Syarat-syarat Syafaat dari Allah


Syarat-syarat hak mendapat Syafaat


Semua syafa’at adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, maka syafa’at yang diterima di sisi-Nya hanyalah syafa’at yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan-Nya.[1]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

Katakanlah, “Semua syafa’at itu milik Allah (semata-mata).” (QS. az-Zumar: 44).

Syarat-syarat diterimanya syafa’at tersebut adalah[2]:

1- Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang yang akan memberi syafa’at.

Dalam hal ini mereka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi lainnya ‘alaihissalam, serta para Malaikat dan orang-orang yang shaleh dari kaum mukminin, demikian juga anak-anak kaum muslimin yang meninggal dunia sebelum baligh (dewasa), dua atau tiga orang, dapat memberi syafa’at kepada orang tuanya.[3]

2- Ridha Allah Ta’ala terhadap orang yang akan diberi syafa’at.

3- Izin Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam pemberian syafa’at tersebut.

Dan izin dari-Nya adalah setelah ridha-Nya kepada orang yang akan memberi syafa’at dan orang yang akan diberi syafa’at.

Dalil-dalil yang menunjukkan ketiga syarat tersebut adalah ayat-ayat al-Qur’an yang kami sebutkan di atas.

Adapun hadits-hadist di atas, maka semua menunjukkan bahwa hanya orang-orang yang bertauhid dengan mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah dan menjauhi segala bentuk perbuatan syirik kepada Allah, merekalah yang diridhai oleh Allah dan mendapat izin dari-Nya untuk menerima syafa’at. Sementara orang-orang yang berbuat syirik maka syafa’at untuk mereka tertolak dan tidak bermanfaat di sisi-Nya.

Sebagaimana firman-Nya,

فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

Maka tidak berguna bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” (QS. al-Muddatstsir: 48).[4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Syafa’at yang dinafikan (dalam) al-Qur’an secara mutlak adalah yang terdapat kesyirikan padanya, inilah yang tertolak secara mutlak.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan syafa’at (yang benar) dengan izin-Nya di beberapa ayat (dalam al-Qur’an), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan (dalam hadits-hadits yang shahih) bahwa syafa’at tersebut hanya berlaku bagi orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadahnya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata), maka syafa’at tersebut bersumber dari tauhid dan yang berhak menerimanya (hanyalah) orang-orang yang bertauhid.”[5]

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Renungkanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (dalam hadits di atas); bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan sebab utama untuk mendapatkan syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memurnikan tauhid (penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata), yang ini sangat berseberangan dengan persangkaan orang-orang musyrik bahwa syafa’at itu diraih dengan menjadikan pelindung-pelindung (selain Allah) sebagai pemberi syafa’at, menyembah dan berloyal kepada mereka.[6]

Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membantah persangkaan dusta orang-orang musyrik tersebut dan beliau r menyampaikan bahwa sebab (untuk meraih) syafa’at adalah (dengan) memurnikan tauhid, dan ketika itulah Allah mengizinkan kepada pemberi syafa’at untuk memberikan syafa’at… Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan meridhai ucapan dan perbuatan (manusia) kecuali (yang dilandasi) tauhid kepada-Nya dan ittibaa’ (mengikuti petunjuk dan sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ….”[7]

 

Macam-macam syafa’at


Secara umum, syafa’at terbagi menjadi dua macam[8]:

1- Syafa’at yang benar,

yaitu syafa’at yang ditetapkan dalam al-Qur’an dan memenuhi syarat-syarat syafa’at yang kami sebutkan di atas.

2- Syafa’at yang batil,

yaitu syafa’at yang dinafikan dalam al-Qur’an karena tidak memenuhi syarat-syarat di atas, inilah syafa’at yang dijadikan sandaran oleh orang-orang musyrik kepada sembahan-sembahan mereka, di mana mereka menyembah sembahan-sembahan tersebut dan menyangka sembahan-sembahan tersebut bisa memberi syafa’at untuk mereka di sisi Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah kepada selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Sembahan-sembahan itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi”? Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS. Yunus: 18).

Akan tetapi syafa’at ini tertolak dan tidak bermanfaat sama sekali, sebagaimana firman-Nya,

فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

Maka, tidak berguna bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” (QS. al-Muddatstsir: 48).

Kemudian syafa’at yang benar terbagi lagi menjadi dua bagian besar[9], yaitu:

a) Syafa’at yang khusus

dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Terbagi atas tiga macam:

1- Syafa’at al-’uzhma (syafa’at yang paling agung),

Iinilah al-maqaamul mahmuud (kedudukan yang terpuji) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[10]

Syafa’at ini adalah syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh umat manusia ketika mereka dikumpulkan di padang mahsyar untuk menunggu keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada waktu itu manusia merasakan kesusahan dan penderitaan yang sangat besar, sehingga mereka mendatangi para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa bin Maryam, agar meminta syafa’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi mereka.

Tapi semua para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut mengajukan keberatan, lalu mereka meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliaulah yang diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberikan syafa’at tersebut.[11]

 

2- Syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penghuni surga untuk masuk ke dalam surga,

Karena ketika penduduk surga telah melewati ash-shiraath (jembatan yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahanam), mereka mendapati pintu surga tertutup. Maka mereka meminta kepada para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas untuk meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar membuka pintu surga, tapi mereka tidak mampu, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminta syafa’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membukan pintu-pintu surga bagi penghuninya.[12]

Inilah yang diisyaratkan oleh Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

Akulah yang pertama kali (diizinkan Allah Subhanahu wa Ta’ala) untuk memberikan syafa’at di surga.”[13]

Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Aku mendatangi pintu surga pada hari Kiamat lalu aku meminta dibukakan (pintu surga), maka penjaga surga bertanya, ‘Siapakah kamu?’, aku menjawab, ‘(Aku Nabi) Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam)’, maka penjaga itu berkata, “Dengan kamulah aku diperintahkan untuk tidak membukakan (pintu surga) kepada seorangpun sebelummu.”[14]

3- Syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was allam kepada paman beliau Abu Thalib untuk meringankan azab yang menimpanya di neraka.

Dalam hadits yang shahih, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah engkau bisa memberi manfaat (walaupun) sedikit kepada pamanmu (Abu Thalib), (Karena) dulu dia selalu melindungi dan membelamu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Iya, dia (berada) di tempat yang dangkal (tidak dalam) di Neraka (diringankan siksaannya), kalau bukan karena aku, maka mestinya dia (ditempatkan) di dasar neraka yang paling bawah).”[15]

Imam an-Nawawi dalam kitab Shahih Muslim mencantumkan hadits ini pada bab: Syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada (paman beliau) Abu Thalib.

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Semoga syafa’atku bermanfaat baginya (Abu Thalib) pada hari Kiamat, sehingga dia ditempatkan di neraka yang dangkal, yang mencapai kedua mata kakinya dan dengan itu otaknya mendidih.”[16]

Syafa’at ini khusus hanya bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paman beliau Abu Thalib, karena hukum asalnya orang kafir tidak bisa mendapatkan syafa’at, maka ini merupakan pengecualiaan dan pengkhususan. Dan syafa’at inipun tidak mengeluarkannya dari Neraka, tapi cuma meringankan azab yang menimpanya.[17]

 

b) Syafa’at umum

yang bisa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain beliau, yaitu para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, para Malaikat dan orang-orang yang shaleh dari kaum mukminin. Syafa’at ini juga ada tiga macam:

1- Syafaa’at kepada orang-orang beriman yang berhak masuk Neraka karena dosa-dosa mereka,

maka dengan syafa’at tersebut mereka tidak dimasukkan ke dalam neraka.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Syafa’at ini bisa dijadikan sebagai dalil yang menunjukkannya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah akan menerima/mengabulkan syafa’at mereka terhadapnya.[18]

Sesungguhnya syafa’at (dalam hadits) ini terjadi sebelum orang tersebut masuk neraka, maka Allah menerima/ mengabulkan syafa’at mereka terhadapnya.”[19]

2- Syafa’at kepada orang-orang beriman yang telah dimasukkan ke dalam neraka karena dosa-dosa mereka,

kemudian dengan syafa’at tersebut mereka dikeluarkan dari neraka.

Syafa’at ini disebutkan dalam banyak hadits shahih dan bahkan mencapai derajat mutawatir, sehingga para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semua Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat menetapkan syafa’at ini.

Bahkan semua kelompok dalam Islam menetapkannya, kecuali dua kelompok yang mengingkarinya, yaitu Khawarij dan Mu’tazilah, mereka mengingkari syafa’at kepada pelaku maksiat secara mutlak, karena keyakinan sesat mereka bahwa pelaku dosa besar akan kekal selamanya di dalam Neraka.[20]

Dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik dan Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Syafa’atku adalah untuk para pelaku dosa besar dari umatku.”[21]

3- Syafa’at bagi penduduk surga untuk meninggikan derajat mereka dan menambah keutamaan mereka.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata[22], “(Dalil yang menunjukkan) syafa’at ini diambil dari doa kaum mukminin sebagian mereka kepada yang lain, sebagaimana doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abu Salamah radhiallahu ‘anhu,

Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya (di Surga) bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk, lapangkan dan terangilah kuburannya, dan jagalah orang-orang yang ditinggalkannya.”[23]

 


[1] Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir (4/72) dan Tafsir al-Qurthubi (15/264).
[2] Lihat kitab-kitab berikut: Tafsir Ibnu Katsir (4/72), Tafsir al-Qurthubi (15/264), Fathul Majiid (hal. 244-245), Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/168) dan Al-Irsyad ila Shahiihil I’tiqaad (hal. 224).
[3] Sebagaimana dalam hadits riwayat an-Nasa’i (no. 1876), Ahmad (2/510 dan  6/431) dan al-Hakim  (no. 1416), dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim,  adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani.
[4] Lihat kitab Fathul Majiid (hal. 251) dan Al-Irsyad ila Shahiihil I’tiqaad (hal. 224).
[5] Kitab Majmu’ul Fataawa (7/79).
[6] Sebagaimana ucapan mereka yang dinukil dalam al-quran surat Yunus: 18.
[7] Kitab Madaarijus Saalikiin (1/341).
[8] Lihat kitab Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/168) dan Asy-Syafa’ah (hal. 8-12). Lihat juga pembagian macam-macam syafa’at dalam referensi berikut: Al-’Aqiidatil Waasithiyyah (hal. 20),  Fathul Majiid (hal. 251-252), Al-Irsyad ila Shahiihil I’tiqaad (hal. 224), dan Riyaadhul Jannah.
[9] Lihat kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/332-335).
[10] Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 589 dan 1405).
[11] Lihat selengkapnya dalam hadits yang panjang riwayat al-Bukhari (no. 7002) dan Muslim (no. 193).
[12] Sebagimana dalam hadits shahih yang panjang riwayat Imam Muslim (no. 195).
[13] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 196).
[14] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 197).
[15] Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 3670 dan 5855) dan Muslim (no. 209).
[16] Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 3672 dan 6196) dan Muslim (no. 210).
[17] Lihat kitab Fathul Majiid (hal. 252), Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/176-177) dan Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/334).
[18] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 948).
[19] Kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/334-335).
[20] Lihat kitab Fathul Majiid (hal. 251), Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/178) dan Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/335).
[21] Hadits riwayat Abu Dawud (no. 4739), at-Tirmidzi (no. 2435), Ibnu Majah  (no. 4310), Ahmad (3/213), Ibnu Hibban (no. 6467 dan 6468) dan al-Hakim  (no. 228 dan 3442), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu  Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani.
[22] Dalam kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/335).
[23] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 920).
Iklan

Seputar Istighatsah


Pengertian, Hukum dan Dalil-dalil

بسم الله الرحمن الرحيم

Berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dua bentuk ibadah yang sangat dekat dengan keseharian manusia, khususnya hamba-hamba Allah yang shaleh dan dekat dengan-Nya. Merekalah orang-orang yang mampu merealisasikan penghambaan diri yang sebenarnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sempurna, yang tersimpul dalam firman-Nya,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Faaihah: 5).

Imam Ibnu Katsir berkata, “(Mengamalkan kandungan ayat) ini adalah kesempurnaan taat (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala), bahkan (inti) agama Islam seluruhnya kembali kepada dua makna ini (beribadah dan meminta pertolongan kepada-Nya). Sebagaimana ucapan salah seorang ulama salaf. ‘Surat Al-Fatihah adalah rahasia (inti kandungan) Al-Quran dan rahasia (inti kandungan) Al-Fatihah adalah kalimat (ayat) ini.”[1]

Termasuk bentuk doa dan meminta pertolongan kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala adalah ibadah agung, yang kita kenal dengan nama istigatsah kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala. Ibadah ini termasuk amal shaleh yang paling utama dan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.[2]

Pengertian istigatsah dan perbedaannya dengan doa


Menurut para ahli bahasa Arab, istigatsah termasuk dari jenis-jenis an-nida’ (panggilan/seruan), yang secara bahasa berarti: meminta kepada pihak yang diseru untuk menghilangkan kesulitan orang lain.[3]

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Istigatsah artinya meminta al-gauts yang berarti menghilangkan kesusahan, sama dengan (kata) al-istinshaar artinya meminta bantuan dan al-isti’aanah artinya meminta pertolongan.”[4]

Ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لكم

“(Ingatlah), ketika kalian beristigatsah kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS. Al-Anfal: 9).

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata, “Artinya: kalian meminta pertolongan kepada-Nya dari musuh-musuh kalian (orang-orang kafir) dan berdoa kepada-Nya agar kalian mengalahkan mereka.”[5]

Adapun perbedaan antara istigatsah dengan doa adalah bahwa istigatsah hanya dikhusukan pada permohonan dalam keadaan sulit dan susah, sedangkan doa bersifat lebih umum, karena bisa dilakukan dalam kondisi susah maupun kondisi lainnya. Oleh karena itu, semua bentuk istigatsah adalah temasuk doa, tapi tidak semua doa adalah istigatsah.[6]

Dalil-dalil istigatsah dan hukumnya dalam Islam


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (permohonan) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengambil peringatan.” (QS. An-Naml: 62)

Imam Ibnu Katsir berkata, “(Dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan bahwa Dialah (satu-satunya) yang diseru ketika (timbul) berbagai macam kesusahan, dan Dialah yang diharapkan (pertolongan-Nya) ketika (terjadi) berbagai macam malapetaka, sebagaimana firman-Nya,

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلا إِيَّاهُ

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, maka hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Allah.” (QS. Al-Isra’: 67).

Juga firman-Nya,

ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Kemudian bila kamu ditimpa bencana, maka hanya kepada-Nyalah kamu memohon pertolongan. (QS. An-Nahl: 53)[7]

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Jika Allah menimpakan suatu kesulitan kepadamu, maka tidak ada yang (mampu) menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Yunus: 107)

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata, “(Arti ayat ini): Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Muhammad, jika Allah menimpakan kesusahan atau bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali (Allah  Subhanahu wa Ta’ala) Rabbmu (Tuhanmu) yang telah menimpakannya kepadamu, dan bukanlah sembahan-sembahan dan tandingan-tandingan lain (selain Allah  Subhanahu wa Ta’ala) yang disembah oleh orang-orang musyrik itu (yang mampu menghilangkannya).”[8]

Semua ayat di atas menunjukkan bahwa istigatsah adalah termasuk ibadah yang paling agung dan mulia, yang hanya layak ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Sehingga menujukannya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah termasuk perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam (menjadi kafir).

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan hukum ini dengan tegas dalam firman-Nya,

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan janganlah kamu menyeru (memohon) kepada sembahan-sembahan selain Allah yang tidak mampu memberikan manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu, sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim (musyrik).” (QS. Yunus: 106).

Syekh ‘Abdur Rahman As-Sa’di berkata, “(Dalam ayat ini), zalim yang dimaksud adalah syirik, sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya (perbuatan) syirik (mempersekutukan Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Maka, seandainya sebaik-sebaik manusia (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyeru kepada selain Allah bersamaan dengan menyeru-Nya maka niscaya beliau termasuk orang-orang yang zalim dan musyrik, maka bagaimana lagi dengan orang selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? (Tentu lebih besar lagi dosanya).”[9]

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk jenis-jenis kesyirikan yaitu meminta (pemenuhan) hajat dari orang-orang mati (yang dianggap sebagai wali), beristigatsah dan menghadapkan diri kepada mereka. Inilah pangkal kesyirikan (yang terjadi) di alam semesta. Orang yang telah mati telah terputus amal perbuatannya dan dia tidak memiliki (kemampuan untuk memberi) manfaat maupun (mencegah) keburukan bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang (lain) yang beristigatsah kepadanya atau meminta (pemenuhan) hajat kepadanya!”[10]

Oleh karena itu, Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab mencantumkan hal ini dalam Kitab At-Tauhid[11] pada bab khusus, (yaitu bab) “Termasuk (perbuatan) syirik (mempersekutukan Allah) adalah melakukan istigatsah kepada selain-Nya atau menyeru (memohon) kepada selain-Nya.”


[1] Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (1/48).[2] Lihat keterangan Syekh Al-’Utsaimin dalam kitab Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 60.
[3] Lihat muqaddimah tahqiq kitabAl-Istigatsatu fir Raddi ‘alal Bakri, hlm. 41.
[4] Kitab Majmu’ul Fatawa: 1/103.
[5] Kitab Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur`an: 13/409.
[6] Lihat kitab Fathul Majid, hlm. 200.
[7] Kitab Tafsir Ibnu Katsir: 3/492.
[8] Kitab Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur`an: 15/219.
[9] Kitab Taisirul Karimir Rahman, hlm. 375; lihat juga kitab Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid: 1/266 dan At-Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, hlm. 183.
[10] Kitab Madaarijus Salikiin: 1/346.
[11] Lihat kitab Fathul Majid, hlm. 200.

Macam-macam Bentuk Istighatsah

Secara garis besar, istigatsah terbagi menjadi dua macam:[1]

A. Istigatsah masyru’ah

(istigatsah yang disyariatkan dalam agama Islam).

Ini ada dua macam bentuknya:

1. Istigatsah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah istigatsah yang diperintahkan dalam Islam. Tidak ada yang dapat menghilangkan kesusahan secara mutlak kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya, dan semua pertolongan yang datang kepada manusia adalah dari sisi-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang istigatsah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiallahu ‘anhum pada malam hari sebelum Perang Badar,

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“(Ingatlah), ketika kamu beristigatsah kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang bertutut-turut.’” (QS. Al-Anfal: 9)[2]

Syekh Muhamad bin Shalih Al-’Utsaimin berkata, “Istigatsah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk amal shalih yang paling utama dan paling sempurna (pahalanya), dan merupakan kebiasaan para rasul ‘alaihimus salam dan pengikut mereka.”[3]

2. Istigatsah kepada orang yang masih hidup dan ada di hadapan kita,

terbatas dalam hal-hal yang mampu dilakukan oleh manusia pada umumnya.

Istighatsah semacam ini diperbolehkan, sebagaimana diperbolehkan meminta pertolongan kepada mereka dalam hal-hal tersebut.[4]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kisah Nabi Musa ‘alaihis salam,

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِين

Dan Musa masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi, yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Firaun). Maka orang dari golongannya beristigatsah (meminta pertolongan) kepadanya, untuk mengalahkan orang yang berasal dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah orang itu. Musa berkata, ‘Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya setan itu musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).’” (QS. Al-Qashash: 15).

Dalam ayat ini, orang dari kalangan Bani Israil tersebut ber-istigatsah (meminta pertolongan) kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dalam hal yang mampu dilakukan Nabi Musa ‘alaihis salam, dan ini tidak bertentangan dengan kesempurnaan tauhid.[5]

Akan tetapi, perlu diingatkan di sini, bahwa ketika kita meminta pertolongan kepada seseorang dalam hal yang mampu dilakukannya, maka dalam rangka menjaga kesempurnaan tauhid, kita wajib meyakini bahwa pertolongan orang tersebut hanyalah sebab semata, dan tidak memiliki pengaruh secara langsung dalam menghilangkan kesulitan yang kita alami, karena yang mampu melakukan semua ini hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Jangan sampai kita bersandar kepada orang tersebut dan melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan semua sebab, karena ini semua akan merusak kesempurnaan tauhid kita.[6]

B. Istigatsah mamnu’ah

(istigatsah yang dilarang/ diharamkan dalam agama Islam). Ini juga ada dua macam bentuknya:

1. Istigatsah kepada orang yang masih hidup atau orang yang sudah mati dan tidak ada di hadapan kita, dalam hal-hal yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seperti; memberi rezeki, keselamatan, menyembuhkan penyakit, menolak bencana dan lain-lain. Ini adalah perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya murtad (keluar dari agama Islam).

Pelakunya bisa menjadi murtad karena mereka yang melakukan perbuatan ini meyakini bahwa orang yang mereka mintai pertolongan tersebut memiliki kemampuan tersembunyi (gaib) untuk mempengaruhi dan mengatur kejadian di alam semesta ini, padahal (kemampuan) ini adalah milik khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata.

Sehingga dengan ini, mereka telah memberikan sebagian dari sifat-sifat rububiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala (mengatur dan menguasai alam semesta) kepada selain-Nya, dan ini adalah perbuatan syirik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (permohonan) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah selain Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengambil peringatan.” (QS. An-Naml: 62)[7]

2. Istigatsah kepada orang yang masih hidup dan ada di hadapan kita, tapi dia tidak mampu memberikan pertolongan., tanpa meyakini bahwa orang tersebut memiliki kekuatan yang tersembunyi (gaib).

Misalnya: orang yang akan tenggelam meminta pertolongan kepada seorang yang lumpuh dan tidak bisa bergerak sama sekali.

Ini adalah perbuatan sia-sia dan pelecehan terhadap orang yang dimintai pertolongan, maka dengan sebab ini perbuatan tersebut dilarang dalam Islam.

Ada juga sebab lain, yaitu dikhawatirkan timbul keyakinan yang rusak bahwa orang yang dimintai pertolongan tersebut memiliki kekuatan yang tersembunyi (gaib) untuk menyelamatkan orang lain dari bahaya.[8]

 

Kembalilah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala!


Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan, menguasai dan mengatur alam semesta beserta isinya, Dialah semata-mata yang mampu memberikan manfaat dan menghilangkan bahaya serta kesulitan, tidak ada yang mampu melakukan semua itu kecuali Dia semata, dan tiada sekutu bagi-Nya.

Maka, seharusnya hanya Dialah satu-satunya tempat memohon, meminta pertolongan, dan mengadukan segala kesusahan.[9]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Jika Allah menimpakan suatu kesulitan kepadamu, maka tidak ada yang (mampu) menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Yunus: 107)

Alangkah buruk serta sesat orang yang memalingkan semua itu kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang memohon (pertolongan) kepada (sembahan-sembahan) selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 5)

Maka, kembalilah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyandarkan semua urusan kita, meminta pertolongan dan keselamatan dari semua kesusahan kepada-Nya semata. Inilah satu-satunya cara untuk meraih kebahagiaan dan ketenangan hidup.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ. وَلا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Maka segeralah kamu berlari (kembali) kepada Allah. Sesungguhnya, aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu menjadikan sembahan yang lain selain Allah (berbuat syirik kepada-Nya). Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (QS. Adz-Dzariyat: 50–51)

Artinya, berlindunglah kepada-Nya dan bersandarlah kepada-Nya dalam semua urusanmu.[10]

Dalam ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengungkapkan perintah untuk kembali kepadanya dengan firman-Nya: firru ilallah (berlarilah menuju/ kepada Allah) karena adanya makna yang agung dan tinggi dalam ungkapan ini.

Syekh ‘Abdur Rahman As-Sa’di berkata, “Allah menamakan (sikap) kembali kepada-Nya dengan al-firaar (berlari kepada-Nya), karena (sikap) kembali (bersandar) kepada selain Allah akan menimbulkan berbagai macam ketakutan dan kesusahan. (Sebaliknya), kembali kepada Allah akan mendatangkan berbagai macam kemudahan, keamanan, kebahagiaan, dan keberhasilan.”[11]

Serta firman Allah Subhanahu wa Ta’ala selanjutnya “Dan janganlah kamu menjadikan sembahan yang lain di samping Allah (berbuat syirik kepada-Nya)” menunjukkan bahwa menjauhi perbuatan syirik adalah termasuk sikap kembali kepada Allah. Bahkan ini adalah landasan utama kembali kepada-Nya, yaitu dengan meninggalkan semua yang disembah dan dimintai pertolongan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memurnikan ibadah, rasa takut, barharap, berdoa, dan meminta pertolongan semata-mata hanya kepada-Nya.[12]

 

Penutup

Sebagai penutup, renungkanlah nasihat Syekh ‘Abdul Muhsin Al-Qasim[13] berikut ini, “Istigatsah kepada Allah mengandung (sikap) merasa butuh yang sempurna kepada Allah dan keyakinan (yang utuh) akan kecukupan dari-Nya, dan ini termasuk amal shaleh yang paling utama dan mulia.

Seorang manusia dalam hidupnya selalu menghadapi berbagai macam bencana dan kesusahan, sehingga barangsiapa yang ber-istigatsah kepada Allah untuk menghilangkan segala kesusahan (yang menimpanya) maka sungguh dia telah menunaikan suatu ibadah besar yang biasa dilakukan oleh para nabi ‘alaihimus salam dan orang-orang yang shaleh ketika mereka menghadapi kesulitan, dan kemudian Allah menghilangkan kesulitan-kesulitan mereka.”[14]

Demikianlah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk selalu menegakkan tauhid kepada-Nya dan menjauhi segala bentuk perbuatan kesyirikan, yang besar maupun kecil, serta menjaga kita dari semua bencana yang merusak agama dan keyakinan kita. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


[1] Lihat muqaddimah tahqiq kitab Al-Istigatsatu fir Raddi ‘alal Bakri, hlm. 41–43.[2] Ibid, hlm. 41–42.
[3] Kitab Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 60.
[4] Ibid, hlm. 61.
[5] Lihat muqaddimah tahqiq kitab Al-Istigatsatu fir Raddi ‘alal Bakri, hlm. 42.
[6] Lihat keterangan Syekh Muhammad Al-’Utsaimin dalam kitab Al-Qaulul Mufid: 1/261.
[7] Lihat kitab Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 61, dan muqaddimah tahqiq kitab Al-Istigatsatu fir Raddi ‘alal Bakri, hlm. 43.
[8] Lihat kitab Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 61.
[9] Lihat kitab Fathul Majid, hlm. 206–207.
[10] Tafsir Ibnu Katsir: 4/303.
[11] Kitab Taisirul Karimir Rahman, hlm. 811.
[12] Kitab Taisirul Karimir Rahman, hlm. 811.
[13] Beliau adalah salah seorang imam dan khatib Mesjid Nabawi di Madinah saat ini.
[14] Kitab Taisirul Wushul, hlm. 98.

Asma al Husna; Al-Fattaah


Al-Fattaah,

(Maha Pembuka Kebaikan & Pemberi Keputusan)

بسم الله الرحمن الرحيم


Dasar Penetapan

Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha indah ini disebutkan dalam firman-Nya,

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Katakanlah, ‘Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Saba’: 26).

Juga diisyaratkan dalam firman-Nya,

وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya” (QS. Al-A’raf: 89).

Berdasarkan ayat di atas, para ulama menetapkan nama al-Fattaah sebagai salah satu dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha indah, seperti Imam Ibnul Atsir[1], Ibnu Qayyim al-Jauziyyah[2], Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di[3], Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin[4], dan lain-lain.

 

Makna Al-Fattaah secara bahasa


Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata yang benar dari nama ini menunjukkan makna lawan dari kata “menutup”, kemudian dari asal makna ini diambil makna-makna yang lain dari kata ini, seperti menghukumi (memutuskan), kemenangan, dan kesuksesan.[5]

Al-Fairuz Abadi menjelaskan bahwa nama ini secara bahasa berarti Al-hakim (yang memutuskan hukum).[6]

Ibnul Atsir berkata, “(Arti nama Allah) Al-Fattaah adalah Yang Membuka pintu-pintu rezeki dan rahmat bagi hamba-hamba-Nya. Ada juga yang mengatakan (artinya), ‘Yang Maha Memberi hukum di antara hamba-hamba-Nya’”.[7]

 

Penjabaran makna nama Allah Al-Fattaah


Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Saba’: 26).

Beliau berkata, “Allah (Dialah) Yang Maha pemberi keputusan hukum lagi Maha Mengetahui hukum (yang tepat dan adil) di antara hamba-hamba-Nya, karena tiada sesuatu pun (dari keadaan mereka) yang tersembunyi di hadapan-Nya, dan Dia tidak membutuhkan saksi untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.”[8]\

Maka makna Al-Fattaah adalah Yang Maha Memutuskan hukum di antara hamba-hamba-Nya dengan hukum-hukum dalam syariat-Nya, dan hukum-hukum (ketetapan-ketetapan) dalam takdir-Nya, serta hukum-hukum al-jazaa’ (balasan amal perbuatan yang baik dan buruk), Yang Maha Membuka mata hati orang-orang yang jujur (benar) dengan kelembutan-Nya, Membuka pintu hati mereka untuk mengenal, mencintai dan selalu kembali (bertobat) kepada-Nya, Membuka pintu-pintu rahmat-Nya dan berbagai macam rezeki, serta memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk mencapai kebaikan di dunia dan akhirat. Allah berfirman,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh-Nya maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.” (QS. Fathir: 2).[9]

Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan dengan lebih terperinci makna nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung ini. Beliau berkata, “Al-Fattaah mempunyai dua arti:

Pertama,

Kembali kepada arti al-hukmu (menghukumi/ memutuskan), (yaitu) yang memutuskan dan menetapkan hukum bagi hamba-hamba-Nya dengan syariat-Nya, serta memutuskan perkara mereka dengan memberi ganjaran pahala bagi orang-orang yang menaati-Nya serta siksaan bagi orang-orang yang berbuat maksiat, di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Katakanlah, ‘Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Saba’: 26).

Juga firman-Nya,

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

Wahai Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil), dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.‘ (QS. Al-A’raf: 89).

Maka, ayat pertama (menunjukkan makna) keputusan (hukum)-Nya bagi hamba-hamba-Nya pada hari kiamat, sedangkan ayat kedua (mengandung makna bahwa keputusan/hukum-Nya) di dunia dengan menolong/ memuliakan kebenaran dan penganutnya, serta merendahkan kebatilan dan penganutnya, dan menimpakan berbagai macam siksaan kepada mereka.

Kedua,

Dialah yang membuka semua pintu-pintu kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, (sebagaimana) firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya.” (QS. Fathir: 2).

Dia-lah yang membuka (pintu-pintu) manfaat dunia dan agama bagi hamba-hamba-Nya, dengan membuka hati-hati yang terkunci dari orang-orang yang dipilih-Nya di antara mereka dengan kelembutan dan perhatian-Nya, dan menghiasi hati mereka dengan pengetahuan tentang ketuhanan (tauhid dan pemahaman yang benar terhadap nama-nama yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna) dan hakikat keimanan (kepada-Nya), yang (semua itu) memperbaiki (meyempurnakan) keadaan (agama) mereka dan menjadikan mereka istiqamah (tetap tegar) di atas jalan yang lurus.

Lebih khusus dari semua itu, sesungguhnya Allah membukakan bagi orang-orang yang mencintai-Nya dan selalu menghadapkan diri kepada-Nya pengetahuan tentang ketuhanan (tauhid dan pemahaman yang benar terhadap nama-nama yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna), keadaan rohani, cahaya (hati) yang terang, serta pemahaman dan perasaan yang benar (terhdap agama-Nya).

Dia juga yang membuka bagi hamba-hamba-Nya pintu-pintu rezeki dan sebab-sebab untuk mendapatkannya. Dia menyediakan rezeki dan sebab-sebab memperolehnya tanpa disangka-sangka bagi orang-orang yang bertakwa, Dia menganugerahkan kepada orang-orang yang bertawakal (berserah diri kepada-Nya) lebih dari apa yang mereka minta dan harapkan, memudahkan bagi mereka (mengatasi) semua urusan yang sulit, dan membukakan pintu-pintu (pemecahan masalah) yang tertutup.”[10]

Berdasarkan penjabaran makna nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha indah ini, kita mengetahui rahasia mengapa banyak dari para ulama yang memberi judul karya tulis mereka dengan sifat Allah al-fath[11], karena mereka memperhatikan makna nama yang agung ini, yang dengan itu mereka berharap Allah akan membukakan pintu-pintu ilmu yang bermanfaat bagi mereka dan memudahkan pemahaman yang benar dari ilmu yang mereka sampaikan kepada umat ini.[12]

 

Pembagian sifat al-fath (maha memutuskan/ menghukumi) milik Allah Subhanahu wa Ta’ala


Imam Ibnul Qayyim berkata,[13]

Demikian pula al-Fattaah termasuk nama-nama-Nya (yang maha indah)

Dan al-fath dalam sifat-sifat-Nya ada dua macam:

Al-fath (yang berarti) menetapkan hukum, yaitu syariat Allah

Dan al-fath (yang berarti menetapkan) ketentuan takdir, ini al-fath kedua

Ar-Rabb (Allah ‘Azza wa Jalla) Maha Pemberi keputusan dengan dua arti ini

Dengan keadilan dan kebaikan dari Ar-Rahman (Yang Maha luas rahmat-Nya)

Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di ketika menjelaskan bait-bait syair di atas. Beliau berkata, “Al-Fattaah adalah Al­-Hakam (Maha Penentu hukum), Al-Muhsin (Maha Pemberi kebaikan), dan Al-Jawwaad (Maha Pemurah). Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu al-fath, ada dua macam.

Pertama,

(sifat) al-fath (yang berarti memutuskan) hukum dalam agama dan hukum ganjaran (amal perbuatan manusia).

Kedua,

Dia Maha menentukan hukum (ketetapan) takdir (bagi seluruh makhluk-Nya).

Maka, (sifat) al-fath (memutuskan) hukum dalam agama adalah (ketentuan) syariat-Nya (yang disampaikan-Nya) melalui lisan para Rasul-Nya, (yang berisi) semua perkara yang dibutuhkan oleh hamba-hamba-Nya (untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla), dan untuk tetap istiqamah (tegar) di atas jalan yang lurus.

Adapun (sifat) al-fath dalam hukum ganjaran (amal perbuatan manusia) adalah keputusan (hukum-Nya) terhadap para Nabi ‘alaihimus salam dan para penentang (dakwah) mereka, serta terhadap hamba-hamba yang dicintai-Nya dan musuh-musuh mereka, dengan memuliakan dan menyelamatkan para Nabi ‘alaihimus salam serta pengikut mereka, dan menghinakan serta menyiksa musuh-musuh mereka.

Demikian pula keputusan dan hukum-Nya pada hari kiamat terhadap semua makhluk ketika ditunaikan (balasan) amal perbuatan semua manusia.

Adapun (yang kedua), menentukan ketetapan takdir (bagi seluruh makhluk-Nya) adalah (semua) ketetapan takdir (yang diberlakukan-Nya) terhadap semua hamba-Nya, berupa kebaikan dan keburukan, manfaat dan celaka, serta pemberian dan penghalangan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِه وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُِ

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh-Nya maka tidak ada seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2).

Maka Ar-Rabb (Allah Subhanahu wa Ta’ala)  adalah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui, Dia membukakan bagi hamba-hamba-Nya yang taat perbendaharaan anugerah dan kebaikan-Nya, serta membukakan bagi musuh-musuh-Nya kebalikan dari itu, semua itu dengan keutamaan (rahmat) dan keadilan-Nya.”[14]

 

Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah Al-Fattaah


Keimanan yang benar terhadap nama-Nya yang maha agung ini akan menjadikan seorang hamba selalu menghadapkan diri dan berdoa kepada-Nya semata-mata agar Dia membukakan baginya pintu-pintu taufik, rezeki yang halal dan rahmat-Nya, serta melapangkan dadanya untuk menerima segala kebaikan dalam Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Maka, apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22).

Imam Al-Qurthubi berkata, “Pembukaan (pintu-pintu kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan kelapangan dada (untuk menerima kebaikan Islam) ini tidak ada batasnya (sangat luas), yang masing-masing dari orang-orang beriman mendapatkan bagian darinya. Bagian yang paling besar didapatkan oleh para Nabi ‘alaihimus salam, kemudian setelah mereka adalah para wali (kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala), kemudian para ulama, lalu orang-orang awam dari kalangan kaum mukminin, dan hanya orang-orang kafir yang tidak diberi bagian darinya oleh Allah.”[15]

Termasuk dalam pengertian memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-Nya yang mulia ini, doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk dan keluar dari masjid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian masuk ke masjid, maka hendaknya dia mengucapkan (doa),

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

‘Ya Allah, bukakalah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.’

Dan jika dia keluar (dari mesjid) hendaknya dia mengucapkan (doa),

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu (anugerah) kebaikan dari-Mu.”[16]

Maka rahmat, kemuliaan dan kebaikan seluruhnya ada di tangan Allah, Dia membukakan (pintu-pintu kebaikan) dan memudahkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan semua ini termasuk pengaruh positif dan konsekuensi mengimani nama-nya yang mulia ini.[17]

 

Penutup


Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua untuk semakin bersungguh-sungguh dalam mengusahakan kesempurnaan iman kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta banyak berdoa memohon kepada-Nya agar Dia membuka pintu-pintu rahmat kebaikan-Nya bagi kita, dengan menyebut nama-Nya Al-Fattaah.

Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia memudahkan bagi kita untuk meraih semua kebaikan dan kedudukan mulia dalam agama-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pembuka pintu-pintu kebaikan lagi Maha Mengetahui.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


[1] Dalam kitab An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar: 3/771.
[2] Dalam syair beliau An-Nuniyyah (kitab Al-Haqqul Wadhihul Mubin, hlm. 44.
[3] Dalam kitab Tafsiru Asma`illahil Husna, hlm. 67.
[4] Dalam kitab Al-Qawa’idul Mutsla, hlm. 41.
[5] Kitab Mu’jamu Maqayisil Lughah: 4/375.
[6] Kitab Al-Qamus Al-Muhith, hlm. 298.
[7] Kitab An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar: 3/771.
[8] Kitab Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an: 20/405.
[9] Keterangan Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di dalam kitab Taisirul Karimir Rahman, hal. 947.
[10] Kitab Fathur Rahimil Malikil ‘Allam, hlm. 48.
[11] Seperti kitab Fathul Bari karya Imam Ibnu Rajab, juga karya Ibnu Hajar, kitab Fathul Qadiir karya Imam Asy-Syaukani, kitab Fathul Majid karya Syekh Abdur Rahman bin Hasan, kitab Fathu Rabbil Bariyyah karya Syekh Muhammad Al-‘Utsaimin, dan lain-lain.
[12] Lihat catatan kaki kitab Fiqhul Asma`il Husna, hlm. 123.
[13] Dalam syair beliau An-Nuniyyah (kitab Al-Haqqul Wadhihul Mubin, hlm. 44.
[14] Kitab Al-Haqqul Wadhihul Mubin, hlm. 44–45.
[15] Dinukil oleh Syekh Abdur Razzaq al-Badr dalam kitab Fiqhul Asma`il Husna, hlm. 125.
[16] Hadits shahih riwayat Muslim, no. 713).
[17] Lihat kitab Fiqhul Asma`il Husna, hlm. 124–125.

Perniagaan yang Tidak Akan Merugi


بسم الله الرحمن الرحيم

Semua manusia sepakat, meskipun secara tidak tertulis, bahwa target mereka dalam setiap usaha yang mereka lakukan adalah meraih kesuksesan, mendapat untung dan terhindar dari kerugiaan.

Ironisnya, kebanyakan manusia hanya menerapkan hal ini dalam usaha dan urusan yang bersifat duniawi belaka, sedangkan untuk urusan akhirat mereka hanya merasa cukup dengan ‘hasil’ yang pas-pasan dan seadanya. Ini merupakan refleksi dari kuatnya dominasi hawa nafsu dan kecintaan terhadapa dunia dalam diri mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisyaratkan keadaan mayoritas manusia ini dalam firman-Nya,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. ar-Ruum: 7).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Arti (ayat ini): mayoritas manusia tidak memiliki ilmu pengetahuan kecuali dalam (perkara-perkara yang berkaitan dengan) dunia, keuntungan-keuntungannya, urusan-urusan dan semua hal yang berhubungan dengannya. Mereka sangat mahir dan pandai dalam usaha meraih (keberhasilan) dan cara-cara mengusahakan keuntungan duniawi, sedangkan untuk kemanfaatan (keberuntungan) di negeri akhirat mereka lalai (dan tidak paham sama sekali), seolah-seolah mereka seperti orang bodoh yang tidak punya akal dan pikiran (sama sekali).” (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 3/560)

 

Perniagaan Akhirat


Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan amalan-amalan shalih, lahir dan batin, yang disyariatkan-Nya untuk mencapai keridhaan-Nya dan meraih balasan kebaikan yang kekal di akhirat nanti sebagai “tijaarah” (perniagaan) dalam banyak ayat al-Qur’an.

Ini menunjukkan bahwa orang yang menyibukkan diri dengan hal tersebut berarti dia telah melakukan ‘perniagaan’ bersama Allah Ta’ala, sebagaimana orang yang mengambil bagian terbesar dari perniagaan tersebut maka dialah yang paling berpeluang mendapatkan keuntungan yang besar.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaff: 10-12).

Imam asy-Syaukani berkata, “Allah menjadikan amalan-amalan (shalih) tersebut kedudukannya seperti ‘perniagaan’, karena orang-orang yang melakukannya akan meraih keuntungan (besar) sebagaimana mereka meraih keuntungan dalam perniagaan (duniawi), keuntungan (besar) itu adalah masuknya mereka ke dalam surga dan selamat dari (siksa) neraka.” (Kitab Fathul Qadiir, 5/311).

Inilah ‘perniagaan’ yang paling agung, karena menghasilkan keuntungan yang paling besar dan kekal abadi selamanya, inilah ‘perniagaan’ yang dengannya akan diraih semua harapan kebaikan dan terhindar dari semua keburukan yang ditakutkan, inilah perniagaan yang jelas lebih mulia dan lebih besar keuntungannya daripada perdagangan duniawi yang dikejar oleh mayoritas manusia. (Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, 4/463).

Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyifati ‘perniagaan’ mulia ini sebagai perniagaan yang pasti beruntung dan tidak akan merugi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (al-Qur’an), mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dengan diam-diam maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 30).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata, “(Inilah) perniagaan yang tidak akan merugi dan binasa, bahkan (inilah) perniagaan yang paling agung, paling tinggi dan paling utama, (yaitu) perniagaan (untuk mencari) ridha Allah, meraih balasan pahala-Nya yang besar, serta keselamatan dari kemurkaan dan sisaan-Nya. Ini mereka (raih) dengan mengikhlaskan (niat mereka) dalam mengerjakan amal-amal (shalih) serta tidak mengharapkan tujuan-tujuan yang buruk dan rusak sedikitpun.” (Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 689).

 

Barang Dagangan/ Perniagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Adalah Surga


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya barang dagangan Allah sangat mahal, dan ketahuilah bahwa barang dagangan Allah adalah surga.” (HR. at-Tirmidzi (no. 2450) dan al-Hakim (4/343), dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahiihah, no. 954 dan 2335).

Barang dagangan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mahal dan mulia ini harganya adalah amalan shalih dan berkorban di jalan-Nya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala isyaratkan dalam firman-Nya,

وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

Dan amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. al-Kahfi: 46).

Juga dalam firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga (sebagai balasan) untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 111) (Lihat kitab Tauhfatul Ahwadzi, 7/124 dan Fathul Qadiir, 6/123).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan (dalam ayat ini), bahwa Dia telah mengganti (membeli) dari hamba-hamba-Nya yang beriman jiwa dan harta mereka yang mereka curahkan di jalan-Nya dengan Surga (sebagai harganya). Ini merupakan (bagian) dari karunia, kebaikan dan kedermawanan-Nya, karena Dia menerima (untuk memberikan) ganti (harga) dari apa yang merupakan milik-Nya, dengan (ganti yang berupa) anugerah yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang (selalu) taat kepada-Nya. Oleh karena itu, (Imam) Hasan al-Bashri dan Qatadah berkata (tetntang ayat ini), ‘Demi Allah, Dia telah berjual-beli dengan mereka, lalu Dia menjadikan sangat mahal harga (yang mereka terima, yaitu surga).’” (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 2/515).

 

Barang Dagangan yang Mahal Hanya untuk Pedagang dan Pembeli Kelas Tinggi


Barang dagangan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat mulia dan mahal ini, yaitu Surga, hanya pantas ‘diperdagangkan’ dan ‘dibeli’ oleh para pedagang dan pembeli ‘kelas tinggi’, yaitu mereka yang siap mencurahkan segenap kesungguhan dan perjuangan mereka, dengan jiwa, raga dan harta, untuk meraih kesempurnaan iman dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Merekalah orang-orang ‘kelas tinggi’ dalam arti yang sebenarnya, karena mereka siap berjuang dan mengorbankan segala yang mereka miliki untuk memenuhi ‘selera mereka yang tinggi’, yaitu selera untuk mendapatkan balasan yang tinggi, yaitu Surga.

Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati Surga dalam al-Qur’an dengan firman-Nya,

فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ

Di dalam Surga yang sangat tinggi.” (QS. al-Ghaasyiah: 10).

Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati Surga Firdaus dalam sabda beliau, “Jika kalian memohon (Surga) kepada Allah, maka mintalah (Surga Firdaus), itulah Surga yang paling di tengah dan paling tinggi, dan atapnya adalah Arsy (Allah Subhanahu wa Ta’ala) Yang Maha Pemurah.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 2637 dan 6987).

Bukankah dengan ini mereka pantas disebut sebagai orang-orang yang memiliki ‘selera tinggi’?

Sebagaimana orang-orang yang menjadikan dunia sebagai target utama dalam hidup mereka, pantas disebut sebagai orang-orang yang memiliki ‘selera rendah’ sesuai dengan kerendahan dan kehinaan dunia itu sendiri.

Imam ‘Abdur Rauf al-Munawi berkata, “Dunia itu dinamakan ‘dunia’ (secara bahasa berarti yang rendah/ dekat), karena kedekatannya (cepat berakhirnya) dan kerendahannya (kehinaannya).” (Kitab Faidhul Qadiir, 3/544).

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat utama yang ada pada penghuni Neraka yaitu selalu memprioritaskan kehidupan dunia yang rendah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ طَغَى وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى، وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat: 37-41).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari ‘selera yang rendah’ ini, sebagaimana dalam doa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ولا تَجْعَلِ الدُّنْيا أَكْبَرَ هَمِِّنا ولا مَبْلَغَ عِلْمِنَا

“(Ya Allah) janganlah Engkau jadikan dunia (harta dan kedudukan [lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 9/334]) sebagai target utama kami dan puncak dari pengetahuan kami.” (HR. at-Tirmidzi (no. 3502), dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani).

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Barangsiapa yang bercita-cita untuk (meraih) perkara-perkara yang tinggi, maka wajib baginya untuk menekan kuat kecintaan kepada perkara-perkara yang rendah (dunia).” (Kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah, 1/108).

Sikap inilah yang ditunjukkan oleh shahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu, ketika beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah, yang untuk itu beliau harus menyerahkan harta dan emas berlimpah yang beliau miliki kepada orang-orang kafir Quraisy, agar mereka tidak menghalangi hijrah beliau ke Madinah. Sehingga ketika beliau telah sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mengetahui kejadian tersebut berdasarkan berita dari Malaikat Jibril’alaihis salam, waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira kepadanya dengan bersabda, “Wahai Abu Yahya, (sungguh) telah beruntung perniagaanmu“, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya sebanyak tiga kali.” (HR.al-Hakim (8/31) dan ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir, no. 7296, dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi).

 

Kemuliaan dan Keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala Sesuai dengan Kesungguhan Manusia


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami berikan hidayah kepada mereka (dalam menempuh) jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al- ‘Ankabuut: 69).

Imam Ibnu Qayyim ketika mengomentari ayat di atas, beliau berkata, “(Dalam ayat ini), Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan (manusia), maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah (dari Allah Ta’ala) adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya.” (Kitab Al-Fawa-id, hal. 59).

Tidak terkecuali dalam hal ini, untuk meraih keuntungan besar dalam perdagangan akhirat tentu sangat dibutuhkan perjuangan dan kesungguhan. Kesungguhan dalam memahami petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengamalkannya untuk mencapai ridha-Nya. Inilah jalan untuk mencapai keuntungan yang tinggi dan mulia dalam perdagangan akhirat, yaitu surga yang penuh dengan berbagai macam kenikmatan besar yang “belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak manusia.” (Sebagaimana dalam hadits qudsi riwayat Imam al-Bukhari, no. 4501 dan Muslim, no. 2824).

Seorang penyair mengungkapkan hal ini dalam bait syairnya,

Maka katakanlah kepada mereka yang mengharapkan perkara-perkara (balasan) yang tinggi

Tanpa kesungguhan/perjuangan (berarti) kamu mengharapkan sesuatu yang mustahil (kamu dapatkan)

Inilah makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Orang yang berjihad/ berjuang dengan sungguh-sungguh (yang sebenarnya) –dalam riwayat lain: jihad/ perjuangan yang paling utama– adalah orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menundukkan hawa nafsunya di jalan Allah U –dalam riwayat lain: dalam ketaatan kepada Allah –” (HR. at-Tirmidzi (no. 1621), Ahmad (6/21,22), Ibnu Hibban (no. 4862), dinyatakan shahih oleh Imam At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani).

 

Nasehat dan Penutup


Inilah perniagaan akhirat dan perniagaan dunia, dan inilah perbandingan antara keduanya, manakah yang akan anda pilih?

Allah Ta’ala berfirman,

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاها قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (dengan ketakwaan), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (dengan kefasikan).”  (QS. asy-Syams: 7-10).

Kehidupan dunia yang kita jalani, hakekatnya adalah pertaruhan diri kita untuk membawanya kepada jalan kebaikan atau kebinasaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap manusia menjalankan (kehidupannya) dan menjual (mempertaruhkan) dirinya, maka (ada orang) yang membebaskan (menyelamatkan) dirinya dan (ada pula) yang membinasakannya.” (Hadits shahih riwayat Muslim, no. 223).

Imam an-Nawawi berkata, “Makna hadits ini adalah setiap manusia mengusahakan (mempertaruhkan) dirinya, di antara mereka ada yang menjualnya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan (menetapi) ketaatan kepada-Nya, maka dialah yang membebaskan (menyelamatkan) dirinya dari siksa (neraka yang sangat pedih), dan di antara mereka ada yang menjualnya untuk syaitan dan hawa nafsunya dengan menuruti (ajakan) keduanya, maka dialah yang membinasakan dirinya.” (Kitab Syarhu Shahiihi Muslim, 3/102).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan tulisan ini bermanfaat untuk memotivasi kita agar semangat dan bersungguh-sungguh mengejar keuntungan mulia dalam perdagangan akhirat yang tidak akan merugi.

Dan semoga Dia senantiasa memudahkan taufik-Nya bagi kita untuk meraih keridhaan-Nya dan semua kedudukan yang mulia dalam agama-Nya, sesungguhnya Dia Maha Dekat, Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Perjalanan Menuju Yaumil Akhirat


بسم الله الرحمن الرحيم


Hari akhirat, hari setelah kematian yang wajib diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna, hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia, hari yang  pada waktu itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata dengan penuh penyesalan,

يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.” (QS. al-Fajr: 24).

Maka, seharusnya setiap muslim yang mementingkan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini. Karena pada hakikatnya, hari inilah masa depan dan hari esok manusia yang sesungguhnya, yang kedatangan hari tersebut sangat cepat seiring dengan cepat berlalunya usia manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr: 18).

Dalam menafsirkan ayat di atas, Imam Qatadah([1]) berkata, “Senantiasa Tuhanmu (Allah) mendekatkan (waktu terjadinya) hari Kiamat, sampai-sampai Dia menjadikannya seperti besok.”([2])

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai sahabat yang mulia Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang mengingatkan hal ini dalam ucapannya yang terkenal, “Hisab-lah (introspeksilah) dirimu (saat ini), sebelum kamu di-hisab (diperiksa/ dihitung amal perbuatanmu pada hari Kiamat), dan timbanglah dirimu (saat ini) sebelum (amal perbuatan)mu ditimbang (pada hari Kiamat), karena sesungguhnya akan mudah bagimu (menghadapi) hisab besok (hari Kiamat) jika kamu (selalu) mengintrospeksi dirimu saat  ini, dan hiasilah dirimu (dengan amal shalih) untuk menghadapi (hari) yang besar (ketika manusia) dihadapkan (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala),

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya).” (QS. al-Haaqqah: 18)([3]).

Senada dengan ucapan di atas sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya, dunia telah pergi meninggalkan (kita), sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/ mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal.”([4])

 

Jadilah Kamu di Dunia Seperti “Orang Asing”

Dunia tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi itu. Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup, maka dengan izin Allah dia akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan barangsiapa yang bekalnya kurang, maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sikap yang benar dalam kehidupan di dunia dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.”([5])

Hadits ini merupakan bimbingan bagi orang yang beriman tentang bagaimana seharusnya dia menempatkan dirinya dalam kehidupan di dunia. Karena orang asing (perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan adalah orang yang hanya tinggal sementara dan tidak terikat hatinya kepada tempat persinggahannya, serta terus merindukan untuk kembali ke kampung halamannya.

Demikianlah keadaan seorang mukmin di dunia yang  hatinya selalu terikat dan rindu untu kembali ke kampung halamannya yang sebenarnya, yaitu Surga tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam ‘alaihissalam dan istrinya Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia.

Dalam sebuah nasihat tertulis yang disampaikan Imam Hasan al-Bashri kepada Imam Umar bin Abdul ‘Aziz, beliau berkata, “…Sesungguhnya, dunia adalah negeri  perantauan dan bukan tempat tinggal (yang sebenarnya), dan hanyalah Adam ‘alaihissalam diturunkan ke dunia ini untuk menerima hukuman (akibat perbuatan dosanya)…”([6])

Dalam mengungkapkan makna ini, Ibnul Qayyim berkata dalam bait syairnya,

Marilah (kita menuju) Surga ‘Adn (tempat menetap) karena sesungguhnya itulah #

Tempat tinggal kita yang pertama, yang di dalamnya terdapat kemah (yang indah)

Akan tetapi kita (sekarang dalam) tawanan musuh (setan), maka apakah kamu melihat #

Kita akan (bisa) kembali ke kampung halaman kita dengan selamat?([7])

Sikap hidup ini menjadikan seorang mukmin tidak panjang angan-angan dan terlalu muluk dalam menjalani kehidupan dunia, karena “barangsiapa yang hidup di dunia seperti orang asing, maka dia tidak punya keinginan kecuali mempersiapkan bekal yang bermanfaat baginya ketika kembali ke kampung halamannya (akhirat), sehingga dia tidak berambisi dan berlomba bersama orang-orang yang mengejar dunia dalam kemewahan (dunia yang mereka cari), karena keadaanya seperti seorang perantau, sebagaimana dia tidak merasa risau dengan kemiskinan dan rendahnya kedudukannya di kalangan mereka.”([8])

Makna inilah yang diisyaratkan oleh sahabat yang meriwayatkan hadits di atas,  Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika beliau berkata, “Jika kamu (berada) di waktu sore, maka janganlah tunggu datangnya waktu pagi, dan jika kamu (berada) di waktu pagi, maka janganlah tunggu datangnya waktu sore, serta gunakanlah masa sehatmu (dengan memperbanyak amal shalih sebelum datang) masa sakitmu, dan masa hidupmu (sebelum) kematian (menjemputmu).” ([9])

Bahkan, inilah makna zuhud di dunia yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya, “Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)?” Beliau berkata, “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata, ‘Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi.’”([10])

 

Berbekallah, dan Sungguh Sebaik-baik Bekal Adalah Takwa


Sebaik-baik bekal untuk perjalanan ke akhirat adalah takwa, yang berarti “menjadikan pelindung antara diri seorang hamba dengan siksaan dan kemurkaan Allah yang dikhawatirkan akan menimpanya, yaitu (dengan) melakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya.”([11])

Maka, sesuai dengan keadaan seorang hamba di dunia dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan perbuatan maksiat, begitu pula keadaannya di akhirat kelak. Semakin banyak dia berbuat baik di dunia semakin banyak pula kebaikan yang akan di raihnya di akhirat nanti, yang berarti semakin besar pula peluangnya untuk meraih keselamatan dalam perjalanannya menuju surga.

Inilah di antara makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Setiap orang akan dibangkitkan (pada hari Kiamat) sesuai dengan (keadaannya) sewaktu dia meninggal dunia.“([12]) Artinya: dia akan mendapatkan balasan pada hari kebangkitan kelak sesuai dengan amal baik atau buruk yang dilakukannya sewaktu di dunia.([13])

Landasan utama takwa adalah dua kalimat syahadatLaa ilaaha illallah” dan “Muhammadur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Oleh karena itu, sebaik-baik bekal yang perlu dipersiapkan untuk selamat dalam perjalanan besar ini adalah memurnikan tauhid (mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah dan menjauhi perbuatan syirik) yang merupakan inti makna syahadat Laa ilaaha illallah dan menyempurnakan al-ittibaa’ (mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi perbuatan bid’ah) yang merupakan inti makna syahadat Muhammadur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka dari itu, semua peristiwa besar yang akan dialami manusia pada hari Kiamat nanti, Allah akan mudahkan bagi mereka dalam menghadapinya sesuai dengan pemahaman dan pengamalan mereka terhadap dua landasan utama Islam ini sewaktu di dunia.

Fitnah (ujian keimanan) dalam kubur yang merupakan peristiwa besar pertama yang akan dialami manusia setelah kematiannya, mereka akan ditanya oleh dua malaikat Munkar dan Nakir([14]) dengan tiga pertanyaan: “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?”([15]). Allah hanya menjanjikan kemudahan dan keteguhan iman ketika mengahadapi ujian besar ini bagi orang-orang yang memahami dan mengamalkan dua landasan Islam ini dengan benar, sehingga mereka akan menjawab, “Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.([16])

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27).

Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat di atas ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Al-Bara’ bin ‘Aazib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Seorang muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir), maka dia akan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Laa Ilaaha Illallah) dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah (Muhammadur Rasulullah), itulah (makna) firman-Nya, {Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat}.”([17])

Termasuk peristiwa besar pada hari Kiamat, mendatangi telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang penuh kemuliaan, warna airnya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu, dan baunya lebih harum daripada minyak wangi misk (kasturi), barangsiapa yang meminum darinya sekali saja, maka dia tidak akan kehausan selamanya.([18])

Dalam hadits yang shahih([19]) juga disebutkan, bahwa ada orang-orang yang dihalangi dan diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Karena mereka sewaktu di dunia berpaling dari petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pemahaman dan perbuatan bid’ah, sehingga di akhirat mereka dihalangi dari kemuliaan meminum air telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka.

Imam Ibnu Abdil Barr([20]) berkata, “Semua orang yang melakukan perbuatan bid’ah yang tidak diridhai Allah dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari Kiamat nanti), dan yang paling parah di antara mereka adalah orang-orang (ahlul bid’ah) yang menyelisihi (pemahaman) jamaah kaum muslimin, seperti orang-orang Khawarij, Syi’ah Rafidhah dan para pengikut hawa nafsu, demikian pula orang-orang yang berbuat zalim yang melampaui batas dalam kezaliman dan menentang kebenaran, serta orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan, semua mereka ini dikhawatirkan termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini (yang diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).([21])

Demikian pula termasuk peristiwa besar pada hari Kiamat, melintasi ash-shiraath (jembatan) yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam, di antara Surga dan Neraka.

Dalam hadits yang shahih([22]) disebutkan, bahwa keadaan orang yang melintasi jembatan tersebut bermacam-macam sesuai dengan amal perbuatan mereka sewaktu di dunia.

“Ada yang melintasinya secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda pacuan yang kencang, ada yang secepat menunggang unta, ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang merangkak, dan ada yang disambar dengan pengait besi, kemudian dilemparkan ke dalam Neraka Jahannam.”([23]) –na’uudzu billahi min daalik–.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin ketika menjelaskan sebab perbedaan keadaan orang-orang yang melintasi jembatan tersebut, beliau berkata, “Ini semua (tentu saja) bukan dengan pilihan masing-masing orang, karena kalau dengan pilihan (sendiri) tentu semua orang ingin melintasinya dengan cepat, akan tetapi (keadaan manusia sewaktu) melintasi (jembatan tersebut) adalah sesuai dengan cepat (atau lambatnya mereka) dalam menerima (dan mengamalkan) syariat Islam di dunia ini; barangsiapa yang bersegera dalam menerima (petunjuk dan sunnah) yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka diapun akan cepat melintasi jembatan tersebut, dan (sebaliknya) barangsiapa yang lambat dalam hal ini, maka diapun akan lambat melintasinya; sebagai balasan yang setimpal, dan balasan (perbuatan manusia) adalah sesuai dengan jenis perbuatannya.”([24])

 

Balasan Akhir yang Baik (Surga) Bagi Orang-orang yang Bertakwa


Akhirnya, perjalanan manusia akan sampai pada tahapan akhir; Surga yang penuh kenikmatan, atau Neraka yang penuh dengan siksaan yang pedih. Di sinilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan balasan yang sempurna bagi manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ طَغَى وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى، وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya Nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut  kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. an-Naazi’aat: 37-41).

Maka, balasan akhir yang baik hanyalah Allah peruntukkan bagi orang-orang yang bertakwa dan membekali dirinya dengan ketaatan kepada-Nya, serta menjauhi perbuatan yang menyimpang dari agama-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (Surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Qashash: 83).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “…Jika mereka (orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini) tidak mempunyai keinginan untuk menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, maka konsekuensinya (berarti) keinginan mereka (hanya) tertuju kepada Allah, tujuan mereka (hanya mempersiapkan bekal untuk) negeri akhirat, dan keadan mereka (sewaktu di dunia) selalu merendahkan diri kepada hamba-hamba Allah, serta selalu berpegang kepada kebenaran dan mengerjakan amal shalih, mereka itulah orang-orang bertakwa yang akan mendapatkan balasan akhir yang baik (Surga dari Allah Subhanahu wa Ta’ala).”([25])

 

Penutup

Setelah kita merenungi tahapan-tahapan perjalanan besar ini, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: sudahkah kita mempersiapkan bekal yang cukup supaya selamat dalam perjalanan tersebut?

Kalau jawabannya: belum; maka jangan putus asa, masih ada waktu untuk berbenah diri dan memperbaiki segala kekurangan kita –dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala–.

Caranya, bersegeralah untuk kembali dan bertobat kepada Allah, serta memperbanyak amal shalih pada sisa umur kita yang masih ada. Dan semua itu akan mudah bagi orang yang Allah berikan taufik dan kemudahan baginya.

Imam Fudhail bin ‘Iyaadh([26]) pernah menasihati seseorang lelaki, beliau berkata,

“Berapa tahun usiamu (sekarang)?”

Lelaki itu menjawab,

“Enam puluh tahun.”

Fudhail berkata,

“(Berarti) sejak enam puluh tahun (yang lalu) kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan (mungkin saja) kamu hampir sampai.”

Lelaki itu menjawab,

“Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.”

Maka, Fudhail berkata,

“Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata, ‘Aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepada-Nya’, barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya pada hari Kiamat nanti), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya) maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya), maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya.”

Maka, lelaki itu bertanya,

“(Kalau demikian) bagaimana caranya (untuk menyelamatkan diri ketika itu)?”

Fudhail menjawab,

“(Caranya) mudah.”

Leleki itu bertanya lagi,

“Apa itu?”

Fudhail berkata,

“Engkau memperbaiki (diri) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (perbuatan dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari Kiamat) karena (perbuatan dosamu) di masa lalu dan pada sisa umurmu.”([27])

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan doa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ([28]) untuk kebaikan agama, dunia dan akhirat kita:

Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penentu (kebaikan) semua urusanku, dan perbaikilah (urusan) duniaku yang merupakan tempat hidupku,

serta perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku (selamanya),

jadikanlah (masa) hidupku sebagai penambah kebaikan bagiku,

dan (jadikanlah) kematianku sebagai penghalang bagiku dari semua keburukan.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


([1]) Beliau adalah Qatadah bin Di’aamah as-Saduusi al-Bashri (wafat setelah tahun 110 H), imam besar dari kalangan tabi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat kitab Taqriibut Tahdziib, hal. 409).
([2]) Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahfan (hal. 152-Mawaaridul Amaan).
([3]) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau Az Zuhd (hal. 120), dengan sanad yang hasan.
([4]) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az Zuhd (hal. 130) dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab beliau Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 461).
([5]) HSR. al-Bukhari (no. 6053).
([6]) Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahfaan (hal. 84 – Mawaaridul Amaan).
([7]) Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/9-10), juga dinukil oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 462).
([8]) Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 461), dengan sedikit penyesuaian.
([9]) Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam kitab Shahihul Bukhari (no. 6053).
([10]) Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 465).
([11]) Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 196).
([12]) HSR. Muslim (no. 2878).
([13]) Lihat penjelasan al-Munaawi dalam kitab beliau Faidhul Qadiir (6/457).
([14])  Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat at-Tirmidzi (no. 1083)  dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahiihah (no. 1391).
([15])  Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih riwayat Ahamad  (4/287-288), Abu Dawud  (no. 4753) dan al-Hakim (1/37-39), dinyatakan  shahih oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
([16]) Ibid.
([17]) HSR. al-Bukhari (no. 4422), hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2871).
([18])  Semua ini disebutkan dalam hadits yang shahih riwayat Imam al-Bukhari  (no. 6208) dan Muslim (no. 2292). Semoga Allah menjadikan kita semua  termasuk orang-orang yang dimudahkan minum darinya.
([19]) Riwayat Imam al-Bukhari (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
([20])  Beliau adalah Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Barr an-Namari  al-Andalusi (wafat 463 H), Syaikhul Islam dan imam besar Ahlus Sunnah dari wilayah Maghrib, penulis banyak kitab hadits dan fikih yang sangat bermanfaat. Biografi beliau dalam kitab Tadzkiratul Huffaazh (3/1128).
([21]) Kitab Syarh az-Zarqaani ‘Ala Muwaththa-il Imaami Maalik (1/65).
([22]) Riwayat Imam al-Bukhari (no. 7001) dan Muslim (no. 183) dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyalahu ‘anhu
([23]) Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab beliau Al-Aqiidah al-Waasithiyyah (hal. 20).
([24]) Kitab Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah (2/162).
([25]) Kitab “Taisiirul kariimir Rahmaan fi tafsiiri kalaamil Mannaan” (hal. 453).
([26]) Beliau adalah Fudhail bin ‘Iyaadh bin Mas’uud At Tamimi (wafat 187 H), seorang imam besar dari kalangan atba’ut tabi’in yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah r dan  seorang ahli ibadah (lihat kitab “Taqriibut tahdziib”, hal. 403).
([27]) Dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 464).
([28]) Dalam HSR. Muslim (no. 2720) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
%d blogger menyukai ini: