan. Perhatikan otak mereka yang ganas dibandingkan mereka yang normal? Perhatikan bagian depan otak (prefrontal cortex) yang tidak sempurna. Prefrontal cortex ini adalah CEO bagi manusia itu sendiri, secara rasional menjadi filter ke segala tindakan primitif ganas (pemikiran hewan). Bagian depan otak yang kosong itu bukan berarti ia kosong secara fisik tetapi tidak aktif karena tidak darah yang pergi kebahagian tersebut. Prefrontal cortex hewan tidak sempurna, kecil atau tidak, sebab itu mentalitas mereka fight or flight, lawan atau lari. Manusia yang ganas, kaki panas baran misalnya besar kemungkian frontal cortex mereka tidak berfungsi, sebab itu mereka selalu membuat keputusan yang tidak bijak. Penjahat berat tidak belas ikhsan terhadap manusia, seperti dalam dunia hewan, sebab itu harimau bisa makan manusia karena tidak sifat kebaikan. Bagaimana dengan manusia yang sanggup membunuh sesama sendiri?

           

          Apa yang menyebabkan “kosong” nya frontal cortex kita? Stress adalah penyebab utama, hampir semua aktivitas dizaman modern meningkatkan stress. Ketika stress, pemikiran primitif mengambil alih, ini memindahkan aliran darah ke prefrontal cortex dan efek dari stress yang berkelanjutan, makin tidak aktif lah prefrontal cortex manusia tersebut. Keduanya karena kita semakin tidak menggunakan otak kita, misalnya dulu untuk perhitungan kita cepat mencongak, sekarang kalkulator pasti akan dicapai sebelumnya untuk membuat perhitungan, kemodenan itu tidak salah, tidak sadar efek kemodenan ke pikiran itu yang bahaya.

          Bagaimana sembahyang yang khusyuk mencegah dari kemungkaran? Bila kita khusyuk, minda kita menjadi lebih tenang, kita berhubung dengan zat-zat Allah yang tenang dan aman, ini menghilangkan ketegangan dan bila kita fokus kepadaNya, prefrontal cortex kita akan diperbaiki dan dengan proses yang berulang2 (sembahyang yang khusuk), otak kita akan menjadi lebih sempurna dan boleh berfikir dengan lebih waras. Bayi didalam kandungan tenang dan aman, selepas lahir jika cukup makan dan tidurnya, aman tenteram tidur dengan nyenyak, itu lumrah alam.

           

          Bagaimana pula dengan sujud? Apakah kesannya? Bukan kah ketika sujud bahagian yang paling rendah adalah prefrontal cortex iaitu ketika dahi mencecah bumi? Dengan kedudukan jantung yang lebih tinggi bukankah itu memaksa darah kebahagian tersebut lantas membaiki, mengaktifkan bahagian tersebut? Hasilnya kita boleh membuat keputusan yang lebih bijak, boleh berfikir mana yang baik dan buruk, boleh mencegah dari kemungkaran.

          Otak umpama tim orkestra yang mana sebelum konduktor muncul semua musisi membuat hal masing-masing, tetapi bila konduktor muncul dan memimpin mereka, musik yang dihasilkan sangat indah. Otak umpama tim orkestra dan konduktor adalah prefrontal cortex otak kita. Lebih fokus kita dalam salat / meditasi, lebih sempurna frontal cortex kita seperti didalam brain scan tersebut.

           

          Meditasi dikatakan mampu memulihkan fungsi otak menjadi lebih sempurna, meditasi membutuhkan fokus pada sesuatu dalam suatu waktu. Transcendental meditation seperti yang di kaji dan didorong oleh Universitas Maharishi menghubungkan diri dengan sumber kehidupan dunia ini yang mereka gelar “Unified field”. Karena jahilnya mereka, tidak mereka sadari “Unified field” tersebut sebenarnya adalah zat-zat Allah yang mana darinya muncul lah semua kehidupan didunia ini. Gambar di bawah ini adalah efek pada otak hasil dari proses meditasi tersebut.

          Shalat juga adalah satu bentuk meditasi, banyak menyalah anggap yang meditasi itu meniru agama lain, meditasi adalah satu cara memfokuskan pada sesuatu dan tenangkan pikiran, fokus pada sesuatu baik bacaan, musik, pernafasan, imajinasi dan sebagainya. Didalam Islam, shalat melakukan beberapa gerakan tetapi pikiran kita harus khusyuk / fokus ke Allah dan zat-zatNya, tidak berbeda dengan meditasi, prinsipnya tetap sama.

          Jadi ada perbedaan mereka yang salat dan tidak dan ada bedanya mereka yang khusyuk dan tidak, jadi shalatlah kamu sebelum kamu disembahyangkan dan khusyuklah kamu agar kamu mendapat keridhaan Allah dan menjadi manusia yang lebih bijak pemikirannya.

          Sumber dari Dr Amen Clinics & Dr John Hagelin.

           

          %d blogger menyukai ini: