Beda Islam dengan Sekte Ahmadiyah



Posted on 9 Juni 2008. Filed under: Fatwa | Tag:, , , , , , , , , , , , , , |

Fatwa (no: 5836)

Pertanyaan; Apa perbedaan antara muslimin dengan Ahmadiyah?

Jawab;
Perbedaan antara mereka, bahwa muslimin adalah orang yang beribadah kepada Allah semata dan menjadi pengikut Rasulnya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan beriman bahwa dialah shalallahu ‘alaihi wasallam penutup para nabi dan tidak ada nabi setelahnya. Adapun ahmadiyah adalah orang yang mengikuti Mirza Ghulam Ahmad, mereka adalah orang-orang kafir dan bukan muslimin, karena mereka meyakini bahwa Mirza adalah nabi setelah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan barangsiapa yang berkeyakinan seperti ini maka dia kafir menurut seluruh ulama muslimin, berdasarkan firman Allah jalla wa’ala

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al ahzab: 40)

Dan berdasarkan hadits yang shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda;
“Aku adalah penutup nabi-nabi, tidak ada nabi setelahku”.

Hanyalah kepada Allah ‘azza wa jalla kita memohon taufik-Nya.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para shahabatnya.

Lajnah Da’imah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta’
(Komisi tetap dewan fatwa dan penelitian ilmiyah)

Anggota; Abdullah bin Qu’ud dan Abdullah bin Ghudayyan.
Wakil ketua; Abdurrazzaq Afifi.
Ketua; Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

(sumber; Fatwa Lajnah Ad-Da’imah (2/314))

http://www.darussalaf.org/stories.php?id=567

Artikel Terkait:

 

Iklan

(Syarah Hadits) Utusan Yang Meminta Penjelasan Dari Nabi Muhammad SAW


 

حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ بُكَيْرٍ النَّاقِدُ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
نُهِينَا أَنْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ فَكَانَ يُعْجِبُنَا أَنْ يَجِيءَ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ الْعَاقِلُ فَيَسْأَلَهُ وَنَحْنُ نَسْمَعُ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَتَانَا رَسُولُكَ فَزَعَمَ لَنَا أَنَّكَ تَزْعُمُ أَنَّ اللَّهَ أَرْسَلَكَ قَالَ صَدَقَ قَالَ فَمَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ قَالَ اللَّهُ قَالَ فَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ قَالَ اللَّهُ قَالَ فَمَنْ نَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ وَجَعَلَ فِيهَا مَا جَعَلَ قَالَ اللَّهُ قَالَ فَبِالَّذِي خَلَقَ السَّمَاءَ وَخَلَقَ الْأَرْضَ وَنَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ آللَّهُ أَرْسَلَكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِنَا وَلَيْلَتِنَا قَالَ صَدَقَ قَالَ فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ قَالَ وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا زَكَاةً فِي أَمْوَالِنَا قَالَ صَدَقَ قَالَ فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ قَالَ وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ فِي سَنَتِنَا قَالَ صَدَقَ قَالَ فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ قَالَ وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا حَجَّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقَ قَالَ ثُمَّ وَلَّى قَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَزِيدُ عَلَيْهِنَّ وَلَا أَنْقُصُ مِنْهُنَّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَئِنْ صَدَقَ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّ

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Muhammad bin Bukair an-Naqid telah menceritakan kepada kami Hasyim bin al-Qasim Abu an-Nadlr telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin al-Mughirah dari Tsabit dari Anas bin Malik dia berkata:

 

“Kami terhalangi untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sesuatu, yaitu kekaguman kami terhadap kedatangan seorang laki-laki dari penduduk gurun yang berakal (cerdas), lalu dia bertanya, sedangkan kami mendengarnya, lalu seorang laki-laki dari penduduk gurun datang seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, utusanmu mendatangi kami, lalu mengklaim untuk kami bahwa kamu mengklaim bahwa Allah mengutusmu.’

 

Rasulullah menjawab: ‘Benar’.

Dia bertanya, ‘Siapakah yang menciptakan langit? ‘

Rasulullah menjawab: ‘Allah.’

Dia bertanya, ‘Siapakah yang menciptakan bumi? ‘

Rasulullah menjawab: ‘Allah.’

Dia bertanya, ‘Siapakah yang memancangkan gunung-gunung ini dan menjadikan isinya segala sesuatu yang Dia ciptakan? ‘

Beliau menjawab: ‘Allah.’

Dia bertanya, ‘Maka demi Dzat yang menciptakan langit, menciptakan bumi, dan memancangkan gunung-gunung ini, apakah Allah yang mengutusmu? ‘

Beliau menjawab: ‘Ya.’

Dia bertanya, ‘Utusanmu mengklaim bahwa kami wajib melakukan shalat lima waktu sehari semalam, (apakah ini benar)? ‘

Beliau menjawab: ‘Benar’.

Dia bertanya, ‘Demi Dzat yang mengutusmu, apakah Allah menyuruhmu untuk melakukan ini? ‘

Beliau menjawab: ‘Ya’.

Dia bertanya, ‘Utusanmu mengklaim bahwa kitab wajib melakukan puasa Ramadlan pada setiap tahun kita, (apakah ini benar)? ‘

Beliau menjawab: ‘Ya’.

Dia bertanya, ‘Demi Dzat yang mengutusmu, apakah Allah menyuruhmu untuk melakukan ini? ‘

Beliau menjawab: ‘Ya’.

Dia bertanya, ‘Utusanmu mengklaim bahwa kami wajib melakukan haji bagi siapa di antara kami yang mampu menempuh jalan-Nya, (apakah ini benar)? ‘

Beliau menjawab, ‘Ya benar’.

Kemudian dia berpaling dan berkata, ‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambah atas kewajiban tersebut dan tidak akan mengurangi darinya’.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika benar (yang dikatakannya), sungguh dia akan masuk surga’.” [HR Muslim]

SANAD HADITS:

Amru bin Muhammad bin Bukair An Naaqid abu Utsman Al Baghdadi, tsiqah hafidz, 232H.

Hasyim bin Al Qasim bin Muslim abu Nadlr Al Baghdadi Qaishar, tsiqah tsabt, 207H.Sulaiman bin Al Mughirah Abu Sa’I’d Al Bashri, tsiqah tsiqah, 165H.

Tsabit bin Aslam Al Bunani Abu Muhamad Al Bashri, tsiqah ‘aabid, wafat thn 120H lebih.

Anas bin Malik bin Nadlr, shahabat mulia yang didoakan agar banyak anak dan hartanya dan dipanjangkan umurnya. 92H.

Fawaid hadits:

Para shahabat dilarang oleh Nabi untuk banyak bertanya, ini dalam rangka saddu dzari’ah artinya menutup pintu yg dapat menjerumuskan kepada kesalahan, karena banyak bertanya membuka pintu setan untuk bertanya yang dilarang.

Hadits ahad adalah hujjah, karena nabi mengutus para utusan ke kabilah-kabilah dan para raja seorang diri.

Ketawadlu’an Rasulullah yang tidak menghalangi dirinya dari para shahabatnya dan orang-orang badui yg ingin bertanya kepadanya.

Nabi tidak berpakaian yang berbeda dengan shahabatnya, karena karena org arab ini masuk ke masjid, ia bertanya: siapa diantara kalian yg bernama Muhammad? dan apa yg dilakukan orang tasawuf yg mengkhususkan pakaian kiyainya dgn pakaian yg berbeda dari muridnya bertentangan dengan petunjuk Nabi.

Sucinya kotoran unta, karena orang arab badui ini masuk dengan untanya ke masjid dan mengikatnya di tiang masjid.

Bolehnya mencukupkan diri dengan amal-amal yang wajib saja, namun tentunya bagi para penuntut ilmu aib jika selalu meninggalkan amalan sunnah.

Sunnahnya rihlah dalam menuntut ilmu, dan ini menjadi sunnah para ahli hadits dalam mencari hadits, mereka rihlah ke negeri-negeri yang jauh.

Hadits ini dijadikan dalil oleh imam Bukhari bolehnya membacakan hadits kepada syaikh, dan ini salah satu dari tata cara talaqqi dalam periwayatan hadits.

Dicuplik dari Kajian Ustadz Badru Salam, Lc.
Di Forum BBM Pengusaha Muslim 2
Diposting dengan Smartphone HTC Snap
%d blogger menyukai ini: