KH Ma’ruf Amin, Umat Islam di Provokasi


JAKARTA. Banyaknya kasus yang berbau SARA karena ada yang memprovokasi yang menyudutkan umat Islam mereka sehingga menjadi radikal, yang tadinya tidak radikal pun menjadi radikal. Dengan dalih isu kebebasan, HAM kemudian masyarakat menjadi marah, akhirnya mereka menjadi radikal. Kita tetap menyadarkan umat supaya tidak terprovokasi, demikian pernyataan Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin, dalam pertemuannya dengan pihak Kepolisian, di Jakarta (16/2)

Ahmadiyah sudah dikatakan sesat, namun umat Islam diprovokasi dengan dalih isu kebebasan dan HAM, akhirnya marah,” tegas Mar’ruf Amin.

Menurutnya, MUI sudah merekomendasikan kepada presiden agar membubarkan Ahmadiyah yang sudah difatwakan sesat, dan itu sudah dijelaskan jauh sebelum muncul kasus Cikesusik dan Temanggung.

Selain itu, MUI sudah mendapatkan informasi dari Tim Pencari Fakta dan pihak Kepolisian terkait kasus di Cikeusik dan Temanggung.

“Banyak kesamaan yang kita temukan antara TPF MUI dan pihak Kepolisian,” ungkapnya.

Iklan

Para Pembela Ahmadiyah “Bejibun dan Ngawur”


oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede adalah penulis buku Ummat Dikepung Maksiat, Politik Kotor dan Sesat

Pasca kerusuhan Cikeusik, Pandeglang, Banten, 6 Februari 2011, yang menewaskan tiga jemaat Ahmadiyah, ada sejumlah (banyak, bejibun) pembela aliran sesat Ahmadiyah berkomentar di berbagai media massa. Yang menarik, dari sekian banyak para pembela Ahmadiyah ini, ada satu keluarga anak-beranak yang terlihat konsisten dan setia menjadi pembela Ahmadiyah, meski aliran ini sudah pernah dinyatakan sesat oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Bahtsul Matsail NU (Nahdlatul Ulama).

Anak-beranak yang setia membela aliran sesat Ahmadiyah ini adalah keluarga mendiang Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selain Gus Dur dan istrinya (Shinta Nuriyah), ternyata-anak-anak mereka juga pembela Ahmadiyah.

Sebagaimana bisa ditemukan pada berbagai media terbitan 4 Mei 2008, mendiang Gus Dur pernah ditanya sejumlah wartawan mengapa ia membela Ahmadiyah?

Ketika itu Gus Dur mengatakan, “…karena mereka kaum minoritas yang perlu dilindungi dan saya tidak peduli mengenai ajarannya…”

(lihat tulisan berjudul “Gus Dur Bela Ahmadiyah Berdalih karena Minoritas” di nahimunkar.com edisi May 8, 2008 1:10 am).

Begitu juga dengan istri Gus Dur, Shinta Nuriyah, pernah memberikan pembelaan terhadap Ahmadiyah. Pada satu kesempatan, ia pernah mengatakan, “…keyakinan penganut Ahmadiyah yang memposisikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad SAW, merupakan bagian dari kebebasan berkeyakinan dan berekspresi…”

(lihat tulisan berjudul Bangsa Banyak Bicara (B3) di nahimunkar,com edisi October 3, 2010 9:35 pm).

http://www.nahimunkar.com/bangsa-banyak-bicara-b3/#more-3448

Paham sejenis juga dianut putri kedua Gus Dur, Yeni Wahid, yang pernah mengatakan, “… saya juga tidak terlalu tahu akidah mereka (maksudnya ahmadiyah-red nahimunkar) seperti apa, tapi bahwa mereka berhak meyakini keyakinan mereka. Dan kita tidak bisa paksakan keyakinan kita pada mereka…”

(detiknews edisi Jumat, 17/09/2010 03:54 WIB).

Sehari pasca kerusuhan di Cikeusik, putri tertua Gus Dur, Alissa Wahid, menyampaikan orasi keprihatinan di Tugu Yogya, pada hari Senin malam tanggal 7 Februari 2011. Alissa mengatakan, “…Kita orang Indonesia, seharusnya kita saling membantu, bukan saling membunuh. Kebangsaan kita saat ini sedang digoyah…”

Sebuah orasi yang terkesan indah, namun hampa, seperti popcorn (jagung goreng yang mengembang). Disebut demikian, karena bentrokan antara warga Cikeusik dengan jemaat Ahmadiyah, berkaitan dengan akidah. Bukan kebangsaan. Bila umat Islam yang sedang mempertahankan akidahnya disebut kebangsaannya sedang goyah, itu sama dengan asma (asal mangap), mengada-ada. Meski jemaat Ahmadiyah digolongkan sesat, mereka tetap diakui sebagai bangsa Indonesia, sebagai rakyat Indonesia.

Dalam hal “… saling membantu, bukan saling membunuh…” Alissa juga salah cara berfikirnya. Bagaimana mungkin umat Islam Indonesia, setidaknya yang berada di Cikeusik, mau saling bantu dengan jemaat Ahmadiyah yang justru punya tujuan merusak akidah umat Islam. Apalagi, jemaat Ahmadiyah justru merasa benar, dan berusaha meyakinkan sekitarnya untuk menerima ‘kebenaran’ yang mereka yakini.

Bila Alissa Wahid diajak manggung oleh Aliansi Jogja untuk Indonesia Damai (AJI Damai), Inayah Wahid sang adik, diajak manggung oleh Jaringan Aktivis Perempuan dan Aktivis HAM untuk Demokrasi, pada hari yang sama (Senin pagi tanggal 7 Februari 2011), di depan Istana Negara, Jakarta.

Inayah antara lain mengatakan, “…Pemerintah Indonesia seharusnya kembali memaknai semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang mengandung nilai keberagaman, sehingga insiden penyerbuan terhadap warga Ahmadiyah beberapa waktu lalu tidak terjadi…”

Kakak-beradik ini rupanya sama-sama ora mudheng (tidak faham persoalan), bahwa kasus kekerasan terhadap Ahmadiyah akarnya bukan ketidakmampuan menerima keragaman. Tetapi, karena Ahmadiyah mencederai akidah umat Islam.

Ahmadiyah memaksakan pemahamannya bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi sesudah kenabian Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Paham punya nabi sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. itu jelas bertentangan dengan Islam.

Bahkan, kelompok Ahmadiyah ini bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara dengan penganut paham sesat Ahmadiyah terbesar di dunia. Cita-cita itulah yang membuat mereka militan.

Dalam kasus Cikeusik, jemaat Ahmadiyah yang hanya berjumlah 25 orang, tentu tidak akan diusik bila mereka tidak melakukan upaya-upaya menyebarkan paham sesat Ahmadiyah kepada lingkungan sekitarnya.

Yang jadi pertanyaan, mengapa jemaat Ahmadiyah yang sedikit itu punya keberanian menyebarkan paham sesatnya? Padahal, tindakan itu tidak dibenarkan dan bertentangan dengan SKB (Surat Keputusan Bersama) yang ditandatangani Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung, yang diterbitkan pada hari Senin tanggal 9 Juni 2008.

SKB No 3/2008, KEP-033/A/JA/6/2008, dan No 199/2008 tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota, dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat, selengapnya berisi:

  1. Memberi peringatan dan memerintahkan warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran itu.
  2. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI sepanjang mengaku beragama Islam untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam, yaitu penyebaran paham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.
  3. Penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada diktum kesatu dan diktum kedua dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk organisasi dan badan hukumnya.
  4. Memberi peringatan dan memerintahkan warga masyarakat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban kehidupan bermasyarakat dengan tidak melakukan perbuatan dan/atau tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI.
  5. Warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada diktum kesatu dan diktum keempat dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
  6. Memerintahkan aparat pemerintah dan pemerintah daerah melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan Keputusan Bersama ini.

Masalahnya, bukan hanya jemaat Ahmadiyah yang membandel, tetapi pihak pemerintah juga tidak tegas. Seharusnya, sudah sejak kemarin-kemarin Ahmadiyah dibubarkan. Menteri Agama Suryadharma Ali usai mengikuti rapat gabungan pemerintah dan DPR tentang ormas di Gedung DPR, Senayan, hari Senin tanggal 30 Agustus 2010 lalu, pernah mengatakan: “Ahmadiyah itu seharusnya dibubarkan. Kalau tidak dibubarkan permasalahannya akan terus berkembang.”

Sehari kemudian, 31 Agustus 2010, usai mengikuti buka bersama Wakil Presiden Boediono dengan para ulama di Kediaman Dinas Wapres, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Suryadharma Ali kembali menegaskan: “Jadi sekali lagi, ini harus diselesaikan.

Kalau dibiarkan ini me-maintenance masalah. Ini setiap hari, setiap minggu, potensi konflik terus ada gitu, lho. Kalau ini tidak diselesaikan, kita khawatir eskalasinya makin meningkat dan pada akhirnya keadaannya makin buruk.”

 

Dimanfaatkan untuk menutupi kasus yang lebih besar?

Faktanya, hingga enam bulan kemudian, posisi Ahmadiyah tetap menggantung. Padahal, umat Islam sudah seperti hilang kesabaran menanti realisasi dibubarkannya aliran dan paham sesat Ahmadiyah. Seperti ada politik pembiaran terhadap kasus ini, yang sewaktu-waktu akan dimanfaatkan untuk menutupi kasus yang lebih besar, misalnya kasus mafia pajak. Barangkali, itulah yang terjadi pada kasus Cikeusik, Pandeglang, Banten, pada tanggal 6 Februari 2011 lalu.

Ketika perhatian sedang tercurah kepada kasus Cikeusik, tiba-tiba Buyung Nasution yang selama ini menjadi pengacara Gayus Tambunan, mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pengacara Gayus sejak 7 Februari 2011. Keputusan itu disampaikan Buyung pada 8 Februari 2011, dalam sebuah jumpa pers di Menara Global, Jl Gatot Subroto, Jakarta.

Jangan lupa, selain nama Adnan Buyung Nasution tercantum dalam iklan AKKBB Mei-Juni 2008, ia juga pembela Ahmadiyah (lihat tulisan berjudul Adnan Buyung Bela Ahmadiyah Mewakili Siapa? di nahimunkar.com edisi May 9, 2008 5:19 am)

http://www.nahimunkar.com/adnan-buyung-bela-ahmadiyah-mewakili-siapa/#more-59.

Menurut Buyung, ia mundur karena Gayus sudah memakai jasa pengacara lain (Hotma Sitompoel), dan mengubah haluan soal mafia pajak dan mafia hukum.

Menurut Buyung, Gayus yang semula menyudutkan perusahaan Bakrie terkait pajak, kini berbalik arah. Bahkan Gayus berani mengatakan, nama Bakrie ia kait-kaitkan karena diarahkah oleh Denny Indrayana. Jika semula Gayus terkait dengan 149 perusahaan yang laporan pajaknya ia rekayasa, kini arahnya berbalik yaitu Gayus sama sekali tidak ada kaitannya dengan perusahaan-perusahaan tersebut.

Jangan juga dilupakan, bahwa Hotma Sitompoel selama ini adalah anak emas Buyung Nasution. Kedekatan mereka sudah terjalin sejak keduanya aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Kalau saat ini terkesan keduanya seperti berseberangan, apakah punya makna tersembunyi?

Para pembela Ahmadiyah pasca kerusuhan Cikeusik, bagai sekawanan laron yang menyerbu cahaya usai hujan petang hari. Mereka antara lain Anick H. Tohari. Menurut Anick, negara gamang dalam menangani kasus Cikeusik ini secara tuntas. Anick juga berpendapat, negara tidak berhak membuat penafsiran suatu agama. Pendapat itu terkesan gagah, tapi ngawur.

Karena, kesesatan Ahmadiyah bukanlah produk penafsiran negara, tetapi merujuk kepada akidah baku umat Islam yang dilandaskan pada Al-Qur’an yang kemudian diikuti oleh para ulama shalih.

Selain Anick, yang juga tercantum namanya dalam iklan AKKBB adalah Eva Kusuma Sundari dari PDIP. Menurut Eva, pemerintah telah gagal menjamin kebebasan warga negara dalam memeluk agama dan melaksanakan ibadah. Pendapat itu dikemukakan Eva terkait insiden penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten.

Pendapat tersebut juga terkesan gagah dan humanis, namun ya ngawur juga. Karena, masalahnya bukan pada memeluk (memilih) agama dan melaksanakan ibadah, tetapi kepada adanya keyakinan (akidah) yang bertentangan dan dipaksakan untuk diterima sebagai kebenaran, padahal bathil.

Menurut Akil Mochtar (hakim konstitusi), “Keyakinan itu tidak dilarang. Konstitusi mengaturnya secara tegas, memberikan jaminan atas kebebasan berkeyakinan. Namun, ketika keyakinan tersebut telah menyinggung keyakinan orang lain, maka itu harus dibatasi.”

Dalam hal ini, Ahmadiyah tidak mau dibatasi. Mereka maunya disamakan, dibebaskan dengan kebathilannya, dan dibebaskan merusak akidah umat Islam. Sikap bathil ini ternyata didukung oleh laron-laron AKKBB yang neo-sinkretis. Salah satu laron itu adalah Qasim Mathar, Guru Besar UIN Alauddin Makassar.

Qasim Mathar selaku jurubicara Forum Masyarakat Sulawesi Selatan (FMS) yang terdiri dari tokoh-tokoh lintas agama, akademisi dan aktivis organisasi non pemerintah, meminta pemerintah merevisi SKB 3 Menteri. Alasannya, SKB tersebut telah menjadi penyebab terjadinya sejumlah tindak kekerasan dan dijadikan dasar bertindak untuk menyerang kelompok Ahmadiyah.

Pandangan itu jelas mengada-ada dan tidak sesuai kenyataan. Karena, SKB itu justru bagai macan ompong yang tidak bisa menghentikan perusakan akidah yang sedang dijalankan Ahmadiyah.

Kalau toh mau direvisi, SKB itu perlu diperkuat dan dipertegas, sehingga penyebaran paham sesat Ahmadiyah bisa berhenti, dan umat Islam tidak lagi direpotkan dengan ulah mereka. Barulah kita bisa berharap potensi konflik bisa diakhiri.

Sekedar mengingatkan, pada harian Media Indonesia edisi 26 Mei 2008 (hal. 13), pernah terpampang ratusan nama pendukung AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), sebagai berikut:

  • A. Mubarik Ahmad
  • A. RAHMAN TOLLENG
  • A. Sarjono
  • A. Suti Rahayu
  • A. SYAFII MAARIF
  • AA GN Ari Dwipayana
  • Aan Anshori
  • Abdul Moqsith Ghazali
  • Abdul Munir Mulkhan
  • Abdul Qodir Agil
  • Abdur Rozaki
  • Acep Zamzam Nur
  • Achmad Chodjim
  • Achmad Munjid
  • Ade Armando
  • Ade Rostina Sitompul
  • Adi Wicaksono
  • ADNAN BUYUNG NASUTION
  • Agnes Karyati
  • Agus Hamonangan
  • Agustinus
  • Ahmad Baso
  • Ahmad Fuad Fanani
  • Ahmad Nurcholish
  • Ahmad Sahal
  • Ahmad Suaedi
  • Ahmad Taufik
  • Ahmad Tohari
  • Akmal Nasery Basral
  • Alamsyah M. Dja’far
  • Albait Simbolon
  • Albertus Patty
  • Amanda Suharnoko
  • AMIEN RAIS
  • Ana Lucia
  • Ana Situngkir
  • Anak Agung Aryawan
  • ANAND KRISHNA
  • Andar Nubowo
  • Andreas Harsono
  • Andreas Selpa
  • Anick H. Tohari
  • Antonius Nanang E.P.
  • Ari A. Perdana
  • Arianto Patunru
  • ARIEF BUDIMAN
  • Arif Zulkifli
  • Asep Mr.
  • Asfinawati
  • Asman Aziz
  • ASMARA NABABAN
  • Atika Makarim
  • Atnike Nova Sigiro
  • Ayu Utami
  • AZYUMARDI AZRA
  • Bachtiar Effendy
  • Benny Susetyo, SJ
  • Bivitri Susanti
  • Bonnie Tryana
  • BR. Indra Udayana
  • Budi Purwanto
  • Butet Kertaredjasa
  • CHRISTIANTO WIBISONO
  • Christina Sudadi
  • Cosmas Heronimus
  • Daddy H. Gunawan
  • Daniel Dhakidae
  • Daniel Hutagalung
  • Djaposman S
  • DJOHAN EFFENDI
  • Doni Gahral Adian
  • Donny Danardono
  • Eep Saefulloh Fatah
  • Eka Budianta
  • Eko Abadi Prananto
  • Elga J. Sarapung
  • Elizabeth Repelita
  • Elza Taher
  • Endo Suanda
  • Erik Prasetya
  • EVA SUNDARI
  • F. Wartoyo
  • Fadjroel Rahman
  • Fajrime A. Goffar
  • Farid Ari Fandi
  • Fenta Peturun
  • FIKRI JUFRI
  • Franky Tampubolon
  • Gabriella Dian Widya
  • Gadis Arivia
  • Garin Nugroho
  • Geovanni C.
  • Ging Ginanjar
  • GOENAWAN MOHAMAD
  • Gomar Gultom
  • Gus TF Sakai
  • Gustaf Dupe
  • GUSTI RATU HEMAS
  • Hadi Nitihardjo
  • Hamid Basyaib
  • Hamim Enha
  • Hamim Ilyas
  • Hamka Haq
  • Haryo Sasongko
  • Hasif Amini
  • Hendardi
  • Hendrik Bolitobi
  • Herman S. Endro
  • Heru Hendratmoko
  • HS DILLON
  • I Gede Natih
  • ICHLASUL AMAL
  • Ifdal Kasim
  • Ihsan Ali-Fauzi
  • Ika Ardina
  • Ikravany Hilman
  • Imam Muhtarom
  • Ilma Sovri Yanti
  • Imadun Rahmad
  • Indra J. Piliang
  • Isfahani
  • J. Eddy Juwono
  • Jacky Manuputty
  • Jaduk Feriyanto
  • Jajang Pamuntjak
  • Jajat Burhanudin
  • Jaman Manik
  • Jeffri Geovanie
  • Jeirry Sumampow
  • JN. Hariyanto, SJ
  • Johnson Panjaitan
  • JORGA IBRAHIM
  • Josef Christofel Nalenan
  • Joseph Santoso
  • Judo Puwowidagdo
  • JULIA SURYAKUSUMA
  • Jumarsih
  • Kadek Krishna Adidarma
  • Kartini
  • Kartono Mohamad
  • Kautsar Azhari Noer
  • KEMALA CHANDRA KIRANA
  • KH. ABDUD TAWWAB
  • KH. ABDUL A’LA
  • KH. ABDUL MUHAIMIN
  • KH. ABDURRAHMAN WAHID
  • KH. HUSEIN MUHAMMAD
  • KH. IMAM GHAZALI SAID
  • KH. M. IMANUL HAQ FAQIH
  • KH. MUSTOFA BISRI
  • KH. NURIL ARIFIN
  • KH. NURUDIN AMIN
  • KH. RAFE’I ALI
  • KH. SYARIF USMAN YAHYA
  • Kristanto Hartadi
  • L. Ani Widianingtias
  • Laksmi Pamuntjak
  • Lasmaida S.P.
  • Leo Hermanto
  • LIES MARCOES-NATSIR
  • Lily Zakiyah Munir
  • LIN CHE WEI
  • Lisabona Rahman
  • Luthfie Assyaukanie
  • M. Chatib Bisri
  • M. DAWAM RAHARDJO
  • M. Guntur Romli
  • M. Subhan Zamzami
  • M. Subhi Azhari
  • M. Syafi’i Anwar
  • Marco Kusumawijaya
  • Maria Astridina
  • Maria Ulfah Anshor
  • Mariana Amirudin
  • MARSILAM SIMANJUNTAK
  • Martin L. Sinaga
  • Martinus Tua Situngkir
  • Marzuki Rais
  • Masykurudin Hafidz
  • MF. Nurhuda Y
  • Mira Lesmana
  • MOCHTAR PABOTTINGI
  • MOESLIM ABDURRAHMAN
  • Moh. Monib
  • Mohammad Imam Aziz
  • Mohtar Mas’oed
  • Monica Tanuhandaru
  • Muhammad Kodim
  • Muhammad Mawhiburrahman
  • Mulyadi Wahyono
  • MUSDAH MULIA
  • Nathanael Gratias
  • Neng Dara Affiah
  • Nia Sjarifuddin
  • Nirwan Dewanto
  • Noldy Manueke
  • Nong Darol Mahmada
  • NONO ANWAR MAKARIM
  • Noorhalis Majid
  • Novriantoni
  • Nugroho Dewanto
  • Nukila Amal
  • Nur Iman Subono
  • Pangeran Djatikusumah
  • Panji Wibowo
  • Patra M. Zein
  • Permadi
  • Pius M. Sumaktoyo
  • Putu Wijaya
  • Qasim Mathar
  • R. Muhammad Mihradi
  • R. Purba
  • Rachland Nashidik
  • Rafendi Djamil
  • Raharja Waluya Jati
  • Raja Juli Antoni
  • Rasdin Marbun
  • RATNA SARUMPAET
  • Rayya Makarim
  • Richard Oh
  • Rieke Dyah Pitaloka
  • RIZAL MALARANGENG
  • Robby Kurniawan
  • Robertus Robett
  • Rocky Gerung
  • Rosensi
  • Roslin Marbun
  • Rumadi
  • Saiful Mujani
  • Saleh Hasan Syueb
  • Sandra Hamid
  • Santi Nuri Dharmawan
  • Santoso
  • Saor Siagian
  • Sapardi Djoko Damono
  • Sapariah Saturi Harsono
  • SAPARINAH SADLI
  • Saras Dewi
  • Save Degun
  • SHINTA NURIYAH WAHID
  • Sijo Sudarsono
  • Sitok Srengenge
  • Slamet Gundoro
  • Sondang
  • Sri Malela Mahargasari
  • St. Sunardi
  • Stanley Adi Prasetyo
  • Stanley R. Rambitan
  • Sudarto
  • Suryadi Radjab
  • SUSANTO PUDJOMARTONO
  • Syafiq Hasyim
  • Syamsurizal Panggabean
  • Sylvana Ranti-Apituley
  • Sylvia Tiwon
  • Tan Lioe Ie
  • Tatik Krisnawaty
  • TAUFIK ABDULLAH
  • Taufik Adnan Amal
  • TGH Imran Anwar
  • TGH Subki Sasaki
  • Tjiu Hwa Jioe
  • Tjutje Mansuela H.
  • TODUNG MULYA LUBIS
  • Tommy Singh
  • Toriq Hadad
  • Tri Agus S. Siswowiharjo
  • Trisno S. Sutanto
  • Uli Parulian Sihombing
  • ULIL ABSHAR-ABDALLA
  • Usman Hamid
  • Utomo Dananjaya
  • Victor Siagian
  • Vincentius Tony V.V.Z
  • Wahyu Andre Maryono
  • Wahyu Effendi
  • Wahyu Kurnia I
  • Wardah Hafiz
  • Wiwin Siti Aminah Rohmawati
  • WS RENDRA
  • Wuri Handayani
  • Yanti Muchtar
  • Yayah Nurmaliah
  • Yenni Rosa Damayanti
  • YENNY ZANNUBA WAHID
  • Yohanes Sulaiman
  • Yosef Adventus Febri P.
  • Yosef Krismantoyo
  • Yudi Latif
  • Yuyun Rindiastuti
  • Zacky Khairul Umam
  • Zaim Rofiqi
  • Zen Hae
  • Zainun Kamal
  • Zakky Mubarok
  • Zuhairi Misrawi
  • Zulkifli Lubis
  • Zuly Qodir

 

Membela Aliran Sesat dan Memprovokasi

Masih banyak laron-laron AKKBB yang berkomentar di berbagai media cetak dan elektronik. Posisi mereka sangat jelas, yaitu memprovokasi rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, untuk terus memelihara konflik horizontal dengan Ahmadiyah. Provokasi yang mereka lakukan memang licik, yaitu dengan memposisikan Ahmadiyah sebagai pihak yang benar dan teraniaya, padahal penyebaran paham sesat Ahmadiyah bertentangan dengan SKB dan akidah umat Islam. Sementara itu, pihak lain mereka posisikan sebagai pelaku kekerasan, anarkis dan mau memang sendiri.

Akibatnya, pihak Ahmadiyah semakin percaya diri dan arogan dengan kebathilannya, sehingga semakin berani melawan umat Islam. Sementara itu, umat Islam kian merasa terdzalimi. Perasaan terdzalimi ini tentu membangun potensi balas dendam. Kalau potensi ini kemudian diprovokasi oleh kekuatan dari luar, konflik horizontal alias anarkisme tinggal menunggu waktu.

Apalagi, bila kerusuhan itu memang dirancang sebagaimana kecurigaan sementara orang terkait beredarnya video aksi kekerasan massa di Cikeusik yang diunggah Andreas Harsono di Youtube.

Namun siapa sesunguhnya yang merekam kejadian itu? Yang jelas, pelaku perekaman berada di posisi Ahmadiyah, dan ia begitu leluasa bergerak di tengah-tengah konflik yang menewaskan tiga nyawa jemaat Ahmadiyah itu.

 

Susahnya Menelusuri Pengupload Video Tragedi Ahmadiyah di Youtube
Anwar Khumaini – detikNews

Kamis, 10/02/2011 07:05 WIB

 

Jakarta – Tak lama setelah terjadi kasus kekerasan yang dilakukan oleh massa terhadap warga Ahmadiyah Cikeusik, Pandeglang, Banten, muncul video tentang aksi kekerasan massa tersebut di Youtube. Video itu pun banyak diunduh. Namun tak lama kemudian, video itu pun diblokir.

Sebenarnya, siapakah orang yang mengupload video berdurasi 1.06 menit tersebut? Menurut kabar, sang pengupload bernama Andreas Harsono. Namun saat dikonfirmasi detikcom, Andreas menolak untuk menjawab. Menurutnya, ada timnya yang bertugas khusus untuk menjawab pertanyaan ini.

“Ada tim saya bernama Elin yang akan menjawabnya,” kata Andreas singkat kepada detikcom via telepon, Rabu (9/2/2011) malam.

Anderas kemudian meminta detikcom untuk meneleponnya kembali 2 menit kemudian. Namun saat ditelepon kembali, Andreas tidak mengangkat teleponnya. Baru setelah di-SMS, Andreas membalasnya.

Dalam balasannya tersebut, Andreas kemudian memberikan nomor Elin yang dia maksud. Namun ternyata nama lengkap orang yang dimaksud adalah Elaine Pearson, yang saat ini berada di Perth, Australia. Selain meminta menghubungi Elaine, Andreas juga meminta agar detikcom menghubungi Brad Adams yang saat ini berada di London.

“Elaine saat ini mungkin sudah tidur, tapi coba SMS nanti dia akan menelepon,” kata Andreas.

Namun hingga saat ini detikcom belum berhasil menghubungi kedua nomor tersebut.

Dari video yang ditonton detikcom, Senin (7/2/2011) lalu, tampak beberapa orang dari massa yang beringas itu menimpuki dua pemuda yang sudah tidak berdaya itu dengan batu, bambu, dan kayu. Tampak seorang pemuda berjaket biru memukul dengan bambu tanpa henti. Sementara pemuda lainnya ikut memukul bertubi-tubi.

Salah satu pemuda yang nyaris telanjang tampak sudah tidak bergerak. Kemungkinan, pemuda yang hanya memakai celana dalam itu sudah tewas. Tubuhnya penuh dengan luka dan berdarah-darah. Sementara satu pemuda lainnya yang menjadi amukan massa tampak terus dipukuli. Pemuda itu tampak tidur tengkurap dan tidak bergerak.

Sementara itu, kerumunan massa yang mengitari dua pemuda yang kondisinya sangat mengenaskan itu terus meneriakkan takbir. Bahkan beberapa di antara mereka tampak asyik merekam kejadian itu melalui ponselnya. (anw/nvc)

(http://www.detiknews.com/read/2011/02/10/070526/1568194/10/susahnya-menelusuri-pengupload-video-tragedi-ahmadiyah-di-youtube)

 

Sikap Menteri Agama Berobah

Kecurigaan sebagian masyarakat terhadap adanya rekayasa dalam kasus Cikeusik ini semakin menajam ketika merasakan adanya perobahan sikap dari Menteri Agama. Enam bulan lalu, Menteri Agama Suryadhama Ali melalui pernyataannya di berbagai media terkesan begitu fokus dan antusias bahwa aliran dan paham sesat Ahmadiyah akan dibubarkan setelah Lebaran (Idul Fitri 1431 H). Namun kini, pasca kasus Cikeusik, tidak fokus dan tidak antusias lagi. Siapa menekan Menteri Agama?

Dalam rapat bersama antara anggota DPR RI dengan Menteri Agama dan Kapolri, 09 Februari 2011, Suryadharma menawarkan 4 alternatif.

  • Pertama, Ahmadiyah membuat sekte sendiri di luar Islam.
  • Kedua, Ahmadiyah menjadi Islam yang benar.
  • Ketiga, Ahmadiyah dibubarkan.
  • Keempat, Ahmadiyah dibiarkan.

 

Suryadharma sendiri nampaknya lebih condong kepada alternatif kedua. Karena, menurutnya, jamaah Ahmadiyah memiliki semangat ber-Islam yang kuat, namun mendapatkan dakwah yang salah. Oleh karena itu, menurut Menag, dengan dialog mereka dapat dikembalikan ke jalan yang benar.

Ada apa dengan Menteri Agama Suryadharma Ali? Rasanya tidak mungkin beliau takut hanya kepada segerombolan laron.

 

Ancaman siksa neraka sangat dahsyat

Perkataan ngawur dari para pembela Ahmadiyah (pengikut nabi palsu) yang telah meragukan dan bahkan bertentangan dengan ayat Al-Qur’an itu sangat membahayakan bagi diri orang yang mengatakannya, bahkan bisa membahayakan bagi orang lain yang terpengaruh dengannya. Maka wajar kalau sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam masuk neraka atas orang yang hanya gara-gara ia mengucapkan satu perkataan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata:

Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah (satu kata) yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang jarak dalamnya antara timur dan barat. (Hadits ruiwayat Al-Bukhari dan Muslim).

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

“Sesungguhnya bisa jadi seseorang mengucapkan suatu perkataan yang disangkanya tidak apa-apa, tapi dengannya justru tergelincir dalam api neraka selama tujuh puluh musim.” (HR At-Tirmidzi, ia katakan ini hadits hasan gharib dari arah ini, dan Ahmad – 6917).

 

Mengenai pembela nabi palsu (terkena juga bagi orang yang membela pengikut nabi palsu, seperti membela Ahmadiyah hakekatnya membela nabi palsu pula), dalam Musnad Al-Humaidi diriwayatkan:

Dari Imran bin Dhabyan dari seorang dari Bani Hanifah (suku yang ada nabi palsunya, Musailimah Al-Kadzdzab) bahwa ia mendengarnya, dia berkata, Abu Hurairah berkata kepadaku: Kenalkah kamu (seorang bernama) Rajjal? Aku jawab: ya. Dia (Abu Hurairah) berkata: Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Gigi gerahamnya (Ar-Rajjal) di dalam neraka lebih besar daripada Gunung Uhud”. Dia dulunya masuk Islam kemudian murtad dan bergabung dengan Musailimah (Nabi palsu). (Musnad Al-Humaidi).

 

Para pembela nabi palsu diancam siksa neraka sangat dahsyat. Termasuk para pembela Ahmadiyah pada hakekatnya adalah pembela nabi palsu, karena Ahmadiyah adalah pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad.

Saef bin Umar meriwayatkan dari Thulaihah dari Ikrimah dari Abu Hurairah dia berkata,

“Suatu hari aku duduk di sisi Rasulullah bersama sekelompok orang, di tengah kami hadir Ar-Rajjal bin Anfawah.

Nabi bersabda,

“Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”


Kemudian aku (Abu Hurairah) perhatikan bahwa seluruh yang dulu hadir telah wafat, dan yang tinggal hanya aku dan Ar-Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar-Rajjal keluar mengikuti Musailimah dan membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailimah.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Is-haq dari gurunya, dari Abu Hurairah ra.

(Lihat Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, dalam bahasan nabi palsu Musailimah Al-Kadzdzab, atau lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakrta, 2007, bab Nabi Palsu Musailimah Al-Kadzdzab).

 

Dengan adanya ancaman dahsyat itu, kekhawatiran akan hilangnya keimanan akibat membela Ahmadiyah pun ada. Contohnya adalah artikel berjudul ParaPembela Kafirin Ahmadiyah, Perlukah Mayatnya Disholati?

(lihat nahimunkar.com, June 4, 20089:23 pm,

http://www.nahimunkar.com/para-pembela-kafirin-ahmadiyah/#more-77)

Demikianlah ancaman keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang perkataannya dianggap tidak mengapa (padahal sangat merusak agama) maka mengakibatkan dicemplungkan ke neraka yang jarak dalamnya saja 70 tahun (perjalanan).

Sedang yang membela nabi palsu maka gigi gerahamnya di neraka lebih besar dibanding Gunung Uhud. Betapa ngerinya. Namun kini betapa beraninya mereka berkata-kata dengan sangat ngawurnya, hanya untuk membela pengikut nabi palsu.

sumber: http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/para-pembela-ahmadiyah-bejibun-dan-ngawur-ancaman-dahsyat-neraka-tersedia.htm

AHMADIYAH, KELOMPOK PENGEKOR NABI PALSU


Apa itu Ahmadiyah?

Ahmadiyah adalah gerakan yang lahir pada tahun 1900 M, yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Inggris di India. Didirikan untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama Islam dan dari kewajiban jihad dengan gambaran/bentuk khusus, sehingga tidak lagi melakukan perlawanan terhadap penjajahan dengan nama Islam. Gerakan ini dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani. Corong gerakan ini adalah “majalah al-Adyan” yang diterbitkan dengan bahasa Inggris.

Siapa Mirza Ghulam Ahmad?

Mirza Ghulam hidup pada tahun 1839-1908

 

M. Dia dilahirkan di desa Qadian, di wilayah Punjab, India tahun 1839 M. Dia tumbuh di keluarga yang terkenal suka khianat kepada agama dan negara. Begitulah dia tumbuh, mengabdi kepada penjajahan dan senantiasa mentaatinya. Ketika dia mengangkat dirinya menjadi nabi, kaum muslimin bergabung dan menyibukkan diri dengannya sehingga mengalihkan perhatian dari jihad melawan penjajahan Inggris. Oleh pengikutnya dia dikenal sebagai orang yang menghasut/berbohong, banyak penyakit, dan pecandu narkotik.

Pemerintah Inggris banyak berbuat baik kepada mereka. Sehingga dia dan pengikutnya pun memperlihatkan loyalitas kepada pemerintah Inggris.

Di antara yang melawan dakwah Mirza Ghulam adalah Syaikh Abul Wafa’, seorang pemimpin Jamiah Ahlul Hadits di India. Beliau mendebat dan mematahkan hujjah Mirza Ghulam, menyingkap keburukan yang disembunyikannya, kekufuran serta penyimpangan pengakuannya.

Ketika Mirza Ghulam Ahmad masih juga belum kembali kepada petunjuk kebenaran, Syaikh Abul Wafa’ mengajaknya bermubahalah (berdoa bersama), agar Allah mematikan siapa yang berdusta di antara mereka, dan yang benar tetap hidup. Tak lama setelah bermubahalah, Mirza Ghulam Ahmad menemui ajalnya tahun 1908 M.

Pada awalnya Mirza Ghulam berdakwah sebagaimana para dai Islam yang lain, sehingga berkumpul di sekelilingnya orang-orang yang mendukungnya. Selanjutnya dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang mujaddid (pembaharu). Pada tahap berikutnya dia mengklaim dirinya sebagai Mahdi al-Muntazhar dan Masih Al-Maud. Lalu setelah itu mengaku sebagai nabi dan menyatakan bahwa kenabiannya lebih tinggi dan agung dari kenabian nabi kita Muhammad SAW.

Dia mati meninggalkan lebih dari 50 buku, buletin serta artikel hasil karyanya.

Di antara kitab terpenting yang dimilikinya berjudul Izalatul Auham, I’jaz Ahmadi, Barohin Ahmadiyah, Anwarul Islam, I’jazul Masih, at-Tabligh dan Tajliat Ilahiah.

Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah

 

Meyakini bahwa Mirza Ghulam adalah al-masih1 yang dijanjikan.
Meyakini bahwa Allah berpuasa dan melaksanakan shalat; tidur dan mendengkur; menulis dan menyetempel; melakukan kesalahan dan berjimak. Maha tinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang mereka yakini.

Keyakinan Ahmadiyah bahwa tuhan mereka adalah Inggris, karena dia berbicara dengannya menggunakan bahasa Inggris.

Berkeyakinan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan memberikan wahyu dengan diilhamkan sebagaimana al-Qur’an.

Menghilangkan aqidah/syariat jihad dan memerintahkan untuk mentaati pemerintah Inggris, karena menurut pemahaman maereka pemerintah inggris adalah waliul amri (pemerintah Islam) sebagaimana tuntunan Al-Qur’an

Seluruh orang Islam menurut mereka kafir sampai mau bergabung dengan Ahmadiyah. Seperti bila ada laki-laki atau perempuan dari golongan Ahmadiah yang menikah dengan selain pengikut Ahmadiyah, maka dia kafir.

Membolehkan khamer, opium, ganja, dan apa saja yang memabukkan.
Mereka meyakini bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad akan tetapi terus ada. Allah mengutus rasul sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Dan Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain.

Mereka mengatakan bahwa tidak ada al-Qur’an selain apa yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dan tidak ada al-Hadits selain apa yang disampaikan di dalam majelis Mirza Ghulam. Serta tidak ada nabi melainkan berada di bawah pengaturan Mirza Ghulam Ahmad.
Meyakini bahwa kitab suci mereka diturunkan (dari langit), bernama `Al-Kitab al-Mubin’, bukan al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin.

Mereka meyakini bahwa al-Qadian (tempat awal gerakan ini) sama dengan Madinah al-Munawarrah dan Mekkah al-Mukarramah; bahkan lebih utama dari kedua tempat suci itu, dan suci tanahnya serta merupakan kiblat mereka dan ke sanalah mereka berhaji.

Mereka meyakini bahwa mereka adalah pemeluk agama baru yang independen, dengan syariat yang independen pula; seluruh teman-teman Mirza Ghulam sama dengan sahabat Nabi Muhammad SAW

Akar Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah

Bermula dari gerakan orientalis bawah tanah yang dilakukan oleh Sayyid Ahmad Khan yang menyebarkan pemikiran-pemikiran menyimpang; yang secara tidak langsung telah membuka jalan bagi munculnya gerakan Ahmadiyah.

Inggris menggunakan kesempatan ini dan membuat gerakan Ahmadiyah, dengan memilih untuk gerakan ini seorang lelaki pekerja dari keluarga bangsawan.

Pada tahun 1953 M, terjadilah gerakan sosial nasional di Pakistan menuntut diberhentikannya Zhafrillah Khan dari jabatannya sebagai menteri luar negeri. Gerakan itu dihadiri oleh sekitar 10 ribu umat muslim, termasuk pengikut kelompok Ahmadiyah, dan berhasil menurunkan Zhafrillah Khan dari jabatannya.

Pada bulan Rabiulawwal 1394 H, bertepatan dengan bulan April 1974 M, dilakukan muktamar besar oleh Rabhithah Alam Islami di Mekkah al-Mukarramah yang dihadiri oleh tokoh-tokoh lembaga-lembaga Islam seluruh dunia. Hasil muktamar memutuskan “kufurnya kelompok ini dan keluar dari Islam. Meminta kepada kaum muslimin berhati-hati terhadap bahaya kelompok ini dan tidak bermuamalah dengan pengikut Ahmadiyah, serta tidak menguburkan pengikut kelompok ini di pekuburan kaum muslimin.”

Majelis Ummat (parlemen) Pakistan melakukan debat dengan gembong kelompok Ahmadiyah benama Nasir Ahmad. Debat ini belangsung sampai mendekati 30 jam. Nasir Ahmad menyerah/tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan tersingkaplah kedok kufurnya kelompok ini. Maka majelis pun mengeluarkan keputusan bahwa kelompok ini lepas dari agama Islam.

Hal-Hal yang Mewajibkan Kafirnya Mirza Ghulam Ahmad:

  1. Pengakuannya sebagi nabi.
  2. Menghapus kewajiban jihad dan mengabdi kepada penjajah.
  3. Meniadakan berhaji ke Mekkah dan menggantinya dengan berhaji ke Qadian.
  4. Penyerupaan yang dilakukannya terhadap Allah dengan manusia.
  5. Kepercayaannya terhadap keyakinan tanasukh (menitisnya ruh) dan hulul (bersatunya manusia dengan tuhan).
  6. Penisbatannya bahwa Allah memiliki anak, serta klaimnya bahwa dia adalah anak tuhan.
  7. Pengingkarannya terhadap ditutupnya kenabian oleh Muhammad SAW, dan membuka pintu tersebut bagi siapa saja yang menginginkannya.

 

Penyebaran dan Aktifitas

Penganut aliran Ahmadiyah kebanyakan hidup di India dan Pakistan dan sebagian kecilnya di Israel dan wilayah Arab.

Mereka senantiasa membantu penjajah agar dapat membentuk/ membangun sebuah markas di setiap negara di mana mereka ada.

Ahmadiyah memiliki pekerjaan besar di Afrika dan pada sebagian negara-negara Barat. Di Afrika saja mereka beranggotakan kurang lebih 5 ribu mursyid dan dai yang khusus merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah. Dan aktifitas mereka secara luas memperjelas bantuan/dukungan mereka terhadap penjajahan.

Keadaan kelompok Ahmadiyah yang sedemikian, ditambah perlakuan pemerintahan Inggris yang memanjakan mereka, memudahkan para pengikut kelompok ini bekerja menjadi pegawai di berbagai instansi pemerintahan di berbagai negara, di perusahaan-perusahaan dan persekutuan-persekutuan dagang. Dari hasil kerja mereka itu dikumpulkanlah sejumlah dana untuk membiayai dinas rahasia yang mereka miliki.

Dalam menjalankan misi, mereka merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah dengan segala cara, khususnya media massa. Mereka orang-orang yang berwawasan dan banyak memiliki orang pintar, insinyur dan dokter. Di Inggris terdapat pemancar dengan nama “TV Islami” yang dikelola oleh penganut kelompok Ahmadiyah ini

Pemimpin-Pemimpin Ahmadiyah

Pemimpin Ahmadiyah sepeninggal Mirza Ghulam bernama Nurruddin. Pemerintah Inggris menyerahkan kepemimpinan Ahmadiah kepadanya dan diikuti para pendukungnya. Di antara tulisannya berjudul Fashlb al-Khithab”.

Pemimpin lainnya adalah Muhammad Ali dan Khaujah Kamaluddin. Amir Ahmadiyah di Labor. Keduanya adalah corong/ahli debat kelompok Ahmadiyah. Muhammad Ali telah menulis terjemah al-Qur’an dengan perubahan transkripnya ke dalam bahasa Inggris. Tulisannya yang lain, “Haqiqat al-Ikhtilaf an-Nubuwwah fi al-Islam” dan “ad-Din al-Islami”.

Khaujah Kamaluddin menulis kitab yang berjudul “Matsal al-A`la fi al-Anbiya” serta kitab-kitab lain.

Jamaah Ahmadiyah Lahor ini berpandangan bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seorang mujadid. Tetapi yang berpandangan seperti ini dan yang tidak, mereka sama saja saling mengadopsi satu sama lain.

Muhammad Shadiq,

mufti kelompok Ahmadiyah. Di antara tulisannya berjudul, Khatam an-Nabiyyin”.

Basyir Ahmad bin Ghulam,

pemimpin pengganti kedua setelah Mirza Ghulam Ahmad. Di antara tulisannya berjudul “Anwar al-Khilafah”, “Tuhfat al-Muluk”, “Haqiqat an-Nubuwwah”

Dzhafrilah Khan,

menteri luar negeri Pakistan. Dia memiliki andil besar dalam menolong kelompok sesat ini, dengan memberikan tempat luas di daerah Punjab sebagai markas besar Ahmadiyah sedunia, dengan nama Robwah Isti’aroh (tanah tinggi yang datar) yang diadobsi dari ayat al-Qur’an:

Dan Kami melindungi mereka di suatu Robwah Istiaroh (tanah tinggi yang datar) yang banyak terdapatpadang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir. (Q.S. al-Mukminun:50)

Kesimpulan

Ahmadiyah adalah kelompok sesat yang tidak ada hubungannya dengan Islam.

Aqidah (keyakinan) mereka berbeda dengan keyakinan agama Islam dalam segala hal.

Kaum muslimin perlu diperingatkan atas aktifitas mereka, setelah para ulama Islam memfatwakan bahwa kelompok ini kufur.


Maraji`:

Al-Mausu’ahal Muyassarahfial Adyan wa al-Madzahib wa al-Ahzab al-Mu’ashirah, oleh Dr. Mani’ Ibnu Hammad al-Jahani.
Tabshir al Adyan bi ba di al-Madzahib wa al Adyan, oleh Muhammad as-Sabi’i

 

 

Wallahu a’lamu.
Baca lebih lanjut

Ahmadiyah Lahore tidak Terkena Aturan SKB



Posted on Kamis, 2 Oktober 2008 by redaksistudiislam

Terkait diterbitkannya SKB tiga menteri, Menteri Agama menjelaskan, SKB tidak berlaku bagi Ahmadiyah Lahore dengan organisasinya di Indonesia bernama GAI. “Karena itu, Ahmadiyah Yogyakarta tenang-tenang saja karena Lahore,” katanya.

Menag mengatakan, dalam perkembangannya, Ahmadiyah terpecah menjadi dua, yaitu Ahmadiyah Qodian yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW dan Ahmadiyah Lahore yang tetap mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dan hanya mengakui Mirza Ghulan Ahmad sebagai pembaharu.

KESRA–12 JUNI: Menteri Agama Maftuh Basyuni mengatakan, dari dua aliran Ahmadiyah yaitu Ahmadiyah Qodian dan Ahmadiyah Lahore, aliran Ahmadiyah Lahore tidak terkena aturan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Medagri dan Jaksa Agung tentang Ahmadiyah pada 9 Juni 2008.

Menteri Agama Maftuh Basyuni dalam Raker dengan Komisi VIII DPR RI di Gedung DPR/MPR Jakarta, Kamis, menjelaskan, Ahmadiyah lahir di Kota Qodian (India) pada 23 Maret 1889. Pendirinya adalah Mirza Ghulam Ahmad.

Pada raker yang juga dihadiri Mendagri Mardiyanto dan Jaksa Agung Hendarman Supandji, Menag mengatakan, dalam perkembangannya, Ahmadiyah terpecah menjadi dua, yaitu Ahmadiyah Qodian yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW dan Ahmadiyah Lahore yang tetap mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dan hanya mengakui Mirza Ghulan Ahmad sebagai pembaharu.

Kedua aliran dalam Ahmadiyah mulai masuk ke Indonesia 1925. Pengikut Ahmadiyah Lahore membentuk Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) dan pengikut Ahmadiyah Qodian membentuk Jemaah Ahmadiah Indonesia (JAI).

Meski menjalankan misi keagamaan, tetapi JAI didaftar sebagai organisasi kemasyarakatan (Ormas) bernomor 75/D.I/VI/2003 tanggal 5 Juni 2003. Sebelumnya, pemerintah melalui Departemen Kehakiman telah menetapkan badan hukum untuk JAI sebagai organisasi dengan Nomor JA/5/23/13 tanggal 13 Maret 1953 serta dalam lembaran Negara Nomor 26 tanggal 31 Maret 1953.

Dari dua aliran Ahmadiyah itu, menurut Menteri Agama, Ahmadiyah Qodian yang membentuk JAI yang menimbulkan kontroversi di masyarakat. Keberadaan JAI memicu penolakan dan terjadinya tindak kekerasan di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam kaitan kontroversi itu, MUI pada 1990 mengeluarkan fatwa yang melarang JAI karena menyesatkan. Di negara lain pun, seperti di Malaysia, Pakistan dan Brunei Darusallam Ahmadiyah Qodian mendapat penolakan.

Terkait diterbitkannya SKB tiga menteri, Menteri Agama menjelaskan, SKB tidak berlaku bagi Ahmadiyah Lahore dengan organisasinya di Indonesia bernama GAI. “Karena itu, Ahmadiyah Yogyakarta tenang-tenang saja karena Lahore,” katanya.

Menag menjelaskan, kalau saja Ahmadiyah Qodian melepas pengakuan bahwa Mirza Ghulan Ahmad adalah nabi setelah Nabi Muhammad, persoalan sudah selesai.

Namun Menag mengakui, SKB itu sulit diterapkan untuk pelarangan keyakinan. SKB hanya efektif untuk melarang atau mengatur perilaku orang per orang. “Kita tidak mengurusi keyakinan tetapi mengurusi perbuatan orang per orang,” katanya.

Menag menjelaskan, keyakinan orang bisa berbeda-beda dan hal itu sulit dilarang. Yang terkena tindakan pidana sebagai penoda agama adalah orang yang mengajak orang lain untuk mengikuti keyakinan yang menyimpang.

“Perbuatan ‘menyebarkan’ yang kita larang. Kalau keyakinannya tidak bisa kita larang,” katanya.

Menag kembali mengingatkan agar orang yang beragama di luar Islam (non muslim) tidak ikut mengurusi persoalan Ahmadiyah karena tidak mengetahui persoalan.

Sebelumnya, saat menjelaskan isi SKB, Menag mengatakan, SKB tersebut memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota dan/atau anggota pengurus JAI sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran, penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW. (an/hr)

Sumber: http://www.menkokesra.go.id/content/view/8244/39/

Pers Release Jemaat Ahmadiyah Ttg Peristiwa Cikeusik



Pimpinan Jamaah Ahmadiyah Muslim menanggapi pembunuhan 3 Muslim Ahmadi di Indonesia  

Pelaku akan bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa

Dengan kesedihan yang mendalam, Jama’at Muslim Ahmadiyah membenarkan bahwa kemarin pada tanggal 6 Februari 2011, 3 anggota jemaat Ahmadiyah mati syahid di Indonesia dalam sebuah serangan yg begitu barbar dan sangat brutal.

Serangan itu terjadi di Cikeusik, selatan Banten di Indonesia dan dilakukan oleh sekelompok orang yang berjumlah antara 700 hingga 1.000. Serangan itu terjadi meskipun polisi telah diperingatkan beberapa hari sebelumnya tentang serangan yang akan terjadi pada anggota jemaat Ahmadiyah setempat. Meskipun ada peringatan sebelumnya, polisi gagal untuk mengambil tindakan atau langkah-langkah untuk mencegah serangan.Dilaporkan bahwa para penyerang datang ke lokasi jemaat Ahmadiyah setempat dengan mengacungkan parang, tombak, pisau dan senjata lainnya. Sebagai akibatnya 3 orang Muslim Ahmadi disyahidkan didepan umum dan 5 lainnya luka berat. Dua mobil, 1 rumah dan 1 sepeda motor milik Muslim Ahmadi juga dibakar. Sejauh ini belum ada yang ditangkap oleh polisi sehubungan dengan insiden ini.

Berbicara dari London dalam merespon terhadap pembunuhan brutal ini, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Pimpinan Muslim Jamaat Ahmadiyah berkata:

“Serangan mengerikan ini, telah menyebabkan kesedihan dan rasa sakit bagi Muslim Ahmadi di seluruh dunia dan juga terhadap semua orang yang cinta damai. Kebiadaban pelaku tidak mengenal batas; orang-orang hanya menonton pemukulan tanpa ampun itu sambil bertepuk tangan dan bersorak-sorai. kepolisian setempat dan pihak otoritas gagal melindungi anggota jemaat Ahmadiyah yang mengakibatkan mereka akhirnya terkena serangan kejam dan brutal.

Setiap kali terjadi serangan seperti ini, Jemaat Muslim Ahmadiyahm baik di Indonesia maupun di seluruh dunia selalu menunjukkan kesabaran dan tidak mencari solusi dengan balas dendam atau kekerasan, melainkan melalui doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan hal ini akan tetap selalu seperti ini. Meskipun demikian bisa dipastikan mereka yang telah menimbulkan kekejaman ini akan bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa dan akan menghadapi hukuman-Nya. Sementara itu, Jamaah Muslim Ahmadiyah akan terus untuk bersujud di depan Tuhan Yang Maha Esa dan mencari Perlindungan dan Bantuan-Nya.”

Jamaah Muslim Ahmadiyah mendesak Pemerintah Indonesia memenuhi mandatnya untuk melindungi semua warga negaranya, terlepas dari apapun agamanya. Hal ini juga untuk mengklarifikasi bahwa tidak ada Muslim Ahmadi yang terlibat dalam segala bentuk provokasi apapun dan bahwa serangan ini termotivasi hanya semata-mata dikarenakan korban adalah anggota Jamaat Muslim Ahmadiyah. Ini merupakan sebuah tragedi, bahwa Muslim Ahmadi mati syahid dalam cara yang paling barbar hanya karena mereka memilih untuk menjalani hidup mereka dengan motto Ahmadiyah ‘Cinta untuk Semua, Kebencian untuk Tidak Ada’.

Press Rilis tentang almarhum dan detil-detil lebihlanjut akan segera diterbitkan.
22 Deer Park Road, London, SW19 3TL Inggris
Tel / Fax: 020 8544 7613 Mob: 077954 90682 Email: press@ahmadiyya.org.uk This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
————————————————– ——————————
Sekretaris Pres AMJ Internasional

terjemah: Tim Internet JAI

sumber : Alislam.org

IDE-IDE KEAGAMAAN AHMADIYAH


Artikel
STARTEGI SOSIALISASI IDE-IDE KEAGAMAAN AHMADIYAH DI KALANGAN REMAJA
oleh Tina Afiatin Yatimin, 18/10/2010
STARTEGI SOSIALISASI 

IDE-IDE KEAGAMAAN AHMADIYAH

DI KALANGAN REMAJA

Tina Afiatin Yatimin

Estafet perjuangan suatu gerakan tidak pernah berlangsung tanpa peran generasi muda. Generasi muda, termasuk di dalamnya adalah kelompok remaja senantiasa mewarnai nuansa perjuangan tercapainya suatu misi. Kita sudah saksikan sejarah perjuangan bangsa kita dan juga bangsa-bangsa lain, selalu peran generasi muda menyertai hingar bingar perjuangannya. Generasi muda, dengan segala keunggulan fisik dan mentalnya, sungguh merupakan aset sebuah gerakan yang amat sayang apabila tidak dikelola dengan optimal.

Remaja sebagai bagian dari generasi muda, bukan lagi anak-anak yang lucu dan polos. Mereka bukan lagi anak-anak yang keinginananya dapat dibujuk dengan sepotong kue atau es krim yang enak. Mereka telah tampil dengan kepribadian yang unik dan bertumbuh dengan pesat. Keinginan dan semangat mereka dapat meluap-luap bahkan nyaris meledak-ledak. Mereka mem-butuhkan sesuatu yang amat berbeda dengan masa kanak-kanak.

Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa pada masa remaja terjadi optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik, psikis, sosial, dan religiusitasnya. Kondisi ini merupakan potensi yang sangat menguntungkan bagi pember-dayaan komunitas remaja itu sendiri maupun juga dalam melibatkan peran mereka dalam perjuangan suatu gerakan.

Gerakan Ahmadiyah sebagai suatu gerakan pembaharuan dalam Islam, diakui atau tidak sangat membutuhkan peran remaja apabila ingin terus melanggengkan misi perjuangannya. Tanpa peran serta mereka maka kesinambungan dan kiprah gerakan tentu akan menjadi sangat terbatas. Apabila gerakan hanya mengandalkan generasi pendahulu yang notabene dari sisi usia sudah cukup lanjut, maka hal ini akan dapat membatasi kiprahnya bahkan tidak menutup kemungkinan gerakan ini akan menjadi asing di kalangan masyarakat.

Menyadari arti penting peran remaja dalam melanggengkan misi dan perjuangan gerakan Ahmadiyah, maka seharusnya men-jadi perhatian kita semua untuk terus memberdayakan potensi remaja sebagai wahana strategi perjuangan gerakan Ahmadiyah. Upaya untuk mewujudkan hal tersebut, salah satunya adalah memahami karakteristik mereka dan selanjutnya mengkaji dan mengimplementasikan strategi ‘merangkul’ ataupun memfasili-tasi mereka baik sebagai pelaku dan sasaran dakwah gerakan Ahmadiyah.

Karakteristik remaja dan strategi pembinaan

Remaja adalah istilah yang digunakan untuk menggambar-kan individu yang berada diantara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pada sebagian besar masyarakat Indonesia, usia 11 tahun dianggap sudah memasuki remaja karena pada umumnya mereka sudah baligh, dan usia 24 tahun dianggap sebagai batas maksimal. Batasan lain berkaitan dengan status perkawinan karena arti perkawinan masih dianggap sangat penting dalam menentukan apakah seseorang itu dapat diklasifikasi sebagai masih remaja atau dewasa. Pada usia berapapun, seseorang yang sudah menikah, dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa, baik secara hukum maupun dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Memahami karakteristik remaja akan membantu kita dalam upaya mendampingi mereka mengembangkan potensinya untuk menjawab tantangan jamannya karena kelak mereka akan hidup dan berjuang pada jaman yang berbeda dengan yang kita alami sekarang. Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa dalam mendam-pingi remaja, kita bukanlah orang yang selalu sempurna dan kita tidak dapat memaksakan kehendak kita kepada mereka. Kita hanya berhak memberi saran dan alternatif sebijak mungkin. Selebih nya, remajalah yang menentukan pilihannya secara sadar dan bertanggung jawab.Tidak ada seorangpun yang berhak mendikte dan memaksakan kehendak kepada yang lain dengan dalih mendapat “petunjuk”. Allah Taala berfirman:

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, melainkan Allahlah yang memberi petunjuk (taufik) kepada siapa yang dikehendakiNya. (QS Al Baqarah 2:272).

Menurut ajaran Islam, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatan  baik dan buruknya dalam kehidupan, dan tentu tidak ada yang dapat dilakukan orang lain untuk mengambil alih tanggung jawab ini. Al Quran berulang-ulang menegaskan bahwa jika  Hari Perhitungan tiba, setiap orang memikul bebannya sendiri dan perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Akan ada kesaksian tentang apa yang mereka lakukan ataupun yang tidak. Tak seorangpun dapat memikul beban orang lain. Allah SWT berfirman:

Barang siapa mengikuti petunjuk Allah, akan bermanfaat bagi dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat, akibatnya akan dipikul sendiri. Tak ada seorangpun yang bisa menanggung dosa orang lain. (QS Al-Isra’ 17:15).

Tugas orang tua dalam mendampingi remaja sama dengan tugas Rasulullah Saw, yaitu memberi teladan yang baik dan menciptakan lingkungan sedemikian rupa sehingga remaja dapat mengembangkan sifat dan potensi yang mereka miliki.Orang tua bertugas menjaga remaja seaman dan sesehat mungkin, serta memberi kesempatan pada mereka untuk belajar dan mengem-bangkan ilmu pengetahuan. Orang tua perlu bersikap bijaksana, artinya mampu menyelaraskan antara idealita dan realita yang ada. Dalam konteks mendidik, pendewasaan, dan latihan keman-dirian, orang tua harus berlapang dada kepada remaja yang kurang efisien dan kurang sempurna dalam melakukan pekerjaannya. Kalau kita tidak pernah memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar, bagaimana mungkin mereka dapat mandiri ketika saatnya tiba?

Masa remaja merupakan masa transisi, baik dalam per-tumbuhan fisik, kematangan emosional dan sosial, perkem-bangan heteroseksualitas, kematangan kognitif, dan filsafat hidup. Dalam proses perkembangannya, remaja mengalami berbagai perubahan yaitu:

1.     Kematangan emosional dan sosial yaitu dari arah: tidak toleran dan bersikap superior, kaku dalam bergaul, peniruan buta terhadap teman sebaya, kontrol orang tua, perasaan tidak jelas tentang dirinya/orang lain,  kurang dapat mengendalikan diri dari rasa marah dan sikap permusuhan menuju pada bersikap toleran dan merasa nyaman, luwes dalam bergaul, interdepen-densi dan mempunyai harga diri, kontrol diri sendiri, perasaan mau menerima dirinya dan orang lain, dan mampu menyatakan emosinya secara konstruktif dan kreatif.

2.     Perkembangan heteroseksualitas yaitu dari arah: belum memiliki kesadaran tentang perubahan seksualnya, mengiden-tifikasi orang lain yang sama jenis kelaminya, dan bergaul dengan banyak teman menuju pada mampu menerima identitas seksualnya sebagai pria atau wanita, mempunya perhatian ter-hadap jenis kelamin yang berbeda dan bergaul dengannya, dan memilih teman-teman tertentu.

3.     Kematangan kognitif yaitu dari arah: menyenangi prinsip-prinsip umum dan jawaban final, menerima kebenaran dari sumber, memiliki banyak minat dan perhatian, dan bersikap subyektif dalam menafsirkan sesuatu menuju pada kebutuhan penjelasan tentang fakta dan teori, memerlukan bukti sebelum menerima, memiliki sedikit minat dan perhatian serta bersikap obyektif dalam menafsirkan sesuatau.

4.     Filsafat hidup yaitu dari arah: tingkah laku dimotivasi kesenangan, acuh tak acuh terhadap ideologi dan etika, tingkah lakunya tergantung  pada penguatan dari luar, dan bersikap subyektif dalam menafsirkan sesuatumenuju pada tingkah laku dimotivasi oleh aspirasi, melibatkan diri atau mempunyai perhatian terhadap ideologi dan etika, tingkah lakunya dibimbing oleh tanggung jawab moral, dan bersikap obyektif dalam menafsirkan sesuatu.

Proses perubahan remaja menjadi sosok yang matang dan tangguh memerlukan fasilitasi pengalaman yang terbimbing. Kesempatan, kepercayaan, tanggung jawab, bimbingan, dan umpan balik merupakan kata-kata kunci dalam strategi pem-binaan bagi remaja. Selain itu remaja juga membutuhkan suatu acuan standar nilai dan sikap dalam mengarungi pengalaman kehidupannya.

Al-Qur’an memberi kita kriteria dan standar tentang al-furqan, tata nilai yang memisahkan kebenaran dan kebatilan.

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan, Al-Quran yang membedakan antara yang haqq dan yang batil kepada hamba-Nya, agar menjadi peringatan bagi seluruh alam.( QS Al-Furqan 25: 1).

Kesan pertama yang harus mengena di hati semua orang tua Muslim adalah bahwa mereka harus menjadikan Al-Quran sebagai aturan standar dan pedoman hidup bagi setiap manusia. Standar inilah yang semestinya dipakai untuk bertindak secara adil dan arif terhadap remaja, sebab Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi orang tua dan anak-anaknya termasuk di dalamnya anak remaja.

Dengan rujukan Al-Quran, oarng tua dapat memberikan kesempatan, kepercayaan, tanggung jawab, bimbingan, dan umpan balik kepada remaja untuk terus mengembangkan potensinya sehingga dapat berkembang dan memberikan andil kemanfaatan bagai diri dan lingkungannya.

Strategi sosialisasi ide-ide Ahmadiyah di kalangan remaja

Ajaran Ahmadiyah pada prinsipnya adalah membawa pengikutnya pada keadaan jiwa (state of mind) atau kehidupan batin (inner life) yang disebut salam (damai). Keadaan jiwa yang salam dapat tercapai bila segala kehendak diselaraskan dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT atau dengan kata lain berserah diri sepenuhnya atas kehendakNya.

Untuk terwujudnya tujuan tersebut di atas, maka ajaran Ahmadiyah disebarkan oleh Gerakan Ahmadiyah. Di Indonesia dilaksanakan oleh Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) dengan mengadakan:

1.       Dakwah agama Islam dengan usaha-usaha sebagai berikut:

a.   Menerbitkan dan menyiarakan kitab-kitab Islam

b.   Menerbitkan dan menyiarkan brosur-brosur

c.   Mengadakan ceramah-ceramah agama Islam dan

kunjung mengunjungi

d.   Surat menyurat

e.   Baiat

2.       Menyelenggarakan pendidikan

3.       Menyelenggarakan usaha-usaha sosial

Usaha-usaha tersebut selama ini telah dilaksanakan, namun nampaknya lebih banyak dilakukan oleh para senior GAI. Bagaimana dengan peran remaja di GAI? Mengapa tidak banyak remaja yang tertarik berpartisipasi dalam dakwah yang diseleng-garakan GAI? Bagaimana strategi yang perlu dicoba lakukan agar ide-ide ajaran Ahmadiyah menarik di kalangan remaja?

Berbagai pertanyaan tersebut di atas dapat dirangkum dengan satau pertanyaan besar, apakah kegiatan yang selama ini dilaksanakan oleh GAI dapat memenuhi kebutuhan  remaja dalam upaya memenuhi kebutuhan bagi pengembangan dirinya?. Pengembangan diri remaja meliputi aspek kematangan emosi dan sosial, perkembangan heteroseksual, kematangan kognitif, dan pemantapan filsafat hidup. Upaya untuk memfasilitasi pengem-bangan diri remaja tersebut memerlukan fasilitasi pengalaman yang terbimbing, bersifat terus menerus, ada teladan yang baik, serta mendapatkan lingkungan sedemikian rupa sehingga remaja dapat mengembangkan sifat dan potensi yang mereka miliki.

Model pendampingan berbasis keluarga Ahmadi merupa-kan alternatif yang dapat dipertimbangkan. Melalui model pen-dampingan berbasis keluarga Ahmadi  remaja akan mendapatkan kesempatan, bimbingan, serta peluang untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya melalu integrasi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh GAI.

Model pendampingan keluarga Ahmadi dapat dilaksanakan melalui sistem asrama atau seperti pesantren. Melalui model pesantren Ahmadi ini akan memungkinkan dilakukan integrasi antara pemenuhan kebutuhan pengembangan diri remaja dan sosialisasi ide-ide ajaran Ahmadiyah secara intensif dan berkesinambungan. Lebih jauh, model ini dapat dijadikan sarana untuk menumbuhkan-kembangkan kader-kader Ahmadi. Melalui model pesantren Ahmadi ini juga dapat dikembangakan intervensi yang bersifat holistik, baik aspek fisik, psikis, sosial, dan spiritual.

Model pendampingan berbasis keluarga Ahmadi memerlu-kan organisasi, sistem, kurikulum, dan sarana prasarana. Tentu saja ini bukan hal yang mudah, tetapi apabila komitmen GAI untuk terus melanggengkan hidupnya ajaran Ahmadiyah maka ’investasi’ ini akan dapat memfasilitasi para remaja sebagai kader-kader GAI.

Mudah-mudahan lontaran ide ini dapat menjadi wacana kita semua, khususnya bagi kita yang peduli pada kelanggengan upaya GAI untuk terus berkontribusi dalam pelaksanaan lima metode (Penerbitan kitab dan brosur Islam, ceramah, kunjung mengunjung, surat menyurat, dan baiat) untuk mencapai Fathi Islam (kemenangan Islam).

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan, pertolongan, dan bimbingan bagi kita semua untuk terus berada di jalan yang diridlai-Nya. Amin.[]

Dr. Tina Afiatin

Muslimat PB GAI

Sumber: Jalsah Salanah GAI, Desember 2005

 

cetak artikel
Artikel Sebelumnya
18/10/2010 DOA YANG MENGHIDUPKAN
18/10/2010 Pendidikan Karakter dalam Keluarga
12/08/2004 KEMENANGAN ISLAM

SEKALI LAGI SKB TENTANG AHMADIYAH


Wednesday, June 11th, 2008 | Posted by Yusril Ihza Mahendra 2,848 views Cetak artikel Cetak artikel

SEKALI LAGI SKB TENTANG AHMADIYAH

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Setelah dibahas menghabiskan waktu sekian lama, Pemerintah akhirnya menerbitkan SKB tentang Ahmadiyah hari Senin 9 Juni lalu. Seperti diakui Menteri Agama M. Basyuni, SKB ini diterbitkan begitu lamban karena Pemerintah “memikirkan sedalam-dalamnya, semasak-masaknya, mana yang terbaik. Inilah yang terbaik sesuai undang-undang yang berlaku”, demikian kata Basyuni seperti dikutip Kompas kemarin. Tiga point penting dari SKB itu adalah:

(1) Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu;

(2) Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama Islam, yaitu penyebaran paham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad S.a.w;

(3) Penganut, anggota, dan/atau pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang tidak mengindahkan peringatan atau perintah sebagaimana dimaksud pada diktum 1 dan diktum 2 dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk organisasi dan badan hukumnya.

Seperti dikatakan M. Basyuni, memang Pemerntah lamban sekali mengambil keputusan, sementara gejolak terus berlanjut sampai terjadi insiden kekerasan di Monas beberapa waktu yang lalu. Tindak kekerasan memang patut kita sesalkan. Namun kelambatan mengambil sikap, turut memberikan kontribusi terjadinya insiden kekerasan itu. Kalau Pemerintah cepat mengambil keputusan, maka insiden seperti itu tidak perlu terjadi. Saya sendiri tetap berpendirian bahwa segala tuntutan dan penyampaian aspirasi, tetaplah harus menempuh cara-cara yang damai. Buntut dari insiden kekerasan itu, wajah umat Islam di tanah air menjadi kian memprihatinkan. Kita makin terpecah-belah karena perbedaan pendapat dan perbedaan sikap menghadapi suatu masalah. Keadaan seperti ini, akan menjadi bahan propaganda terus-menerus untuk memojokkan Islam dan umat Islam di tanah air.

Beragam reaksi atas terbitnya SKB itu sebagaimana muncul di berbagai media cetak dan elektronik. Ada yang menentang dan ada pula yang tidak puas dengan SKB. Kelompok yang menentang berencana untuk menggugat SKB ke Mahkamah Konstitusi, bahkan berencana akan mengajukan permohonan uji materil terhadap UU Nomor 1/PNPS/1965 yang mendasari penerbitan SKB itu. Sementara kelompok yang tidak puas, menyatakan isi SKB itu tidak jelas dan multi tafsir, sehingga sulit dilaksanakan di lapangan. Keberadaan SKB itu sendiri sangat minimalis, karena yang diinginkan bukan sekedar perintah dan peringatan kepada individu pengikut Ahmadiyah, tetapi juga pembubaran terhadap organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Saya sendiri sependapat bahwa isi SKB itu memang tidak memuaskan. Kata “diberi perintah dan peringatan keras” sebagaimana diatur dalam Pasal 2 UU Nomor 1/PNPS/1965 telah dilunakkan menjadi “memberi peringatan dan memerintahkan”.

Dibalik diterbitkannya SKB, nampak sekali sikap ragu-ragu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membubarkan organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Padahal kegiatan Ahmadiyah di Indonesia bukan sekedar kegiatan individu para penganutnya, tetapi suatu kegiatan yang terorganisasikan melalui JAI. Organisasi ini terdaftar di Kementerian Kehakiman RI sebagai sebuah vereneging atau perkumpulan berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman tanggal 13 Maret 1953. Berdasarkan ketentuan Pasal (2) UU Nomor 1/PNPS/1965, apabila kegiatan kegiatan penodaan ajaran agama itu dilakukan oleh organisasi, maka Presiden dapat membubarkan organisasi itu dan menyatakannya sebagai “organisasi/aliran terlarang”, setelah Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung.

Ketentuan Pasal 2 UU Nomor 1/PNPS/1965 di atas berbeda dengan penjelasan Jaksa Agung Hendarman Supanji. SKB, menurut Hendarman, bukan pembubaran atau pelarangan sebuah organisasi. Pemerintah tidak dapat langsung membubarkan JAI, melainkan harus diperingatkan lebih dahulu. Saya berpendapat sebaliknya, kalau kegiatan penodaan agama itu dilakukan oleh individu, maka ketiga pejabat menerbitkan SKB sebagaimana telah dilakukan. Namun jika penodaan itu dilakukan melalui organisasi, maka Presidenlah yang harus membubarkan dan melarang organisasi itu. Sebab bisa saja terjadi, kegiatan penodaan agama itu hanya dilakukan oleh individu tanpa organisasi. Untuk kegiatan seperti ini, Presiden tidak perlu menerbitkan keputusan pembubaran dan pelarangan, cukup dengan SKB tiga pejabat tinggi itu saja.

Meskipun SKB telah diterbitkan, namun di dalam tubuh Pemerintah sendiri terdapat silang pendapat yang cukup tajam. Dirjen Hak Asasi Manusia Departemen Hukum dan HAM, Harkristuti Harkrisnowo menyesalkan diterbitkannya SKB itu. Keputusan itu diambil, menurutnya, setelah adanya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan sejumlah ormas Islam di depan Istana Negara, yang meminta Pemerintah membubarkan Ahmadiyah. Pendapat Harkristuti sama saja dengan para penentang SKB lainnya, yang menuduh Pemerintah mengalah kepada tekanan ormas-ormas Islam. SKB menurutnya, seharusnya tidak diterbitkan. Ahmadiyah seharusnya tidak dilarang “selama tidak menimbulkan konflik, tidak mengganggu dan tidak menimbulkan reaksi” (Sinar Harapan, 10 Juni). Harkristuti juga “mengutip” pendapat saya bahwa di Iran, Ahmadiyah diakui sebagai kelompok minoritas “sehingga dibolehkan hidup dan tidak dibubarkan”.

Saya agak heran membaca pernyataan Dirjen HAM di atas. Sebagai birokrat, semestinya dia tidak mengomentari keputusan politik Pemerintah yang berisi sebuah kebijakan. Kalau dia mengatakan bahwa Ahmadiyah tidak menimbulkan konflik, tidak mengganggu dan tidak menimbulkan reaksi, sehingga tidak perlu dilarang, nampaknya Dirjen HAM ini tidak mengikuti kontroversi seputar Ahmadiyah di negeri kita ini. Pendapat saya yang dikutipnya hanya sepotong. Saya membenarkan Ahmadiyah untuk diakui keberadaannya menurut hukum, sepanjang Ahmadiyah itu menyatakan dirinya sebaga agama tersendiri. Dengan demikian, keberadaan mereka dianggap sebagai minoritas non Muslim sebagaimana di Pakistan (bukan Iran). Keberadaan dan aktivitas Ahmadiyah di negeri kita ini, samasekali bukan persoalan kemerdekaan beragama sebagaimana dijamin di dalam UUD 1945, tetapi persoalan penodaan ajaran agama Islam yang dianut secara mayoritas oleh rakyat Indonesia.

Melalui paham yang dikembangkannya, serta kegiatan-kegiatan keagamaannya, jelas bahwa Ahmadiyah telah menodai, mengganggu, menimbulkan reaksi dan bahkan konflik di negeri kita ini. Kalau Pemerintah bertindak tegas sesuai ketentuan-ketentuan dalam UU Nomor 1/PNPS/1965, bukanlah berarti Pemerintah mencampuri keyakinan warganegaranya. Bukan pula berarti Pemerintah membatasi kemerdekaan memeluk agama. Tindakan itu harus dilakukan untuk melindungi mayoritas pemeluk agama Islam, yang merasa ajaran agamanya dinodai oleh paham dan aktivitas Ahmadiyah. Negara harus bertindak untuk melindungi warganegara, yang merasa keyakinan keagamaan mereka dinodai oleh seseorang, sekelompok orang atau sebuah organisasi. Sebab itu, saya berpendapat – sebagaimana telah saya kemukakan kepada umum – bahwa keberadaan penganut Ahmadiyah, termasuk organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia tidak akan dipermasalahkan, jika mereka menyebut diri mereka sebagai kelompok agama sendiri, yang berada di luar Islam.

SKB yang sudah diterbitkan oleh tiga pejabat negara itu, nampaknya akan terus menuai kontroversi. Pro dan kontra masih akan terus berlanjut. Pemerintah sendiri –seperti telah saya singgung di atas–mempersilahkan mereka yang menolak SKB untuk memperkarakannya di Mahkamah Konstitusi. Sepanjang pemahaman saya tentang tugas dan kewenangan MK, lembaga itu bukanlah mahkamah yang dapat mengadili sebuah SKB yang diterbitkan oleh pejabat tinggi negara, sepanjang ia tidak menimbulkan sengketa kewenangan. SKB itu bukan pula obyek sengketa tata usaha negara yang dapat dibawa ke Pengadilan Tata Usaha Negara, karena sifatnya bukanlah putusan pejabat tata usaha negara yang bersifat individual, kongkrit dan final. Kalau mau dibawa ke Mahkamah Agung, boleh saja untuk menguji apakah SKB itu –kalau isinya bercorak pengaturan—bertentangan atau tidak dengan undang-undang (yakni UU Nomor 1/PNPS/1965). Saya sendiri berpendapat, walaupun isi SKB itu tidak memuaskan, namun SKB itu adalah kebijakan (beleid) Pemerintah, yang oleh yurisprudensi Mahkamah Agung, dinyatakan sebagai sesuatu yang tidak dapat diadili.

Suatu hal yang juga ingin dilakukan oleh para penentang SKB dan pembubaran Ahmadiyah, ialah keinginan untuk memohon uji materil terhadap UU Nomor 1/PNPS/1965 ke Mahkamah Konsitusi. Kalau itu dilakukan, maka MK akan memanggil Presiden dan DPR selaku termohon, untuk hadir di persidangan MK. Di sinilah adu argumentasi akan terjadi, untuk memutuskan apakah UU Nomor 1/PNPS/1965 itu bertentangan dengan UUD 1945 atau tidak. Kalau ini terjadi, saya mengatakan kepada para wartawan di Medan kemarin, saya bersedia menjadi kuasa hukum Presiden atau DPR untuk menghadapi permohonan uji materil itu, kalau mereka memintanya.

Persoalan Ahmadiyah kini bukan saja menjadi persoalan dalam negeri kita, tetapi telah mendunia. Sidang Dewan HAM PBB di Jenewa mempertanyakan masalah ini. Cukup banyak negara, yang melarang Ahmadiyah, termasuk Malaysia dan Brunei Darussalam.Kita memang perlu memberikan penjelasan komprehensif mengenai Ahmadiyah ini, baik dari perspektif hukum nasional kita, maupun dari perspektif hukum internasional mengenai hak asasi manusia. Penjelasan itu tidak akan lari dari prinsip yang saya kemukakan, yakni persoalan Ahmadiyah akan selesai jika mereka dianggap sebagai agama di luar Islam dan penganutnya bukan lagi dianggap sebagai Muslim. Dengan demikian, hak-hak konstitusional mereka di negeri ini akan dijamin sepenuhnya sebagaimana warganegara yang menganut agama lainnya.

Wallahu’alam bissawwab

Cetak artikel Cetak artikelShort URL: http://yusril.ihzamahendra.com/?p=249

Posted by Yusril Ihza Mahendra on Jun 11 2008. Filed under Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

167 Responses to “SEKALI LAGI SKB TENTANG AHMADIYAH”

Pages: « 1 2 3 [4] Show All

  1. 151

    aaqir Says:
    November 19th, 2008 at 5:45 am persoalan agama yang menyngkut keyakinan dan aqidah yang benar sudah termaktub dalam al Qur’an dan kyakinan secara realitas bahwa Nabi Muhammad adalah kunci penutup para nabi dan rasul. Dan al Qur’an adlah kitb yang tidk perlu di ragukan ke abshannya serta otoritsny sebagai kitab umat islam oleh karena itu barangsipa yang mengku sebagai nabi dan kehadirnya di-klaim sebagai is l-masih dan imm mahdi yng di jajikan serta meykini kitab tzdkitah ebagai kitabb sucinya maka keyakinan hal yang demikian sungguh keluar dari nilai perinsip ajaran islam dan pengikutnya sudah bersttus non-muslim. dengan demikian, saya sangat setuju dengan logika bapak Yusril, terutama ahmadiyyh di kecam di berbagai negara dan termsuk aliran sesat. kita akui bahw dalam kontek keindonisiaan ahmadiyya sudah ada sebelum terjadi kemerdekaan, namun keberdaan itu bukanlah melegitimasi sebagai sebuah ajaran islam yang benr sebagaimana yang di anut umat islam. hanya saja kehadiraanya memang benar ada dan itupun dulu sudah mendapat kecaman daru para ulama. dengan demikian saya harap semoga masyrakat muslim lebih menyadari dan berhati-hti dengan jar yang sifatnya kelihatan aneh, tidak sesuai dengan jrn islam yang semetinya

  2. 152

    Nabi Lama Says:
    December 15th, 2008 at 4:08 pm Sudah terbit VCDnya Bpk Ahmad Hariadi, mantan pendakwah Ahmadiyah, di toko kaset/VCD terdekat.
    Wassalam,

  3. 153

    sedemir Says:
    December 19th, 2008 at 9:08 pm Yang masih percaya setelah Nabi Muhamad saw tidak ada lagi nabi telah menjadi kufur menurut Imam Suyuti. Ya iyalah Kan Nabi Isa as diimani oleh kaum muslim akan datang lagi setelah Nabi Muhamad. Kalau demikian apa nabi Muhamad masih penutup nabi? Memang masalah ini cukup rumit. Diantara Syiah Sunni dan di dalam kelompok mereka sendiri saja belum ada kesepakatan mengenai masalah ini. Misalnya Muhamadiyah dan NU saja jelas sangat berbeda menyikapi masalah Nabi Isa yang menjadi pokok keyakinan ahmadiyah. Perlu diingat diantara kaum ahmadiyah juga adalah orang islam yang percaya terhadap tafsir MGA atas masalah diseputar Isa Al Masih dan Imam Mahdi. Masa mereka mau dipaksa keluar dari islam?

  4. 154

    abah Says:
    December 20th, 2008 at 9:04 am SEDEMIR, itu artinya Nabi Isa yang akan turun Isa yang lama, Allah Maha Kuasa dengan segalanya, Nabi Isa bukan Nabi jiplakan gaya MGA

  5. 155

    khafidhin Says:
    December 20th, 2008 at 5:31 pm # 152

    ane udah liat.. bagus juga ya isinya.

  6. 156

    Nabi Lama Says:
    December 25th, 2008 at 3:23 am Bt Sedemir
    Ya, Ahmadiyah silakan keluar dari Islam. Karena di Islam yang dulu, sekarang dan y.a.d. tidak akan mengenal nabi baru.
    Wassalam,

  7. 157

    Nabi Lama Says:
    January 24th, 2009 at 7:21 am Berita pengikut ahmadiyah yang bertaubat. Alhamdulillah Subhanallah.

    http://sabili.co.id/index.php/20090113648/Liputan/Jemaat-Ahmadiyah-Kuningan-Kembali-ke-Islam-1.htm

    Tahun Baru Harapan Baru
    Pada peringatan 1 Muharam 1430 Hijriyah yang dilaksanakan di halaman Balai Desa Manis Kidul dan dihadiri ratusan warga lainnya, mereka pun mengikrarkan identitas baru sebagai muslim yang kafah
    Kuningan- Matahari pagi mulai menampakkan diri di kaki gunung Ciremai di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Senin (29/12). Pancaran sinarnya yang hangat, seolah memancarkan datangnya sebuah harapan baru.
    Apalagi, hal itu bertepatan dengan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1430 Hijriyah. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah itu mampu memberikan semangat kepada umat Islam. Untuk berubah menuju keadaan yang lebih baik demi menggapai mardhotillah.
    Semangat itulah yang dirasakan pula 11 warga desa setempat untuk meninggalkan ajaran Ahmadiyah yang sebelumnya mereka anut. Dengan hidayah Allah, mereka pun memantapkan diri untuk kembali pada ajaran Islam yang sesungguhnya.
    Pada peringatan 1 Muharam 1430 Hijriyah yang dilaksanakan di halaman Balai Desa Manis Kidul dan dihadiri ratusan warga lainnya, mereka pun mengikrarkan identitas baru sebagai muslim yang kafah.
    Adapun 11 orang itu, yakni Mamah Salmah (40), Cicih Sukaesih (36), Yeyet Suryati (34), Nining Sumarni, Ahmad Yulyadi (29), Siti Hodijah (31), Yeni Handayani (25), Dewi Wulan Sari (19), Tasih (63), Amid (36), dan Rahmat Ali. Dari 11 orang itu, sebanyak delapan diantaranya berasal dari satu keluarga. Sedangkan tiga orang lainnya berasal dari tiga keluarga yang berbeda.
    Kembalinya 11 orang jemaat Ahmadiyah pada ajaran Islam yang sesungguhnya itu mendapat sambutan yang hangat dari warga dan para ulama setempat. Tak sedikit dari warga yang merasa haru.
    Bahkan, pejabat dari Kantor Departemen Agama (Depag) Kabupaten Kuningan pun sengaja datang pada acara tersebut dan secara simbolis menyerahkan hadiah kepada dua dari 11 mantan jemaat Ahmadiyah tersebut. Hadiah yang berisi Al Quran dan seperangkat alat shalat itu dimaksudkan untuk lebih menguatkan keyakinan mereka. (Farahdina/emy)
    Saya rindu ingin sekali bisa beribadah di masjid yang sama dengan anak-anak dan cucu saya
    Kuningan-Salah seorang mantan jemaat Ahmadiyah, Tasih, mengungkapkan kebahagiaan yang dirasakannya setelah kembali pada ajaran Islam yang sesungguhnya. Apalagi, dia mengaku, selama ini selalu mengalami dilema dalam hatinya selama menganut ajaran tersebut.

    Tasih yang terlahir dari keluarga muslim taat itu menuturkan, pertama kali menganut ajaran Ahmadiyah pada tahun 1983. Kala itu, dia jatuh cinta dan lantas menikah dengan pemuda dari desanya yang bernama Warsa, yang merupakan penganut ajaran Ahmadiyah.

    Untuk menjadi seorang istri dari penganut Ahmadiyah, mau ataupun tidak, dia harus pula mengikuti keyakinan Ahmadiyah yang dianut sang suami. Meski harus menanggung risiko ‘’berpisah’’ dengan keluarga besarnya, namun kecintaan pada sang suami itulah yang membuatnya bersedia menjadi bagian dari jemaat Ahmadiyah.

    Tasih mengaku, selama menjadi jemaat Ahmadiyah, dirinya selalu diliputi kegamangan akan kebenaran ajaran tersebut. Dia pun sedih karena merasa seperti terasing dari keluarga besarnya dan masyarakat umum lainnya.

    Hal itu dikarenakan ajaran Ahmadiyah melarang para jemaatnya untuk beribadah bersama-sama di masjid atau mushola yang digunakan umat Islam pada umumnya.

    Keterasingannya itu bertambah tatkala delapan orang anak yang dilahirkannya menolak mengikuti ajaran Ahmadiyah. Kondisi itu membuatnya tidak bisa beribadah bersama anak-anaknya.

    ‘’Saya rindu ingin sekali bisa beribadah di masjid yang sama dengan anak-anak dan cucu saya,’’ kata Tasih.

    Menurut Tasih, untuk keluar dari ajaran Ahmadiyah, bayangan perceraian selalu menghantui rumah tangganya. Karena itu, semua kegalauan itu hanya bisa dipendamnya di dalam hati.

    Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Tasih tidak mampu lagi menahan gejolak batinnya. Dia pun kemudian menemui adik kandungnya, yang juga menjabat sebagai kepala dusun di tempat tinggalnya, Ali Suherli.

    Ali yang mengetahui keinginan sang kakak untuk kembali pada ajaran Islam, menyambutnya dengan penuh rasa syukur. Apalagi, sejak lama dia memang selalu mengajak sang kakak untuk kembali pada ajaran Islam yang sesungguhnya.

    Dengan ditemani Ali pula, Tasih kemudian membaca dua kalimat syahadat dihadapan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kuningan dan dikukuhkan dengan surat pernyataan dari Badan Muallaf Kabupaten Kuningan.

    ‘’Sekarang saya sangat bahagia,’’ ujar Tasih. (Farahdina/emy)

  8. 158

    rudi Says:
    February 10th, 2009 at 2:06 am menurut saya merupakan agama baru yg cukup masuk akal.

  9. 159

    sedemir Says:
    April 3rd, 2009 at 10:40 am Islam dulu. Islam sekarang dan Islam yang akan datang? Ini pernyataan yang sangat hiperbolis seakan islam itu adalah kelompok mereka saja dan yang setipe. Tipikal kaum muslim yang sering melakukan kericuhan di berbagai dunia karena kerjaannya selalu mendiskreditkan kelompok lain yang jadi competitor dan berbeda pandangannya. Mudah-mudahan nasib kaum muslim tidak akan seperti kaum Yahudi yang juga mengatakan bahwa Nabi Elia yang naik kelangit akan datang lagi tapi ternyata kata Nabi Isa as sendiri Nabi Elia yang datang itu bukan yang dulu tapi dalam personifikasinya Nabi Yahya. Nah loh….persis enggak sih.

  10. 160

    Nabi Lama Says:
    May 13th, 2009 at 5:03 am Bt Sedemir,
    “seakan islam itu adalah kelompok mereka saja dan yang setipe”
    Jawab:
    Kaca buat Anda sendiri, bukankah ahmadi dilarang sholat di mesjid lain selain milik ahmadi dan dilarang solat dengan imam muslim lain? Nah….
    Wassalam,

  11. 161

    Nabi Lama Says:
    May 18th, 2009 at 11:13 am Dan lagi…..
    Subhanallah…..

    Kembalinya Pengikut Ahmadiyah di Tasikmalaya
    By Republika Newsroom
    Sabtu, 18 April 2009 pukul 07:39:00

    ”Asyhadu anllaa ilaha illallah Wa Asyhadu anna muhaammadarrasullullaah.” Dua kalimat syahadat itu bergema di Masjid Al-Barokah, Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (17/4). Sekitar pukul 09.30 WIB, sebanyak 35 warga desa itu berikrar untuk memeluk Islam, satu-satunya agama yang diridai Allah SWT.

    Disaksikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Selawu, Nana Rohana, ke-35 warga desa itu secara ikhlas meninggalkan keyakinan lama mereka. Selama bertahun-tahun, mereka menjadi pengikut aliran Ahmadiyah –sebuah keyakinan yang telah dinyatakan ulama di berbagai negara di dunia sebagai paham keagamaan yang sesat dan menyesatkan.

    Seusai bersyahadat, dari wajah ke-35 warga desa yang terdiri atas 15 pria dan 20 wanita itu mengembang senyum penuh kebahagiaan. Dengan penuh kehangatan, mereka disambut warga dan jamaah masjid. Mereka pun bersalaman dan berpelukan erat. Semua umat Muslim yang ada di sekitar masjid menyambut kembalinya saudara-saudara mereka pada keyakinan Islam yang sebenarnya.

    Rona bahagia juga terpancar dari paras Eti Sukmawati (41 tahun). Warga Kampung Citeguh, Desa Tenjowaringin, Salawu, itu mengaku telah menganut ajaran Ahmadiyah sejak lahir. ”Saya memang menganut ajaran ini sejak kecil, tapi saya tidak mengerti banyak tentang ajaran ini,” tutur Eti kepada Republika.

    Selama menjadi pengikut Ahmadiyah, Eti mengaku hatinya selalu dibayangi kebimbangan. Dalam hati kecilnya, terselip sebuah ketidakpercayaan tentang sosok-sosok yang dijadikan panutan oleh jamaah Ahmadiyah. Sejak remaja, menurut Eti, dirinya tak bisa menerima sosok Mirza Ghulam Ahmad–figur yang diyakini pengikut Ahmadiyah sebagai nabi.

    ”Buat saya sosok itu tak lebih dari sebuah dongeng yang sering diceritakan orang tua sejak kecil,” ujar Eti menegaskan. Perlahan namun pasti, Eti pun mulai meninggalkan ajaran yang diragukannya itu setelah dipersunting Sughandi (45 tahun) pada 1990. Meski belum secara resmi menyatakan keluar dari Ahmadiyah, ia mengaku mulai mengurangi dan meninggalkan ajaran itu.

    Menurut Eti, suaminya sudah kembali ke ajaran Islam sejak lama. Beberapa bulan terakhir, tekadnya untuk meninggalkan Ahmadiyah kian membuncah. Dengan penuh keikhlasan dan tekad bulat, Jumat (17/4), ia pun bergabung dengan warga lainnya berikrar untuk memeluk agama Islam.

    Kisah yang hampir sama juga terlontar dari Tariyan (49 tahun). Pegawai negeri sipil (PNS) yang mengajar di salah satu sekolah dasar negeri (SDN) di desa itu mengaku sejak kecil telah menjadi penganut Ahmadiyah. Menurut dia, keluarga besarnya yang terdiri atas sembilan kepala keluarga (KK) merupakan penganut ajaran Ahmadiyah yang berasal dari negeri Hindustan, India.

    Ajaran itu, papar Tariyan, telah dianut keluarga besarnya sejak 1955. Sejak remaja, papar Tariyan, dia merasa janggal dengan ajaran Ahmadiyah yang diturunkan orang tuanya. Ia pun kerap melanggar dan menolak setiap perintah orang tuanya dalam melaksanakan ajaran Ahmadiyah.

    Sikap serupa juga dilakukan anggota keluarga yang lain. Perlahan-lahan, penganut Ahmadiyah pun mulai berkurang. Kini, kata Tariyan, tinggal enam KK lagi yang masih bertahan menganut ajaran Ahmadiyah. Menurut dia, banyak tata cara ajaran Ahmadiyah yang janggal.

    Selain itu, setiap penganut Ahmadiyah pun dibebani berbagai macam jenis iuran yang wajib dibayar kepada pengurus harian aliran itu. ”Ada sekitar 36 jenis iuran yang dibebankan kepada kami. Dan, itu harus dipatuhi jika tidak ingin kena masalah,” tuturnya.

    Wakil Ketua GP Anshor Kabupaten Tasikmalaya, Dudu Rachman, menyatakan, jumlah penganut ajaran Ahmadiyah di Kecamatan Salawu mencapai 3.500 orang. ”Hingga saat ini, sudah ada 33 KK yang telah berikrar kembali kepada agama Islam,” ujar Dudu. Pihaknya berharap, jumlah warga yang kembali kepada ajaran Islam bisa terus bertambah.

    Kecamatan Salawu yang berjarak 40 kilometer dari Kota Tasikmalaya, merupakan basis penganut Ahmadiyah di kabupaten itu. Di kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Garut di sebelah barat itu, terdapat Desa Tenjowaringin yang sejak masa kolonial Belanda dikenal sebagai pusat pertumbuhan dan perkembangan ajaran Ahmadiyah. muslim ambarie

    sumber: http://www.republika.co.id/berita/44809/Kembalinya_Pengikut_Ahmadiyah_di_Tasikmalaya

  12. 162

    sedemir Says:
    June 11th, 2009 at 3:21 pm Kalau gua jadi kelompok radikal itu gua sih malu abis maksain orang terus orangnya ketakutan. Banyak orang radikal nuduh orang lain melakukan propaganda murahan. eh ternyata itu dilakukan oleh mereka seperti berita di republika di atas. Senjata makan tuan, ternyata mereka dihantui oleh pikirannya sendiri.

  13. 163

    rangrantau Says:
    August 26th, 2009 at 9:53 pm aslm..sebelumnya mohon maaf lhr batin dulu pak Yusril..belum minta maaf utk puasa ..biarpun telat..

    semoga agama kita lebih tetap terjaga dan indonesia berikut pemerintahnya slalu mendukung kegiatan kemasyuran agama islam…

  14. 164

    Muhammad Nafis Says:
    October 23rd, 2009 at 1:02 am Assalamualaikum..
    Saya ingin bertanyakan tentang hukum membayar zakat dengan menggunakan sistem pesanan ringkas serta apakah hujah-hujahnya.Kalau boleh saya inginkan hujah-hujahnya secra terperinci.Saya harap pihak tuan atau puan dapat membalas dengan menghantarkan ke alamat email saya di
    detektif_conan619@yahoo.com
    Segala kerjasama pihak tuan atau puan saya dahulukan dengan ucapan terima kasih..
    Wassalam..

  15. 165

    fajri hamjah Says:
    May 9th, 2010 at 9:34 am http://rajapena.ning.com/forum/topics/jemaat-ahmadiyah-astana-anyar

  16. 166

    firza Says:
    November 13th, 2010 at 6:07 am To All Ahmadi..

    Di tadzkirah terdapat wahyu yang berbunyi “I am by Isa”(Tadzkirah 51). “I” atau saya disini siapa yang dimaksud?

    http://www.alislam.org/library/books/tadhkirah/?page=51&VScroll=0#top

  17. 167

    SUYITENO Says:
    February 8th, 2011 at 12:47 pm KENAPA SIH TEMAN-TEMAN INI MERIBUTKAN AHMADIYAH? JANGAN SOH MEMBELA AGAMANYA TAPI LUPA HIDUP BERSAMA DINEGARA YANG BERDAULAT. BIARKAN SAJA MEREKA MEYAKINI KEYAKINANNYA. KASIHAN MEREKA YANG MINORITAS INI. AGAMA LAINPON SELAIN YANG MAYORITAS KLO BISA MAU DI HABISI KOK. DALIH BISA DIBUAT. PESAN SAYA YANG MAYORITAS: SUCIKAN HATI KALIAN UNTUK TIDAK SELALU MENILAI ORANG LAIN SALAH ATO KURANG BAIK. KATANYA WAKUM DINUKUM WALIYADIN, TAPI KOK BEGITU?

Pages: « 1 2 3 [4] Show All

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: